Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 131


__ADS_3

Anin bangun dengan perasaan hampa karena sampai malam berganti pagi pun Askara belum juga pulang. dia jadi menerka-nerka kemana sebenarnya perginya suaminya itu.


Dering ponsel Anin yang berada di atas nakas membuyarkan lamunannya, dengan segera Anin bangkit mengira itu telfon dari Askara, tapi bahunya kembali merosot kecewa karena ternyata Vivi yang menelfon. saat ini Anin tidak ingin bicara apapun pada Vivi, jadi dia memutuskan untuk mematikan ponselnya karena tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Anin menatap dirinya di cermin, bahkan semalam dia tidur tanpa melepaskan gaun yang di pesan khusus oleh Askara. padahal Askara sendiri yang menyuruh nya untuk berdandan dengan cantik tapi kenapa pria itu justru tidak datang. Anin lalu memutuskan untuk membersihkan diri, dia harus menemui Askara, siapa tau suaminya itu berada di kantor.


Setelah berganti pakaian, Anin pun memutuskan untuk berangkat ke kantor Askara.


Dengan buru-buru Anin melangkah pergi meninggalkan mansion, namun suara Mami Sandra menghentikan langkahnya.


"Anin kau mau kemana, sayang?". tanya Mami Sandra menghampiri Anin.


"Anin ada urusan penting, Mi". Anin hendak melangkah tapi lagi-lagi Mami Sandra menahannya.


"Bagaimana acaranya semalam?, lancar?, dan di mana Askara?". Mami Sandra berturut-turut menanyakan tentang dinner romantis Anin semalam.


"Maaf Mi, tapi aku buru-buru". Anin langsung bergegas pergi meninggalkan Mami Sandra tanpa menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya itu. bukannya Anin bersikap tidak sopan, tapi dia sendiri tidak tau harus menjawab apa, dia tidak punya jawaban.


"Anin". panggil Mami Sandra karena merasa ada yang aneh dengan sikap Anin. "Sepertinya ada yang tidak beres". Mami Sandra pun berlari memasuki kamarnya, menghubungi sekretaris Dito untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


Anin tiba di kantor Askara tapi lagi-lagi dirinya harus menelan kekecewaan saat mendapati ruangan Askara kosong dan menurut info yang dia dapat dari salah satu karyawan yang bertugas di lobi, Askara memang belum terlihat datang ke kantor. lalu di mana suaminya itu berada?.


Selama ini banyak hal yang belum Anin ketahui tentang apa yang di sukai oleh Askara, tempat yang biasa dia kunjungi, dan masih banyak lagi. Anin sekarang baru sadar, bahwa sebegitu banyaknya hal yang dia belum ketahui dari suaminya itu.


Namun ada satu tempat yang tiba-tiba melintas di fikiran Anin, dia pun lantas bergegas meninggalkan kantor Askara.


Sedangkan Vivi yang sedang bersama dengan sekretaris Dito terus mencoba menghubungi nomor Anin. saat mendengar cerita dari sekretaris Dito bahwa Askara tiba-tiba menghilang dan tidak datang ke acara dinner yang pria itu siapkan untuk Anin, Vivi menjadi cemas akan kondisi Anin.


"Nomor Anin nggak aktif". ujar Vivi pada Sekretaris Dito yang sedang menyetir.


"Kata nyonya Sandra, Anin pergi meninggalkan mansion pagi-pagi sekali dengan terburu-buru". ujar sekretaris Dito, saat akan menjemput Vivi di apartemennya, Mami Sandra tiba-tiba menelfonnya dan akhirnya dia menjelaskan apa yang terjadi semalam.


"Kita ke kantor Askara, mungkin saja Anin ke sana".


"Tuan Askara tidak ada di kantor, aku sudah menghubungi salah satu orang di kantor dan dia tidak ada di sana". jelas sekretaris Dito.


"Terus Askara kemana?".

__ADS_1


"Aku mungkin tau di mana tuan Askara". ujar sekretaris Dito langsung menambah laju kecepatan mobilnya.


Saat ini Anin sedang berdiri di depan gedung apartemen, tempat yang menjadi awal kisah kelamnya di mulai. Ya, Anin mendatangi apartement yang menjadi tempat di mana Askara merenggut kesuciannya hingga dirinya seperti sekarang.


Dengan memberanikan diri Anin berjalan mamasuki lift, menekan angka lantai tujuannya. berjalan menyusuri lantai koridor apartement dengan perasaan cemas.


Kaki Anin berhenti tepat di depan pintu kamar apartemen, dengan mengumpulkan keberanian tangan Anin terangkat menekan bel pintu apartemen.


