
Sementara itu, di dalam gedung yang menjulang tinggi tampak seorang pria tengah berkutat dengan berkas-berkas dan juga laptopnya, sesekali terlihat dia memijit pelipisnya karena merasa pusing menatap begitu banyaknya kerjaan yang terbengkalai beberapa hari ini di karenakan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba melemah. entahlah, dirinya bahkan merasa aneh karena dia termasuk orang yang jarang sakit.
Batra Askara Wira, CEO Wira's grup. perusahaan yang terkenal karena berbagai bidang usaha, telah berdiri selama puluhan tahun yang di bangun oleh kakeknya dan sekarang Askara sebagai pemegang kendali atas perusahaan tersebut setelah papanya melepas jabatan sebagai CEO dan menyerahkannya pada Askara.
Askara idaman semua wanita, badan atletis, rahang tegas, alis tebal, hidung mancung, serta mata elang yang dapat menghanyutkan siapapun yang menatapnya, semuanya bagai terpahat sempurna di wajahnya, hanya saja sikapnya begitu dingin bahkan hampir tak tersentuh bagi orang luar selain dari keluarganya, bahkan rekan bisnisnya pun nampak segan jika berhadapan dengan Askara. di usia 28 tahun Askara sudah bisa membuktikan pada papanya jika dia mampu membuat perkembangan pesat Wira's grup berkat tangan dinginnya.
Askara melonggarkan dasinya untuk memasok persediaan udara, lehernya terasa tercekik melihat tumpukan berkas di tambah kondisi badannya begitu lemas.
"Suruh OB untuk membuatkan ku kopi" perintah Askara pada Dito yang sedari tadi berada di dalam ruangan bersamanya.
"Tapi tuan sudah meminum kopi pagi ini, asam lambung tuan bisa naik nantinya jika terlalu banyak minum kopi di tambah anda belum sarapan" Dito tampak heran dengan perubahan sikap Askara akhir-akhir ini. Askara mudah merasa lelah bahkan di waktu berbeda Dito sempat memergoki Askara muntah-muntah, Dito bahkan menyarankan Askara untuk medical check up namun di tolak mentah-mentah oleh Askara.
Askara mengibaskan tangannya tanda tak ingin di bantah "Lakukan saja perintahku Dito, perutku rasanya sangat mual. setidaknya dengan mencium bau aroma kopi membuat ku sedikit lebih rileks"
Dito mengangguk paham dan segera pamit keluar.
******
sedangkan di halaman luar gedung tampak Anin dan Vivi mendongakkan kepala menatap bangunan kokoh dengan puluhan lantai di depannya. setelah mendatangi kost Anin untuk mengambil kartu nama yang di maksud mereka memutuskan hari ini juga akan menyelesaikan permasalahan Anin. awalnya Vivi cukup kaget melihat kartu nama tersebut, nama Askara dari Wira's grup siapa yang tidak kenal dengan nama itu. pebisnis tersohor dengan sumber kekayaannya yang tidak akan habis tujuh turunan sekalipun. Banyak pertanyaan berputar di kepala Vivi, apa mungkin orang yang sudah merenggut masa depan Anin adalah Askara? atau mungkin salah satu dari orang kepercayaan Askara? tapi jika orang kepercayaan Askara kenapa harus meninggalkan kartu atas nama Askara. Vivi capek sendiri dengan fikirannya, dia tidak ingin menyimpulkan dengan asal sebelum mengetahui pasti siapa pria brengsek tersebut.
"Batra Askara Wira" gumam Vivi menatap kartu nama yang berada di tangannya.
Anin yang berdiri di samping Vivi sedari tadi mengunci rapat-rapat mulutnya tidak berniat bersuara sama sekali, hanya fikirannyalah yang merambat ke mana-mana. banyak fikiran negatif hinggap di kepalanya, jika memang benar ayah dari anak di kandungannya adalah salah satu orang yang berada di dalam gedung megah tersebut apa mungkin orang itu mau bertanggungjawab atas dirinya, atau bagaimana jika orang tersebut bahkan sudah beristri.
