
Matahari semakin menyingsing ke arah barat, cahaya jingga menelisik masuk melalui rongga jendela apartemen.
Anin tengah sibuk di dapur, memasak beberapa menu masakan untuk makan malam dirinya dan Askara. walau Anin ragu apakah Askara akan pulang cepat atau larut malam karena minimnya pembicaraan antara mereka berdua.
Terlalu asik memasak Anin bahkan tidak menyadari kedatangan seseorang.
Anin mengangkat sayur sup panas dari atas kompor, saat berbalik betapa kagetnya dia melihat Askara yang sudah berdiri menatapnya dengan tatapan dingin serasa mengintimidasi dirinya.
"Pranggg" panci berisi sup panas yang baru saja di angkatnya dari kompor jatuh karena kaget melihat kehadiran Askara yang tiba-tiba.
"Awwww..panas " Anin menjerit merasakan panas di kakinya.
"Jangan di sentuh" cegah Askara yang sudah berjongkok menyamai Anin.
Anin menangis merasakan perih di kakinya.
"Ini sangat perih, hiks"
"Ahhhhhhh" pekik Anin saat tanpa di duga Askara mengangkat tubuhnya ala bridal style. Anin bahkan lama terdiam mengamati wajah Askara yang masih nampak datar tapi tak mengurangi ketampanannya.
Darah Anin serasa berdesir membuat debaran di jantungnya. perasaan hangat muncul di hatinya melihat perhatian kecil Askara yang bahkan beberapa hari ini jarang berbicara dengannya.
"Kau tunggulah di sini" suara Askara menyadarkan Anin dari kekagumannya. tak sadar dirinya sudah duduk di atas sofa.
Anin melihat punggung Askara memasuki kamarnya. tidak berselang lama Askara keluar lagi dengan membawa kotak putih, sepertinya kotak P3K.
"Aku bisa mengobatinya sendiri" Anin hendak mengambil alih kotak obat dari tangan Askara.
"Diam" titah Askara
Anin tidak lagi berani membuka suara membiarkan Askara untuk mengobati kakinya.
Askara menarik dengan pelan kaki dan meletakkannya di atas ke dua pahanya.
jantung Anin berdetak tidak karuan, tidak ada angin tidak ada hujan Askara bersikap begitu manis padanya.
"Awwww...perihh" Anin meringis kesakitan saat sapuan salep menyentuh kulit kakinya yang sudah memerah.
"Berisik"
"Tapi ini memang sakit pak"
"Makanya kau lebih hati-hati, merepotkan saja"
"Tapi ini semua gara-gara bapak juga, masuk rumah itu ucap salam kek, tau-tau udah berdiri kek kanebo kering di belakang saya" refleks Anin menutup mulutnya karena sadar sudah mengatai Askara.
kegiatan Askara terhenti, matanya menatap tajam setelah mendengar ucapan Anin yang terang-terangan mengejek dirinya.
"Maaf" cicit Anin yang mendapatkan tatapan tajam Askara.
"Obati lukamu sendiri" Askara berdiri dari duduknya hendak melangkah menuju kamarnya tapi suara perut Anin menghentikan langkahnya.
"Aku lapar" ujar Anin hampir tak bersuara karena malu.
tanpa berbicara Askara melangkah menuju dapur, tidak lama dia kembali dengan sepiring nasi beserta lauk pauk serta segelas air putih.
"Makanlah" titah Askara meletakkan piring di atas meja.
"Bapak tidak makan?" tanya Anin
"Aku sudah kenyang"
__ADS_1
kruukk.kruuk..kruukk
Anin berusaha menahan tawa saat mendengar bunyi perut Askara.
"Tapi suara perut bapak tidak bisa bohong"
Askara tampak gelalapan dan terlihat salah tingkah.
"Yakin tidak lapar?" tak henti-hentinya Anin menggoda Askara, bahkan sekrang dirinya dengan berani mengejek Askara.
Dengan menahan kesal Askara hendak berlalu dari hadapan Anin.
"Eh mau kemana?"
"Membereskan kekacauan yang kau buat di dapur"
jawab Askara ketus.
"Aku bisa membereskannya, kau makanlah dulu aku memasak banyak hari ini"
"Dengan kondisi kakimu yang seperti itu heh?, bahkan di pakai untuk berjalan saja susah"
Anin terdiam, menatap kondisi kakinya yang terlihat semakin memerah, benar kata Askara bahkan untuk berjalan saja sepertinya dirinya akan sedikit kesulitan.
"Kau mulai peduli padaku?" seulas senyum melengkung di bibir manis Anin.
Askara menatap dingin Anin
"Jangan berfikir terlalu jauh Embun Anindira, ku tegaskan padamu aku hanya tidak suka seseorang membuat kekacauan di apartemenku, sungguh sangat merepotkan. bersikaplah sewajarnya sampai anak itu lahir, sebelumnya kita bahkan hanya dua orang asing yang di pertemukan karena kesalahan"
selepas perkataannya, Askara pun benar-benar berlalu meninggalkan Anin yang raut wajahnya sudah berubah.
awal yang mengecewakan bagi Anin, tapi dirinya pantang menyerah. setidaknya Anin hanya ingin Askara melihat dirinya ada, apalagi dirinya sedang mengandung anaknya.
Anin bermimpi suatu saat nanti Askara bisa mengelus perutnya, menemaninya memeriksakan kandungan, dan melakukan hal-hal membahagiakan lainnya. membayangkannya saja Anin sudah merasa ada kupu-kupu menggelitik perutnya.
sang surya pun telah hilang bersama sinarnya membuat langit berganti taburan bintang-bintang. Askara berada di balkon apartemennya menyesap rokok di tangannya.
