
"Lepaskan, Askara". Dalila menyentak dengan keras tangannya agar terlepas dari genggaman Askara. pria itu menyeretnya dari pesta yang masih berlangsung dan membawanya kembali ke apartement.
"Kenapa kau membawaku kemari? Di sana masih ada Ken. kau ini sebenarnya kenapa hah? kau seperti bukan Askara yang aku kenal". Dalila tidak habis fikir dengan sikap Askara. dia terus bertanya apa alasan pria itu menyeretnya pulang, tapi Askara hanya diam membungkam mulutnya.
"Masuk". Titah Askara saat sudah menekan password apartement Dalila. pria itu tau semuanya karena apartemen tersebut hadiah dari dirinya saat ulang tahun Dalila.
Askara membawa masuk Dalila, barulah akhirnya dia melepaskan genggamannya di tangan Dalila.
"Kau kenapa Askara? jangan buat aku seperti orang bodoh seperti ini". Dalila berteriak frustasi.
"Jauhi Ken". Askara memerintah tapi tak pernah menyebutkan alasannya.
Dalila tersenyum picik "Kau memerintah tanpa ada alasan logis. sepertinya kau memang benar-benar gila".
"Aku tidak gila, Lila". Marah Askara karena tidak suka Dalila menyebutnya gila.
"Kalau tidak gila lalu apa namanya? kau menyuruhku untuk menjauhi Ken tapi kau sendiri tidak bisa menyebutkan alasannya, apa itu bisa di sebut waras?". Sarkas Dalila.
Askara mengusap wajahnya kasar melihat mata Dalila sudah berkaca-kaca. selama ini dia tidak pernah berbicara dengan suara besar pada wanita itu.
"Maafkan aku". Suara Askara berubah lembut hendak menggapai kedua bahu Dalila tapi wanita itu buru-buru mundur.
"Jangan sentuh aku sebelum kau jelaskan semuanya". Ujar Dalila dengan wajah datarnya.
Askara menatap Dalila tepat di manik mata wanita itu.
"Ken pernah menyukai Anin, bukan hanya pernah tapi mungkin sampai saat ini dia masih mencintai Anin". terang Askara akhirnya.
Tubuh Dalila menegang mendengar penuturan Askara. Ken menyukai Anin?
"K-kau pasti berbohong, Askara". Dalila mencoba menepis omongan Askara.
"Sejak kapan aku pernah berbohong padamu? kau tau sendiri, selama ini hanya kau yang kenal betul diriku".
Benar, Askara tidak pernah menyembunyikan apapun darinya.
"Tapi kenapa kau harus lampiaskan semuanya padaku? Ken itu pria yang baik, dia teman kerjaku tidak seharusnya kau bersikap seperti tadi". sungut Dalila.
"Mana ada seorang pria baik yang mencintai istri orang, terang-terangan mengatakan suka pada wanita yang sudah bersuami, aku tanya Dalila, apa itu yang di sebut dengan pria baik?". tanya Askara dingin.
Dalila terdiam, tidak mungkin Ken seperti itu. tapi dia kemudian teringat obrolannya dengan Ken di tempat pemotretan kemarin, pria itu terang-terangan mengatakan pernah mencintai wanita yang sudah bersuami, apa orang yang di maksud oleh Ken adalah Anin?.
"Apapun itu hubungan Ken dan Anin di masa lalu, tidak ada sangkut pautnya denganku Askara. Ken dan aku murni teman kerja, jadi tolong jangan ikut campur apalagi bersikap tidak sopan pada Ken seperti tadi". Dalila tidak ingin Askara menyeret dirinya dalam permasalahan Anin dan juga Ken.
Askara tersenyum miring mendengar ucapa Dalila yang seolah tidak suka dirinya ikut campur.
"Apapun yang menyangkut dirimu itu akan selalu menjadi urusanku, termasuk Ken. aku tidak menyukai pria itu dan itu artinya kau juga tidak boleh dekat dengannya".
Dalila tersenyum masam. "Ingat Askara, kau tidak seharusnya bersikap seperti ini. jangan membuat aku salah paham dengan perlakuanmu, kau itu sudah punya Anin".
Dalila tidak ingin terjebak dalam kelabilan sikap Askara. apalagi ada Anin sekarang di hidup Askara.
