
"Mas, aku kok tiba-tiba pengen makan ramen yah?". celetuk Anin membuat Askara menatapnya sekilas karena pria itu tengah fokus menyetir. mereka baru saja meninggalkan rumah sakit.
Askara mengerutkan kening, pasalnya Anin biasanya ngidam atau menginginkan makanan seperti mie ayam, batagor, ketoprak dan lain-lainnya.
"Ramen?". tanya Askara memastikan
"Iyya mas, bayangin kuahnya aja udah bikin aku ngiler". sahut Anin antusias, entah kenapa selera ngidamnya sekarang beralih ke makanan khas dari negara Jepang tersebut.
Selama hamil Anin memang tidak ngidam parah, akan ada waktu di mana dia sesekali merasa sangat menginginkan makanan-makanan tertentu seperti saat ini.
"Boleh yah Mas". rengek Anin karena Askara tidak menanggapinya.
Askara tampak menimbang, dia teringat pesan dokter Ziva tadi sebelum mereka meninggalkan ruangan, sebisa mungkin dia harus menuruti keinginan ngidam Anin selama permintaannya tidak aneh-aneh.
"Iyya, baiklah". singkat Askara yang sukses membuat Anin memekik senang.
"Terima kasih Mas". ujar Anin memeluk satu lengan Askara yang tidak memegang stir.
Askara tersenyum kecil, lalu mengacak lembut puncak kepala Anin dengan mata yang terus fokus ke depan.
Askara menambah kecepatan laju mobilnya untuk mencari restoran Jepang ternama dengan kualitas makanannya yang enak tentunya, Askara tidak ingin memberikan yang asal untuk Anin.
Cukup lama mencari-cari, Askara akhirnya memilih restoran Jepang yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. sekalian Askara ingin mengajak Anin berkeliling Mall setelah mereka makan nanti, karena dia sendiri sudah tidak berniat kembali ke kantor.
Anin dan Askara memasuki restoran Jepang tersebut yang langsung di sambut ramah oleh salah satu pelayan perempuan.
Setelah Anin dan Askara menempati meja yang terletak di bagian tengah, seorang pelayan lainnya datang menyajikan buku menu.
Askara segera memesan beberapa makanan dan tentunya tidak melupakan ramen pesanan Anin karena itulah tujuan utama mereka kemari.
"Silahkan di tunggu pesanannya pak". ujar sang pelayan perempuan lalu meninggalkan meja Anin dan Askara.
"Mas, aku ke toilet bentar yah". izin Anin yang tiba-tiba ingin buang air kecil.
"Biar aku temani". ujar Askara. tadinya dia ingin membuka email di handphonenya tapi urung di lakukan karena Anin yang ingin ke toilet.
"Tidak perlu mas, kau tunggu saja di sini. takutnya aku lama dan makanannya keburu datang". tolak Anin takutnya pesanan makanan mereka datang sedangkan tidak ada orang di meja.
"Tidak ada penolakan Anin". kekeh Askara.
"Memangnya Mas Askara nggak malu nunggu di depan toilet perempuan?". tanya Anin yang membuat Askara terdiam.
"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku". Askara mengalah karena apa yang di katakan Anin ada benarnya. tidak mungkin dia menunggu Anin di depan toilet wanita, dirinya bisa di tertawakan nanti .
"Iyya Mas, lagian cuman ke toilet kok. nggak bakalan kemana-mana juga". balas Anin seraya berdiri dari duduknya. semenjak perutnya semakin membesar, intensitasnya untuk buang air kecil semakin sering.
Askara kembali melanjutkan membuka email di handphonenya selepas kepergian Anin ke toilet.
Dan benar saja, tak berselang lama makanan pesanan mereka sudah datang. namun sudah sekitar 10 menit Anin izin ke toilet, wanita itu belum juga balik.
Askara hendak menyusul Anin, persetan dengan rasa malunya nanti yang terpenting dia harus memastikan Anin baik-baik saja atau tidak.
__ADS_1
Belum sempat Askara melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Askara". seru orang tersebut yang ternyata adalah Dalila yang sedang bersama Grace.
