Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 41


__ADS_3

"kalian berdua saling kenal?" tanya Anin dengan raut wajah kaget.


"Hai" sapa Arga pada Anin yang masih terlihat bingung.


"Perkenalkan, aku Arga. dokter pribadi keluarga Wira" tangan Arga terulur untuk berkenalan dengan Anin.


Anin terkesiap, tenyata pria tersebut adalah dokter pribadi keluarga Askara.


Anin hendak membalas uluran tangan Arga, namun justru Askara yang dengan cepat mengulurkan tangannya dan menjabat tangan dokter Arga.


"Namanya Anin" ujar Askara penuh penekanan menggantikan Anin berkenalan dengan Arga. Askara tidak suka jika Arga memegang tangan Anin.


Arga menggelengkan kepalanya "Ternyata suamimu ini masih saja sangat posesif yah". seloroh Arga pada Anin.


Namun Anin hanya membalasnya dengan senyum kaku.


"Lo udah selesai berkenalan kan, silahkan pergi dari sini" usir Askara.


"Santai dong bro, gue kan baru ketemu adik ipar secara langsung, waktu itu kan gue liat waktu dia pingsan jadi kita nggak sempat ngobrol-ngobrol". ujar Arga mengingat pertemuan pertamanya dengan Anin waktu memeriksa keadaan gadis tersebut.


Anin membulatkan matanya. "Aku? pingsan?" tanyanya belum mengerti.


Anin menatap Askara menuntut penjelasan.


"Dia yang memeriksa kamu sewaktu pingsan di apartement, saat kau pulang dalam keadaan basah kuyup dan demam." ujar Askara mengingatkan Anin.


Anin mulai paham sekarang, pantas saja dia merasa tidak pernah mengenal dokter Arga. meskipun berulang kali pria itu mengatakan kalau mereka pernah bertemu tapi saat itu Anin dalam keadaan pingsan jadi otomatis hanya dokter Arga yang mengenalinya.


"Terimakasih untuk waktu itu" ujar Anin yang belum sempat mengucapkan terimakasih pada dokter Arga.


"Untuk apa kau berterimakasih padanya, itu sudah tugasnya". kesal Askara.


Dokter Arga menahan senyum melihat ekspresi jengkel Askara.


"Tapi kan, Mas_"


"Diam" sergah Askara membuat Anin mengatupkan rapat kedua bibirnya.


"Jangan galak-galak kali sama istri cantik Lo ini" ujar dokter Arga ingin membuat Askara cemburu.


"Bacot, pergi dari sini cepetan. sebelum gue hajar muka pas-pasan Lo itu" ancam Askara.


Dokter Arga tidak terima.


"Muka ganteng gini, Lo bilang muka pas-pasan. gue akui bro, Lo ganteng tapi lebih ganteng gue, hahahah" dokter Arga tertawa puas karena sudah membuat Askara kesal.


"Pergi nggak dari sini?" tekan Askara menahan emosi.


"Iyya..Iyya..gue cabut". ujar dokter Arga.


Namun sebelum pergi, Arga beralih pada Anin.


"Anin, sampai ketemu lagi nanti. Lain kali kalo mau jalan keluar jangan bawa suami galaknya" bisik dokter Arga yang masih dapat di dengar oleh Askara.


"Bye". Teriak Arga di selingi tawa, buru-buru menjauh sebelum Askara menyerangnya.


*****


"Mas, kok tadi kasar banget ngomongnya sama dokter Arga?". tanya Anin, keduanya sudah selesai berbelanja dan sekarang sedang di jalan pulang.


"Jangan terlalu dekat sama dia". peringat Askara.


"Kenapa?, kan dia dokter keluarganya Mas Askara juga". ujar Anin dengan kening berkerut.


Askara yang sedang menyetir, menjadi mendengus "Dia itu playboy, sering gonta ganti cewek apalagi kalau liat cewek cantik kayak kamu". ujar Askara tanpa sadar.


"Apa?" kaget Anin, bukan karena mengetahui dokter Arga adalah playboy, melainkan karena ucapan Askara yang mengatakan bahwa dia cantik.


