Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 83


__ADS_3

Langit menampakkan semburat oranye dari pantulan sinar matahari yang hendak kembali ke peraduan.


Di balkon kamarnya, Anin sedang termenung manatap lurus ke depan. membiarkan wajahnya di belai oleh terpaan angin sore, Anin berusaha menenangkan logika dan hatinya yang sedang bercengkrama tapi bertentangan arah.


Kedatangan Dalila pagi ini sukses membuat fikirannya di penuhi oleh wanita itu. tentang bagaimana Askara yang masih begitu sangat perhatian hingga mengabaikan dirinya.


Anin sadar mempunyai perbedaan yang begitu signifikan dengan Dalila. wanita itu sangat cantik, siapapun pria yang dekat dengannya pasti dengan mudahnya tertarik, termasuk Askara salah satunya.


Meskipun Anin tidak tau bagaimana sebenarnya perasaan Askara saat ini untuknya dan untuk Dalila. apakah cinta pria itu masih tersisa untuk Dalila atau memang dirinyalah pemilik hati itu sekarang.


Anin bingung memikirkan semuanya, apalagi belum pernah terlontar sedikitpun kata cinta dari mulut Askara, meskipun pria itu mengatakan bahwa kata cinta hanyalah ungkapan semata, yang penting adalah bagaimana perlakuannya pada dirinya sekarang itu sudah bisa di katakan cinta, mungkin.


Tidak ada yang bisa menebak perasaan seseorang, dalamnya laut pun tak bisa di bandingkan dengan kedalaman hati seseorang yang lebih susah untuk di tebak.


Tanpa sadar air mata Anin jatuh, ada rasa takut menyelinap di hatinya. dia tidak ingin Askara jatuh ke pelukan Dalila, dia harus bisa mempertahankan miliknya. yah Askara itu suaminya, dan hanya miliknya seorang.


Askara memasuki mansion dengan langkah lebarnya. matanya mengedar mencari keberadaan Anin, namun hanya ada Mia yang sedang merapikan ruang tengah.


"Mia, di mana Anin?". tanya Askara membuat Mia cukup tersentak karena melihat Askara pulang lebih awal.


"Nona Anin setengah jam yang lalu sudah naik, mungkin sedang beristirahat di kamar". balas Mia.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Askara menaiki tangga menuju kamarnya.


Askara memasuki kamarnya namun tidak mendapati Anin. laki-laki itu bergegas mengecek toilet serta ruang ganti namun tidak juga mendapati Anin.


Saat akan melangkahkan kaki keluar, Askara tak sengaja melihat pintu balkon kamar sedikit terbuka. Askara mendekat dan mendapati suara Anin yang tengah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telfon, tapi Askara hanya dapat mendengar bagian terakhir dari pembicaraan Anin .


"Iyya Bu, nanti Anin kirim uangnya". ujar Anin di akhir telfonnya.


Anin mematikan panggilannya, baru saja Risa, ibunya, menghubunginya untuk meminta uang, Anin menghela nafas berat karena setiap bulan akan di hadapkan pada ibunya yang selalu meminta uang dalam jumlah yang banyak.


Meskipun kartu yang berikan Askara mampu memberikan lebih dari jumlah yang di minta ibunya, tapi Anin tidak ingin menggunakan itu. dia masih punya sisa tabungan dan yang lebih penting lagi, Anin tidak pernah menuruti jumlah besaran uang yang di minta ibunya, Anin hanya akan mengirim secukupnya.


Terima atau tidak terima, Anin melakukan itu agar ibunya tidak selalu bergantung padanya dan juga agar ibunya tidak curiga di mana dia mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak jika terus menuruti kemauan Risa.


karena merasa hari sudah semakin sore, Anin beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam kamar, karena Askara sebentar lagi akan pulang dari kantor.


Namun alangkah kagetnya Anin saat melihat Askara berdiri di pintu balkon menatapnya dengan tatapan datarnya.


"Mas, kok udah pulang?". tanya Anin yang di mana biasanya jam segini Askara baru bersiap-siap akan pulang, bahkan biasanya juga pulang saat malam tiba.


"Dari siapa?". tanya Askara balik tanpa menjawab pertanyaan Anin.


"Siapa apanya?". bingung Anin.


Askara menunjuk ponsel di tangan kanan Anin lewat tatapan mata.

