
Askara menatap satu per satu menu makan malam yang tersaji di atas meja dengan kening berkerut karena merasa tidak familiar. mereka ber empat saat ini sedang duduk bersama di meja makan yang terbuat dari kayu.
"Apa ini, Nin? kenapa bentuknya seperti kayu kering?." Askara mengangkat sepotong ikan kering lalu memperhatikannya dengan seksama.
Sekretaris Dito dan Vivi berusaha menahan diri untuk tidak tertawa saat mendengar pertanyaan konyol Askara. sedangkan Anin hanya memutar bola mata jengah. sejak tadi sore sampai malam ini, Askara begitu cerewet.
"Maaf tuan, tapi itu namanya ikan kering bukan kayu kering". sahut sekretaris Dito tersenyum geli, wajar jika Askara tidak mengenal makanan semacam itu, karena selama ini tuannya itu terbiasa dengan makanan-makanan mewah dan mahal.
Askara mendekatkan hidungnya dan mencium baunya yang sedikit menyengat. "Baunya kok aneh?".
"Memang baunya seperti itu tuan, tapi rasanya sangat enak. apalagi di tambah dengan sambal dan sayur bening ini, di jamin tuan pasti akan nambah". terang sekretaris Dito, ikan kering adalah makanan yang lumrah dia temui saat tinggal di kampung dulu.
"Benarkah?". tanya Askara masih belum yakin.
"Iyya tuan".
"Kalau Mas Askara tidak suka, ya sudah simpan saja. kau bisa keluar mencari makanan enak yang sesuai dengan selera mas Askara. di sini adanya cuman ini". ujar Anin menatap jengah tingkah suaminya.
Karena tidak ingin membuat Anin semakin kesal, Askara akhirnya mengalah. "Tidak, aku akan makan di sini saja". ucapnya ragu kemudian mengambil sepotong ikan kering ke atas piringnya.
"Wajah suamimu kelihatan tertekan sekali". bisik Vivi sambil terkikik geli melihat wajah tertekan Askara yang mulai memakan makanannya.
Askara mulai mengunyah makanannya dengan pelan, menyesuaikan rasa dengan lidahnya dan tidak langsung menelannya, takut-takut rasanya nanti aneh dan membuatnya muntah.
Namun yang terjadi justru berbeda, Askara tidak merasa aneh sama sekali, justru rasanya enak.
"Enak". Askara mengangguk-anggukan kepalanya. "Kau benar Dito, rasanya enak". ujarnya pada Dito.
"Iyya tuan". sahut sekretaris Dito tersenyum.
Askara pun menghabiskan makanannya tanpa sisa, membuat Anin diam-diam tersenyum dalam hati karena suaminya akhirnya bisa menyesuaikan diri.
Selesai makan malam, Anin langsung menuju kamarnya untuk mengambil selimut karena dia berniat akan tidur di kamar ibunya bersama Vivi.
__ADS_1
Askara yang baru saja selesai menerima telfon dari kliennya ikut masuk ke kamar Anin.
"Kau mau ke mana?". tanya Askara saat Anin mengambil selimut dari dalam lemari dan hendak keluar.
"Aku mau tidur di kamar ibu bareng Vivi". balas Anin dingin.
"Kenapa tidur bareng Vivi? kan kita yang suami istri, jadi kau harusnya tidur bersama aku". pungkas Askara.
"Mas, di sini cuman ada dua kamar. kalau aku tidur bareng mas Askara terus Vivi dan sekretaris Dito tidur di mana? sekamar begitu?". tanya Anin kesal.
"Ya, biarin aja. toh mereka sudah sama-sama dewasa". ceplos Askara dengan santainya.
"Enggak". tolak Anin dengan tegas. "Mereka bukan muhrim. fikiran Mas Askara tuh perlu di lurusin".
"Kalau gitu suruh Dito tidur di sofa ruang tamu, jadi Vivi yang tidur di kamar ibu, sudah tidak ada penghalang lagi kan?, jadi kita bisa tidur bersama". Askara terus mencari cara agar Anin mau tidur satu kamar dengannya.