Askara jadi mengurungkan niatnya untuk mengecek Anin di toilet karena panggilan Dalila.
"Dalila? sedang apa kau di sini?" tanya Askara.
"Aku abis beli peralatan make up, kebetulan Grace nggak masuk kantor jadi aku minta dia nemenin". balas Dalila mengangkat paperbag dari salah satu brand ternama.
"Kebetulan sekali yah kita ketemu di sini". seru Grace antusias.
Askara hanya memasang wajah datarnya, sejak awal dia memang kurang menyukai Grace.
"Kok sendirian? Anin mana?". tanya Dalila yang sempat melihat tas seorang perempuan di atas kursi yang di yakini Dalila pasti milik Anin. apalagi beberapa makanan sudah tersaji di atas meja, sepertinya Askara dan Anin akan makan siang.
"Toilet". singkat Askara.
Tak lama orang yang di bicarakan datang dari arah pintu keluar toilet, cukup lama memang Anin berada di dalam karena semua toilet penuh, jadilah dia harus menunggu giliran.
"Maaf mas nunggu lama soalnya toiletnya penuh". ujar Anin belum menyadari kehadiran Dalila dan juga Grace karena sibuk merapikan bajunya.
"Hai Nin". sapa Dalila terlebih dahulu.
Anin mendongak, barulah dia menyadari kehadiran Dalila dan Grace di sini.
"H-hai kak". balas Anin setengah terkejut.
Anin beralih menatap Grace, wanita yang pernah bertemu dengannya di restorant waktu itu.
"Kalian saling kenal?" tanyanya.
"Kita pernah bertemu sekali sebelumnya, di restorant juga. waktu itu dia lagi makan sama Askara". jelas Grace membuat Dalila membulatkan mulutnya, tanda mengerti.
"Memangnya kau tidak kenal? dia kan sepupu Askara". lanjut Grace membuat Dalila menatapnya heran.
"Sepupu?". ulang Dalila namun tatapan matanya tertuju pada Askara yang sedari tadi hanya diam.
"Iyya sepupu. waktu itu Askara ngenalin Anin sebagai sepupu". Grace semakin memperjelas dan itu membuat Anin merasakan gugup luar biasa. Anin meremas tangannya kuat-kuat untuk menetralkan perasaannya.
Meskipun Dalila cukup terkejut tapi dia kembali mengingat cerita Askara. tentang bagaimana pria itu harus menikahi Anin yang notabene adalah orang asing di dalam hidupnya sehingga dia butuh penyesuaian. jadi bisa saja Askara sempat menutupi pernikahannya dengan Anin di awal. sungguh rumit memang, fikir Dalila.
Namun kali ini ada yang tampak berbeda dari penampilan Anin di mata Grace. wanita yang seumuran dengan Dalila itu turun menatap perut Anin yang tengah membuncit.
"K-kau hamil?". tanya Grace menatap Anin dan Askara secara bergantian. pasalnya waktu bertemu beberapa bulan yang lalu, perut Anin masih rata.
"Sudah selesai bicaranya?". tanya Askara dingin kemudian menarik Anin untuk lebih dekat dengannya.
"Aku hanya bertanya, soalnya waktu itu perut Anin masih rata. ternyata kau sudah menikah? lalu suamimu mana Nin?". tanya Grace lagi, menuntut penjelasan pada Anin.
Anin terpaku di tempatnya, dia tidak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
"Biar aku yang menjawab pertanyaanmu dan biar ku perjelas, waktu itu aku sempat memperkenalkan Anin sebagai sepupuku tapi kenyataannya adalah Anin sudah berstatus sebagai istriku jauh hari sebelum kita bertemu di restorant waktu itu dan sekarang dia sedang mengandung anakku, sudah jelas?". tanya Askara dengan nada bicara mengisyaratkan ketidaksukaannya terhadap Grace.
Grace terdiam karena merasa tak percaya, selama ini dia tau Askara begitu cinta mati pada Dalila. tapi kenapa pria itu begitu cepat berpaling. bahkan berita bahwa Askara sempat frustasi karena di tinggal Dalila juga sampai ke telinganya.