"Ayo kita masuk" Anin tersadar dari lamunannya saat tangannya terasa di tarik.
"Tunggu dulu Vi " tahan Anin
"Kenapa Anin?" Vivi menatap Anin heran.
"Aku takut" cicit Anin.
"Lo nggak sendiri, ada gue. Lo masih ingat kan wajah si brengsek itu?"
Anin mengangguk lemah, walaupun kejadiannya begitu cepat Anin masih bisa mengingat wajah pria itu, wajah yang bahkan sempat membuat Anin sejenak terpana tapi kemudian sirna karena perlakuannya terhadap dirinya.
walau dengan langkah berat Anin tetap mengikuti Vivi masuk menuju meja resepsionis.
" Permisi, selamat siang mbak" sapa Vivi seramah mungkin
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" resepsionis bername tag Tari membalas tak kalah ramahnya.
"Saya to the point' aja mbak, Askara nya ada?"
"Maksudnya Pak Askara?" tanya Tari kembali , rasanya tidak sopan saja wanita yang berdiri di depannya saat ini hanya menyebut nama atasannya tanpa embel-embel pak.
"Hemm" balas Vivi singkat
"Apa anda sudah membuat janji ?, di karenakan jadwal pak Askara yang padat maka setiap tamu yang ingin bertemu dengannya harus membuat janji terlebih dahulu" jelas Tari.
"Aku memang tidak punya janji, tapi ini sungguh penting. saya ingin bertemu dengan Pak Askara karena dia sudah mengh...."
Vivi tidak melanjutkan pertkatannya karena mulutnya sudah di bekap oleh Anin.
"Jaga ucapanmu Vi, yang malu bukan cuma Askara tapi juga aku" Anin berusaha mengingatkan Vivi agar bisa menahan diri, dirinya pasti akan sangat malu jika semua orang mengetahui kehamilannya di luar nikah.
__ADS_1
Vivi tersadar atas apa yang baru saja hampir dirinya lakukan, Vivi merutuki kebodohannya.
"Sorry Nin, gue kebawa emosi" sesal Vivi.
Tari memperhatikan tingkah dua gadis yang nampak memiliki umur lebih muda darinya, dia mulai tidak suka terlebih pada Vivi yang sedari tadi menuntut untuk bertemu Pak Askara.
"Kalian berdua silahkan pulang, saya yakin pak Askara tidak akan menemui kalian tanpa janji"
"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum bertemu dengan pak Askara, tolong hubungi sekretaris, asisten atau siapapun itu yang berkaitan dengan pak Askara" Vivi tetap pada pendiriannya, pantang pulang sebelum ada keadilan untuk Anin.
Dito yang berjalan di lobi hendak masuk ke lift merasa pendengarannya sedikit terusik dengan suara perdebatan yang asalnya dari meja resepsionis, bahkan posisinya sebagai sekretaris pun sempat di sebut.
"Ada apa ini?" Dito dengan suara bass nya menghentikan perdebatan 3 wanita berbeda usia tersebut, tatapan Dito lebih tepatnya pada Vivi yang sedari tadi tidak berhenti bicara sedangkan Anin yang berada di samping Vivi hanya diam menundukkan kepalanya.
"Maaf pak Dito, mereka ini kekeh ingin bertemu dengan pak Askara sedangkan mereka tidak punya janji sebelumnya. saya sudah menyuruh mereka pergi tapi tetap ingin bertemu dengan pak Askara" Tari menjelaskan serinci mungkin pada Dito takut nantinya dirinya kena omel.
Vivi menatap tidak suka pada Tari, sedetik kemudian mengalihkan pandangannya pada Dito.
"Kenapa menatapku seperti itu" Vivi merasa risih di tatap terus menerus oleh Dito.
"Ada keperluan apa nona mancari pak Askara?" Dito berusaha bersikap sesopan mungkin karena ini masih area kantor.
"Memangnya kamu siapa?"
Dito bukannya mendapat jawaban malah mendapat pertanyaan balik dari Vivi, sungguh wanita ini sangat menjengkelkan di mata Dito.
