Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 109


__ADS_3

Mobil Askara berhenti tepat di depan pekarangan rumah Anin. jarak Jakarta Bandung bukankah jarak yang dekat tapi karena ini adalah perintah langsung dari Mami Sandra, Askara tentu tidak bisa menolak apalagi dirinya memang sudah merindukan Anin.


Bu Risa yang sedang menyiram tanamannya menghentikan aktivitasnya sejenak saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


"Nak Askara?". seru Bu Risa saat melihat menantunya itu turun dari mobil. buru-buru di letakkannya ember yang berada di tangannya lalu menghampiri Askara.


"Ibu?, ibu sudah sehat?". tanya Askara meraih tangan punggung tangan mertuanya.


"Alhamdulillah, ibu sehat nak. semua ini juga berkat bantuanmu. ibu belum sempat bilang terimakasih karena kamu keburu berangkat ke luar negeri kata Anin". Bu Risa bersyukur karena berkat bantuan Askara yang menanggung semua biaya pengobatannya, dia sudah bisa beraktifitas kembali.


"Ibu tidak perlu berterimakasih, semua itu sudah tugas saya Bu sebagai suami Anin. yang terpenting ibu sehat, karena sumber kebahagiaan Anin adalah ibu". ungkap Askara.


Bu Risa tersenyum hangat, betapa dia beruntung memiliki anak dan menantu seperti Anin dan Askara. Bu Risa benar-benar menyesal dulu selalu memperlakukan Anin seenaknya.


"Kenapa nggak ngabarin dulu nak kalau mau ke sini?". tanya Bu Risa.


"Maaf Bu, saya lupa. kebetulan Mami saya baru kembali dari Inggris, dan dia mencari Anin".


"Apa ibumu begitu menyayangi Anin?". tanya Bu Risa penasaran, dia takutnya Anin mendapatkan mertua yang tidak menyukainya apalagi mereka dari kalangan bawah yang jauh derajatnya dengan keluarga Askara.


"Ibu tidak perlu khawatir, Mami justru lebih menyayangi Anin di banding saya, putranya sendiri". ujar Askara seolah mengerti apa yang ada di fikiran Bu Risa.


Bu Risa bernafas lega. "Syukurlah, ibu khawatir Anin tidak bisa di terima dengan baik di keluargamu, derajat keluarga kita sangat berbeda jauh nak, Askara".


"Jika Mami mendengar perkataan ibu saat ini, dia pasti akan sangat marah. Mami tidak suka jika membicarakan hal semacam itu, apalagi jika harus membandingkan harta, bagi Mami semua itu hanya titipan". terang Askara.


Bu Risa menatap tak percaya, ternyata keluarga Askara begitu welcome menerima kehadiran Anin.


"Anin beruntung bisa bertemu dengan keluarga seperti kalian".


"Iyya Bu. Anin ada di dalam?". tanya Askara mencari keberadaan Anin.

__ADS_1


"Ada nak, tapi sepertinya lagi tidur. sejak nak Askara berangkat ke luar negeri, Anin terus uring-uringan, hampir setiap hari ibu liat dia duduk melamun sambil terus nge cek hp nya".


Askara semakin merasa bersalah setelah mendengar cerita dari Bu Risa. ternyata Anin selama ini selalu menunggu kabarnya.


"Kalau begitu saya pamit ke dalam dulu Bu, mau liat Anin".


"Iyya nak".


Askara melangkah memasuki rumah Anin, tempat pertama yang dia tuju adalah kamar istrinya itu.


Dengan perlahan, Askara membuka pintu kamar, takut mengganggu tidur Anin. Askara tersenyum kecil saat melihat wajah yang begitu dia rindukan selama satu bulan ini, begitu tenang terlelap sambil memeluk guling.


Askara tidak ingin membangunkan Anin, justru dia ikut bergabung dengan merebahkan tubuhnya di samping Anin yang sama sekali tidak bergeming.


Jujur, Askara sangat lelah sekarang. dia bermaksud untuk pulang ke mansion tadi untuk istirahat, tapi Dalila tiba-tiba datang.


Askara menyingkirkan guling yang di peluk Anin dengan pelan, dia ingin memeluk tubuh Anin lebih dekat tanpa ada penghalang di antara mereka.


Askara tersenyum saat Anin memeluknya, kerinduan yang bersarang di hatinya, akhirnya bisa dia lampiaskan dengan memeluk tubuh Anin.


"Aku merindukanmu, Nin". gumam Askara mengecup puncak kepala Anin lalu ikut menyusul Anin menyelam ke alam mimpi.


Tak terasa, Anin tidur sampai jam tujuh malam saking nyenyaknya karena memeluk tubuh Askara. tapi tentu hal itu belum di sadari oleh Anin.


Anin menggeliat tapi enggan membuka matanya.


"Aku seperti mencium wangi parfum Mas Askara". gumam Anin setengah sadar sambil terus menyelinap di ceruk leher Askara.


Askara yang sudah bangun sejak tadi lantas tersenyum mendengar perkataan Anin.


"Itu memang aku". balas Askara berbisik.

__ADS_1


"Aku bahkan bisa mendengar suaranya, mungkin karena aku terlalu merindukannya". lanjut Anin lagi.


Askara semakin tidak bisa menahan senyumnya. Anin begitu lucu, batinnya.


"Aku juga sangat merindukanmu". balas Askara lagi, dia sedang mengerjai Anin yang belum sadar akan kehadirannya.


"Kalau ini mimpi, aku tidak mau bangun". ujar Anin membuat Askara terdiam. ternyata begitu besar rasa kerinduan istrinya itu terhadapnya.


"Bangunlah, Nin. aku memang ada di sini, kau tidak sedang bermimpi". ujar Askara membelai lembut pipi chubby Anin.


Anin perlahan membuka matanya, dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah Askara yang sedang tersenyum manis padanya.


Spontan saja Anin langsung membulatkan mata sempurna lalu bangun. Anin mengerjapkan matanya berkali-kali mengira apa yang di lihatnya hanya halusinasinya saja.


"Aku ini nyata". Askara ikut bangun lalu menyentil kening Anin membuat istrinya itu mengaduh kesakitan.


"Aww, sakit". keluh Anin mengelus keningnya.


"Itu artinya kau sedang tidak bermimpi, aku benar-benar ada di sini, sayang". Askara tersenyum sambil merentangkan tangannya.


Mata Anin berkaca-kaca dan tanpa menunggu lama dia langsung memeluk tubuh Askara.


"Kau jahat, mas". ujar Anin terisak.


"Maafkan aku". Askara mengelus lembut kepala Anin.


**Hai segini dulu yah, author lagi nggak enak badan beberapa hari ini, jadi jarang update. doain author cepat sembuh yah.


Oh Iyya, selain itu author mau ngasih tau karya author yang kedua..


Tadaaaaa.. jangan lupa tambahkan ke favorit yah

__ADS_1



__ADS_2