Percobaan pertama, Anin menunggu kira-kira sekitar satu menit setelah menekan bel, tapi pintu tak kunjung di buka. Anin kembali menekan bel untuk yang kedua kalinya, hanya butuh beberapa detik hingga pintu apartemen terbuka.


Mata keduanya saling bertubrukan hingga menciptakan keheningan beberapa saat.


"A-anin". ujar Askara terkejut setengah mati melihat keberadaan Anin di apartemen Dalila.


Tubuh Anin membeku di tempat, matanya mulai berkaca-kaca seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Mas". ujar Anin lirih, air matanya mulai jatuh.


Dalila yang tengah menyiapkan sarapan untuk Askara menjadi penasaran karena pria itu tak kunjung kembali setelah membukakan pintu apartemen, dia sengaja menyuruh Askara karena mengira itu adalah kurir yang mengantar paketnya.


Anin semakin di buat terkejut saat melihat Dalila yang muncul di balik tubuh Askara hanya dengan mengenakan jubah mandi serta handuk yang membungkus kepala wanita tersebut, sepertinya Dalila baru saja selesai mandi. Fikiran Anin mulai kacau, apalagi melihat penampilan Askara yang sudah tidak rapi, kancing kemeja bagian atasnya bahkan sudah terbuka.


Kaki Anin terasa lemas, dadanya mendadak sesak melihat pemandangan menjijikan di depan matanya.


Anin menatap Askara penuh luka dan rasa kecewa, sekuat tenaga Anin membuka mulutnya dengan berdehem singkat.


"Jadi ini alasan kenapa Mas Askara tidak datang?". tanya Anin dengan bibir tersenyum tapi matanya memancarkan luka yang begitu mendalam.


"Anin aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi". ujar Dalila menyela


"Diam kau". teriak Anin dengan suara bergetar. "Penjelasan yang keluar dari mulut kalian berdua hanyalah pembelaan atas apa yang sudah kalian berdua lakukan".


Askara masih bungkam, seolah tidak ada kata yang tepat untuk dia sampaikan pada Anin.


"Ternyata selama ini aku salah, Mas. selama ini aku sengaja bertahan, lagi dan lagi memberimu kesempatan, berkali-kali memberimu maaf berharap kau akan berubah tapi nyatanya apa, Mas?, ternyata apa yang aku lakukan itu adalah sebuah kebodohan, bodoh karena selalu mau percaya pada pria brengsek sepertimu". rasa sabar Anin benar-benar berada di ambang batas.


"Aku membencimu, Mas. kau benar-benar pria brengsek yang pernah aku kenal". setelah mengatakan hal itu, Anin berlari meninggalkan Askara yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


Hatinya dan juga kepercayaanya di hancurkan dalam waktu yang bersamaan oleh Askara.


"Anin.. Anin tunggu". Askara hendak menyusul Anin tapi Dalila menahannya dengan memeluk tubuh pria tersebut.


"Jangan pergi, kau sudah berjanji Askara".


Askara terdiam, jika bukan karena Anin dia tidak akan melakukan perjanjian konyol dengan Dalila.


Kaki kecil Anin terus berlari, Askara begitu tega mengkhianati nya dan kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Air mata Anin jatuh tanpa bisa di bendung, dia terus berlari menyusuri lobi apartemen setelah keluar dari lift.


Vivi dan sekretaris Dito yang baru sampai tak sengaja melihat Anin keluar dari apartemen dengan kondis kacau.


"Itu Anin, Dit". seru Vivi


"Anin, Lo mau kemana?". Vivi buru-buru mengejar Anin yang berlari ke arah jalan raya.


"Anin tunggu". teriak Vivi.


Anin menulikan telinganya, dia terus berlari tanpa memperdulikan Vivi dan juga sekretaris Dito yang memanggil-manggil namanya di belakang sana.


Karena tidak memperhatikan kondisi jalanan, Anin tidak menyadari bahwa ada mobil yang sedang melaju kencang dari arah yang berlawanan.


"Anin, awaaaas!". teriak Vivi yang melihat mobil melaju semakin mendekat. tapi sayangnya semua sudah terlambat.


"Aaakkhh".


Dan..Brakkk. kecelakan tidak terelakkan.


Tubuh Anin terpental beberapa meter dan membentur aspal dengan begitu keras. dari tempatnya tergelatak, Anin samar- samar melihat wajah panik Vivi dan sekretaris Dito yang berlari ke arahnya, hingga tak lama semuanya berubah menjadi gelap.


"Aniiiiiiiiiiiin". teriak Vivi histeris melihat tubuh Anin terkapar di jalan sambil berlumuran darah.


Puncak konflik nih guys.. huhuhu


Aku buka jasa buat yang mau maki Askara di kolom komentar.. hihihi😁😁

__ADS_1


__ADS_2