
"Bagaimana pak Sam? Anin sudah take off?" tanya Askara lewat sambungan telfon.
"Nyonya Anin sudah take off 15 menit yang lalu tuan" ujar pak Sam
"Baik kalau begitu, terimakasih sudah mengantar Anin dengan selamat ke bandara".
"Sudah semestinya tugas saya, tuan" ujar pak Sam.
Sambungan telfon kemudian terputus.
Askara kembali menyesap rokoknya, menghembuskan asapnya asal hingga memenuhi ruangan resort.
Sepulangnya dari beach club, Askara memutuskan untuk kembali ke resort yang sudah di tinggalkan oleh Anin sore tadi.
Askara memikirkan perkataan Arga, yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apa memang benar Anin sudah mulai jatuh cinta padanya?
Ingatan Askara kembali pada pertengkaran mereka siang tadi. betapa Anin menatapnya dengan tatapan mata terluka dan juga menyiratkan kekecewaan.
Kepala Askara pusing memikirkan semua ini, dia harus memastikan sendiri secara langsung apa memang benar Anin sudah mulai jatuh cinta atau hanya sekedar perasaan biasa semata.
Askara bangkit dari duduknya, meniti satu per satu anak tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
****
Setelah menahan rasa takut seorang diri di dalam pesawat, Anin akhirnya sampai di Jakarta saat hari sudah berubah gelap.
Di luar bandara, sudah ada pak Hilman yang menunggu kedatangan Anin.
Tentu semuanya atas perintah Askara.
"Selamat malam non" sapa pak Hilman saat Anin sudah keluar dari pintu bandara.
"Malam juga, pak" balas Anin tersenyum.
"Sini non, biar saya bantu" pak Hilman mengambil alih koper di tangan Anin.
"Makasih pak".
Sebelum memasukkan koper Anin ke dalam bagasi mobil, pak Hilman celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.
"Pak Hilman nyari siapa?" tanya Anin ikut memperhatikan sekeliling bandara.
"Itu non, tuan Askara kok belum keliatan?" tanya pak Hilman.
Anin mendadak terdiam mendengar pertanyaan pak Hilman.
"Anu pak, itu...mas Askara nanti penerbangannya nyusul karena masih ada urusan katanya" jawab Anin asal.
Pak Hilman mengangguk paham "Tuan Askara memang sibuk yah, non" ujar pak Hilman yang merasa tidak heran dengan kesibukan Askara.
Anin menghela nafas lega, untungnya pak Hilman tidak curiga.
"Iyya pak"
"Ya udah non, kita pulang ke mansion"
Pak Hilman segera membuka pintu mobil untuk Anin kemudian memasukkan koper Anin ke dalam bagasi.
"Makasih pak" ujar Anin.
Pak Hilman ikut masuk ke dalam mobil, mulai menjalankan kendaraan roda empat tersebut meninggalkan bandara.
Anin yang duduk di kursi penumpang, mengaktifkan kembali data selulernya yang sempat dalam keadaan mode pesawat saat terbang tadi.
Tujuan Anin yang pertama adalah mengecek pesan masuk di ponselnya. berharap Askara mengabarinya, namun ternyata tak satu pun pesan masuk dari pria itu.
Anin kembali mematikan layar ponselnya dengan perasaan hampa, menatap keluar pemandangan malam kota Jakarta yang sedang di landa hujan gerimis.
"Pak...cuaca Jakarta tiga hari ini emang lagi nggak bagus yah?" tanya Anin, mencoba membuka obrolan dengan pak Hilman agar tidak menerus memikirkan Askara.
"Baru hari ini non, padahal tadi pagi sampai siang cuacanya cerah" ujar pak Hilman yang fokus menyetir.
Anin kembali terdiam.
"Oh Iyya, bapak udah lama kerja sama Mami Sandra?" tanya Anin ingin tau sedikit demi sedikit kehidupan orang-orang yang bekerja di mansion.
"Udah lama banget non, dari tuan Askara kecil. saya yang sering antar jemput tuan Askara ke sekolah" ujar pak Hilman.
Anin jadi terfikirkan sesuatu.
"Emm... Anin boleh tanya sesuatu nggak pak?" ujar Anin hati-hati.
