
Anin menuruni tangga dengan langkah terburu-buru, takut telat masuk kerja.
Sandra yang sudah berada di meja makan menatap cemas Anin yang menuruni tangga seperti orang yang sedang di kejar.
"Anin jalannya pelan-pelan" pekik Sandra was-was, memberikan peringatan.
Langkah Anin terhenti di pertengahan tangga.
Mampus, Mami Sandra memergokinya.
"Maaf Mi" Anin kemudian menormalkan langkah kakinya, menghampiri Sandra yang sudah duduk di meja makan.
"Bagaimana keadaan Askara?" tanya Sandra yang memang belum melihat keadaan askara lagi.
"Tadi pagi Anin udah kompres lukanya pak Askara, berangsur-angsur nanti pasti bengkaknya berkurang" jelas Anin
"Syukurlah" Sandra menarik nafas lega.
"Tapi kamu mau kemana sampai turun tangganya buru-buru seperti tadi, itu bahaya loh Nin" Sandra memberi peringatan pada Anin yang tidak memikirkan kandungannya.
"Maaf sudah membuat mami panik" sesal Anin, sudah membuat mertuanya khawatir.
"Lain kali jangan di ulangi, Sini temani Mami sarapan, kata Bi Ratih kamu belum sarapan kan" ajak Sandra yang sedang mengoles selai strowberry pada potongan roti di atas piringnya.
Anin tampak bimbang. ia tidak tega menolak ajakan Mami Sandra tapi di sisi lain ia akan telat masuk kerja apalagi beberapa hari ini Anin sering meminta izin.
"Enggg ..Mi.... " Anin tampak tidak enak sehingga menjeda perkataannya.
"Kenapa sayang?, kenapa masih berdiri ayo duduk" perintah Sandra karena Anin masih setia di tempatnya berdiri
"Kayaknya Anin nggak bisa nemenin mami sarapan pagi ini, soalnya Anin takut telat masuk kerja" ujar Anin pelan.
Sandra yang akan memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya menjadi terhenti karena ucapan Anin "Kau masih bekerja?" tanyanya tidak percaya.
"Iyya Mi" Anin menganggukkan kepalanya.
"Tapi kenapa?, apa Askara tidak memberimu nafkah hah?" decaknya.
Lihat saja jika itu benar, ia akan memarahi Askara habis-habisan.
"Enggak Mi, enggak kok" Anin buru-buru membantah, gawat jika Mami Sandra memarahi Askara nantinya.
Walaupun memang selama menikah, Anin belum pernah mendapatkan nafkah secara materi dari Askara, semua kebutuhannya dan kebutuhan dapur selama di apartement kemarin semua memakai uang tabungan pribadi Anin.
Hanya saja Anin tidak ingin membuat masalahnya lebar kemana-mana.
Hubungannya saja dengan Askara sudah seperti benang kusut, ini harus di tambah lagi dengan masalah nafkah.
"Lalu kenapa kamu masih bekerja" tanya Sandra menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Kau ini istri seorang Askara, CEO Wira's grup. semua kebutuhan kamu tidak akan kekurangan satu pun. pokoknya Mami tidak mau lihat kau bekerja lagi, apalagi kau ini sedang mengandung Mami tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian berdua" tegas Sandra, tidak ingin terjadi apa-apa dengan Anin dan juga kandungannya.
Mulut Anin terbuka hendak bersuara, tapi suara seseorang menginterupsinya.
"Kau dengar kan apa kata Mamiku, kau tidak perlu bekerja lagi" seru Askara dengan suara tegas.
Sejak kapan dia sudah berdiri di tangga?.
Anin menatap jengah, kehadiran Askara akan semakin mempersulitnya.
"Askara" ucap Sandra melihat Askara sudah berjalan menuruni tangga.
"Kenapa kau turun, bagaimana dengan lukamu?" tanya Sandra mengecek wajah putranya yang di penuhi lebam-lebam, namun yang di tanya matanya menatap lekat Anin dengan senyum smirk.
Moment ini akan ia jadikan kesempatan untuk membuat Anin berhenti bekerja.
"Seperti yang mami lihat, aku baik-baik saja" jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Anin.
Anin merasa risih di tatap seperti itu oleh Askara. Dia yakin pasti Askara sedang merencanakan sesuatu.
"Askara kenapa kau tidak melarang Anin untuk berhenti bekerja?" tanya Sandra setelah selesai memeriksa luka di wajah anaknya.
Dan yap, ini adalah pertanyaan yang Askara tunggu-tunggu dari Maminya.
"Bagaimana yah Mi, aku sebagai suami sudah memperingatkan istriku ini untuk berhenti bekerja, tapi tetap saja tidak di dengarkan, kalau seperti ini artinya dia seorang istri yang tidak patuh pada suaminya" ujar Askara dengan senyum devilnya.
Anin menatap tajam Askara, bisa-bisanya ia memakai cara seperti ini untuk membuatnya berhenti bekerja.
Sandra beralih menatap Anin "Kenapa kau tidak mau berhenti bekerja nak?" tanyanya mencoba bersikap sebijak mungkin agar Anin tidak merasa tertekan.