Askara membiarkan angin malam menerpa wajahnya seakan membelai, fikirannya larut akan kejadian tadi sore.
perasaan Askara yang tadinya lapar berganti rasa kesal saat Anin mengatakan bahwa dirinya mulai punya rasa peduli.
Askara marah yang sebenarnya entah pada siapa, dalam hati Askara hanya ada satu nama yang pantas mendiami hatinya bahkan masih setia menunggu orang tersebut kembali.
dan mengenai Anin, selama mereka telah sah menikah rasanya Askara masih sulit menerima kehadiran wanita itu, terlepas dari anak yang di kandung Anin, dirinya tidak ingin membentuk hubungan yang lebih jauh bersamanya.
lama Askara larut dalam fikirannya, hingga tanpa sadar dia sudah menghabiskan 3 batang rokok.
Askara menyudahi aktivitasnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya, tapi saat hendak melewati ruang tamu, telinganya tak sengaja mendengar suara grasak grusuk dari arah dapur.
Askara pun berjalan untuk melihat apa yang terjadi.
Tampak Anin sedang berjinjit kesusahan untuk membuka lemari dapur bagian atas.
"Duhh.. ini kenapa tinggi sekali sih" gerutu Anin karena tidak sampai-sampai juga di tambah kondisi kakinya yang sakit. Anin ingin mengambil kotak susu yang di simpannya sehabis belanja, salah dirinya juga karena menyimpannya di atas sana.
"Apa aku yang terlalu pendek?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
semua tak lepas dari pengamatan mata tajam Askara.
Anin tidak kehabisan akal, setelah mencari cara dia menemukan bangku kecil, dengan langkah tertatih Anin mengambil bangku kecil tersebut.
__ADS_1
"Ini akan lebih mudah" gumam Anin tersenyum setelah menaiki bangku kecil tersebut.
perkiraan Anin meleset, ternyata bangku kecil itu masih sedikit kurang tinggi. ingin kembali mengambil bangku yang lebih tinggi di ruang tamu yang tadi dia pakai tapi Anin urungkan karena sulitnya berjalan, dia pun berusaha untuk berjinjit.
sambil menahan rasa sakit di kakinya Anin meraih pintu lemari dan yah, terbuka. karena terlalu memaksakan kakinya Anin sudah tidak kuat dan kehilangan keseimbangan.
"Aaakkkkkhhhh" Anin berteriak tapi sedetik kemudian dia tidak merasakan sakitnya menyentuh lantai.
perlahan Anin membuka mata
Deg.
debaran jantung Anin sudah tak karuan, wajah tampan Askara dengan rambut acak-acakan terlihat cool dan sexy. Askara tengah memeluk dirinya, lebih tepatnya menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
perasaan yang sama dengan Anin, Askara dapat merasakan debaran jantungnya saat tubuh keduanya begitu dekat. bahkan Askara dapat meneliti setiap inci wajah cantik Anin.
Askara yang lebih dulu sadar akan posisinya yang begitu dekat buru-buru melepaskan diri.
"Kekacauan apa lagi yang akan kau buat kali ini" suara Askara terdengar datar
Anin menunduk "Aku minta maaf, aku hanya ingin mengambil kotak susu itu" tunjuk Anin ke atas
Askara segera mengambil kotak susu yang di tunjuk Anin, bahkan tanpa menggunakan bangku kecil yang di pakai Anin tadi, jelas saja karena tubuh tinggi Askara menjulang seperti tiang.
"Duduklah" titah Askara membuat Anin kebingungan
"Kau tunjukan saja takarannya" Anin lagi-lagi tidak mengerti tapi setelah melihat Askara membuka kotak susu tersebut kini dia paham bahwa Askara yang ingin membuat susu tersebut.
"Apa kau yang akan membuatnya?" tanya Anin pelan
"Hemmm" jawab Askara pelan
Anin berusaha menahan rasa bahagia di hatinya. ternyata selepas perkataan Askara beberapa jam yang lalu Askara masih punya kepedulian untuknya.
sejujurnya Anin pun merasa bingung karena ini kali pertamanya dia akan meminum susu hamil.
"Sebenarnya ini kali pertamaku minum susu hamil, jadi aku kurang tau takarannya" cengir Anin tak berdosa
Askara menghela nafas berat.
"Tapi kau bisa melihatnya di bagian petunjuk dan cara pembuatannya" buru-buru Anin mengarahkan Askara untuk membaca cara dan takaran pembuatan yang tertera di kotak susu.
Anin menopang kedua tangannya di atas meja makan depan dapur, memperhatikan Askara yang sesekali dengan kening berkerut membaca petunjuk.
dengan teliti Askara menuangkan 3 sendok makan susu bubuk tersebut dan menyeduhnya dengan air hangat sesuai petunjuk yang tertera.
perasaan senang memenuhi relung hati Anin, bagaimana tidak, Askara si pria dingin sekarang berada di depannya sedang membuat susu untuk dirinya.
"Ambillah" Askara menyerahkan segelas susu tersebut kepada Anin yang duduk di seberang meja dapur
Anin meraih gelas susu tersebut dengan senyum yang terus mengembang "Terimakasih"
tidak ada jawaban dari Askara yang sedang sibuk merapikan kotak susu.
Anin meneguk habis segelas susu tersebut, meski merasa sedikit aneh akan rasanya tapi dia menghabiskannya sekaligus menghargai Askara yang sudah susah payah membuatkannya.
"Kau mau kemana?" tanya Anin saat Askara sudah pergi dari dapur.
"Bukan urusanmu" ketus Askara tanpa berbalik
"Hufftt..baru saja bersikap manis sekarang balik lagi mode es nya" gumam Anin berjalan tertatih menuju westafel untuk mencuci gelas kotornya.
__ADS_1