"Mas Askara bilang aku cantik?" tanya Anin meneliti wajah Askara yang sedang fokus menyetir.


Askara baru sadar akan ucapannya. "Kau salah dengar" elak Askara, gugup.


"Pendengaran ku masih bagus, Mas".


"Aku tidak bilang seperti itu, pokoknya kau yang salah dengar "


"Susah banget bilang istrinya cantik". Anin semakin gencar menggoda Askara.


"Sudahlah, kenapa jadi bahas dokter Arga. Nggak penting". ujar Askara karena tidak ingin Anin terus-menerus menggodanya.


"Gengsi banget sih" Gumam Anin dengan senyum mengembang.


"Kau ingin makan siang apa?" tanya Askara membuka topik lain, tapi memang dia sudah lapar.


"Mas, dari kemarin aku mau ketoprak"


"Enggak, cari makanan lain". Tolak Askara karena makanan itu rata-rata di jual di pinggir jalan.


Anin memanyungkan bibirnya karena Askara menolak keinginannya. "Terus ngapain Mas Askara nanya kalo akhirnya nggak di turuti". mata Anin sudah memerah menahan tangis.


Perasaannya mendadak melow.

__ADS_1


"Iyya, oke. kita makan ketoprak" putus Askara karena melihat wajah Anin yang akan menangis.


"Yeee... Makasih Mas". Anin refleks memeluk lengan Askara membuat pria itu terdiam.


"Maaf". Anin melepas pelukannya saat sadar apa yang telah dia lakukan.


"Hemm". jawab Askara, sebenarnya ada rasa kehilangan saat Anin melepas pelukan di lengannya.


Mobil Askara akhirnya menepi saat menemukan penjual ketoprak yang sedang mangkal di pinggir jalan.


"Mas ikut turun yah, aku nggak mau makan sendiri". ujar Anin.


"Iyya". jawab Askara menuruti keinginan Anin.


Mata Anin berbinar, akhirnya dia bisa menikmati ketoprak yang di inginkannya sedari kemarin.


"Pak, ketopraknya dua yah". Anin memesan dua piring, untuknya dan untuk Askara juga.


"Iyya neng". balas penjual.


Askara dan Anin duduk di meja kecil yang sudah di sediakan.


"Mas harus cobain, ketoprak itu rasanya enak banget tau". ujar Anin antusias.


"Ini neng, ketopraknya". pesanan Anin akhirnya datang.


"Makasih pak".


Tanpa menunggu lama, Anin segera menyantap makan siangnya.


"Mmm...Mas sumpah, ini enak banget". ujar Anin menggelengkan kepalanya, seperti kebiasannya.


Satu alis Askara terangkat melihat ekspresi Anin.


Memangnya seenak itu? fikir Askara.


Tangan Askara dengan ragu mengaduk bumbu ketoprak. satu suapan masuk ke dalam mulutnya.


Askara terdiam, untuk yang pertama kalinya dia merasakan ketoprak dan ternyata rasanya seenak ini.


"Enak kan, Mas?". tanya Anin saat Askara terlihat berkali-kali menyendok ke dalam mulutnya.


Askara hanya mengangguk karena mulutnya penuh.


"Astaga Mas, kamu makannya belepotan gitu sih". Anin mengambil tisu dan membersihkan bumbu kacang yang terdapat di sudut bibir Askara.


Askara terdiam, dia menatap wajah Anin yang tengah serius membersihkan sisa makanan di bibirnya. Anin memang cantik walau hanya memakai riasan tipis di wajahnya.


Jantung Askara berdetak kencang, rasa hangat dan nyaman dapat dia rasakan saat Anin memberinya perhatian kecil.


"Hemm". jawab Askara kembali melanjutkan makannya.


"Mas, kita jangan langsung pulang yah. Aku mau main ke taman sebentar, pasti lagi rame banget di hari libur kayak gini". ujar Anin setelah menghabiskan sepiring ketoprak.