"Tapi bagaimana bisa? bukannya kau cinta mati pada Dalila?". tanya Grace dengan tidak tahu malunya. seolah melupakan Anin yang berstatus sebagai istri Askara.
"Grace, jaga bicaramu". tekan Dalila memperingatkan tentang apa yang baru saja temannya itu bicarakan.
"Kenapa Dalila? lagi pula apa yang aku bicarakan memang benar kan? Askara itu dari dulu memang sukanya sama kau. sejak kita kuliah Askara bahkan tidak pernah mau jauh-jauh darimu". ujar Grace yang tampaknya tidak menyadari kemarahan Askara.
Hati Anin tiba-tiba merasa sesak mendengar ucapan Grace. Anin refleks melepaskan tangannya yang di genggam oleh Askara di bawah meja.
Anin menunduk, apa yang di katakan oleh orang-orang terdekat Askara adalah fakta yang tidak pernah bisa di ubah. Dalila akan tetap menjadi cinta pertama Askara seperti yang di ketahui orang-orang selama ini.
Askara bisa merasakan saat Anin melepaskan tangannya yang dia genggam sedari tadi. kemarahan Askara memuncak saat Grace berbicara seolah tidak memikirkan perasaan Anin.
Dalila bisa melihat raut wajah Askara yang terlihat sedang menahan amarahnya. dia jadi tidak enak sekarang karena ucapan Grace yang tiba-tiba, terutama pada Anin.
"Grace kau ini bicara apa hah?". sentak Dalila tidak suka.
"Pergi dari sini". usir Askara dengan suara dingin.
"What? kau mengusir aku dengan Dalila? aku tidak percaya ini Askara". seloroh Grace menatap Askara dan juga Anin yang tengah menunduk.
"Lebih tepatnya kau". desis Askara menatap tajam Grace. jika tidak mengingat Grace adalah seorang perempuan, mungkin saja saat ini Askara sudah melayangkan bogeman mentah di wajahnya.
Wanita berambut pirang tersebut menelan salivanya susah payah saat melihat mata Askara di penuhi kilatan amarah.
"Biar kita pergi dari sini. Maaf sudah mengganggu makan siang kalian, ayo Grace". Dalila segera menarik tangan Grace menjauh dari Askara sebelum pria itu lepas kendali. sebelum pergi tadi pun Dalila sempat melirik Anin yang terlihat sedih karena ucapan Grace.
Askara menghela nafas kasar, dia beralih menapa Anin yang berdiri tanpa ekspresi.
"Ayo kita makan". ujar Askara membawa Anin ke tempat duduknya.
"Aku mau pulang mas". ucap Anin dingin menyambar tasnya yang berada di atas kursi. selera makan Anin hilang entah kemana setelah pertemuan mereka dengan Dalila dan juga Grace beberapa menit yang lalu.
"Tapi katanya kau ingin makan ramen, kita makan dulu yah baru pulang". bujuk Askara yang menyadari perubahan sikap Anin.
"Aku bilang aku mau pulang Mas". bentak Anin yang moodnya sudah di hancurkan oleh perkataan Grace.
Wanita itu berlalu keluar dari restorant meninggalkan Askara dengan luapan emosi dan sesak secara bersamaan di hatinya.
Askara mengusap kasar wajahnya.
"Arrghh...sial, awas kau Grace". geram Askara seraya mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja. sebelum benar-benar pergi, Askara menatap sekilas ramen yang berada di atas meja.
Askara membayangkan bagaimana wajah berbinar Anin tadi di dalam mobil saat membicarakan makanan itu. Dan kini makanan itu belum sempat di sentuh sama sekali oleh Anin.
Askara terkesiap, buru-buru dia mengejar langkah Anin yang tampak sudah semakin menjauh dari restorant.
**Siapa yang mau ngasih cabe ke mulut Grace?
__ADS_1
Hahaha..ngesselin emang yah.
bersambung** !