Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 124


__ADS_3

Anin tak henti-hentinya melirik Askara dengan ekor matanya, suaminya itu memilih diam setelah pertemuan mereka dengan Ken di parkiran rumah sakit tadi.


"Mas .." Anin mencoba memulai pembicaraan.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, Anin". Askara tau istrinya itu berusaha untuk kembali menjelaskan kejadian yang sebenarnya agar dirinya tidak marah.


"Tapi kau marah, Mas. sejak tadi kau hanya diam saja". Anin merasa tidak nyaman berada dalam satu mobil dengan Askara karena terus di diamkan.


Terdengar helaan nafas dari mulut Askara. karena fokusnya harus tertuju pada jalanan di depannya, Askara hanya meraih tangan Anin lalu menggenggamnya. "Aku memang marah, Nin. tapi rasa takutku lebih besar". ungkap Askara.


Kening Anin berkerut mendengar pengakuan suaminya. "Mas Askara takut kenapa?". tanyanya.


"Ya, aku takut kalau Ken benar-benar membuktikan ucapannya, dan merebutmu dari aku". Perasaan Askara begitu gelisah saat membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


"Itu tidak akan mungkin terjadi, Mas. Kecuali...." Anin menggantung perkataannya.


"Kecuali apa, Nin?". tanya Askara penasaran.


"Kecuali kalau Mas Askara ingkar janji dan berubah haluan lagi". ujar Anin sambil menggigit kecil bibir bawahnya, dia tau bahwa perkataannya ini pasti akan menyinggung Askara.


"Jadi sampai sekarang kau masih meragukan aku, Nin?. kau tidak percaya kalau hati aku benar-benar sudah memilih kalian berdua?, kau dan anakku".


Askara terpaksa meminggirkan mobilnya dan menatap wajah Anin lekat-lekat.


"Lihat aku, Anin". tatap Askara intens tapi Anin malah menundukkan pandangannya.


Askara menarik dengan lembut dagu Anin agar mau menatapnya. "Apa di mata ini kau menemukan sebuah keraguan?". tanya Askara lembut membuat Anin refleks menggeleng pelan.


Anin bisa melihat kesungguhan dari perkataan Askara lewat manik mata suaminya itu, dan dia betul-betul percaya bahwa sekarang Askara seutuhnya adalah miliknya.


"Maka dari itu, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak akan pernah terjadi". ujar Askara mencium lembut puncak kepala Anin.


Anin terpaku dan merasa bersalah dalam waktu yang bersamaan. "Aku minta maaf, Mas". ujarnya tulus.


Askara mengelus pipi chubby Anin. "Aku hanya perlu kau selalu percaya padaku, Nin. karena sekeras apapun aku membuktikan jika kau sendiri tidak punya kepercayaan padaku, maka itu sia-sia saja".


Anin tersenyum simpul sambil memegang tangan Askara. "Iyya, aku akan percaya padamu Mas".

__ADS_1


"Jadi?, Mas Askara sudah tidak marah lagi?". tanya nya kembali memastikan.


Askara memasang wajah seolah sedang berfikir keras. "Tergantung service yang akan kau berikan nanti malam". Askara mengedipkan matanya menggoda Anin dan lihatlah wajah istrinya itu, dia berhasil membuat pipi Anin bersemu merah.


"Ihh.. Mas Askara mesum". Anin menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.


"itu bukan mesum sayang, kata dokter Ziva kan kita harus sering-sering berhubungan, supaya nanti lahirannya juga lancar". Askara tidak sepenuhnya mengatakan hal tersebut untuk menggoda Anin. tapi sewaktu mereka memeriksakan kandungan Anin, dokter Ziva menyarankan hal tersebut apalagi di tambah niat Anin yang ingin melahirkan normal.


"Tapi aku malu, Mas".


"Ngapain malu sih, sayang. kita kan sudah biasa melakukannya". Askara terkekeh karena baginya menggoda Anin adalah suatu kesenangan tersendiri.


Askara kembali melajukan mobilnya dan tidak terasa mereka sudah sampai di mall yang mana merupakan milik Askara sendiri.


"Mas, kita belanja di sini?". tanya Anin karena dia tentu tau Mall tersebut adalah punya suaminya.


"Hemm.. kenapa?, kau mau belanja di tempat lain?".