"Kenapa?". tanya Askara dengan satu alis terangkat. "Kau khawatir Anin akan salah paham dengan kedekatan kita? kenapa kau harus takut akan hal itu sedangkan sejak dulu kau hanya menganggap aku sebagai seorang sahabat, apa kini perasaanmu padaku sudah berubah? apa sekarang kau takut jatuh cinta padaku? oh atau memang kau sudah cinta padaku?". tanya Askara penuh selidik membuat Dalila merasa terintimidasi.
"A-apa yang kau bicarakan, aku tidak mengerti maksudmu". Dalila mengalihkan wajahnya karena tidak ingin menatap Askara.
Askara menyeringai. "Lihat aku jika kau sedang berbicara. kau tau kan? aku paling tidak suka jika lawan bicaraku berbicara tanpa menatap mataku. itu artinya orang tersebut sedang menyembunyikan sesuatu". tebak Askara semakin membuat Dalila gugup.
"Pergilah Askara, Anin pasti mencarimu jangan buat dia kebingungan". usir Dalila takut Askara semakin menekannya nanti untuk bicara. dia tau betul seperti apa watak Askara.
Melihat sikap Dalila yang tampak menyembunyikan sesuatu justru semakin membuat Askara tertantang dan mengabaikan pengusiran Dalila.
Askara semakin mendekat membuat Dalila mundur satu langkah.
"Katakan apa yang kau sembunyikan dariku". Askara berhasil memegang kedua bahu Dalila tapi wajah gadis itu masih berpaling tak ingin menatapnya.
"A-apa maksudmu? memangnya apa yang aku sembunyikan". Dalila tidak mungkin mengatakan semuanya.
Emosi Askara mulai terpancing, dia paling tidak suka di abaikan. pria itu mencengkram kuat bahu Dalila, sekalipun Dalila adalah sahabat yang paling dia sayangi bahkan pernah dia cintai tapi jika wanita itu membangkang, Askara tetap bisa berlaku kasar.
"Askara sakit, lepaskan!". lirih Dalila merasakan nyeri di kedua bahunya.
"Kau akan merasakan hal yang lebih sakit jika berani menutupi sesuatu dariku? katakan bagaimana perasaanmu saat ini padaku Dalila? apa sampai sekarang aku masih kau anggap sebagai seorang sahabat?". Suara Askara terdengar dingin menusuk siapapun lawan bicaranya.
"Iyya.. kau masih aku anggap sebagai sahabat". jawab Dalila tapi terdengar ragu di telinga Askara.
Karena merasa tidak puas dengan jawaban Dalila, Askara menambah kekuatan cengkramannya membuat Dalila menatap tajam Askara sambil menahan sakit di kedua bahunya.
"Lepaskan Askara, kau gila hah?".
"Katakan Dalila? katakan padaku perasaanmu yang sebenarnya". teriak Askara membuat Dalila memejamkan matanya karena terkejut apalagi wajah Askara menegang dengan mata memerah.
__ADS_1
"Iyya, Aku mencintaimu Askara. Puas?". balas Dalila ikut berteriak, dia muak sekaligus sakit karena cengkraman Askara. persetan dengan keadaan, tapi pada akhirnya Askara tau perasaannya padanya.
Askara membeku mendengar pengakuan Dalila. cengkramannya di bahu wanita itu perlahan melonggar, pria itu mundur selangkah mengetahui fakta bahwa Dalila mencintainya. tapi apa pernyataan Dalila itu sekarang ada gunanya? jawabannya tidak. semua sudah terlambat.
"Sekarang kau sudah tau perasaanku padamu kan? ini kan yang mau kau dengar?". Dalila mengusap air matanya yang jatuh entah kapan.
"Lalu setelah kau tau semuanya, apa sekarang perasaanku itu ada gunanya, Askara? enggak kan?, mungkin ini karma untuk aku yang dulu menyia-nyiakan perasaanmu. aku baru menyadari semuanya setelah kau mempunyai Anin di hidupmu. tadinya aku ingin memendam ini semuanya sendiri, tapi hari ini kau memaksaku mengakui hal yang sama sekali tidak ingin akui, Askara". Dalila terisak karena dia tidak ingin membuat Askara terbebani dengan perasaannya. tapi apa boleh buat, semuanya sudah terungkap.