__ADS_1


Anin mengikuti arah pandang Askara yang jatuh pada ponsel di genggamannya. sepertinya Askara sudah cukup lama berdiri dan mendengar pembicaraannya.


"Ibu aku". balas Anin singkat, raut wajahnya berubah datar. bukan karena sedang membahas ibunya, tapi saat melihat wajah Askara, Anin akan mengingat kejadian pagi tadi.


"Kenapa? ibumu meminta uang lagi? kalau begitu kirim sesuai dengan permintaannya. jika perlu lebihkan". ujar Askara santai, berapapun uang yang di minta Risa akan Askara kirimkan supaya tidak membebani fikiran Anin.


"Tidak perlu mas, aku masih punya sisa tabungan. lagi pula tidak baik terlalu menuruti kemauan ibuku. biar dia jadi urusanku". balas Anin masih dengan wajah datarnya.


Askara menyadari perubahan raut wajah Anin. tapi dia tidak bisa memastikan apakah perubahan sikap Anin karena mereka saat ini sedang membahas ibunya atau karena hal lain.


"Mas pasti capek habis pulang kerja, biar aku siapin air hangat untuk mandi". Anin berlalu kembali masuk ke kamar, tidak lain hanya untuk menghindari Askara.


"Anin.. Anin tunggu sebentar". Askara menyusul langkah Anin dan menahan tangannya.


"Kau kenapa? ada yang kau sembunyikan?. bicara padaku Nin, sikapmu kenapa jadi dingin begini".


Anin melepaskan cekalan tangan Askara "Aku tidak papa Mas, mungkin ini karena hormon kehamilanku jadi mood ku cepat berubah". alasan Anin tanpa menatap wajah Askara.


Askara tidak percaya begitu saja. Askara meraih kedua bahu Anin memutar sedikit tubuh wanita yang sedang mengandung anaknya itu agar menatapnya.


"Lihat aku kalau sedang bicara, kau tau aku paling tidak suka kalau lawan bicaraku berbicara dengan memalingkan wajahnya". tegas Askara.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan Mas". Anin menepis kedua tangan Askara yang berada di bahunya hendak masuk ke dalam toilet.


"Aku minta maaf". seru Askara cepat membuat Anin terpaku di tempatnya.


Anin menatap Askara setelah tadi berusaha menghindari tatapan suaminya itu.


"Tapi Mas Askara datang ke apartement Dalila tanpa sepengetahuanku. bahkan di jas yang mas Askara kenakan itu menempel bau parfum Dalila, aku tidak tau apa yang kalian lakukan selama di apartement bersama Dalila, Mas". ujar Anin dengan suara bergetar, segala risau di hatinya yang mengganjal sudah dia utarakan sekarang.


Askara terdiam mendengar penuturan Anin. dia teringat kemarin malam saat Anin mengambil alih jas yang dia kenakan dan membawanya ke tempat cucian.


"Kenapa diam Mas? jangan-jangan apa yang aku fikirkan memang benar, mas Askara memang masih punya rasa pada wanita itu". Anin tersenyum kecut.


"Buang jauh-jauh fikiran negatifmu itu Anin". teriak Askara karena tidak suka dengan tuduhan Anin. dia lelah bekerja seharian di kantor, di tambah Anin yang bersikap seperti sekarang.


"Lalu aku harus berfikiran seperti apa Mas? kalau suami aku sendiri berada di apartement wanita yang tidak lain adalah cinta pertama yang sulit dia lupakan". dengan beraninya Anin membalas perkataan Askara dan menatap mata pria itu dalam-dalam.


Askara mengepalkan tangannya "Dalila itu sahabatku, jadi jangan pernah berfikiran yang aneh-aneh padaku". desis Askara tidak suka.


"Yah dia memang sahabatmu, Mas. sahabat yang pernah sangat kau cintai hingga karena dia aku yang harus menjadi korban". Anin berkata dengan penuh emosi, dadanya naik turun untuk menetralkan deru nafasnya.


"Tutup mulutmu Anin, Dalila tidak pernah salah atas apa yang terjadi dalam hidupmu. itu semua karena aku". geram Askara tidak suka mendengar Anin menyeret nama Dalila atas apa yang terjadi dalam hidupnya.


