
Hari sudah pagi, Askara bangun dari tidurnya lebih dulu karena badannya terasa pegal-pegal tidur di sofa yang sempit untuk ukuran badannya yang tinggi jangkung.
Askara meregangkan otot-ototnya, ia melihat Anin masih tertidur dengan pulas di atas ranjang kebesarannya.
Jelas saja nyaman, Anin tidur di kasur kualitas nomor satu, sedangkan dirinya harus meringkuk di sofa berukuran kecil semalaman.
Mengabaikan Anin yang masih tertidur, Askara memutuskan untuk mandi agar badannya terasa segar kembali.
Askara pun memasuki kamar mandi dan melakukan ritual mandi paginya.
Tubuh Anin melenguh merasakan silau cahaya yang menelisik netra coklatnya.
Perlahan ia membuka mata, ini adalah tidur Anin yang paling berkualitas seumur hidupnya. jika biasanya ia akan merasakan badannya pegal-pegal saat bangun tidur, justru kali ini rasanya ia ingin kembali tidur sepanjang hari.
Mata Anin memindai seluruh ruangan, matanya berhenti pada sofa panjang yang masih lengkap dengan selimut dan bantal, tempat seharusnya dia tidur.
Tapi tunggu dulu, kenapa dia tidak tidur di sofa? siapa yang tidur di sana? lalu dia tidur di mana....?
Mata Anin membulat sempurna saat melihat tubuhnya berada di atas kasur keramat Askara.
Anin jadi panik, lalu di mana Askara?
Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Askara dengan rambut basah dan badan setengah telanjang, karena hanya handuk kecil yang melilit pinggangnya.
Anin menelan salivanya susah payah, roti sobek Askara begitu menggoda iman.
Duh, pagi-pagi begini Askara sudah menyuguhkan pemandangan yang tak biasa.
Askara melihat Anin ternyata sudah bangun, gadis itu memandanginya tanpa berkedip.
"Sudah puas melihatnya?" tanya Askara sarkas membuat Anin tersadar dan mengalihkan wajahnya karena malu.
Blush, Askara menangkap basah dirinya.
"Tidurmu pasti sangat nyenyak" Sindir Askara pada Anin yang baru bangun saking nyamannya tidurnya.
Anin menunduk "Aku minta maaf, aku tidak tau kenapa tiba-tiba bisa berada di tempat tidur pak Askara" balas Anin tidak berani mengangkat wajahnya.
"Kau tidak ingat kejadian semalam?" tanya Askara membuat Anin mengangkat wajahnya.
"Kejadian semalam?" tanya Anin mencoba mengingat detail demi detail apa yang di lakukannya semalam.
Di mulai saat dia makan mie ayam bersama Askara, setelah itu mereka pulang dan terakhir Anin hanya mengingat dirinya yang tertidur di mobil karena terlalu kenyang setelah menyantap dua mangkok mie ayam.
Selebihnya Anin tidak mengingat apapun lagi.
"Aku tidak mengingat apapun" suara Anin terdengar pelan.
Jelas saja Anin tidak mengingat apapun, karena memang tidak terjadi sesuatu kecuali Askara yang mencium keningnya saat tidur.
Semua ini Askara lakukan hanya untuk mengerjai Anin, akhir-akhir dia senang sekali menggoda Anin dan membuatnya kesal.
"Baiklah, kalau begitu akan aku ingatkan jika kau lupa" ujar Askara berjalan mendekat.
"Kau mengigau dan berjalan sendiri masuk ke dalam mansion dan naik kamar, setelah itu kau dengan sangat lancangnya tidur di atas ranjang ku, kau bahkan memukul wajahku yang belum sembuh sempurna ini karena melarangku tidur di tempat tidurku sendiri" ungkap Askara menggelengkan kepala memasang ekspresi seolah tidak percaya.
Dan tentu saja semua cerita yang baru saja dia ungkapkan semua itu hasil karangannya untuk mengerjai Anin.
Askara tersenyum puas melihat perubahan di raut wajah Anin.
"Aku? aku melakukan itu?" tanya Anin tidak percaya.
Selama ini dia tidak pernah yang namanya mengigau ataupun tidur dalam keadaan berjalan.
"Aku tidak mungkin melakukan itu" bantah Anin lagi.
"Yang namanya maling mana ada yang mau mengaku" cemooh Askara.
Walau begitu hati kecil Anin mengatakan dia tidak mungkin melakukan itu. Tapi semalam dia juga sama sekali tidak mengingat apapun.
"Aku minta maaf, sungguh minta maaf karena sudah membuat pak Askara tidur di sofa" ujar Anin begitu takut Askara akan marah.
Askara menahan senyum, dia berhasil mengerjai Anin.
__ADS_1
"Kali ini aku maafkan, tapi dengan satu syarat" ujar Askara, waktunya mengerjai Anin lagi.
Anin menatap Askara dengan seksama "Apa syaratnya?"