Otak Anin berputar mencari alasan yang tepat.
"Aku akan merasa bosan jika hanya tinggal diam di mansion Mi, lagian ini juga sepertinya mau anak di kandungan Anin" tidak ada cara lain, Anin terpaksa mengatasnamakan bayi di kandungannya.
Askara berdecih, tertawa mengejek. alasan apa itu? sama sekali tidak masuk akal menurutnya. bagaimana bayi yang belum lahir bahkan belum terbentuk sempurna bisa punya kemauan.
"Nanti Mami suruh Askara untuk membuat flower garden di halaman belakang mansion, jadi kamu bisa tinggal diam dirumah dan mengurusnya, bagaimana Askara?" usul Sandra meminta persetujuan Askara.
Askara tampak berfikir, lebih tepatnya hanya berlagak sok berfikir.
"Aku setuju dengan ide Mami" jawab Askara, bukan setuju lagi tapi dia amat sangat setuju.
Dua lawan satu, bisa-bisa Anin akan kalah.
Lagi pula dia tidak begitu suka dengan tanaman.
"Satu bulan" ucap Anin "Aku minta waktu satu bulan ke depan, jika terjadi sesuatu dengan kandunganku, aku akan berhenti bekerja dengan sendirinya tanpa di minta" mantap Anin membuat kesepakatan, dalam hati dia berdoa semoga kandungannya selalu baik-baik saja.
Askara menatap kesal Anin, ternyata wanita ini sangatlah keras kepala.
__ADS_1
"Kau sedang membuat kesepakatan?" dengusnya menatap tajam Anin.
"Iyya" jawabnya menatap berani Askara.
Askara mengusap wajahnya kasar, Anin ini kelihatannya saja lembut tapi dia sangatlah tidak mudah di goyahkan.
Sandra menatap putra dan menantunya bergantian.
"Sudah...sudah..kenapa kalian jadi bersitegang begini" Sandra melerai untuk mengakhiri perdebatan antara Anin dan Askara.
"Anin, tolong dengarkan mami, kali ini diri mami sendiri yang memohon padamu. berhentilah dari pekerjaanmu" Sandra menatap penuh harap agar Anin mau mendengarnya.
Anin tidak suka ini, kenapa mami Sandra harus memohon padanya, ia menjadi tidak tega.
"Mi.." Anin menarik lembut tangan Sandra.
Mau tidak mau Anin harus mengatakan semuanya.
"Sebelum Anin masuk ke dalam keluarga ini, Anin sudah punya tanggungjawab atas kelangsungan hidup ibu Anin di kampung, setelah ayah meninggal aku yang menggantikan posisinya, jadi jika aku berhenti bekerja bagaimana nasib ibu ku di kampung. lagi pula aku sudah membuat kesepakatan, untuk satu bulan ke depan dan aku akan berhenti dengan sendirinya jika terjadi sesuatu dengan kandunganku" jelas Anin berharap Sandra mau mengerti, masa bodoh dengan Askara.
Anin mengungkapkan yang sebenarnya, ini bukan soal dirinya tapi tentang ibunya. meskipun Anin mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan bagaimanapun Risa tetaplah ibunya.
Askara terkejut, tadinya berniat menggunakan kesempatan ini untuk membuat Anin berhenti bekerja, namun hatinya tiba-tiba merasa iba akan cerita Anin.
Hati Sandra mencolos, mendengar alasan Anin yang sebenarnya. menjadi istri dan menantu orang terpandang dan terkaya tidak membuat Anin menutup mata dan menggunakan kesempatan itu untuk mengeruk harta, padahal Anin bisa saja melakukan itu jika mau pada Askara, suaminya.
Sandra merasa bersalah "Maafkan Mami yang sudah memaksamu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca,m dan memeluk Anin.
"Tidak papa, Anin mengerti kekhawatiran mami dan justru sangat berterimakasih karena sudah mau mengkhawatirkan ku" ujar Anin membalas pelukan mertuanya.
Askara menatap interaksi antar Mami dan juga Anin.
"Aku izinkan kau bekerja seperti kesepakatan kita tapi......" perkataan Askara terhenti.
Anin mengurai pelukannya dari Sandra.
"Tapi apa?" tanyanya menunggu kelanjutan perkataan Askara dengan kening berkerut.
"Setiap pagi kau harus berangkat denganku dan pulangnya kau di jemput supir" putus Askara tak terbantahkan.
Setelah mendengar cerita Anin, setidaknya naluri dalam hatinya sedikit merasa tidak tega.
"Mami setuju" seru Sandra antusias.
Deg..
Berbeda dengan Anin, jika syarat kedua masih bisa dia terima tapi berangkat bersama Askara setiap pagi? oh tidak.
Tapi jika di fikir-fikir lagi, dari pada tidak boleh bekerja sama sekali lebih baik Anin menyetujuinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju" pasrahnya.
Sandra tersenyum lebar mendengar jawaban Anin, sedangkan Askara merasa aneh dalam dirinya, kenapa dia mulai peduli pada Anin.