
Dito baru saja menyelesaikan makan siangnya saat ponsel di saku jas nya berdering.
Yang menelfon adalah Mami Askara.
Sebelum mengangkat telfon, Dito memikirkan alasan apa lagi yang harus dia katakan saat Mami Askara menanyakan kenapa Askara tidak pernah mengangkat telfonnya.
Memberanikan diri, Dito pun mengangkat telfon tersebut.
Mulutnya baru saja akan terbuka mengucapkan kata hallo tapi Nyonya Sandra sudah lebih dulu bersuara.
"Suruh Askara pulang sekarang juga, aku tidak menerima penolakan, atau apartementnya aku hancurkan sekarang juga"
Glek, Dito menelan ludahnya susah payah.
Bahkan belum sempat dia membalas perkataan Nyonya Sandra, sambungan telfon sudah terputus.
Dito menatap panggilan di ponselnya yang baru saja terputus.
"Apa mungkin nyonya besar ada di Indonesia?" Tanyanya, detik berikutnya dia baru sadar jika Mami Askara benar-benar ada di Indonesia.
Bergegas lari memasuki lift untuk menemui Askara.
"Bisa gawat ini" Gusar Dito menekan tombol lift.
Nyonya Sandra bebas memiliki akses untuk masuk ke apartemen Askara, dan jika itu terjadi maka nyonya Sandra pasti sudah melihat semua barang-barang Anin.
Langkah kaki Dito semakin lebar menuju ruangan Askara.
Masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Askara yang sedang berkutat dengan berkas-berkas mendengus marah pada Dito.
"Kau ini apa-apaan Dito, tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" gerutu Askara.
Dito nampak gusar.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Askara memperhatikan ekpresi wajah Dito.
Dito menarik nafas sebelum mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Tuan, Nyonya besar sepertinya ada di apartement tuan"
Tubuh Askara menegang.
"Mami ? di apartemenku?, Mana mungkin. Dia sedang ada di Inggris sekarang. Jangan bermain-main denganku Dito"
Padah sebenarnya Askara juga tidak yakin dengan ucapannya.
"Mana berani saya bermain-main tuan, Nyonya besar sendiri yang menelfon saya tadi, suaranya terdengar sangat marah" jelas Dito
"Arrghh..****" umpat Askara kesal.
"Yang saya takutkan jangan sampai nyonya besar melihat barang-barang nona Anin di apartement tuan"
Hal itu juga yang sedang di fikirkan Askara.
"Diamlah Dito, aku juga sedang memikirkan hal itu".
Askara mengeluarkan ponsel dari saku jas nya.
Dia menghubungi Maminya.
"Sial, Mami sepertinya sengaja tidak mau mengangkat telfonku" kesal Askara karena kini Maminya yang bermain-main dengannya.
Tangan Askara menggulir di atas layar ponselnya, mencari nomor seseorang dan menghubunginya.
Panggilan tersambung.
"Hallo pak Hilman, katakan padaku apa benar Mami ku ada di Indonesia dan berada di apartemenku?"
Askara menghubungi pak Hilman yang tidak lain dan tidak bukan adalah supir sekaligus orang kepercayaan Mami nya.
"Maaf tuan, tapi itu memang benar. saya sendiri yang menjemput Nyonya besar di bandara"
jawab pak Hilman di seberang telfon, dia sudah berani buka suara karena pasti tuan Askara sudah mengetahui keberadaan Maminya.
Askara berusaha tenang.
"Baiklah pak, terimakasih" Askara mengakhiri sambungan telfonnya.
Tangan Askara menggebrak meja.
"Sial, Mami benar-benar bertindak cepat di luar dugaanku".
"Batalkan semua meetingku hari ini Dito" ujarnya pada Dito yang masih berdiri di depannya.
"Baik tuan" jawab Dito.
Askara berdiri dari duduknya, dia harus ke apartemennya sekarang juga.
"Berikan kunci mobil padaku" pinta Askara membuat kening Dito berkerut.