"Sekali aku bilang enggak, yah enggak. Mas Askara jangan egois jadi orang. badan sekretaris Dito tuh besar, kasian nanti tidur di sofa kecil kayak gitu, badannya jadi sakit-sakit nanti".
"Buat apa aku kasian sama mas Askara?, aku rasa nggak ada yang perlu di kasihani saat ini".
"Ada Anin, ada! ". geram Askara
"Apa?". tantang Anin.
Askara menarik tangan Anin lalu menempelkannya pada juniornya yang sudah menegang di bawah sana. "Ini, kau tidak kasihan padanya, hah?."
Anin membulatkan matanya lalu menarik tangannya dengan cepat. "Mesum banget sih". gerutu Anin.
"Ayolah Nin, tidur di sini saja". rengek Askara seperti anak kecil.
"Enggak !, kalau mas Askara masih maksa lebih baik Mas Askara balik ke hotel aja. nggak usah tidur di sini". ancam Anin padahal jantungnya sendiri sudah berdetak tak karuan sekarang.
Askara menggeleng dengan cepat. "Oke.. aku akan tidur bersama Dito di sini. tapi jangan usir aku". pasrahnya.
__ADS_1
Setelah itu, Anin langsung melenggang pergi meninggalkan Askara di dalam kamarnya.
Askara sendiri menjambak rambutnya frustasi, ternyata kemarahan Anin begitu berdampak besar pada kelangsungan hidupnya, lebih tepatnya untuk juniornya yang meronta ingin di tuntaskan.
"Arrghh... sial". Askara melempar tubuhnya kasar ke atas tempat tidur.
"Tuan, anda kenapa?". tanya sekretaris Dito saat memasuki kamar.
"Diamlah Dito, seharusnya tadi aku menyuruhmu pulang dan tidur di hotel". Askara melampiaskan kemarahannya pada sekretaris Dito.
"Memangnya kenapa, tuan?". tanya sekretaris Dito dengan wajah polosnya.
Askara semakin di buat geram, tidak ada yang mengerti posisinya saat ini. "Sudahlah, aku semakin emosi mendengar pertanyaanmu".
Askara menghembuskan nafas kasar lalu beranjak dari tempat tidur, dia ingin keluar mencari angin segar.
"Ada apa dengan tuan Askara?". gumam sekretaris Dito heran melihat tingkah Askara melebihi wanita yang sedang PMS.
Sedangkan di dalam kamar ibunya, Anin terus bergerak gelisah dalam tidurnya membuat Vivi terganggu.
"Ckk.. Lo kenapa sih, Nin?". tanya Vivi kesal, dia yang ingin memejamkan mata jadi terganggu karena Anin terus bergerak kesana-kemari.
"Gue nggak bisa tidur, Vi ". balas Anin lalu bangun dari tidurnya kemudian bersandar pada kepala ranjang.
"Lo kefikiran sesuatu?". tanya Vivi ikut bangun.
"Gue kefikiran Mas Askara, berkali-kali dia minta maaf sama gue tapi jujur Vi, gue masih marah banget sama dia, kata-katanya udah bikin gue sakit hati banget". Anin menceritakan apa yang menggangu fikirannya.
"Menurut Lo, gue harus gimana?, maksudnya gue harus bersikap kayak gimana sama mas Askara, Vi". Anin meminta pendapat.
"Keputusan Lo sekarang untuk belum maafin Askara gue rasa udah keputusan yang tepat, sesekali Lo emang harus tegas sih, Nin. bukan maksud gue untuk nge hasut Lo buat marah lebih lama lagi sama Askara, tapi Askara itu tipe cowok yang belum bisa tegas sama pilihannya sendiri, jadi mending Lo ulur waktu sampai Lo benar-benar siap untuk maafin Askara, karena dengan cara itu juga gue yakin fokus Askara cuman tertuju ke Lo karena dia pasti bakalan mikirin cara untuk bisa dapat maaf dari Lo. dengan begitu fikiran Askara akan teralihkan dari apapun itu yang menyangkut Dalila". ujar Vivi.
Anin nampak menimbang perkataan Vivi, dan dia akui ada benarnya juga. jika dia memaafkan Askara terlalu cepat, maka mudah bagi Askara untuk membuat kesalahan lagi ke depannya.
__ADS_1