Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 90


__ADS_3

"Sedang apa kau di sini?". tanya Askara pada Dalila.


"Aku datang untuk melihat rancangan gaun terbaru Tante Sarah, Minggu depan aku ada project pemotretan di bali". jelas Dalila yang juga cukup terkejut melihat Askara berada di butik Tante Sarah.


Dalila juga kenal baik dengan Tante Sarah karena selama ini dia sering di ajak oleh Mami Sandra ke butik tersebut dan tentunya atas permintaan Askara.


Anin keluar dari ruang ganti bersama dengan Tante Sarah.


"Ada Dalila juga rupanya?". tanya Tante Sarah terkejut melihat kehadiran Dalila di butiknya. setaunya Dalila masih berada di Jerman.


"Siang Tante, maaf Dalila ke sini nggak ngabarin Tante Sarah". Dalila cipika-cipiki dengan Tante Sarah dan itu tidak lepas dari penglihatan Anin. tenyata Dalila juga selalu berhubungan baik dengan orang-orang di sekitar Askara.


"Kau kapan pulang dari Jerman? terakhir kau ke sini bersama Askara kan?". tanya Tante Sarah.


"Iyya Tante, udah lama banget". jawab Dalila tersenyum.


"Hai Nin, kita ketemu lagi". sapa Dalila pada Anin yang berdiri di samping Tante Sarah.


"Iyya kak". balas Anin seadanya.


"Oh Iyya, kalian janjian yah datangnya?". tanya Tante Sarah karena Askara dan Dalila datang di waktu yang bersamaan.


"Enggak Tan, aku ke sini justru mau lihat koleksi terbarunya Tante, Minggu depan aku ada pemotretan di Bali". jelas Dalila.


"Oh ya, bahkan sekarang kau sudah jadi seorang model dan Tante tidak tau". Tante Sarah terkekeh.


"Ayo duduk. Anin, ayo sayang". lanjut Tante Sarah membawa Anin dan dan Dalila ke sofa yang di tempati Askara.


"Tante nggak nyangka deh kalian bisa ngumpul kayak gini di butik Tante, terakhir kalian ke sini sebelum Dalila berangkat ke Jerman kan?". tebak Tante Sarah jika tidak salah ingat.


"Iyya bener Tante". sahut Dalila.


"Tante jadi ingat waktu kalian masih berusia 12 tahun dan di ajak oleh Sandra ke sini. Kalian merusak salah satu gaun Tante kan?". ujar Tante Sarah mengingat masa kecil Askara dan Dalila dulu.


"Tante masih ingat kejadian itu?". tanya Askara yang kini merasa tertarik dengan pembicaraan Tante Sarah, bahkan dia yang sedang bersandar di sofa kini menegakkan tubuhnya.


Anin yang duduk di samping suaminya hanya bisa menatap dalam diam bagaimana Askara yang tadinya diam tanpa kata kini malah tertarik dengan obrolan masa lalunya dengan Dalila.


"Aku juga tidak percaya Tante Sarah masih ingat kejadian itu". Dalila terkekeh kecil menerawang kembali masa kecilnya dengan Askara.


"Ayo sekarang kalian ngaku, siapa yang sudah merusak gaun rancangan Tante waktu itu?". tanya Tante Sarah karena dulu Askara maupun Dalila hanya saling menuduh.


"Aku tidak mungkin melakukan hal itu Tante, ada gadis nakal yang melakukannya". jawab Askara menatap lekat wajah Dalila.


Dalila mencebik ke arah Askara "Jadi sekarang kau malah menuduhku heh? kau tidak ingat waktu itu kau yang menarik manekin itu hingga jatuh". Dalila tidak mau kalah.


"Tapi yang menarik baju itu kan kau, bukan aku. Waktu itu aku hanya ingin bermain-main dengan manekin itu". terang Askara.

__ADS_1


"Bukan aku tapi kau Askara, Kau yang mulai duluan, aku hanya ingin merapikan kembali baju itu tapi kau malah menariknya". Kekeh Dalila.


"Kau ingin aku cubit hah?". ancam Askara.


"Cubit saja, aku tidak takut. Nih". tunjuk Dalila pada pipinya .


"Kau kan sering mencubit pipiku yang chubby dulu, tapi sekarang kau tidak akan bisa melakukannya karena pipiku ini sudah tirus". ejek Dalila sembari memajukan wajahnya menantang Askara untuk mencubitnya seperti yang selalu pria itu lakukan dulu.


"Awas kau yah". Askara sudah hendak mencubit pilih Dalila tapi wanita itu buru-buru menjauh.


"Hahaha ..enggak kena". ejek Dalila tertawa kencang di ikuti Askara yang tertawa kecil.


Perdebatan keduanya yang kembali ke masa kecil dulu tanpa sadar menorehkan luka di hati Anin yang hanya mendengar perdebatan Aksara dan Dalila. Seolah kini mereka adalah pasangan yang sedang saling mengejek satu sama lain.


Dada Anin mendadak sesak, kini dia merasa benar-benar menjadi orang ketiga di antara Askara dan juga Dalila. Rasanya sesakit ini, tapi yang lebih sakit lagi adalah saat Anin menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan Askara, Dalila, dan juga Tante Sarah.


Sepanjang perdebatan Askara dan Dalila tadi, Anin hanya memasang senyum palsu padahal di dalam sana, hatinya serasa di hantam berkali-kali setiap Askara membalas ucapan Dalila. apalagi di tambah Aksara yang tertawa seperti tanpa beban. tawa yang belum pernah dirinya lihat saat Askara bersamanya.


