Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 84


__ADS_3

Setelah terjadi perdebatan kecil antara dirinya dan Anin tadi, di sinilah Askara sekarang berada. di dalam ruangan kerjanya mengepulkan asap rokok setelah sebelumnya sudah menghabiskan satu batang rokok.


Akhir-akhir ini, ruang kerja selalu menjadi tempat favorit Askara untuk menenangkan diri dari permasalahan yang menimpanya.


Cukup berbeda memang, jika orang lain mungkin akan menghabiskan waktu di cafe atau club, Askara justru memilih tempat itu.


Anin melangkah turun untuk mencari keberadaan Askara. ada yang tampak beda dari penampilan Anin malam ini.


Wanita hamil itu mengenakan pakaian tidur dengan model dress di atas lutut dengan bagian atas yang hanya di sangga oleh kedua tali tipis. bagian luarnya Anin lapisi lagi dengan cardigan panjang dari dress tidur tersebut.


Sebelum menuju ruang kerja Askara, Anin mengarahkan kakinya ke dapur belakang. dia ingin membuatkan kopi terlebih dahulu untuk suaminya.


"Bi Ratih belum tidur?". tanya Anin melihat punggung wanita paruh baya itu saat memasuki dapur.


Bi Ratih refleks berbalik. "Ya ampun Non, bibi sampe kaget. Non sendiri kenapa belum tidur?". tanya bi Ratih saat Anin mendekat.


"Aku mau bikin kopi buat Mas Askara. dia sedang berada di ruang kerjanya". balas Anin tersenyum.


"Biar Bibi aja, Non balik ke ruang kerja tuan Askara saja. nanti bibi yang bawakan ke sana".


"Tidak perlu bi, aku mau bikin sendiri kopi untuk suamiku".


"Tapi nanti kalau tuan Askara tau, nanti bisa marah liat Non ada di dapur".


"Kenapa mesti marah Bi. tugas istri kan memang melayani suaminya".


"Iyya bibi tau Non, tapi kan Non Anin sedang hamil saya takut kalau Non main ke dapur. bahaya". ujar Bi Ratih dengan raut wajah khawatir.


Anin menatap wajah Bi Ratih yang kini sudah terdapat beberapa kerutan karena usianya.


"Ya sudah, bibi awasi aku bikin kopi sampai selesai". putus Anin kemudian menuangkan beberapa sendok bubuk kopi ke dalam cangkir.


Sesuai dengan perkataan Anin, bi Ratih berdiri tidak jauh dari Anin sambil menunggu nona muda nya itu selesai membuat kopi.


"Selesai". ujar Anin tersenyum "Bibi liat sendiri kan, aku baik-baik saja". lanjut Anin seraya tersenyum.


"Sini, biar bibi aja yang bawa Non". tawar bi Ratih.


"Nggak perlu bi, bi Ratih selesaikan saja pekerjaannya, habis itu langsung istirahat yah Bi". ujar Anin.


"Baik Non". balas bi Ratih, beruntung sekali Askara mendapat seorang istri dengan sikap lemah lembut seperti Anin, fikir bi Ratih.


Anin beranjak meninggalkan dapur dengan secangkir kopi di tangannya untuk menuju ruang kerja Askara.


Tok..tok..


"Mas.? Mas Askara di dalam?". tanya Anin dari luar saat berdiri di depan pintu ruang kerja Askara.


Tanpa menunggu jawaban Askara dari dalam sana, Anin segera membuka pintu.

__ADS_1


"Tunggu, jangan mendekat". tahan Askara sebelum Anin benar-benar masuk dan mendekat.


"Kenapa Mas?". tanya Anin dengan kening berkerut.


Askara mematikan sisa rokoknya yang hampir habis lalu membuangnya ke atas asbak. Anin tersenyum kecil melihat perhatian Askara untuknya.


"Asap rokok tidak baik untuk ibu hamil". ujar Askara menatap Anin yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kalau tau tidak baik kenapa masih merokok?, bukan hanya untuk ibu hamil tapi juga tidak baik untuk kesehatan Mas Askara sendiri". peringat Anin yang sudah berjalan mendekat ke arah meja kerja Askara.


"Aku bawa kopi untuk Mas Askara". Anin meletakkan secangkir kopi ke atas meja.


"Terimakasih". ucap Askara lalu meminum kopi buatan Anin.


"Mas Askara dengar aku tidak? kau harus berhenti merokok lagi". Anin kembali menyuarakan ketidaksetujuannya melihat Askara masih suka dengan barang tersebut.


"Aku hanya merokok jika sedang banyak fikiran". lugas Askara.


"Itu artinya Mas Askara sedang banyak fikiran sekarang? memangnya apa yang mas fikirkan?".


"Kemarilah". lewat gerakan tangan Askara menyuruh Anin untuk mendekat.


Askara meraih tangan Anin saat istrinya itu mendekat.


"Duduk di sini". Askara menepuk kedua pahanya agar Anin duduk di atas sana.


"Nanti Mas Askara keberatan lagi". ujar Anin mencari alasan.


"Siapa bilang? duduklah". titah Askara sekali lagi.


Mau tidak mau Anin duduk di atas pangkuan suaminya. jantung Anin berdetak tidak karuan tentunya. saat aroma maskulin dari tubuh Askara menusuk Indra penciumannya.


