
Anin berjalan mondar-mandir menunggu Askara turun, perasaan takut dan cemas menghantuinya.
Bisa-bisanya dia punya keberanian dan nyali besar melakukan hal seperti itu pada Askara.
Keringat dingin mengucur di pelipisnya "Anin tamatlah riwayatmu kali ini, kenapa kau berani sekali mencium pak Askara" gumamnya gusar, hawa di ruang tamu terasa panas padahal AC menyala.
"Ya Tuhan lindungi aku" Anin merapalkan doa dalam hati, semoga Askara tidak melakukan hal yang macam-macam pada dirinya.
Terlalu larut dalam fikirannya, Anin sampai tidak menyadari kehadiran Askara.
"Hemm" dehem Askara keras.
Anin berjengkit kaget "Astaga, pak Askara mengagetkanku" ujarnya mengelus dada, jantungnya semakin berdetak kencang.
"Kenapa kau kaget?, Kau bukan pelaku yang habis melakukan kesalahan atau mencuri sesuatu terus kabur bukan?" tanya Askara sinis, sengaja menyindir Anin yang kabur setelah mencium pipinya, ralat Anin orang pertama yang berani mencium pipinya.
Anin memasang wajah tidak enak, sindiran Askara benar-benar semakin membuatnya malu.
"Anu.. itu.. tadi pak Askara menyuruhku untuk melakukan sesuatu agar mau mengantarku, dan cuman itu yang ada di fikiranku" jelas Anin dengan suara pelan karena sangat malu.
Ini kali pertama dia mencium seorang pria. katakanlah Anin punya sepuluh nyawa karena berani melakukannya pada Askara.
"Jadi ternyata isi di otakmu itu semuanya adalah hal mesum, ckkk.. sangat kontras dengan wajah polosmu" cemooh Askara tidak habis fikir pada Anin.
Anin tidak terima di katai mesum oleh Askara "Itu karena pak Askara terus mendesakku dan membuat fikiranku kacau, jadi aku refleks melakukan itu" sungut Anin menggebu-gebu, membela dirinya yang di katai mesum.
"Jadi sekarang kau menyalahkan ku?" tanya Askara dengan nada ketus.
Tuh kan, setiap yang keluar dari mulut Anin selalu saja salah bagi Askara.
Anin menghela nafas berat "Bukan, itu semua salahku" ujarnya memilih mengalah dari pada berdebat dengan Askara, bisa-bisa dia kehabisan mie ayam incarannya.
Askara menatap Anin kemudian berjalan melewati tubuh wanita itu.
"Lagian apa salahnya kalau mencium suami sendiri" gerutu Anin dengan suara sangat pelan menyusul punggung Askara yang sudah berjalan lebih dulu untuk keluar mansion.
"Apa kau bilang?" Askara mendadak menghentikan langkahnya membuat Anin yang tidak siap menubruk tubuh jangkung Askara.
"Aww.., kenapa pak Askara tiba-tiba berhenti" tanyanya, Anin meringis merasakan nyeri di jidatnya.
Askara menatap tajam Anin "Kau bilang apa tadi?" ulangnya pada Anin.
"Apa?, aku tidak bilang apa-apa. pak Askara mungkin salah dengar tadi" Anin berkilah.
Askara mendengus, kembali melanjutkan langkahnya keluar mansion.
Anin hanya terduduk diam di dalam mobil, sedangkan Askara lebih memilih fokus menyetir.
Untungnya jalanan sudah mulai lengang oleh kendaraan lainnya.
Duduk Anin terasa tidak nyaman, bukan karena jok mobilnya tapi karena Askara sedari tadi tidak membuka suara sama sekali.
"Aku minta maaf soal tadi" Anin buka suara, memberanikan diri meminta maaf pada Askara.
"Soal apa?" tanya Askara pura-pura tidak mengerti.
"Itu.." tunjuk Anin ragu pada pipi Askara "Karena sudah lancang".
"Memangnya siapa yang menyuruhmu melakukan itu?, aku tadi menyuruhmu memohon lebih keras lagi, tapi ya sudahlah memang dasarnya otakmu itu mesum" ungkap Askara, tadinya dia ingin mengerjai Anin agar memohon padanya lebih keras lagi, tapi yang di lakukan gadis ini malah di luar perkiraannya.
Mata Anin membola, ternyata dirinya sudah salah kaprah.
Rasanya sekarang Anin ingin melompat keluar dari mobil saking malunya.
__ADS_1
Setelah 20 menit berkendara, mobil Askara akhirnya sampai di tempat tujuan.
Keberuntungan berpihak pada Anin malam ini karena warung mie ayam langganannya itu masih buka, bahkan masih ramai pembeli.
Anin mengajak Askara masuk.
Mata Askara meneliti kondisi tempat makan tersebut. berada di pinggir jalan, bagian luarnya hanya di tutupi kain, serta meja kayu yang di lapisi terpal plastik.
"Kau yakin ingin makan di sini?" tanya Askara merasa ragu dengan tingkat ke higienisan di tempat makan tersebut.
Anin mengangguk yakin "Pak Askara duduklah, mie ayam di sini yang paling terkenal enak" puji Anin meyakinkan Askara.
Namun Askara masih berdiri di tempatnya, dia tidak pernah makan di tempat seperti ini sebelumnya.
"Kalo nggak nyaman, pak Askara bisa tunggu di mobil" ujar Anin menyadari kalau Askara mungkin risih makan di pinggir jalan seperti ini.
"Tidak perlu" tolak Askara kemudian mengambil duduk di depan Anin.
Anin tersenyum kecil melihat Askara mau menemaninya. ia pun segera memesan dua mangkok mie ayam.
"Mang..mie ayamnya dua yah, kerupuk pangsitnya yang banyak" seru Anin dengan request kerupuk pangsit yang banyak.