"Kau harus memilih pakaian yang akan aku kenakan hari ini" ungkap Askara.
Anin yang tadinya berfikir macam-macam akhirnya menarik nafas lega, syarat yang di ajukan Askara sangatlah muda baginya.
"Hanya itu?" tanya Anin, takut Askara punya persyaratan lain.
"Hemm, lakukan sekarang" perintah Askara dengan smirk di bibirnya. ia mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada sofa single dengan kedua tangan di lipat.
Anin pun melangkahkan kakinya ke dalam ruang ganti.
Tangan Anin bergerak memilih pakaian yang cocok untuk Askara gunakan. pilihan Anin jatuh pada celana pendek selutut dan juga baju kaos hitam. Santai tapi tetap casual, toh hari ini mereka hanya akan kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan Anin, jadi sepertinya cocok untuk Askara gunakan.
Anin melangkah keluar "Ini pakaian pak Askara" ujar Anin yang akan meletakkan pakaian tersebut di atas ranjang namun Askara menghentikannya.
"Aku tidak mau itu, cepat ganti" tegasnya menolak pakaian yang di bawa oleh Anin.
"Di ganti?" beo Anin.
"Hemm, selera pakaianmu sangat buruk" ejek Askara.
Anin menatap jengah, ia pun melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam ruang ganti.
Dia kembali memilih pakaian kedua untuk Askara, kali ini dia memilih celana jeans panjang dengan kemeja lengan pendek dengan motif abstrak, perpaduan yang pas menurutnya.
Kaki Anin kembali melangkah keluar "Bagaimana dengan yang ini?" Anin mengangkat celana dan juga kemeja tersebut, menunjukkannya pada Askara yang duduk di sofa layaknya seorang juri dan Anin adalah kontestannya.
Jari telunjuk Askara bergerak ke kiri dan ke kanan tanda menolak "No..no..no, aku tidak suka. warna kemeja itu terlalu rame, mataku sakit melihatnya" seloroh Askara membuat Anin mulai kesal.
"Cepat ganti" titah Askara mengibaskan tangannya di udara menyuruh Anin kembali masuk.
Dengan perasaan kesal Anin kembali masuk, sekarang dia lebih selektif memilih agar Askara tidak protes lagi.
Anin mengambil celana bahan kain model slimfit berwarna hitam di padukan dengan kemeja putih yang lengannya bisa di gulung hingga siku.
Askara nampak berfikir dengan mengetuk jari telunjuknya di dagu.
"Hemmm..not bad, tapi ini terlalu formal untukku. jadi kau harus menggantinya lagi" ujar Askara, ini sudah kali ketiga dia menolak semua pakaian yang Anin bawakan.
Sedari tadi Anin menahan rasa emosinya karena Askara sepertinya sengaja mengerjainya "Pak Askara sengaja melakukan ini padaku?" sungut Anin kesal.
"Aku tidak mengerjaimu, selera berpakaianmu saja yang jelek, kenapa jadi menyalahkan aku. Cepat ganti" titah Askara lagi. sungguh kesabaran Anin sedang di uji oleh Askara.
Anin berjalan masuk dengan menghentakkan kakinya kesal. sekarang dia mengambil celana kain panjang motif kotak-kotak dengan baju kaos berwarna putih.
Badan Anin terasa lelah karena belum sarapan, perut bawahnya pun tiba-tiba terasa kram seperti hari-hari sebelumnya.
Anin berusaha menahan rasa sakit di perutnya, dia berjalan keluar dengan langkah gontai.
"Bagaiman dengan yang ini?" tanya Anin datar berusaha menahan rasa sakit di perutnya.
Askara mengangkat wajahnya dari ponsel yang ia mainkan selama menunggu Anin memilih pakaian untuknya.
"Kenapa pilihanmu malah semakin buruk" Askara mendesah.
"Bawakan pakaian yang pertama saja" ujar Askara tanpa beban.
Rasanya Anin ingin menerjang tubuh Askara saat ini juga tapi dia hanya berani melakukannya dalam khayalan.
"Baik" jawab Anin singkat karena kram di perutnya semakin kuat terasa.
Askara menaikkan alisnya, apa Anin lelah? kenapa jawabannya singkat begitu.
Anin kembali memasuki ruang ganti.
"Awww..." ringis Anin sudah tidak kuat, ia menjatuhkan pakaian yang di bawanya ke lantai. Anin memegang perutnya.
"Tahan Anin, tahan" ujar Anin menyemangati dirinya.
Tubuhnya ia sandarkan pada tembok, menarik nafas pelan seperti yang biasa di lakukannya.
__ADS_1
Sakitnya mulai berkurang.
Anin berjalan keluar membawa pakaian Askara yang sebelumnya pertama kali dia keluarkan.