"Saya sekretaris pribadi tuan Askara"
Bagai mendapat angin segar Anin dan Vivi saling menatap, setelah tadi Anin sudah merasa putus asa saat resepsionis mengusirnya untuk pulang kini dia setidaknya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Askara lewat sekretaris pribadinya.
"Bagus.. ada hal penting yang ingin temanku sampaikan pada bos mu itu"
Anin yang di tatap secara intens merasa begitu gugup " Ini masalah yang serius, aku tidak mungkin mengatakannya di sini. terlebih lagi aku malu mengatakannya, aku rasa juga ini menyangkut kehormatan bos mu" Anin akhirnya buka suara, dirinya risih jika harus mengatakan aib nya dan takut jika di dengar oleh banyak pasang telinga karena posisi mereka yang masih di lobi.
Dito menyadari rasa tidak nyaman pada Anin, sebenarnya dia pun penasaran dengan apa yang di maksud dengan menyangkut kehormatan tuan Askara.
"Kalian berdua bisa ikut saya, dan terimakasih sebelumnya Tari" ucap Dito sebelum berlalu memasuki lift pada Tari sang resepsionis di ikuti oleh Anin dan Vivi di belakangnya.
Anin dan Vivi berjalan mengikuti langkah lebar Dito menyusuri lantai 15, lantai di mana ruangan CEO berada.
"Kalian bisa duduk di sini untuk menunggu" Dito mempersilahkan Anin dan Vivi duduk di ruangan yang tidak jauh dari ruangan CEO , ruang tunggu khusus bagi tamu yang ingin bertemu dengan pak Askara.
, tapi sebelum kalian bertemu dengan pak Askara saya ingin tau atas dasar apa kalian ingin bertemu karena setau saya pak Askara tidak mempunyai klien yang bahkan masih terlihat seperti mahasiswa " Dito meneliti penampilan Anin yang terlihat lebih feminim, menggunakan dress selutut di padukan dengan flatshoes, kemudian beralih ke Vivi, Dito meneliti mulai dari atas sampai bawah penampilan Vivi yang mengenakan celana jeans dan baju kaos dengan rambut di cepol asal, terkesan asal-asalan, pantas saja pada saat di lobi Vivi lebih banyak bicara karena Dito bisa menilai Vivi ini cukup barbar.
"Kita emang masih mahasiswa" seloroh Vivi tidak suka dengan kekepoan sekretaris Askara. Vivi bahkan tidak suka dari cara Dito melihat dirinya mulai dari atas sampai bawah seakan sedang mengulitinya.
Dito mulai kesal "Kalian bisa keluar dari sini, saya rasa pak Askara juga tidak ingin bertemu dengan kalian"
Dito sepertinya salah sudah membawa kedua wanita ini bersamanya, terlebih pada Vivi yang bermulut ketus.
Anin dan Vivi membulatkan matanya, apa-apaan ini, setelah melakukan perdebatan panjang dengan resepsionis di lobi dan sekarang dirinya harus pulang sebelum mengetahui kejelasan ayah dari anak yang di kandung Anin.
"Vi, bisa tidak kamu diam dulu. kita sudah jauh-jauh ke sini dan karena sikap kamu itu kita bisa kehilangan kesempatan ini Vi, kamu nggak kasian sama aku?" ucap Anin yang menyadari ketidaksukaan Dito pada Vivi.
Vivi tersadar akan sikapnya, sekali lagi dirinya meminta maaf pada Anin.
__ADS_1
"Saya tidak mau tau nona, lebih baik kalian pulang saja sebelum security yang membawa paksa kalian keluar dari sini"
"Saya minta maaf atas nama teman saya, tapi saya mohon biarkan saya bertemu dengan pak Askara" Anin merapatkan kedua tangannya di dadanya berharap Dito akan berubah fikiran dan tidak mengusirnya.