"Siap neng" jawab sang penjual.
Tidak menunggu lama, pesanan Anin pun datang.
"Makasih mang" ucap Anin setelah dua mangkok mie ayam berada di mejanya.
Anin menatap dengan mata berbinar mangkok berisi mie ayam tersebut, sudah lama sekali rasanya dia tidak makan di sini.
Askara hanya diam, tidak berniat menyentuh mie ayam di depannya.
Berbeda dengan Anin yang sudah mulai meracik mie ayamnya.
"Kenapa?" tanya Anin bingung.
"Kau ingin sakit perut hah?" tanya Askara tajam "Kau sudah menambahkan cukup banyak sambal, jangan fikirkan dirimu sendiri" lanjutnya dengan nada sedikit kesal.
Anin menahan senyum mendengar Askara yang mulai perhatian terhadap kandungannya "Pak Askara mulai mengkhawatirkan kandunganku?" tanya Anin dengan hati senang.
Askara menyadari apa yang baru saja ia katakan, ia mulai peduli pada anak yang di kandung Anin? "Aku hanya tidak mau di repotkan saja kalau kau sakit perut" alasannya.
Anin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Askara si gengsi sedang berkilah, tapi Anin tau sebenarnya Askara mulai peduli terhadap anak di dalam kandungannya.
Askara melipat kedua tangannya "Cepatlah makan, aku ingin segera pulang." titah Askara.
Anin pun menyantap mie ayam di depannya.
"Mmmm ..enak sekali" ucap Anin menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan wajah riang, kebiasaannya jika makanan itu enak.
Askara yang melihat kelakuan Anin mencebikkan bibir "Cihh..seperti anak kecil" gumamnya dengan tersenyum kecil.
Sayangnya Anin tidak dapat melihat itu karena terlalu fokus menikmati makanannya.
Askara mengeluarkan ponsel di sakunya, ide jahil muncul di kepalanya.
Ia mengambil foto Anin yang sedang makan dengan diam-diam.
Foto Anin dengan mulut di penuhi mie membuat Askara berusaha menahan tawanya. ia akan simpan baik-baik foto ini.
"Pak Askara tidak makan?" tanya Anin tiba-tiba membuat Askara buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Untung Anin tidak curiga.
__ADS_1
"Tidak, aku masih kenyang" jawabnya berusaha tenang.
"Kalau begitu, mie ayam punya pak Askara boleh buat aku?" tanya Anin dengan cengiran lebarnya, menahan malu.
Anin tidak cukup dengan satu mangkok saja.
"Ambillah" Askara mendorong mangkok tersebut pada Anin.
"Terima kasih" ujar Anin kembali menyantap mie ayam milik Askara.
Askara memperhatikan dengan seksama wajah Anin yang makan dengan lahapnya.
Padahal Anin sudah makan di rumah, sekarang hampir dua porsi mie ayam ia habiskan.
Kelakuan ibu hamil memang kadang ajaib, fikir Askara.
Anin sudah selesai dengan makannya, setelah membayar dan mengucapkan terimakasih ia dan Askara memutuskan untuk pulang ke rumah.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, Askara berkendara dengan kecepatan sedang.
Perut Anin terasa sangat kenyang, ia menyandarkan punggungnya pada jok mobil.
Matanya mulai terasa berat efek perutnya yang sudah terisi penuh.
Tanpa sadar Anin tertidur dengan Askara yang masih fokus menyetir.
Askara tidak merasakan pergerakan pada Anin yang duduk di sampingnya. ia pun menoleh dan mendapati Anin yang sudah tertidur pulas dengan setengah wajahnya di tutupi rambutnya.
Tak lama mobil Askara memasuki mansion, ia melihat Anin yang masih tertidur. sepertinya tidurnya sangat nyenyak.
Tubuh Askara mendekat, tangannya terangkat menyingkirkan rambut Anin yang menutupi wajahnya.
"Hei..bangun" Askara menepuk pipi Anin agar gadis itu bangun dari tidurnya, tapi sepertinya Anin tidak terganggu sama sekali.
Askara menatap wajah polos Anin yang memang jarang memakai riasan berlebihan.
Debaran jantung Askara menjadi tidak karuan hanya dengan memandangi wajah Anin dari jarak yang sangat dekat.
Askara menjauhkan tubuhnya, merauk wajahnya kasar. Lagi-lagi ia merasakan gejolak yang aneh dalam dirinya.
Askara membuka pintu mobil dan keluar, kemudian dia beralih membuka pintu mobil untuk membawa Anin masuk ke mansion.
Askara melepas seatbelt yang di gunakan Anin.
Mengangkat tubuh Anin ala bridal style masuk ke dalam mansion.
Kakinya berjalan memasuki mansion yang sudah sepi karena Maminya pasti sudah tidur begitupun dengan pelayan lainnya.
Askara menaiki kamarnya dengan menggunakan lift, ia tidak mungkin membawa tubuh Anin yang berat itu dengan menaiki tangga.
Askara memasuki kamarnya, membawa tubuh Anin berbaring di atas tempat tidurnya.
Untuk malam ini saja, Askara berbaik hati mengizinkan Anin tidur di atas kasurnya.
Menarik selimut tebal menutupi setengah badan Anin, Askara lagi-lagi terdiam memandangi wajah pulas Anin.
Tubuh Askara bergerak mendekat.
Cup
Askara mengecup kening Anin singkat "Sekarang kita impas" ujarnya tersenyum kecil.
Kaki Askara melangkah ke arah sofa yang tadinya menjadi tempat tidur Anin. Askara membaringkan tubuhnya di sana, tak lama matanya mulai memberat. dia pun menyusul Anin ke alam mimpi.
__ADS_1