Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 52


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke resort, Anin hanya bungkam, dengan menatap keluar jalanan.


Askara sesekali melirik dari ekor matanya, dia yakin perubahan sikap Anin karena gadis itu pasti tau sesuatu.


"Hemm, apa kau ingin makan siang?" tanya Askara memecah suasana.


"Aku tidak lapar mas, aku ingin langsung pulang saja" balas Anin tanpa menoleh.


"Atau mungkin kau ingin yang lain?" Askara kembali menawari.


"Mas, aku capek. dan aku ingin pulang" ujar Anin dengan suara meninggi membuat Askara cukup kaget, baru kali ini Anin berkata dengan suara keras.


Anin menyadari sikapnya "Maafkan aku, Mas. karena sudah marah, mungkin ini karena hormon kehamilanku" ujar Anin berbohong.


"Tidak masalah...oke...kita langsung pulang saja" ujar Askara menuruti kemauan Anin.


Sebenarnya Askara merasa tidak yakin dengan jawaban Anin.


Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Anin, apalagi sikapnya berubah drastis setelah mendengar perkataan Arga tadi.


Jangan lupa ingatkan Askara, dia akan memberi pelajaran pada Arga lain waktu.


Mobil yang di kendarai Askara sudah sampai di resort.


Askara hendak turun membuka pintu mobil untuk Anin, namun dengan gerakan cepat, Anin sudah lebih dulu membuka pintu mobil.


"Aku masuk duluan, mas" ujar Anin dingin, melongos begitu saja tanpa melihat ke wajah Askara.


Askara semakin yakin, jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Anin.


Askara segera ikut menyusul Anin memasuki resort.


"Anin...kau baik-baik saja?" tanya Askara berlari kecil mengejar langkah cepat Anin.


Anin menulikan telinga, terus melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya.


"Anin.. kau ini kenapa hah?" Askara menyegat tangan Anin.


"Kau kenapa?" tanyanya lagi dengan raut wajah khawatir.


"Memangnya aku kenapa mas?" tanya Anin balik.


"Sikapmu mendadak berubah dingin setelah bertemu dengan Arga tadi, apalagi setelah mendengar ucapan terakhirnya. katakan padaku, apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Askara akhirnya, dia sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Menyembunyikan apa mas?, aku tidak mengerti maksud perkataanmu" ujar Anin mengalihkan wajahnya, dia tidak berani menatap mata Askara.


"Lihat aku Anin dan tatap mataku. Aku paling tidak suka jika lawan bicaraku berbicara tanpa menatap wajahku." ujar Askara mulai kesal.


Anin tidak bergeming, jika dia menatap mata Askara, maka luruh sudah pertahanannya.


"Kenapa? kenapa kau tidak berani menatap mataku? Aku berkata benar kan, kau memang menyembunyikan sesuatu" ucap Askara sinis.


"Tidak ada yang aku sembunyikan dan tidak ada yang perlu di ulang mas, aku memang tidak mengerti maksudmu" Anin masih kekeh dengan jawabannya.

__ADS_1


"Kau pembohong" ucap Askara dingin.


"Terserah apa kata mas Askara, aku capek. mau istirahat" Anin sudah memutar handle pintu kamar, tapi lagi-lagi tangannya di tahan oleh Askara.


Posisi keduanya sedang berada di ambang pintu kamar.


"Lalu kenapa wajahmu berubah saat mendengar perkataan terakhir Arga?"


"Aku yakin, dari perubahan sikapmu kau tau banyak hal" ujar Askara datar.


Anin lelah terus menerus di buru pertanyaan oleh Askara.


"Katakan padaku sebelum kesabaranku habis, jangan berfikir aku bersikap lunak padamu selama ini, sehingga aku tidak bisa kembali berbuat kasar.


"Jadi, selama aku masih berbaik hati maka sebaiknya kau jangan banyak bermain-main, Anin" tekan Askara di akhir kata, suaranya terdengar begitu mengerikan di telinga Anin.


Anin bukannya tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, hanya saja dia ingin menjaga perasaannya sendiri.


"Kita bicarakan ini nanti saja, mas" ujar Anin tetap pada pendiriannya.


Askara sudah tidak bisa bersikap lembut lagi, Anin sudah menguji kesabarannya.


Dengan gerakan kasar, Askara menarik kedua bahu Anin dan mencengkramnya keras.


"Kau sudah menguji kesabaranku, sekarang katakan apa yang kau ketahui" teriak Askara marah tepat di depan wajah Anin.


"Iyya...Iyya.. aku tau semuanya. aku tau siapa gadis yang di maksud oleh dokter Arga" balas Anin berteriak, dia sudah lelah menyimpan perasaan ini.


Tubuh Askara menegang, cengkramannya di bahu Anin perlahan melonggar.


"Dari mana kau tau semuanya?" tanya Askara dingin.


Anin menghapus kasar air matanya "Kenapa mas? seharusnya sekarang kau lega karena aku sudah tau semuanya"


"Aku tanya, dari mana kau tau semuanya" tanya Askara marah.