Askara mendekat, perlahan menarik tubuh Dalila yang terisak ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku". ujar Askara dengan suara lembutnya.
*****
Vivi membawa Anin memasuki mansion dengan kondisi yang bisa di katakan tidak baik. Anin menangis dalam diam tanpa ekspresi menatap datar ke depan.
"Kau tunggu saja di sini". ujar Vivi pada Ken yang ikut masuk ke dalam mansion mengantar Anin.
"Oke". balas Ken patuh, dia melihat kondisi Anin yang diam seribu bahasa semenjak di dalam mobil hingga sampai ke mansion. meskipun banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya tapi Ken urungkan untuk bertanya, mungkin nanti.
"Mia, tolong buatkan minum untuk Ken. aku ingin membawa Anin ke kamarnya". ujar Vivi pada Mia.
"Baik, Nona". Mia segera berlalu ke dapur.
Vivi menuntun Anin menaiki tangga dengan tangan yang tak lepas merangkul tubuh wanita hamil itu. jika tangan Vivi sampai lepas, maka bisa di pastikan Anin akan terjatuh saat itu juga karena tubuhnya benar-benar seperti tak bertenaga. bagaimana tidak? Anin melihat Askara menarik tangan Dalila meninggalkan pesta dan pergi entah ke mana tanpa mengatakan sepatah kata pada Anin.
Anin sampai di dalam kamarnya dengan pencahayaan lampu kamar yang remang-remang, persis seperti kondisi hatinya sekarang.
"Hiks..hiks .hiks..". Tangis Anin akhirnya pecah setelah sekian lama menangis dalam diam. wanita itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Vivi memeluk tubuh sahabatnya itu. "Lo yang kuat yah". Vivi berusaha menahan untuk tidak ikut menangis di depan Anin.
"Askara ninggalin gue di pesta, Vi. dia sama sekali nggak noleh ke gue dan langsung bawa Dalila pergi". Anin merasakan perih di hatinya, di mana Askara sama sekali tidak menganggap dirinya ada dan pergi begitu saja bersama Dalila.
"Lo ganti baju dulu yah?". hanya itu yang bisa Vivi katakan, karena dia sendiri pun sama kecewanya melihat Askara pergi meninggalkan pesta, terutama meninggalkan Anin, istrinya.
Anin mengangguk lemah, karena memang dia sudah tidak nyaman lebih tepatnya sudah ingin melepas gaun pesta yang sengaja di desain oleh Askara untuk dirinya dan untuk pesta malam ini. tapi karena Askara yang pergi begitu saja meninggalkannya di pesta, membuat Anin tidak ingin berlama-lama memakai gaun itu.
"Lo tunggu di sini, biar gue ambilin baju gantinya". Vivi mendudukkan Anin di tepi ranjang kemudian beralih pada lemari pakaian Anin.
Vivi mengambil sepasang piyama yang menggantung, tidak terlalu sulit untuk Vivi menemukan baju untuk Anin karena memang semuanya di letakkan se-rapi mungkin sesuai dengan tempatnya.
"Gue bantu lepasin gaunnya yah". tawar Vivi yang di angguki oleh Anin.
Vivi dengan cekatan membantu Anin mengganti pakaiannya. tidak ada kecanggungan di antara mereka, karena sudah bersahabat sejak lama.
Anin sudah selesai mengganti gaunnya dengan piyama. wanita itu kembali duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong.
"Lo makan dulu yah? di pesta tadi Lo belum sempat makan". ujar Vivi ikut duduk di tepi ranjang.
Anin menggeleng lemah. "Gue nggak laper, Vi. gue mau istirahat aja". ujar Anin tidak selera makan.
"Tapi Nin, Lo belum makan apa-apa sejak tadi. belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke perut Lo, bahkan air pun tidak". Vivi khawatir dengan kondisi Anin, apalagi wanita itu sedang mengandung. "Gue ambilin makan yah?".
"Hemm". Bagaimanapun Anin tidak boleh egois, dia sedang mengandung.
Setelah mendengar jawaban Anin, Vivi langsung beranjak turun meskipun dengan langkah kesusahan karena gaun panjang yang masih melekat di tubuhnya.