Di letakkannya pakaian tersebut di atas tempat tidur "Ini pakaian pak Askara, aku tinggal dulu. aku mau mandi" ujar Anin, ia kembali masuk kedalam ruang ganti mengambil pakaian yang akan di kenakannya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi
Sedangkan Askara saat ini tengah fokus pada ponselnya, membaca dengan seksama laporan-laporan dari kantor yang di kirimkan Dito via email.
Askara memijit pelipisnya, seperti dia tidak boleh berlama-lama lagi tinggal di rumah, sesegera mungkin dia harus masuk kantor.
Askara menutup ponselnya, dia beranjak dari duduknya dan segera mengambil pakaian yang Anin letakkan di atas tempat tidur.
Senyumnya terbit takkala membayangkan wajah kesal Anin tadi.
Askara yang baru saja selesai berpakaian memutuskan untuk turun karena ada beberapa file yang harus dia kirim sedangkan laptopnya berada di ruang kerjanya yang terletak di lantai bawah.
Anin baru saja selesai dengan ritual mandi paginya. dia keluar dari kamar mandi menggunakan dress casual selutut motif garis-garis. tentu saja semua pakaian yang Anin kenakan adalah pemberian Mami Sandra.
Sangat pas di tubuhnya karena ukuran perutnya juga belum terlalu besar jadi mengenakan dress seperti itu masih aman untuknya.
Anin tidak melihat Askara di dalam kamar, sepertinya pria itu sudah turun.
Tapi karena Anin belum memakaikan apapun di wajahnya, ia memutuskan untuk duduk di depan cermin menyapukan bedak tipis di wajah putihnya dan terakhir memakai liptint di bibirnya agar tidak terlihat pucat.
Selesai. Anin menatap pantulan dirinya di cermin. rambutnya ia gerai membuat penampilannya terlihat semakin manis.
Anin segera beranjak untuk turun, takut Mami Sandra dan Askara lama menunggu.
Askara mendengar suara langkah kaki menuruni tangga, dia pun mengalihkan perhatiannya. Matanya menatap tak berkedip penampilan Anin pagi ini. Tanpa make up tebal Anin terlihat menawan di mata Askara.
"Mami Sandra mana?" tanya Anin belum melihat kehadiran mertuanya.
Askara terkesiap dari lamunannya "Aku tidak tau" jawabnya ketus, sedari tadi dia juga sedang menunggu Maminya.
Dari arah dapur Bi Ratih sedang berjalan ke arah mereka.
"Tuan Askara dan non Anin sudah siap?" tanya bi Ratih melihat Anin dan Askara sudah rapi.
"Sudah Bi, terus Mami Sandra mana?" tanya Anin yang sampai sekarang tidak melihat wanita paruh baya tersebut.
"Maaf non, tadi pagi Nyonya besar buru-buru pergi karena katanya ada urusan penting jadi nyonya besar nitip pesan kalau non dan tuan aja yang berangkat berdua ke rumah sakit" jelas bi Ratih yang mendapat pesan dari Sandra.
"Apa? jadi Mami pergi?" tanya Askara tidak percaya, ia merauk wajahnya kasar. sepertinya Mami nya sengaja melakukan ini.
"Iyya tuan" jawab bi Ratih.
Askara mengeluarkan ponselnya untuk mengubungi Mami nya. tiga kali Askara menghubungi Maminya tapi tidak di jawab.
Ini membuat Askara semakin di buat kesal.
Ting.. satu pesan masuk di ponsel Askara.
"Mami sudah buat janji dengan dokter kandungan yang akan memeriksa kandungan Anin, jadi kalian berdua tinggal berangkat. maafkan mami yah, tiba-tiba ada hal mendesak yang mami harus selesaikan". isi pesan dari Sandra.
Tak lama, kembali lagi masuk pesan dari Sandra menginformasikan nama dokter dan juga rumah sakit tempat Anin akan memeriksakan kandungannya.
Anin memperhatikan wajah Askara yang sepertinya menahan kesal saat membaca pesan yang masuk di ponselnya, dia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Dari siapa?" tanya Anin.
"Mami" Singkat Askara.
"Apa katanya?, terus Mami jadi ikut kan?" tanya Anin beruntun, semakin membuat Askara bertambah jengkel.
"Kau diamlah" hardiknya. Askara kesal. Maminya pasti sengaja melakukan ini agar dirinya bisa lebih dekat dengan Anin.
Askara berjalan meninggalkan Anin dan juga bi Ratih yang masih berada di ruang tengah. Emosi Askara benar-benar di permainkan oleh Mami nya sendiri.
"Bi, Anin pamit dulu yah" ujar Anin tidak enak, ia menyusul Askara yang keluar terlebih dahulu. dapat Anin lihat Askara seperti sedang menahan amarahnya.
"Hati-hati non" peringat bi Ratih. entah kenapa bi Ratih merasa hubungan Askara dan juga Anin tidaklah seperti yang dia bayangkan sebelumnya. semoga saja perkiraannya salah.
Bi Ratih pun kembali ke dapur melanjutkan kerjaaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1