Askara menatap intens Anin yang sudah duduk di atas pangkuannya.


"Jangan menatapku seperti itu Mas". ujar Anin gugup.


Askara tersenyum kecil melihat wajah malu-malu Anin "Ada yang mau aku sampaikan".


Wajah Anin berubah serius "Mas mau bicara apa?". tanyanya


Askara mengambil tab yang berada di meja, memperlihatkan persiapan pesta pembukaan mall terbarunya sekaligus pesta untuk memperkenalkan Anin sebagai istrinya.


"Apa ini Mas?" tanya Anin saat melihat foto di tab Askara yang sepertinya persiapan sebuah pesta.


"Pesta untukmu"


Anin menatap wajah Askara serta tab di tangannya secara bergantian.


"Pesta untukku?". tanya Anin balik

__ADS_1


"Aku ingin memperkenalkan kau secara resmi sebagai istri seorang Batra Askara Wira". ujar Askara mantap.


Anin terdiam di atas pangkuan Askara, acara seperti ini pasti akan di hadiri oleh kolega bisnis Askara dari berbagai kalangan. sedangkan dirinya hanya berasal dari keluarga sederhana.


"Memangnya Mas Askara tidak malu?". tanya Anin dengan perasaan gugup.


"Malu? kenapa aku harus malu". tanya Askara.


"Mas, aku merasa tidak percaya diri. pasti yang datang ke acara ini semuanya orang terpandang dan dari latar belakang keluarga yang pastinya sama dengan Mas Askara. sedangkan aku, aku hanya dari kalangan biasa. bagaimana kalau aku tidak bisa berbaur dengan mereka semua, aku takut tidak bisa mengimbangi mereka semua Mas, aku takut mempermalukanmu". Anin mengutarakan kegelisahan di hatinya. meskipun di satu sisi dia juga merasa senang karena akhirnya orang-orang akan tau siapa istri dari seorang Askara, dengan begitu akan mempertegas pemilik Askara yang sebenarnya, yaitu dirinya seorang.


Tangan Askara naik membelai rambut Anin.


" Dengar aku Anin, kau adalah istriku sekarang berarti kau yang akan selalu berdiri di sampingku, jangan berani tundukkan kepalamu sedikit pun di depan orang-orang. siapapun yang masuk ke dalam keluarga Wira itu adalah orang yang patut di hormati termasuk dari kalangan kolega bisnisku. tidak ada orang yang boleh apalagi berani merendahkanmu". tutur Askara menatap manik mata Anin dalam-dalam.


Anin terharu mendengar penuturan Askara. matanya menahan untuk tidak mengeluarkan cairan bening.


"Jadi, bagaimana? kau siap?". tanya Askara kembali meyakinkan.


"Iyya Mas, aku sudah siap". balas Anin mantap.


"Termasuk siap untuk ini?". Askara mencium bibir Anin dengan lembut. ciuman penuh gairah tentunya.


Askara melepaskan ciuman mereka membuat wajah Anin berubah tidak rela.


"Aku suka kau yang semakin berisi. termasuk di bagian sini dan di sini". Askara menunjuk pipi Anin kemudian turun meremas buah dada Anin yang selalu menjadi candu baginya.


"Akkkh...Mas". Anin mengerang kecil saat tangan Askara dengan nakal menyelusuri bagian sensitifnya.


"Kenapa sayang? sepertinya kau memang sengaja menggodaku. pakaianmu malam ini membuat juniorku menegang". sejak Anin memasuki ruangannya tadi, Askara mati-matian menahan diri melihat penampilan Anin yang begitu menggoda imannya.


Anin dapat merasakan benda aneh yang di duduki nya mengeras di balik celana yang di kenakan Askara. Anin jadi bergerak tidak nyaman di atas pangkuan suaminya.


"Jadi? mau lakukan di sini atau di kamar?" tanya Askara yang matanya sudah di penuhi kabut gairah.


"Di kamar saja Mas". cicit Anin dengan wajah menahan malu.


"As you wish sayang". ujar Askara mengangkat tubuh Anin keluar dari ruang kerjanya. ingin segera membawa Anin menuju kamar mereka.


Anin mengalungkan kedua tangannya di leher Askara. memandangi wajah Askara dari jarak sedekat itu mampu membuatnya seolah tersihir dengan wajah tampan suaminya.


Askara menutup pintu kamar menggunakan kakinya karena kedua tangannya mengangkat tubuh Anin.


Askara membawa tubuh Anin ke atas tempat tidur. dan kembali lagi, malam ini keduanya melakukan penyatuan untuk meraih puncak kenikmatan dunia.


Tak terhitung berapa kali Askara dan Anin melakukannya. yang jelas kini Askara sudah ambruk tepat di samping tubuh Anin. keduanya tidak mengenakan sehelai benang pun.


Askara menatap Anin yang sudah terlelap di sampingnya karena kelelahan. dengan sigap Askara menarik selimut ke atas untuk menutupi tubuh polos istrinya. kemudian dia pun ikut memejamkan mata sambil memeluk pinggang Anin posesif.


Kira-kira habis ini bakalan ada konflik apa lagi yah? stay trus readersku 😚😚

__ADS_1


__ADS_2