"Boleh non, dengan senang hati bapak jawab".
Anin menarik nafas terlebih dahulu.
"Pak Hilman kenal sama yang namanya Dalila?" tanya Anin, masih berusaha mencari informasi tentang Dalila lewat orang-orang yang bekerja di mansion.
Anin hanya ingin tau, di mata pak Hilman kira-kira seperti apa kedekatan Askara dan Dalila selama ini.
"Non Lila maksudnya?, udah pasti saya kenal non. kan pernah tinggal di mansion juga sama tuan Askara waktu jaman SMA" ujar pak Hilman.
Satu lagi fakta baru yang di ketahui oleh Anin, Dalila pernah tinggal di mansion bersama Askara.
Hati Anin berkedut, ternyata memang sedekat itu hubungan Askara dan Dalila.
"Kenapa pak Hilman manggil Dalila dengan nama Lila?" tanya Anin penasaran.
__ADS_1
"Itu karena kebiasaan dengar tuan Askara manggil Lila jadi bapak juga keterusan"
"Emang mereka sedekat itu yah, pak?"
"Deket banget non, kan mereka sahabatan. apalagi non Lila seorang anak yatim piatu, dekatnya cuman sama tuan Askara doang" jelas pak Hilman.
"Terus waktu Dalila ke luar negeri, Askara gimana pak?" tanya Anin, dia sangat ingin tau.
Meskipun Mami Sandra sudah pernah menjelaskan padanya kondisi Askara saat di tinggal Dalila, tapi Anin ingin tau dari versi pak Hilman.
Tidak menutup kemungkinan pak Hilman tau banyak hal yang tidak di ceritakan Mami Sandra padanya.
Pak Hilman terdiam, dia takut untuk menjelaskan bagian paling kelam dalam hidup Askara.
"Pak, kenapa diam?" tanya Anin karena pak Hilman tidak menjawab pertanyaannya.
Pak Hilman tersenyum kaku menatap Anin dari kaca depan.
"Untuk itu, saya rasa bukan kapasitas saya non untuk bicara" ujar pak Hilman merasa tidak enak.
"Kenapa pak?, Pak Hilman nggak usah takut. kan sekarang saya istrinya mas Askara. jadi saya harus tau masa lalu suami saya dari orang-orang terdekatnya, apalagi Dalila sahabat dekat mas Askara" jelas Anin berusaha meyakinkan pak Hilman.
Pak Hilman nampak menimbang-nimbang.
"Katakan saja pak" ujar Anin.
"Baik,non"
"Jadi, waktu non Lila memutuskan untuk keluar negeri, sikap tuan Askara berubah drastis, tidak seperti tuan Askara yang kita kenal. setiap hari selalu pulang larut malam dalam kondisi mabuk berat, kadang juga mukanya udah bonyok-bonyok karena bertengkar"
"Nyonya besar sampai putus asa liat kondisi tuan Askara pada saat itu. hampir satu tahun tuan Askara tidak pernah menginjakkan kaki di kantor dan memutuskan untuk pindah ke apartemennya sendiri untuk mengurung diri dari orang luar".
"Makanya saya kaget, pas tau tuan Askara pindah ke mansion bersama dengan seorang wanita, yang tidak lain adalah non Anin. karena waktu itu tuan Askara sendiri yang bilang kalau sudah tidak mau menginjakkan kaki di mansion karena selalu teringat non Lila". jelas pak Hilman menutup ceritanya.
Anin mendengarkan dengan seksama setiap cerita yang keluar dari mulut pak Hilman. Tidak banyak berbeda dengan yang di ceritakan oleh Mami Sandra, namun memang ada beberapa hal yang baru Anin ketahui tentang hubungan Dalila dan Askara.
"Terimakasih pak sudah mau bercerita" ujar Anin dengan senyum secerah mungkin.
"Sama-sama non, tapi itu cuman masa lalu tuan Askara. sekarang ada non Anin yang bisa buat tuan Askara menjadi pribadi yang lebih baik lagi".
"Iyya pak, saya akan berusaha sebisa mungkin" balas Anin.
Tak terasa mobil sudah memasuki halaman mansion.