"Sudah..sudah... dari dulu kalian ini tidak berubah yah, masih sering usil satu sama lain". Tante Sarah melerai.


"Oh ya Anin jika anakmu laki-laki jangan sampai sifat nakal Askara turun pada bayimu". ujar Tante Sarah.


"Mana bisa begitu Tan, dia anakku darah dagingku jadi pasti akan menuruni sifatku". sanggah Askara cepat.


"Asal jangan sifat keras kepalanya saja". celetuk Dalila menambahi sambil terkikik.


"Mas sepertinya aku mau ke toilet". ujar Anin.


"Mau aku antar? " tawar Askara.


"Tidak perlu mas, kau di sini saja mengobrol dengan Tante Sarah dan juga Dalila". tolak Anin karena jujur dia ingin menenangkan diri di toilet.


"Ya sudah, kau hati-hati yah". ujar Askara.


Anin berdiri dari duduknya, belum sepenuhnya dia keluar dari ruangan tersebut Askara kembali melanjutkan obrolannya dengan Dalila dan Tante Sarah, bahkan Askara tidak menaruh curiga atau peka sama sekali terhadap perubahan sikapnya.


Tidak ingin berlama-lama di sana, Anin segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut , menuju toilet yang berada di lantai satu butik itu.


Anin menutup rapat pintu toilet, terduduk di atas closed dan menumpahkan semua kesedihan yang berusaha dia tahan sejak tadi. rasanya sakit sampai ke rongga dadanya, bahkan untuk bernafas saja rasanya amat susah bagi Anin.


"Hiks..hiks .hiks..". Anin menangis pilu sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. meskipun Anin selalu menepis bayang masa lalu antara Dalila dan Askara tapi kenyataan selalu menyadarkannya kembali bahwa Askara dulu begitu mencintai Dalila bahkan orang-orang terdekat mereka tau akan hal itu.


"Aku harus apa? ". tanya Anin pada dirinya sendiri. suaranya tercekat menahan sesak.


Sekitar 10 menit Anin berada di dalam toilet meluapkan semua kesedihannya. sampai di rasa perasaannya sudah lebih membaik Anin keluar dari salah satu bilik toilet lalu berhenti tepat di depan cermin besar.


Anin menatap dirinya di cermin yang terlihat memprihatinkan di matanya sendiri. dia sangat mencintai Askara namun tidak tau hati pria itu apakah sudah sepenuhnya miliknya atau belum.

__ADS_1


Ponsel Anin bergetar, sebuah panggilan masuk dari Askara. pasti suaminya itu khawatir karena dia terlalu lama di toilet. buru-buru Anin memperbaiki penampilan serta memperbaiki riasannya agar tidak menimbulkan rasa curiga dari Askara.


Anin kembali memasuki ruangan yang sempat membuatnya sesak tadi.


"Kenapa lama sekali?". tanya Askara sudah ingin turun mengecek Anin di toilet karena istrinya itu tidak menjawab telfonnya.


"Tadi aku sempat merasa ingin buang air besar tapi ternyata itu hanya perasaanku saja". Anin berkilah.


Askara mengangguk percaya dengan alasan Anin.


"Oh Iyya, Aku juga mengundang Dalila ke pesta nanti malam. kau tidak keberatan kan?". tanya Askara.


"Kenapa aku harus keberatan Mas, dia kan sahabatmu dan dia juga berhak datang. lagi pula pesta ini kan kau yang buat jadi kau punya hak untuk mengundang siapa saja". ucap Anin setenang mungkin.


"Terimakasih Anin, suatu kehormatan bisa di undang langsung oleh sang empunya acara". ujar Dalila jenaka, lebih tepatnya dia tujukan untuk Askara.


"Karena kau sudah di sini maka pilihlah gaun yang ingin kau pakai ke acaraku nanti malam. aku akan membayarnya sekalian dengan punya Anin". ujar Askara pada Dalila.


"Really? tapi kau tidak perlu melakukan itu Askara". Tolak Dalila karena merasa tidak enak pada Anin. biarpun Askara adalah sahabatnya tapi kini pria itu sudah mempunyai istri.


"Jangan menolakku Dalila". ucap Askara dingin.


Dalila memutar bola mata jengah. "Baiklah, terserah kau saja. tapi apa aku boleh membawa teman?." tanyanya.


Askara nampak berfikir. "Dia pria atau wanita?".


"Seorang pria. lagi pula tidak mungkin kan aku datang ke pesta seorang diri".


"Tidak boleh".


"Kenapa? dia sangat baik, aku ingin memperkenalkannya padamu". mata Dalila tampak memohon dan itu membuat Askara tidak bisa menolaknya.


"Baiklah, untuk kali ini aku setuju". balas Askara akhirnya.


"Terimakasih tuan Batra Askara Wira atas kebijakannya". canda Dalila membungkuk seperti yang biasa di lakukan oleh sekretaris Dito jika menyambut Askara.


Askara hanya menatap jengah tingkah Dalila.


Anin kembali merasa sesak, dia kira sudah tidak ada lagi pertujukan yang bisa membuat hatinya berdenyut nyeri. tapi kali ini Askara memperlihatkan sikap posesifnya pada Dalila yang akan membawa teman prianya ke pesta nanti.


"Ya sudah aku pamit, Tante Sarah kami berdua pamit dulu terimakasih atas gaunnya yang begitu cantik". ujar Askara sebelum meninggalkan ruangan.


"Sama-sama Askara, kalian berdua hati-hati". balas Tante Sarah.


Askara dan Anin meninggalkan ruangan tersebut untuk segera pulang ke mansion.


Lanjut ???

__ADS_1


__ADS_2