
Matahari pagi sudah meninggi, namun dua insan manusia yang lelah setelah melewati malam pertama di Bali dengan kegiatan panas mereka, belum juga bangun.
Baik Askara maupun Anin masih tertidur di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Askara memeluk tubuh polos Anin yang membelakanginya, dan menyandarkan kepalanya di tengkuk leher istrinya untuk mencari kenyamanan.
Dering ponsel Anin mengisi ruang kamar. Siapa kiranya yang menggangu tidur pagi Anin.
Dengan mata yang masih terpejam, Anin meraba nakas di sampingnya untuk mencari keberadaan ponselnya.
Anin mengintip dengan membuka sedikit matanya, ternyata mami Sandra yang melakukan sambungan video call.
Tanpa menyadari keadaannya, Anin segera mengangkat dan panggilan video call pun tersambung.
"Pagi mantu Mami" sapa Sandra dengan suara ceria.
"Pagi juga, Mi" jawab Anin dengan suara khas bangun tidurnya, kesadarannya belum terkumpul sempurna.
Dari layar ponselnya, Sandra dapat melihat jelas penampilan Anin begitu kacau dengan bekas kiss mark memenuhi lehernya.
Sandra menutup mulutnya, menahan untuk tidak berteriak melihat pemandangan pagi ini.
"Jadi kalian sudah melakukan itu?" tanya Sandra dengan menahan senyum.
"Itu apa maksud Mami?" tanya Anin masih kebingungan.
"Itu loh Anin, bekas merah di leher kamu" Sandra terkekeh melihat Anin yang belum sadar dengan penampilannya sekarang.
Anin menatap selimut yang menutupi tubuh polosnya, mata Anin sukses membola. dia tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Sekarang kamu baru sadar?" lanjut Sandra masih tertawa di balik sambungan video call.
Anin sangat malu sekarang "Ini tidak seperti yang mami fikirkan" ujar Anin, namun perkataannya itu justru membuatnya terlihat di bodoh di mata Sandra, karena kenyataan yang ada, justru mengatakan hal sebaliknya.
"Hahaha, tapi Mami sudah terlanjur melihatnya" ujar Sandra masih tertawa geli dengan kepolosan Anin.
Anin yang bergerak gelisah membuat tidur Askara terganggu, alhasil pria itu jadi terbangun.
"Askara mana Nin?" tanya Sandra mencari keberadaan Askara.
Askara yang kesal karena Maminya mengganggu tidur paginya merampas ponsel Anin.
"Mami ganggu aja pagi-pagi" ujar Askara dengan suara seraknya, kemudian mematikan sepihak panggilan video call maminya.
"Mas, kok di matiin. nggak sopan" tegur Anin.
"Biarkan saja, Mami cuman ingin menggoda kita" ujar Askara.
"Ayo, tidur lagi" lanjut Askara.
"Tapi Mas, ini sudah pagi" peringat Anin.
Askara melihat ke arah jendela, ternyata matahari sudah tinggi.
"Lalu?, apa kita melanjutkan kegiatan semalam saja?" tanya Askara dengan tatapan mesumnya.
Anin mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, jika mengingat malam panas mereka.
"Mas, aku malu" ujar Anin.
"Hahaha, wajahmu lucu sekali" tawa Askara melihat ekspresi malu-malu Anin.
"Sudah ah, aku mau mandi"
"Mau mandi bareng nggak?" lagi-lagi Askara berusaha memancing Anin.
"Mas Askara" teriak Anin menutup wajahnya dengan kedua tangan karena tidak tahan terus menerus di goda oleh Askara.
__ADS_1
Askara tertawa kecil, dia segera meraih pakaiannya yang tergeletak asal di lantai.
"Kau mandi duluan, aku ingin ke bawah" ujar Askara yang sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Iyya mas"
Tubuh Askara hilang di balik pintu, Anin segera bangun dari tempat tidur dengan selimut yang melilit tubuh polosnya.
"Awww" ringis Anin merasakan perih di **** *************. meskipun bukan kali pertamanya namun rasanya tetap saja sakit.
Dengan susah payah, Anin berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket.
*****
Mobil Ken baru saja sampai di toko kue Ambar, hari dia ingin bertemu Anin dan menanyakan siapa pria di taman kemarin.
Ken memasuki toko kue yang masih terlihat sepi pengunjung, beberapa pegawai bahkan masih beres-beres.
"Ken? tumben pagi-pagi ke sini" sapa Doni yang baru keluar dari dalam dapur.
"Hai Don, Anin belum dateng yah?" tanya Ken yang belum melihat keberadaan Anin.
"Anin nggak ngasih tau kamu?" tanya Doni
"Soal?" tanya Ken.
"Untuk tiga hari ini Anin nggak masuk kerja, lagi pulang ke kampungnya buat nengokin ibunya" ungkap Doni.
Ken terdiam, kenapa tiba-tiba sekali?.
"Oh, gitu yah.. tapi aku boleh minta nomor telfonnya Anin?"
"Tunggu" Doni mengambil ponselnya dan memberikan nomor telfon Anin pada Ken.
"Thanks ya, Don" ujar Ken setelah mendapat nomor Anin.
"Kayaknya tuh cowok punya rasa sama Anin" gumam Doni menatap kepergian Ken. kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ken yang sedang menyetir mobilnya tengah memikirkan Anin yang tiba-tiba pergi setelah kejadian di taman kemarin, apa mungkin Anin sengaja menghindarinya? batin Ken.