"Oke". balas Askara tanpa protes. hari ini dia ingin habiskan jalan-jalan dengan Anin.


"Yeeayyy..Makasih Mas". sorak Anin seperti anak kecil.


Askara tersenyum kecil melihat wajah senang Anin.


Setelah Askara membayar makanan mereka, mobil akhirnya melaju menuju taman yang di maksud Anin.


Akhirnya mereka sampai di taman.


"Bener kan, ternyata rame banget". ujar Anin saat melihat banyak pengunjung di taman tersebut.


Askara dan Anin berjalan beriringan memasuki taman yang luas tersebut. terlihat beberapa keluarga yang sedang piknik di bawah teduhnya pohon yang rindang, terdapat banyak penjual makanan, serta anak kecil yang berlarian ke sana kemari.


Duk.. Seorang anak kecil tak sengaja menabrak tubuh Anin, ice cream coklat yang di pegang anak tersebut mengenai dress selutut yang Anin kenakan.


Anak perempuan tersebut tiba-tiba menangis karena merasa bersalah dan takut di marahi setelah mengotori baju Anin.


"Hei, kenapa kau menangis sayang". ujar Anin berjongkok mengsejajarkan tinggi badannya dengan anak perempuan tersebut.


Namun, anak perempuan tersebut bukannya diam tapi malah terus menangis karena tak sengaja melihat Askara yang berdiri tepat di belakang Anin, melotot padanya.


Askara kesal, karena anak kecil tersebut sudah membuat kotor baju Anin.


Anin mengikuti arah pandang anak tersebut.


"Mas, jangan begitu". tegur Anin pada Askara yang membuat takut anak tersebut.


Anin kembali beralih pada anak perempuan di depannya.


"Sudah yah. Tante sudah tegur Omnya. Oh Iyya nama kamu siapa?". tanya Anin tersenyum.


Anak perempuan tersebut berhenti menangis "Nama aku Shena, Tante" jawab anak perempuan yang berusia sekitar 5 tahun tersebut.


Anin tersenyum lembut menatap Shena.


"Shena, kalau kamu melakukan kesalahan sama orang, kamu nggak boleh nangis yah sayang. Tapi Shena harus minta maaf pada orang tersebut. Berani mengakui kesalahan itu hebat loh".

__ADS_1


Anin berbicara dengan nada yang begitu lembut agar Shena tidak merasa takut.


"Beneran Tante?". tanya Shena.


"Iyya, Tante beneran. Jadi, sekarang Shena mau bilang apa sama Tante?".


"Shena minta maaf yah Tante, karena udah bikin kotor baju Tante cantik". ujar Shena tersenyum menampilkan gigi kecilnya.


"Oke siap, Tante maafin Shena". jawab Anin membuat Shena tertawa kecil.


"Kamu lanjut mainnya yah, ingat. Hati-hati". pesan Anin.


Shena pun berlari meninggalkan Anin tanpa melihat ke arah Askara lagi.


Askara yang masih berdiri di belakang Anin memperhatikan dengan seksama interaksi antara Anin dan Shena tadi. Kelembutan Anin bisa membuat seorang anak patuh padanya.


Askara baru melihat sisi keibuan yang ada dalam diri Anin padahal usianya masih sangat mudah.


Anin berdiri dari jongkoknya. "Awwww" Anin meringis memegang perut bawahnya. rasa sakit itu kembali setelah beberapa hari tidak muncul.


"Kau kenapa?". Askara buru-buru mendekat, mengecek kondisi Anin.


"Aku tidak papa, Mas. mungkin karena terlalu lama jongkok tadi". jawab Anin menetralkan rasa sakit di perutnya.


"Kita cari tempat duduk dulu". ujar Askara menuntun Anin ke sebuah kursi panjang yang kosong.


"Kau tunggu di sini, aku cari minum dulu". suara Askara terdengar khawatir.


"Iyya Mas, jangan lama-lama". jawab Anin menahan sakit.


Tak lama Askara kembali dengan sebotol air mineral.


"Minum dulu". Askara menyodorkan air pada Anin.