"Tapi untuk apa tuan, saya bisa mengantar tuan jika ingin pulang ke apartement"
Askara berdecak
"Ckk..berikan saja cepat. aku akan menyetir mobil sendiri ke apartement dan tugasmu jemput Anin di tempat kerjanya dan bawa ke apartement, kau bisa memakai mobilku yang satu lagi.
Horang kaya mah bebas, mobilnya di mana-mana.
Askara kini pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan hidupnya.
Tapi, di satu sisi harapan liciknya muncul
Mudah-mudahan saja Maminya tidak menyukai Anin.
Dan dengan begitu Askara akan punya alasan yang semakin kuat untuk bercerai dengan Anin setelah anak itu lahir.
Dito memberikan kunci mobil pada Askara.
Sisanya Dito harus mencari tempat kerja Anin terlebih dahulu kemudian menjemputnya.
****
Anin dan Vivi baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Keduanya memutuskan untuk mengisi perut mereka.
Kali ini Vivi memesan makanan lewat grabfood untuk dirinya dan juga Anin.
Setelah makanan pesanan mereka datang, Anin dan Vivi duduk di salah satu meja yang masih kosong.
"Nin, Lo tadi janji mau cerita soal hubungan Lo sama Askara". ucap Vivi menagih janji.
Anin menatap sekelilingnya, sepertinya aman untuk membahas Askara karena yang lain juga sedang makan siang.
Mulai menceritakan kejadian di mana Anin tanpa sengaja memasuki ruangan Askara dan tanpa sengaja merusak lukisannya.
Berlanjut pada pertemuannya tanpa sengaja antara Askara dan sekretaris Dito serta insiden yang terjadi di restoran.
Dengan wajah sendu, Anin menceritakan bagaimana Askara mempermalukannya di depan banyak orang padahal bukan kesalahannya.
Dan yang terakhir, Askara memaksanya untuk berhenti bekerja, bahkan dengan mudahnya akan membayar Anin dengan uang berapapun yang Anin mau.
Vivi marah sekaligus merasa sedih mendengar cerita Anin.
"Askara emang nggak punya hati, ada yah manusia yang hatinya batu kek gitu" geram Vivi dengan tangan terkepal.
"Itu artinya gue masih harus usaha lebih keras lagi"
Anin berusaha tersenyum, dia tidak ingin membebani Vivi dengan masalah hidupnya.
Sahabatnya itu sudah banyak membantu dirinya selama ini.
Vivi menatap dalam Anin.
"Nin, Lo yang sabar yah. gue yakin suatu saat nanti Askara pasti bisa menyadari kehadiran Lo" ujar Vivi memberi semangat pada Anin.
Beruntungnya Anin memiliki sahabat seperti Vivi, meskipun kelakuannya kadang bobrok.
"Thanks" Anin tersenyum tulus "Selama Lo selalu support, gue yakin pasti bisa menangin hati Askara. mungkin untuk ngedapatin hati Askara gue emang harus berjuang lebih keras lagi"
"Gue yakin Lo pasti bisa, buta aja tuh mata Askara kalo nggak ngelirik cewek cantik kayak Lo. gue aja kalo jadi cowok pasti naksir sama Lo Nin"
Tapi memang benar yang di katakan Vivi, Anin punya wajah yang cantik, kulitnya putih alami di tambah wajahnya yang ayu. sifat Anin juga lemah lembut tapi juga bisa tegas.
Berbeda dengan Vivi yang berwajah oriental karena memang dia mempunyai keturunan china entah generasi ke berapa. namun begitu, Vivi adalah seorang muslim.
"Sudah yah, jangan bahas Askara lagi. Gue mau hilangin dia di fikiran Gue sejanek"
Namun baru saja Anin ingin terlepas memikirkan Askara, matanya menangkap seseorang yang sangat di kenalnya berjalan memasuki toko lengkap dengan setelan jas dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ganteng banget njrit"
"Ini sih kek tokoh-tokoh mafia di novel"
"Oh Tuhan, pemandangan yang menyegarkan mata"
"Stok yang kayak gitu masih ada nggak yah"
"Aku tidak melihat keburiqan sama sekali"
Suara riuh terdengar dari para pengunjung toko khususnya dari para kaum hawa.
