
"Mami mau bicara soal apa?". tanya Anin setelah menyelesaikan sarapannya. dia duduk di sofa yang sama dengan Mami Sandra saat ini.
"Mungkin kau sudah bisa menebak apa yang Mami mau bicarakan, ini memang menyangkut hubunganmu dengan Askara...." Mami Sandra menjeda perkataannya sebentar. "Mami tau apa yang sudah di lakukan oleh Askara sudah sangat menyakitimu, tapi Mami harap kalian tidak berlarut-larut dalam permasalahan ini".
Anin sendiri sudah bisa menebak bahwa apa yang akan Mami Sandra bicarakan adalah mengenai permasalahannya dengan Askara.
"Tolong beri kesempatan Askara untuk berubah, Nin". pinta Mami Sandra, tapi dia juga tidak ingin mendesak Anin. dia akan pasrah dengan jawaban yang akan Anin berikan.
"Mungkin kemarin-kemarin, aku masih dengan mudahnya bisa memaafkan setiap kesalahan yang mas Askara perbuat, tapi untuk kali ini rasanya aku sendiri sudah lelah, Mi. aku butuh waktu untuk bisa meyakinkan hati aku kapan bisa memaafkan Mas Askara, aku tidak ingin memberi maaf di saat hati aku sendiri masih begitu susah untuk melakukannya". Anin butuh waktu entah itu sampai kapan, yang jelas dia tidak ingin memaafkan Askara hanya karena terdesak oleh keadaan.
"Mami mengerti perasaanmu saat ini, Mami juga tidak akan memaksamu untuk segera memaafkan Askara. walaupun Askara adalah anak Mami, tapi jika dia memang salah maka Mami tidak akan memihak dan mendukung kesalahannya itu. tapi satu harapan terbesar Mami dalam hubungan kalian, tolong di selesaikan dengan baik-baik. sebentar lagi anak kalian akan lahir, dan dia butuh kedua orang tuanya yang lengkap dan bahagia". Mami Sandra begitu berharap agar hubungan Anin dan Askara kedepannya sudah tidak ada lagi masalah.
Mengetahui fakta bahwa anaknya sebentar lagi akan lahir, entah kenapa Anin merasa semakin sedih. bagaimana jika Askara justru semakin tidak bisa menetapkan pilihannya nanti.
"Iyya, Mi. Anin akan usahakan". hanya itu yang bisa Anin katakan untuk membuat ibu mertuanya itu tenang.
"Bukan kau yang harus berusaha sayang, tapi Askara. semoga kali ini dia bisa menjadi lebih dewasa dan tidak lagi plin-plan dalam bertindak". ujar Mami Sandra. "Lebih baik kau istirahat, Mami mau keluar sebentar menemui seseorang".
__ADS_1
"Iyya, Mi". balas Anin.
Mami Sandra lalu keluar dari kamar Anin. dia harus segera pergi karena sudah ada janji dengan seseorang.
Setelah bersiap-siap, Mami Sandra mengeluarkan ponselnya untuk menelfon seseorang.
"Saya sedang menuju ke sana". Mami Sandra menelfon orang tersebut, setelah sambungan telfon terputus, Mami Sandra langsung menuju ke tempat di mana akan bertemu dengan orang tersebut.
Setelah perjalanan sekitar setengah jam, Mami Sandra akhirnya sampai di sebuah restorant mewah yang menjadi tempat dia akan bertemu dengan orang yang berbicara dengannya di sambungan telfon tadi.
"Private room atas nama Sandra Sasmita Wira". ujar Mami Sandra pada salah satu pegawai restorant tersebut. sebelumnya, dia memang sudah memesan private room karena ingin berbicara empat mata dengan orang tersebut.
Mami Sandra masuk ke dalam ruangan tersebut dan orang yang ingin di temuinya itu ternyata sudah ada di dalam.
"Selamat siang, Tante Sandra". Dalila langsung berdiri dari duduknya, menyapa dengan ramah saat melihat kehadiran Mami Sandra.
Ya. orang yang ingin di temui Mami Sandra adalah Dalila.
__ADS_1
"Duduklah, aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi karena menantuku sedang sakit dan aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama". ujar Mami Sandra membuat sedikit rasa iri muncul di hati Dalila saat mendengar betapa sayangnya Mami Sandra pada Anin.
Keduanya lantas duduk dengan posisi saling berseberangan.
"Tante Sandra mau bicara apa sampai-sampai harus memesan private room seperti ini?". Dalila awalnya cukup kaget saat Mami Sandra menelfonnya dan memintanya ingin bertemu. tapi Dalila tidak tau bahwa Mami Sandra akan memesan private room seperti ini.
"Baguslah kau mengajukan pertanyaan itu, jadi Tante bisa langsung to the point' ". ujar Mami Sandra. "Tolong jauhi Askara, kau bisa kan?". Mami Sandra benar-benar pada pointnya.
Dalila tercengang, ternyata Mami Sandra mendesak untuk bertemu dengannya karena ingin mengatakan hal tersebut.
"Maksud Tante?, maaf aku tidak mengerti". lebih tepatnya Dalila hanya butuh mendengarkan penjelasan lebih dari Mami Sandra.
"Kau jelas mengerti maksud Tante, Dalila. sebelumnya, hubungan Anin dan Askara baik-baik saja, tapi setelah kau kembali kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka dan itu semua penyebabnya adalah kau. dan sekarang, kondisi Anin drop setelah melihat kalian berdua berpelukan di rumah sakit kemarin. maaf Dalila, tapi dengan berat hati Tante harus mengatakan hal ini, selama kau masih ada di antara Askara dan Anin dan masih mengusik kehidupan mereka terlebih lagi Askara, Tante tentu tidak bisa tinggal diam". tegas Mami Sandra.
"Tapi Askara memang masih mencintaiku, Tante. seandainya Askara sudah tidak punya perasaan padaku, maka dia pasti tidak akan peduli lagi dan mengabaikan setiap kali aku dalam kesulitan". ujar Dalila dengan wajah datarnya, berani melawan perkataan Mami Sandra.
Mami Sandra tertawa sarkas mendengar perkataan Dalila. "Itu karena Askara yang terlalu bodoh masih berharap pada wanita yang tidak tau diri sepertimu. kau pernah sadar tidak?, selama ini kau hampir menghancurkan kehidupan Askara dan sekarang?, kau kembali dan mengatakan cinta pada Askara saat dia sudah menemukan orang yang lebih baik dari pada dirimu, apa itu tidak tau diri namanya?". sindir Mami Sandra terang-terangan.
__ADS_1
"Tapi, secara tidak langsung itu memang bukti kan, Tante, kalau Askara memang masih mencintaiku". Dalila dengan beraninya mengatakan hal tersebut.
"Bedakan rasa cinta dengan rasa kasihan, Dalila. selama ini Askara peduli terhadapmu karena kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sini. sayangnya, Askara menyalahartikan itu menjadi cinta padahal semua itu tidak lebih dari sekedar rasa kasihan". setelah mengatakan hal itu, Mami Sandra bangkit dari duduknya meninggalkan Dalila yang mengepalkan kedua tangannya saat mendengar bahwa Askara peduli padanya selama ini hanya karena pria itu merasa kasihan dan bukannya karena cinta.