Anin menarik nafas dalam, dia harus menyiapkan jawaban yang meyakinkan buat Mami sandra, jika nanti menanyakan keberadaan Askara.
Pak Hilman turun membukakan pintu untuk Anin. kemudian menurunkan koper Anin dari bagasi mobil.
"Mari non" ujar pak Hilman membuka pintu mansion untuk Anin.
"Terimakasih pak" ujar Anin.
Bi Ratih yang sedang menyiapkan malam di meja makan, terkejut melihat kedatangan Anin.
"Non Anin" seru Bi Ratih sumringah. "Udah pulang non?"
"Iyya Bi, Anin udah kangen mansion soalnya" ujar Anin terkekeh.
"Saya ke atas dulu non" ujar pak Hilman pamit ke atas untuk menyimpan koper Anin.
"Iyya pak". balas Anin.
"Mami Sandra mana, bi?" tanya Anin karena tidak melihat mertuanya, padahal sudah waktunya makan malam.
"Nyonya besar ada di kamarnya non, mau bibi panggilkan?"
"Tidak usah bi, biar Anin aja yang ke kamar Mami. mau kasi suprise" ucap Anin tersenyum.
"Ya sudah, bibi lanjut nyiapin makan malam dulu"
Selepas bi Ratih pamit ke dapur, Anin melangkahkan kakinya menuju kamar Sandra.
Tangan Anin terangkat untuk mengetuk pintu kamar Sandra.
Tok..tok .tok..
Pintu kamar Sandra terbuka.
"Iyya..kenapa bi?" tanya Sandra mengira bi Ratih yang mengetuk pintu kamar.
"Aniiin? seru Sandra tak percaya "Kau kapan sampe mansion sayang?" tanyanya senang melihat Anin sudah pulang.
"Mi, Anin kangen banget" ujar Anin langsung memeluk Sandra.
Mata Anin berkaca-kaca, dia memeluk erat tubuh Sandra, mencari kekuatan atas apa yang telah terjadi hari ini antara dirinya dan Askara.
"Mami juga kangen, sayang" balas Sandra.
Sandra melerai pelukan mereka.
"Kau belum menjawab pertanyaan Mami, kau kapan sampe?"
"Barusan Mi, di jemput sama pak Hilman"
"Kok Pak Hilman nggak bilang-bilang sama mami"
"Mungkin buru-buru Mi, jadi nggak sempet cerita kalau mau jemput Anin"
__ADS_1
"Terus Askara mana?" tanya Sandra belum melihat batang hidung anaknya itu.
Anin membeku, ini yang dia takutkan. saat Sandra mencari keberadaan Askara.
"Anin?" seru Sandra membuat Anin tersentak.
"Eh,, Iyya Mi... itu.. Mas Askara masih ada urusan jadi dia nyuruh Anin pulang ke Jakarta duluan" jawab Anin hati-hati.
"Apa?" pekik Sandra tak percaya " Jadi, Askara menyuruhmu pulang ke Jakarta seorang diri?, benar-benar keterlaluan anak itu" ujar Sandra kesal.
"Mi... ini bukan salah Mas Askara kok, lagian Anin sendiri yang minta balik duluan. waktu cuti Anin kan cuman tiga hari dan besok pagi sudah harus masuk kerja"
"Kalau Anin nungguin Mas Askara sampai urusannya selesai, Anin akan sampai di mansion larut malam, otomatis nggak punya banyak waktu untuk istirahat nantinya" jelas Anin panjang lebar, tentu semua perkataannya adalah hasil mengarang bebasnya.
"Iyya juga sih, lagian kau sedang hamil dan tidak boleh terlalu capek" balas Sandra merasa penjelasan Anin masuk akal.
"Sekarang kita makan malam dulu yah, setelah itu kau baru ke kamarmu dan segera istirahat" ujar Sandra begitu perhatian pada Anin.
"Iyya Mi" balas Anin .
Keduanya pun berjalan bersamaan menuju meja makan.
*****
Setelah selesai makan malam, Anin segera menuju ke kamarnya karena perintah dari Mami Sandra untuk menyuruhnya segera istirahat.
Lagi pula, Anin juga tidak betah berlama-lama di bawah karena terus menerus di goda oleh Mami sandra saat insiden video call beberapa hari yang lalu, setelah melalui malam panas bersama Askara.