Mereka baru saja memuji ciptaan Tuhan yang begitu sempurna tanpa celah.
"Apaan sih ribut-ribut" kesalnya.
Vivi membalikkan badan untuk melihat sumber keributan.
Matanya membulat sempurna saat melihat kehadiran sekretaris Askara di sini.
Vivi beralih menatap Anin yang juga sama kagetnya.
"Nin, itu kan sekretaris Askara. ngapain dia di sini?"
Anin menggeleng "Gue juga nggak tau" jawabnya sama bingungnya dengan Vivi.
Terlihat Dito sempat berbicara sebentar dengan Fika yang juga pegawai toko.
Detik berikutnya Fika menunjuk ke arah meja tempatnya dan Vivi berada.
Dito berjalan bak model menuju ke arah meja yang di tunjuk pegawa toko tadi.
Vivi yang dari kejauhan melihat Dito tanpa berkedip, mulutnya sudah menganga sempurna.
Ketampanan Dito semakin bertambah saat mengenakan kacamata hitam.
"Eh apa yang gue lakukan?" Vivi segera tersadar dari aksinya mengangumi Dito.
Dito berhenti tepat di meja Anin dan Vivi.
"Selamat siang nona"
"Si..siang" jawab Anin gugup.
"Maaf mengagetkan nona Anin dengan kedatangan saya yang tiba-tiba" ujar Dito menyadari keterkejutan Anin.
"Bukan cuman bikin kaget, tapi juga bikin riweuh tau nggak" sambar Vivi.
"Maaf, saya tidak punya urusan dengan nona Vivi"
Vivi mendengus kesal, songong sekali sekretaris Askara ini. jika saja sedang tidak banyak pengunjung di toko, sudah Vivi pastikan memberi Dito bogeman mentah.
"Sekretaris Dito, sedang apa kau di sini? dari mana kau tau aku bekerja di sini?" tanya Anin penasaran.
"Bukan hal yang sulit untuk mencari tau semua hal tentang nona Anin. jawabnya
Benar, Anin sadar betapa besarnya kuasa seorang Askara
" Tuan Askara menyuruh saya menjemput nona Anin" ucap Dito lagi.
Anin mengalihkan wajahnya, ternyata Askara masih tetap memaksanya untuk berhenti bekerja, fikir Anin.
"Aku sudah bilang, aku akan tetap bekerja dan tidak mau berhenti" putus Anin.
Dito mengerutkan kening, padahal bukan itu tujuannya kemari.
"Sepertinya nona salah paham, saya ke sini menjemput nona Anin karena di apartement ada Mami tuan Askara".
__ADS_1
1 detik, 2 detik, dan...
"APAAAAA.." pekik Anin baru bisa mencerna perkataan Dito.
Vivi berjengkit kaget mendengar teriakan Anin.
"Astagfirullah, Anin Lo ngagetin gue tau nggak" Vivi hampir tersedak dengan minumannya.
Beberapa pengujung juga menatap ke arah Anin.
"Maaf..maaf.. gue refleks Vi".
Anin beralih pada Dito.
"Apa Mami Askara tau keberadaan ku?" tanya Anin pelan.
"Sepertinya begitu nona" singkat Dito.
Fikiran negatif mulai gentayangan di otak Anin.
"Apa aku akan di usir dari sana?" tanyanya.
Dito menyadari kegelisahan Anin.
"Jangan berfikiran negatif dulu nona, lebih baik sekarang nona ikut saya ke apartement, tuan Askara sudah menuju ke sana dan kemungkinan sudah sampai".
Perasaan Anin gugup, ini kali pertama dia akan bertemu dengan Mami Askara.