Setelah selesai pemotretan nanti, ken akan menghubungi Anin dan meminta waktu untuk bertemu dengan gadis itu, sekarang dia harus ke tempat kerjanya terlebih dahulu.
****
Anin menatap dirinya di pantulan cermin, lehernya penuh dengan bekas merah hasil karya Askara semalam. Dia tidak pernah menyangka bahwa akan benar-benar memberikan hak Askara.
Dengan berbekal foundation yang di bawanya, Anin menutupi bekas kissmark di lehernya agar tidak mengundang perhatian orang nantinya, dan tenyata ini sangat membantu Anin karena semua bekasnya tertutupi dengan sempurna.
Askara naik ke kemar membawa dua piring sandwich untuk sarapannya dengan Anin.
Seumur hidupnya, ini adalah pagi paling indah bagi Askara. itulah mengapa dia berinisiatif membuat sarapan untuk dirinya dan juga Anin. Padahal untuk menyewa seorang chef handal bisa di lakukannya.
Askara meletakkan sarapan tersebut di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidur.
Bersamaan dengan itu, Anin juga baru keluar dari ruang ganti dengan mengenakan dress pantai berwarna abu-abu yang memperlihatkan baju mulusnya.
Askara terpaku melihat kecantikan Anin pagi ini. jantungnya berdetak lebih kencang, jika pagi ini mereka tidak ada agenda ke pantai, rasanya Askara ingin kembali menerkam Anin di atas ranjang.
"Mas, kok udah ada sarapan? kamu yang masak?" tanya Anin heran melihat di depan Askara sudah tersaji dua piring sandwich.
Askara terkesiap, kembali tersadar.
"Eh, Iyya. aku sengaja membuatnya untuk kita sarapan". jawaba Askara.
Anin menatap tak percaya "Ternyata mas Askara bisa memasak juga?"
"Hemm, sedikit. lagi pula ini hanya sandwich, semua orang bisa membuatnya"
__ADS_1
"Tetap saja, untuk ukuran seorang laki-laki itu hal yang jarang di lakukan" ujar Anin mengambil duduk di dekat Askara.
"Cepat makan, pagi ini kita akan ke pantai" ujar Askara membuat Anin tersenyum cerah.
"Siap mas" balas Anin terkekeh menyantap sarapannya.
Setelah keduanya selesai sarapan, kini Askara dan juga Anin sedang dalam perjalanan menuju pantai yang katanya cukup terkenal di Bali dan banyak di kunjungi oleh turis dari berbagai negara.
Anin memakai topi pantai berwarna coklat untuk menutupi kepalanya dari panasnya terik matahari nanti, sedangkan Askara selalu dengan kacamata hitamnya untuk menghalau matanya dari silau sinar matahari.
Akhirnya mobil Askara sampai di pantai yang di maksud.
Askara turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Anin membuat gadis itu menatapnya lama.
"Terimakasih mas" ujar Anin tersenyum, sikap Askara mulai mencair.
Askara meraih tangan Anin dan menggenggamnya, berjalan menuju bibir pantai yang sudah ramai akan bule maupun pengunjung lokal.
"Mas, pantainya indah sekali" gumam Anin memperhatikan sekeliling.
Askara menatap wajah ceria Anin dari balik kacamata hitamnya.
Anin merasa sangat senang, pantai dengan pasir putih yang bersih membuatnya ingin berlama-lama di sini.
"Mas, aku mau ke sana" tunjuk Anin pada kursi pantai yang berjejer rapi.
"Hemm"
Anin berjalan lebih dulu karena merasa sangat senang.
Askara tersenyum kecil melihat tingkah Anin yang seperti bocah. dengan langkah lebar, Askara mengikuti Anin.
"Astaga Mas, tutup mata kamu" Anin refleks menutup mata Askara yang tengah menggunakan kacamata, dengan kedua tangannya.
Askara melepaskan tangan Anin "Ada apa sih?" tanya Askara heran.
"Itu loh mas, mereka cuman pake CD dan Bra, itu aurat, jangan di liat" ujar Anin polos menunjuk bule-bule yang tengah berjemur mengenakan bikini.
Askara menghela nafas berat "Itu namanya bikini, Anin"
"Iyya aku juga tau mas, tapi tetap saja kau tidak boleh melihatnya" Anin merasa cemburu jika Askara memandangi bule-bule seksi itu.
"Pakaian seperti itu sudah biasa buat mereka" ujar Askara yang merasa biasa saja, dia pun sama sekali tidak tertarik.
"Berarti sebelumnya, Mas Askara juga udah biasa liat dong" ujar Anin tidak suka.
"Tapi aku tidak tertarik sama sekali"
"Terus Mas tertariknya sama apa?"
"Sama tubuh kamu" ungkap Askara spontan, tapi jujur.
Di akui Askara, tubuh Anin sekarang menjadi candu untuknya.
Pipi Anin bersemu merah, dia menjadi salah tingkah apalagi jika mengingat kegiatan panas mereka semalam.
"Aaa...ku mau beli minum dulu" ujar Anin asal, dia hanya mencari alasan karena tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang tengah menahan malu.
Askara menatap Anin heran, ternyata gadis itu sangat mudah merasa malu jika membahas hal yang sensitif.
**Next part?
Jangan lupa. like, koment, dan vote**
Ini bukan visual Anin yah, tapi aku suka dress yang dia pakai. jadi begini kira-kira outfit dress pantai yang di pakai Anin.
__ADS_1