Tangan Anin terangkat menyalakan lampu kamar. ruangan yang begitu luas ini, terasa sepi tanpa kehadiran Askara.
Anin duduk di tepi kasur, dia tiba-tiba merindukan Askara sekarang.
Anin merogoh tasnya, mencari ponselnya untuk kembali mengecek barang kali Askara menanyakan apakah dia sudah sampai Jakarta atau belum.
Meskipun mustahil, namun Anin berharap akan hal itu.
"Yah...Hpnya mati" ujar Anin dengan dada merosot saat mengetahui baterai ponselnya ternyata habis.
Anin segera mencari charger ponselnya di dalam tas.
"Kok nggak ada?" gumam Anin saat tidak menemukan chargernya.
"Jangan-jangan ketinggalan di resort" Anin menepuk jidatnya, karena buru-buru berkemas dia sampai melupakan charger ponselnya.
Sekarang Anin bingung, bagaimana dia harus mengisi daya baterai ponselnya jika chargernya saja ketinggalan.
Anin menatap sekeliling kamar, pandangannya jatuh pada sebuah laci meja yang di atasnya terdapat vas bunga kecil.
Barangkali ada charger ponsel di sana.
Tangan Anin membuka laci meja bagian pertama namun tidak menemukan apa-apa. kemudian dia beralih membuka laci kedua.
Mata Anin berbinar, dia mendapatkan charger yang cocok dengan ponselnya.
Namun, saat akan menutup kembali laci tersebut. Sebuah album foto menarik perhatian Anin.
Karena merasa penasaran, Anin mengambil album tersebut.
"D and A" gumam Anin mengeja sampul album foto tersebut.
Tangan Anin bergerak membuka album foto tersebut.
Lembaran pertama dari album itu berisi foto-foto Askara dan seorang wanita pada saat duduk di bangku SMP.
"Cantik". gumam Anin memuji paras cantik wanita itu.
Tangan Anin terus bergerak membuka lembaran demi lembaran. isinya masih foto Askara dengan wanita yang sama, kali ini dengan menggunakan seragam SMA.
Ada satu foto di mana Askara terlihat sedang merangkul wanita itu dengan senyum cerahnya.
"Dalila Ajeng Nelson" gumam Anin membaca name tag di baju seragam yang di gunakan wanita tersebut.
Anin tertegun, jadi album ini berisi semua foto-foto Askara dengan Dalila dari masa ke masa.
Tidak bisa di pungkiri, sepanjang melihat foto Dalila tadi, Anin terus menerus memuji paras cantik blasteran dari wanita itu.
Sekarang Anin paham, mengapa Askara bisa jatuh cinta dengan Dalila, wanita itu memang sangat cantik.
Kini, Anin jadi membandingkan dirinya dengan Dalila, Dia yang hanya gadis desa tidak mungkin akan menarik perhatian Askara jika di sandingkan dengan Dalila.
Anin sampai di penghujung lembaran album tersebut.Namun, terdapat satu lembar foto Askara dan Dalila yang tidak tertempel dalam album.
Raut wajah Anin terlihat sedih, bukan karena foto itu tapi karena tulisan yang terdapat di balik foto tersebut.
"Aku akan menunggumu, tidak peduli seberapa lama kau pergi, seberapa jauh jarak memisahkan. aku akan tetep menunggu sampai perasaan itu tumbuh untukku. Aku mencintaimu Lila, akan terus mencintaimu.... Tertanda 'Askara' ".
Anin membekap mulut tak percaya membaca tulisan tangan Askara di balik foto tersebut. Hatinya kembali sakit mengetahui kenyataan bahwa sampai kapan pun dalam hidup Askara hanya akan ada nama Dalila.
Dada Anin terasa sesak, kenapa rasanya sakit sekali. Mencintai seorang lelaki yang perasaannya justru untuk wanita lain.
Anin tidak menyadari, di balik punggungnya telah berdiri Askara dengan tangan terkepal.
"Letakkan album foto itu" ujar Askara dengan suara beratnya.
Enjoy the reading.
Di jamin makin seru
__ADS_1
Like, koment, dan vote.