"Gaun ini benar-benar menyusahkan ku". gumam Vivi mengangkat tinggi-tinggi gaunnya. kakinya juga terasa sangat sakit karena menggunakan high heels. jangan lupa ingatkan Vivi untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah memaksanya memakai gaun itu.
Baru saja dia mengucap sumpah serapah dalam hati, orang yang dia maksud sudah datang berjalan memasuki mansion.
"Di mana Nona, Anin?". tanya sekretaris Dito langsung.
"Di kamarnya". balas Vivi.
Ken yang duduk di ruang tengah langsung berdiri saat melihat sekretaris Dito datang, pria itu membungkuk memberi hormat pada sekretaris Dito.
"Lalu bagaimana keadaan Nona Anin?". tanyanya lagi.
"Tadinya dia tidak mau makan, tapi aku memaksa dan akhirnya mau. sekarang aku ingin ke dapur untuk mengambilkan Anin makan malam, tapi gerakku kesusahan karena gaun sialan ini". Vivi menatap tajam sekretaris Dito yang hanya memasang wajah datarnya.
"Biar aku saja yang ke dapur dan memberitahu Mia. kau gantilah pakaianmu di kamar tamu". sekretaris Dito menyerahkan sebuah paperbag berisi pakaian untuk gadis itu.
Vivi bernafas lega, akhirnya dia bisa terbebas dari gaun sialan yang membuatnya tidak nyaman.
"Lain kali akan ku beri kau pelajaran jika memaksaku memakai gaun seperti ini lagi". Vivi segera meraih paperbag di tangan sekretaris Dito lalu menuju ke kamar tamu.
Sekretaris Dito sempat melirik sebentar ke arah Ken yang duduk di ruang tengah. pasti pria itu bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. tapi sekretaris Dito memilih berlalu ke dapur lebih dulu untuk menyuruh Mia menyiapkan makan malam untuk Anin.
Vivi membawa nampan berisi makan malam untuk Anin. gadis itu sudah berganti pakaian dan sudah lebih nyaman tentunya.
__ADS_1
Posisi Anin masih sama, duduk di tepi ranjang menatap datar ke depan.
"Anin, Lo makan dulu yah". bujuk Vivi.
Anin mengangguk lalu menerima suapan Vivi, dua sampai tiga suap masuk ke dalam mulut Anin, wanita itu tampak mengunyah dengan gerakan pelan, rasanya makanan itu sulit turun ke tenggorokannya meskipun sudah dia kunyah sehalus mungkin.
"Gue udah kenyang, Vi". Anin menolak suapan ke empat dari Vivi.
"Tapi Nin, makanannya belum abis".
"Rasanya mual, jika di paksa lagi gue bisa muntah". Anin tidak bohong, perutnya rasanya tidak enak sekarang.
Vivi tidak ingin memaksa. "Baiklah, yang penting Lo udah makan tadi meskipun hanya beberapa suapan".
Vivi meletakkan makanan Anin yang tidak habis itu ke atas nakas.
"Ken masih ada di bawah?". tanya Anin, dia tidak melupakan Ken yang sudah mengantarnya kemari.
"Hemm. Dito juga baru aja dateng, lagi ngobrol di bawah sama Ken".
"Lalu, Mas Askara?". tanya Anin dengan suara tercekat. kenapa sampai sekarang suaminya itu belum pulang.
Vivi menggeleng lemah tanda bahwa Askara belum pulang.
Anin menunduk sedih, air matanya kembali jatuh.
"Gue mau istirahat, Vi. Lo bisa pulang sekarang". bukan maksud Anin mengusir Vivi. tapi dia butuh waktu untuk sendiri.
"Enggak, Nin. gue nggak mungkin ninggalin Lo sendirian di sini. setidaknya sampai Askara pulang, baru juga gue pulang".
"Enggak, Vi. tolong kasih gue waktu buat sendiri. percaya sama gue, nggak akan terjadi apa-apa sama gue, please". Anin memohon agar Vivi mau mengerti keadaannya, yang dia butuhkan sekarang adalah sendiri.
Meski berat hati, Vivi akhirnya setuju. "Oke, gue pulang. tapi kalo ada apa-apa hubungin gue. jangan matiin ponsel Lo".