Anin tersenyum kecut mendengar Askara begitu membela Dalila.


"Kau bahkan begitu membelanya Mas tanpa pernah berfikir bagaimana perasaanku. kau menatap Dalila begitu dalam bahkan kau menganggap aku seolah tidak ada di sampingmu, Mas". air mata Anin jatuh bersamaan dengan luapan rasa sakit serta kecewa karena sikap Askara.

__ADS_1


Anin kini di kuasai rasa emosi, kecewa dan juga sakit hati. apalagi di tambah hormon kehamilannya makin memperparah keadaannya.


Askara menatap mata Anin yang terlihat begitu terluka serta kecewa. Askara berusaha menahan emosinya agar tidak melampaui emosi Anin. Askara bisa melihat perasaan Anin yang sangat labil di tambah karena hormon kehamilannya.


Askara lebih memilih menahan dirinya, dia takut akan berbuat kasar atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaan Anin.


"Maafkan aku". Askara menarik tubuh Anin yang tengah terisak ke dalam pelukannya.


"Tolong jangan berfikir yang tidak-tidak. Dalila hanya sahabatku Nin, aku hanya membantunya kemarin untuk membereskan apartementnya karena orang yang biasa dia suruh tidak bisa datang. dan soal baru parfum Dalila di jas ku, itu hanya karena Dalila melepaskan rasa rindunya sebagai seorang sahabat. lagi pula aku sudah memikirkan semuanya baik-baik". Askara menggantung ucapannya membuat Anin yang yang sudah lebih tenang karena berada di dalam pelukan Askara, menunggu dengan penasaran lanjutan dari perkataan Askara.


"Memikirkan apa Mas?" tanya Anin mendongakkan kepalanya menatap wajah Askara. tidak ada lagi kilatan amarah di matanya, yang ada hanya tatapan penasaran.


"Jauh-jauh hari aku sudah memikirkan dan memutuskan untuk mengubur perasaan yang pernah ada untuk Dalila. aku sadar sampai kapanpun kita hanyalah seorang sahabat, tidak lebih.". ujar Askara jujur, karena pada akhirnya Dalila hanya akan menganggapnya sebagai seorang sahabat.


"Sekarang ada kalian berdua di hidupku, kalian lebih berarti". lanjut Askara menangkup wajah Anin kemudian turun mengecup perut buncit Anin.


Emosi yang tadi menguasai Anin menguap entah kemana melihat perlakuan manis Askara.


"Tolong tetap di sampingku, apapun yang terjadi Embun Anindira". ujar Askara kembali memeluk Anin.


Anin tersenyum hangat di balik punggung Askara.


"Asalkan Mas Askara janji. akan selalu terbuka padaku dalam segala hal". ujar Anin.


"Memangnya aku kurang terbuka apa lagi hah, setiap malam bahkan aku buka-bukaan di depanmu tanpa sehelai benang, lebih tepatnya kita". ujar Askara di sertai tatapan nakalnya.


Anin mendengus mendengar perkataan absurd dari Askara. "Ihhh, apaan sih Mas. mesum banget, bukan itu maksud aku". ujar Anin seraya mencubit kecil kulit perut Askara di balik kemeja kantor yang masih melekat di tubuhnya itu. namun ucapan Askara itu sukses membuat pipi Anin bersemu merah.


"Mesum tapi kenapa wajahmu memerah hemm?". Askara menggoda Anin.


"Enggak, muka aku nggak memerah". Anin buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Aksara terkekeh kecil melihat tingkah lucu Anin. dia mendaratkan kecupan berkali-kali di wajah Anin saat wanita itu sudah melepas kedua tangannya dari wajahnya.


Begitu cepat emosi Anin berubah hanya karena mendapat perlakuan manis dari Askara.


Ini adalah keputusan yang tepat bagi Askara. mengubur cinta masa lalunya dan memulai hubungan yang lebih baik dengan Anin.


... **END.....


...Ehhh..enggak deng...author becanda..hihi...


...jangan panik dong, cerita Askara masih terus berlanjut. ...


...kira-kira bisa nggak yah Askara ngubur perasaannya dalam-dalam kalau tau Dalila juga ternyata mulai menyadari kalau dia punya rasa sama Askara? ..duhh makin seru deh readers**.. ...


... ...

__ADS_1


__ADS_2