"Pak Askara sedang sibuk" kekeh Dito
"Tapi aku sedang hamil anak pak Askara, jika hari ini aku tidak bisa bertemu dengan pak Askara maka semua orang di kantor ini akan tau aib bos mu itu" Anin terpaksa mengancam, dirinya sudah tidak punya pilihan lain.
tubuh Dito menegang mendengar perkataan Anin, dirinya masih berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya. sekelabat bayangan mengenai kondisi pak Askara yang akhir-akhir ini sering lelah, muntah di berbagai waktu serta kadang menginginkan makanan yang tidak pernah dia makan sebelumnya layaknya suami yang sedang ngidam saat istrinya hamil, apa memang ini ada hubungannya dengan kehamilan wanita yang sedang memohon di depannya saat ini.
"Nona sedang tidak bercanda kan?" Tanya Dito memastikan kembali.
Anin menggeleng dengan cepat membuat bulir air mata yang sedari tadi di tahannya berjatuhan membasahi pipi mulusnya.
"Aku bahkan sangat berharap ini hanya bercanda, tapi kebenaran yang ada bahwa aku memang hamil. setelah kejadian malam itu pagi harinya aku hanya menemukan satu lembar kartu nama di nakas atas nama Batra Askara Wira" Anin menyerahkan kartu nama dari dalam tas nya pada Dito.
Dito menatap kartu nama yang baru saja dia terima dari Anin. benar, ini adalah kartu nama Askara.
"Sekarang tunggu apa lagi, panggilkan bos mu itu" Vivi sungguh ingin mencakar wajah Dito yang sedari tadi hanya melamun.
Dito menghela nafas kasar, ingin sekali Dito membalas perkataan Vivi tapi ini bukan waktu yang tepat. meluruskan permasalahan Askara dan Anin yang terpenting sekarang.
"Kalian tunggu di sini" Dito berlalu meninggalkan keduanya tanpa menunggu jawaban.
Di dalam ruangan, Askara menatap keluar jendela. fikirannya tertuju pada malam itu. sudah satu bulan berlalu kenapa gadis itu tidak kunjung mendatanginya setelah dia meninggalkan kartu namanya. apa dia tidak butuh uang ganti rugi atas apa yang sudah di lakukannya malam itu.
Suara pintu di ketuk membuyarkan lamunan Askara.
"Masuk" perintah Askara dari balik ruangan.
Dito masuk dengan wajah tegang membuat Askara mengerutkan kening.
"Ada apa Dito?, apa kita kalah tender hingga membuat wajahmu begitu tegang?"
ini bahkan lebih dari kalah tender tuan batin Dito.
"Seseorang ingin bertemu dengan anda tuan"
"Siapa?" Askara merasa sedang tidak punya janji temu dengan siapapun hari ini.
"Apa itu penting?" tanya Askara karena dirinya sedang malas bertemu dengan siapapun.
"Bahkan sangat penting tuan, karena ini menyangkut kehormatan anda tuan"
Askara dapat melihat raut wajah Dito tampak gusar, artinya orang itu memang penting.
"Antar aku pada orang itu" Dito kemudian berjalan keluar ruangan berisishan dengan Askara menuju ruang tunggu.
"Dia ada di dalam" Dito membukakan pintu untuk akses Askara masuk.
Anin menunduk meremas tangannya yang sedari tadi berkeringat dingin. bayangan dirinya yang sebentar lagi akan bertemu dengan orang yang sudah merenggut masa depannya serta ayah dari bayi yang sedang dia kandung.
suara langkah kaki memasuki ruangan mengalihkan atensi Vivi. Anin yang masih menunduk merasakan dua bayangan seseorang tengah berdiri di depannya. Anin perlahan mengangkat wajahnya dan dalam sepersekian detik mata Anin bertemu dengan mata elang Askara. Anin merasakan ritme jantungnya memburu, kilatan ingatan akan dirinya yang meronta meminta di lepaskan pada kejadian malam itu kembali berputar. wajah itu, sungguh Anin telah melihat dengan lebih dekat wajah itu setelah sebulan berlalu.
sedangkan Askara yang berdiri di tempatnya pun nampak terkejut tapi dirinya berusaha menetralkan keterkejutannya. wanita yang baru saja ia fikirkan akhirnya datang menemuinya.
__ADS_1
"Berapa yang kamu butuhkan?" perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Askara tanpa tau perasaan Anin saat mendengarnya..
Plaaaakkk.....