"Kau tidak perlu tau itu mas, yang jelas sekarang adalah, karena gadis itu kau menjatuhkan harga diri seorang wanita hingga sejatuh-jatuhnya, kau merampas masa depan yang paling berharga di hidup wanita itu, dan wanita itu adalah aku Mas" ujar Anin dengan berani menatap mata tajam Askara.


"Semua ini karena wanita itu, semuanya adalah salahnya, jika dia tidak meninggalkanmu maka aku tidak akan seperti ini" teriak Anin meluapkan semua emosi di hatinya.


Plaakkkk.


Askara menampar wajah Anin.


"Kau jangan berani-beraninya menyalahkan Dalila atas apa yang terjadi dalam hidupmu" tekan Askara dengan suara kerasnya.


"Mas.." ujar Anin menatap dengan mata berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang baru saja Askara lakukan.


Askara baru saja menamparnya, bahkan almarhum ayahnya sendiri tidak pernah memperlakukannya dengan kasar, apalagi sampai menamparnya.


Anin memegang pipinya yang berkedut terasa nyeri, tidak hanya itu Anin juga merasakan sakit di hatinya saat Askara dengan lantang menyebut nama Dalila di depannya.


"Kau baru saja menamparku, mas. padahal kau sudah berjanji untuk menjadi suami yang baik. apa ini yang kau sebut dengan menjadi seorang suami yang baik" ucap Anin dengan mata menyalang, dadanya naik turun, menahan emosi.

__ADS_1


"Itu karena kau menyalahkan seseorang yang tidak seharusnya kau salahkan atas apa yang terjadi dalam hidupmu" balas Askara.


"Dia sudah ada lebih dulu dalam hidupku, kau bahkan tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Dalila, ingat itu baik-baik" ujar Askara menekan setiap ucapannya.


Hancur hati Anin mendengar Askara begitu membela Dalila, bahkan di depan dirinya yang berstatus sebagai istri sah dan juga ibu dari calon anaknya.


Anin menatap mata Askara tajam, seolah sedang menantang.


Anin tersenyum sinis "Kau begitu membela wanita itu, begitu membanggakannya bahkan di depan aku yang berstatus istri sah mu mas"


"Jika dia lebih baik dari aku, seharusnya dia tau cara menghargai perasaanmu, lalu kenapa dia harus pergi meninggalkanmu? Kenapa dia tidak bisa tinggal di sisimu?" tanya Anin dengan emosi memburu.


"Jawabannya sudah jelas mas, karena dia tidak mencintaimu, seharusnya kau sadar akan hal itu " teriak Anin menggila, matanya sudah memerah karena air mata yang terus menerobos tanpa permisi.


"Tutup mulutmu Anin" teriak Askara mengangkat tangannya. rahang Askara mengeras karena perkataan Anin.


Anin memejamkan matanya, saat Askara hendak kembali melayangkan tamparan di wajahnya.


Tangan Askara berhenti di udara, sadar dengan apa yang baru saja akan di lakukannya, dia hendak ingin menyakiti Anin lagi.


"Kenapa berhenti mas?, tampar sampai kau merasa puas. Ayo lakukan Mas, tampar aku" Anin kembali menantang Askara.


Anin lelah, mengeluarkan semua yang dia pendam selama ini sama seperti melepaskan beban berat di pundaknya.


Nafas Askara memburu, mengepalkan kedua tangannya yang sudah di turunkan di kedua sisi tubuhnya.


Mata indah Anin menatapnya penuh dengan rasa kecewa.


Askara lebih memilih meninggalkan Anin, dengan langkah cepat dia menuruni tangga. membanting pintu resort hingga menimbulkan suara dentuman keras.


Tubuh Anin luruh ke lantai selepas kepergian Askara, kakinya terasa lemas tak bertenaga. sejak tadi Anin berusaha mengumpulkan keberanian untuk tidak terlihat lemah di mata Askara.


"Hikss..hikss..hikss" Suara tangis Anin terdengar memenuhi resort yang hanya menyisakan dirinya seorang, Askara seolah menghujani jantungnya dengan beribu pisau belati.


Askara membawa mobil tanpa arah dengan kecepatan tinggi, tidak peduli akan keselamatannya sendiri.


"Aaarrrghhhhh" teriak Askara memukul-mukul stir mobil untuk meluapkan emosinya.


Bayangan tatapan terluka Anin terus melintas di fikirannya.


Askara menatap satu tangannya yang sudah lancang menampar wajah Anin tadi.


"Sial..sial..brengksekk" Askara terus menerus memukul stir mobil.


Askara marah pada dirinya sendiri. dia baru saja berjanji untuk menjadi suami yang baik untuk Anin tapi nyatanya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyakiti Anin lagi.


"Maafkan aku" gumam Askara dengan rasa bersalah di hatinya.


**Gimana part ini readers?


Hilal konflik rumah tangga Anin sudah mulai muncul nih.


dukung terus karya author supaya author updatenya semangat juga.

__ADS_1


like,koment,dan vote**


__ADS_2