"Iyya". balas Anin berusaha tersenyum.
Vivi meninggalkan kamar Anin dengan perasaan tak rela. tapi dia percaya pada Anin, sahabatnya itu tidak akan berbuat yang aneh-aneh.
"Kenapa turun?". tanya sekretaris Dito saat melihat Vivi sudah turun dari kamar Anin.
"Sepertinya Anin butuh waktu buat sendiri, dia nyuruh kita buat pulang".
"Tapi Anin sendirian, Vi". ujar Ken.
"Justru itu yang dia mau untuk saat ini Ken, Anin mau sendirian".
Ken mengusap wajah kasar. dia merasa emosi karena Askara meninggalkan Anin di pesta.
"Sebaiknya kita turuti apa mau Nona Anin, kita semua pulang". ujar sekretaris Dito.
Mau tidak mau, dengan berat hati Ken mengikuti langkah Vivi dan sekretaris Dito yang sudah lebih dulu berjalan keluar menuju pintu utama.
Di dalam kamarnya, Anin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. wanita itu menangis sambil menggigit bibir bawahnya, hatinya terasa sakit membayangkan kembali wajah Askara yang tampak tidak suka saat Dalila membawa Ken ke pesta tadi.
Bisa Anin lihat dengan jelas kecemburuan di mata Askara dan itu kembali meyakinkan dirinya bahwa Askara masih mencintai Dalila.
Anin memiringkan tubuhnya ke kanan, menarik selimut sampai hampir menutupi seluruh tubuhya. berusaha memejamkan matanya, berharap semua yang di alaminya hari ini adalah mimpi. Anin berharap bisa segera bangun dari mimpi panjang itu.
Anin lelah bukan hanya di fisiknya, tapi juga di hatinya hingga tak butuh waktu lama, matanya yang basah karena air mata itu akhirnya terpejam.
Pukul 2 malam, Askara baru kembali ke mansion. penampilannya tidak lagi se-rapi saat akan berangkat ke pesta. dasinya sudah terlepas dan jas yang sudah dia lepaskan. tersisa kemeja putih yang di gulung hingga ke siku.
Askara baru bisa pulang setelah Dalila benar-benar tenang dan terlelap. wanita itu terus menangis dan terisak dalam pelukannya, Askara tidak tega meninggalkan Dalila dalam keadaan kacau seperti itu. jadilah, dia harus menunggu sampai keadaan Dalila benar-benar dalam keadaan baik.
Mansion tampak sepi karena semua penghuni pasti sudah terlelap. Askara segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Askara membuka pintu kamarnya, di lihatnya Anin yang sudah tertidur dengan posisi membelakanginya. Askara mendekat ke arah tempat tidur, perasaan bersalah mencuak di hatinya saat meninggalkan Anin begitu saja di pesta tadi.
Matanya beralih pada makanan di atas nakas yang tidak habis, bahkan hampir seperti tak tersentuh. Askara perlahan naik ke atas tempat tidur, ikut bergabung ke dalam selimut yang sama dengan Anin. tangan kekarnya dia lingkarkan pada perut Anin, wajahnya dia dekatkan pada ceruk leher istrinya itu.
"Maafkan aku". Gumam Askara kemudian ikut memejamkan matanya.
Mata Anin terbuka, dia kembali terjaga saat mendengar seseorang membuka pintu kamar, dan itu adalah Askara. namun Anin hanya diam dan pura-pura tertidur saat Askara melingkarkan tangannya di perutnya.
Anin bisa mendengar dengan jelas permintaan maaf Askara dan itu membuat hatinya terasa semakin sakit karena Askara baru pulang sekarang.
Silahkan tinggalkan komen kalian untuk Askara di episode kali ini readers...😆😆
**Oh Iyya buat yang nanya, kenapa updatenya lama. jadi kemarin itu aplikasi noveltoon author bermasalah dan nggak bisa log in, apalagi update cerita. jadi harus nunggu dulu sampai akhirnya aplikasinya berfungsi kayak semula.
Sekalian deh, QnA seputar cerita ini yah. silahkan tinggalkan komentar atau pertanyaan kalian seputar cerita Embun Anindira, nanti akan author jawab satu-satu di updeta berikutnya.
__ADS_1
like, komen, dan vote**.