"Tidak, bukan begitu". sanggah Anin cepat. "Aku hanya bingung, apa aku harus membayar semua belanjaannya nanti atau tidak, ini kan Mall punya Mas Askara". cengir Anin menampilkan deretan gigi rapinya.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, sayang. hari ini kau cukup bersenang-senang dan memilih semua apa yang kau inginkan. lagi pula Mall ini adalah milikmu juga".


Wajah Anin seketika berubah antusias saat mendengar ucapan Askara.


"Ayo masuk". Askara menarik tangan Anin yang sudah tidak sabar berburu pakaian dan perlengkapan untuk calon anak mereka.


Anin memasuki toko demi toko di ikuti oleh Askara yang terus berada di belakangnya. sesekali Askara memperingatkan Anin agar berjalan dengan pelan mengingat kondisinya istrinya itu yang sudah hamil besar.


Untuk pakaian bayi, Anin sengaja banyak memilih pakaian berwarna biru dan warna netral lainnya, karena beberapa kali memeriksakan kandungannya, jenis kelaminnya adalah laki-laki.


"Mas, nanti kita bawa barang belanjaannya gimana?, ini nggak bakalan muat di mobil". Anin menatap stroller bayi yang ukuranya cukup besar. setelah memasuki toko pakaian bayi, Anin mengajak Askara untuk memasuki toko perlengkapan bayi.


"Pegawai toko akan mengantarnya ke rumah sayang, termasuk semua belanjaanmu tadi. jadi kau tidak perlu khawatir". ujar Askara tidak ingin kerepotan membawa barang belanjaan mereka yang cukup banyak.


Anin mengangguk paham, membiarkan Askara untuk mengurus semuanya saja.


"Mas, aku lapar". setelah lelah berkeliling Mall, perut Anin terasa keroncongan.

__ADS_1


"Kita makan di restorant di mall ini saja". usul Askara karena kebetulan terdapat banyak tempat makan di mall tersebut.


"Hemm.. terserah mas saja".


Askara membawa Anin keluar dari toko perlengkapan bayi tersebut. Anin yang bergelayut manja di lengan Askara membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka, apalagi Askara adalah pemilik dari Mall tersebut.


"Tunggu, Mas!". seru Anin tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.


Askara menatap Anin dengan wajah bingung, "Kenapa?, apa ada yang tertinggal, atau kau ingin belanja lagi?".


Anin tidak menghiraukan pertanyaan Askara. matanya terus memicing menatap dua insan manusia yang berjarak beberapa meter dari posisinya berdiri dan amat di kenalnya.


"Bukankah itu sekretaris Dito?". tunjuk Anin. "Dia bersama Vivi?". Anin sungguh tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh mata kepalanya.


Askara mengikuti arah tunjuk Anin. dia cukup terkejut mendapati Dito dan juga Vivi berada di Mall miliknya. dan apa-apaan ini?, kenapa keduanya terlihat begitu dekat dengan saling bergandengan tangan.


Terlalu larut dalam keterkejutannya, sampai-sampai Askara tidak menyadari bahwa Anin sudah berjalan menjauh untuk menghampiri Dito dan juga Vivi. Askara pun segera menyusul istrinya itu.


"Sedang apa kalian berdua di sini?". tanya Anin langsung.


Dito dan Vivi yang tertangkap basah oleh Anin tentu sangat terkejut dan refleks melepaskan tautan tangan mereka.


"A-anin". ujar Vivi gugup sekaligus terkejut melihat Anin juga berada di mall tersebut, di susul oleh Askara juga.


"Selamat sore, tuan". sapa Sekretaris Dito tetap bersikap formal layaknya di kantor. Vivi menatap kesal sekretaris Dito karena di suasana seperti ini, pria itu masih bisa bersikap biasa saja bahkan wajahnya terlihat begitu datar tidak menyiratkan keterkejutan sama sekali.


"Kalian berdua pacaran?". tanya Askara to the point'.


"Tidak!".


"Iyya, tuan!". jawab Vivi dan sekretaris Dito bersamaan tapi dengan dua jawaban yang berbeda.


Vivi membulatkan matanya sempurna saat mendengarkan jawaban sekretaris Dito. dia menatap tajam pria bertubuh jangkung tersebut seolah menyiratkan kekesalannya.


Anin mengerutkan kening mendengar dua jawaban yang berbeda. "Yang benar yang mana?". tanya Anin bingung menatap Vivi dan juga sekretaris Dito secara bergantian.


Vivi mendengus kesal, dia dalam masalah sekarang.

__ADS_1


__ADS_2