"Gimana?, Masih sakit? apa kita kerumah sakit aja". Askara terlihat panik saat bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori wajah Anin.


"Nggak usah Mas, ini cuman kram biasa. sebentar lagi juga sakitnya hilang". balas Anin.


"Ckk... keras kepala banget". gerutu Askara tapi tetap setia menemani Anin.


Berangsur-angsur, rasa sakit di perut Anin hilang.


"Mas, lihat deh anak-anak itu, mereka keliatan seneng banget liburan bareng kedua orang tua mereka".Perhatian Anin tertuju pada sebuah keluarga yang terlihat bahagia sedang piknik di bawah pohon.


"Aku berharap saat anak ini lahir dan besar nanti, dia juga akan sebahagia itu karena memiliki orang tua yang lengkap". ujar Anin merasa sedih membayangkan bahwa anaknya nanti sudah harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya berpisah setelah dia lahir.


Besar harapan Anin, semoga saja di ujung pernikahannya nanti, semoga Askara berubah fikiran dan mencintai dirinya seperti Anin yang tanpa sadar mulai jatuh cinta pada Askara.


Askara menoleh menatap wajah Anin dari samping. Terlihat harapan Anin memiliki keluarga yang bahagia.


"Hemm.. Anak itu tidak akan kekurangan kasih sayang". ujar Askara membuat Anin menatapnya.


"Maksud Mas Askara?" tanya Anin, dia berharap Askara akan mengatakan hal yang membuatnya senang.


"Meskipun nantinya kita sudah bercerai, kita tetap bisa menjadi orang tua yang lengkap untuk anak itu. kita bisa membawanya berlibur bersama, kau bisa membawanya untuk menemuiku kapanpun anak itu mau". jawab Askara yang masih tetap pada pendiriannya akan bercerai dari Anin setelah anak itu lahir.


Pupus harapan Anin, karena Askara ternyata masih tetap dengan pilihannya untuk bercerai dengan dirinya nanti.


Anin berusaha untuk tidak menangis.


"Mas, aku mau beli itu dulu". ujar Anin berdiri dari duduknya.


Askara menatap punggung Anin yang berjalan menjauh. dia merasa bersalah setelah melihat raut sedih di wajah Anin. tapi dia pun bingung harus mengatakan apa. Hatinya belum sepenuhnya lepas dari Dalila.


"Pak, mau ini satu dong". Anin membeli pistol gelembung karena gemas melihat anak-anak yang tengah berlarian sambil menembakkan pistol gelembung tersebut ke udara sambil tertawa.


Setelah Anin mendapatkannya, dia menghampiri anak-anak kecil tersebut "Kakak boleh gabung nggak?". tanya Anin memperlihatkan pistol gelembung di tangannya.


Anak-anak kecil tersebut saling memandang "Boleh". seru mereka kompak.


Anin pun ikut bergabung dengan mereka. saling adu tembak-menembak sehingga taman di penuhi dengan gelembung sabun.


Tawa lepas terlihat dari wajah Anin yang saling kejar-kejaran dengan anak-anak tersebut.


Dari tempat duduknya, Askara tersenyum melihat wajah ceria Anin. Gadis itu tertawa tanpa beban.


Namun, Askara juga khawatir saat melihat Anin berlarian ke sana kemari dengan kondisi yang sedang hamil.


Askara memutuskan berdiri dari duduknya.


"Anin jangan lari-lari". peringat Askara namun Anin tidak mengindahkannya dan semakin asik bermain.


"Adik-adik, kalian lihat Om itu, ayo kita tembak dia". seru Anin saat melihat Askara menghampirinya.


"Ayooooo". seru mereka menembakkan gelembung pada Askara.


Askara refleks balik arah dan berlari saat gerombolan anak-anak itu menghampirinya.


"Hahahaha"... Anin tertawa terbahak-bahak melihat Askara yang lari karena di kejar. air matanya bahkan keluar karena tidak berhenti tertawa.


like

__ADS_1


komen


vote


__ADS_2