"Ya sudah, sekretaris Dito tunggu di sini, aku ambil tas dulu di dalam sekalian mau minta izin"
"Gue ikut" seru Vivi yang sudah ikut berdiri.
"Vi, nggak usah" tolak Anin tidak ingin melibatkan Vivi di dalam urusannya.
"Biarin gue ikut Nin, gue janji nggak bakalan bikin ulah ataupun ikut. gue cuman mau mastiin Lo baik-baik aja, please yah" rengeknya seperti anak kecil.
Anin melirik Dito yang masih berdiri di antara mereka.
Bermaksud meminta persetujuan.
"Semua terserah nona Anin, asal nona Vivi tidak membuat kekacauan di sana" ujar Dito menatap Vivi sekilas.
"Baiklah, Lo boleh ikut".
Anin meninggalkan keduanya, masuk ke dalam ruangan khusus pegawai untuk mengambil tas dan juga izin pada Doni.
Lagi, Anin terpaksa berbohong bahwa urusan dia yang kemarin belum selesai.
Doni pun mengizinkan Anin untuk pergi.
Keduanya sudah berada di dalam mobil bersama Dito.
Hari ini kebetulan Vivi juga sedang tidak membawa mobil.
Duduk Anin tampak gelisah, meremas kedua tangannya.
"Sekretaris Dito, apa kau yakin Mami Askara tidak akan mengusirku dari apartement?" Anin kembali bertanya pada Dito yang sedang menyetir.
"Nyonya besar orang yang baik nona, dia tidak mungkin mengusir menantunya apalagi jika tau nona Anin sedang mengandung"
Hati Anin merasa lebih tenang setelah mendengar jawaban Dito.
Vivi menggenggam tangan Anin.
"Lo dengar kan? jadi berhenti berfikiran negatif"
Anin mengangguk, menarik nafas dalam karena mobil yang membawanya sudah sampai di basement apartement.
Dito segera turun dan membukakan pintu untuk Anin.
"Silahkan nona"
"Terimakasih".
Vivi menatap perlakuan Dito pada Anin.
"Kau tidak membukakan pintu untukku?" celetuknya karena Dito hanya membukakan pintu mobil untuk Anin.
Dito menahan kesabaran.
"Keluarlah, majikanku hanyalah nona Anin"
Vivi merengut kesal, membuka pintu mobil sedikit kasar.
Brakk.. Vivi menutup pintu mobil Askara dengan keras.
"Tuan Askara bisa mematahkan tanganmu jika kau merusak mobil mahal kesayangannya" sindir Dito dingin pada Vivi.
Vivi menyesal dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Maaf" ucapnya pelan, dia tidak ingin di bantai hidup-hidup oleh Askara si kanebo kering.
Vivi memeluk lengan Anin, takut akan perkataan Dito barusan.
Ketiganya menaiki lift.
Tidak bisa di bohongi, Anin benar-benar merasa gugup. jantungnya berdetak lebih cepat.
"Masuklah nona" ujar Dito karena Anin hanya berdiri di ambang pintu.
Anin menempelkan key card dengan ragu.
Memantapkan hati, Anin masuk. sedang Dito dan Vivi hanya menunggu di luar.
"Kita tidak masuk?" tanya Vivi karena Dito hanya berdiri di luar dan tidak ikut masuk.
"Kau sudah berjanji untuk tidak ikut campur dan membuat kekacauan. maka dari itu tunggulah di sini. biarkan nona Anin dan tuan askara menyelesaikan urusan mereka".
Vivi akhirnya mengalah dan memilih menunggu di luar bersama Dito.
Anin berjalan memasuki ruang tamu, sudah ada Askara dan seorang wanita paruh baya yang Anin yakini adalah Mami Askara.
Askara mengangkat kepalanya menyadari kehadiran Anin, begitupun dengan Sandra matanya menatap kehadiran seorang wanita muda yang berpakaian sangat sederhana.
__ADS_1
"Duduklah" perintah Sandra dingin, untuk pertama kalinya Anin mendengar suara ibu mertuanya.