
"Sayang, apa kau benar-benar tidak mengenal Askara?, dia suamimu". Mami Sandra mencoba memastikan lagi apakah Anin benar-benar lupa pada Askara atau tidak.
Anin terdiam hatinya mendadak sesak hanya karena mendengar nama Askara di sebut.
"Nak, coba kau ingat-ingat lagi". timpal Bu Risa.
Anin memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. dia tidak lupa pada Askara bahkan bayangan pengkhianatan Askara sangat jelas tercetak dalam memorinya tapi justru ingatan itu yang kini membuat kepalanya terasa sakit.
"Mi, jangan di paksa". tegur Papi Argio saat melihat menantunya kesakitan, "Lupakan pertanyaan Mami mu, nak. kau tidak perlu berusaha keras untuk mengingatnya, kau baru saja siuman".
"Maafkan Mami, sayang. Mami tidak akan memaksamu lagi". sesal Mami Sandra, yang terpenting sekarang Anin sudah sadar itu sudah cukup untuk Mami Sandra.
"Kau butuh sesuatu?". tanya Bu Risa.
"Aku mau lihat bayiku, Bu. aku mau lihat wajahnya, aku belum memberi dia nama". pinta Anin hendak bangun namun di tahan oleh Bu Risa.
"Ibu pasti akan membawa mu bertemu anakmu, tapi tunggu setelah dokter memeriksa keadaanmu".
"Tapi bu__".
"Tolong jangan banyak membantah sayang, ini demi kebaikanmu". potong Mami Sandra cepat, "Sebentar lagi dokter Arga akan datang".
Sedangkan di luar sana, Askara hanya bisa berjalan mondar-mandir sambil terus memandangi pintu ruang rawat Anin. rasanya Askara ingin menerobos masuk tapi dia takut akan membuat keadaan Anin semakin memburuk apalagi istrinya itu baru saja siuman.
"Lo ngapain di luar?". tanya dokter melihat Askara berada di luar ruangan Anin.
Askara berdecak kesal, "Lo ngga usah banyak tanya, sana masuk periksa istri gue".
Dokter Arga mengangkat kedua bahunya acuh, hendak masuk ke ruangan Anin.
"Tunggu dulu". tahan Askara sebelum dokter Arga benar-benar masuk.
"Apa lagi?". tanya dokter Arga dengan kening berkerut.
"Lo mau periksa Anin kan?, gue minta Lo buat mastiin apa Anin benar-benar lupa ingatan khususnya sama gue atau itu hanya cara Anin buat menghindar dari gue".
Kening dokter Arga semakin berkerut, "Jadi maksud Lo, Anin lupa ingatan dan dia hanya lupa sama Lo makanya Lo di usir keluar?". tanya dokter Arga dengan wajah prihatinnya.
Askara mengangguk dengan cepat.
"Tapi ada bagusnya juga sih kalau Anin benar-benar lupa sama pria brengsek kayak Lo". lanjut dokter Arga dengan senyum mengejek. ekspresi prihatin sebelumnya pun hanya di buat-buat oleh dokter Arga.
__ADS_1
Askara menatap tajam dokter Arga dengan kedua tangan terkepal.
"Brengsek!, Lo mau hari ini gue bikin hari terakhir Lo jadi dokter hah?". geram Askara karena tidak terima di ejek oleh dokter Arga.
"Silahkan aja sih kalau Lo mau. tapi habis itu Anin pasti bakalan benar-benar lupa bahkan ngga mau mengakui Lo sebagai suaminya lagi". balas dokter Arga dengan smirknya.
Askara seketika terdiam dan itu semakin membuat dokter Arga puas karena kapan lagi dia bisa membuat seorang Askara berubah menjadi seperti anak kecil yang takut di marahi ibunya.
"Udah ya gue mau masuk dulu". ujar dokter Arga menepuk pundak Askara, "Lo ngga mau ikut masuk juga?". Sepertinya dokter Arga benar-benar menjadikan kesempatan ini untuk mengerjai Askara habis-habisan.
"Sialan!, Lo sengaja, hah?". Askara jengkel dengan pertanyaan dokter Arga karena sudah jelas-jelas dirinya di usir keluar oleh Anin dan sekarang dokter Arga malah menawarinya untuk ikut masuk.
Dokter Arga tertawa begitu renyah melihat raut kekesalan di wajah Askara, "Nanti gue coba periksa ". ujar dokter Arga akan memastikan kondisi Anin yang di maksud oleh Askara.
Mami Sandra dan Papi Argio menyambut ramah kedatangan dokter Arga yang juga merupakan dokter keluarga mereka.
"Permisi semuanya, saya mau periksa keadaan Anin dulu". ujar dokter Arga.
Dokter Arga memeriksa keadaan Anin secara menyeluruh termasuk dengan permintaan Askara tadi.
"Anin". panggil dokter Arga, "Kau mengenaliku kan?". tanya dokter Arga setengah berbisik agar yang lain tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Kau mengenali semua orang yang ada di dalam sini?". tanya dokter Arga kembali.
Mata Anin berpendar menatap wajah Bu Risa, Mami Sandra, dan juga Papi Argio secara bergantian.
"Apa ini permintaan Askara?". pertanyaan Anin membuat dokter Arga terdiam. Anin tau bahwa Askara mungkin mencoba mencari tau apa dia benar-benar lupa pada suaminya itu atau tidak.
"Jika benar, aku ingin dokter Arga mengatakan ini baik-baik pada Askara, aku menyesal bangun dari koma karena nyatanya aku masih mengingat wajahnya, aku benar-benar berharap bisa hilang ingatan agar aku bisa melupakan semua pengkhianatan yang sudah dia lakukan, aku ingin menghapus semua kenangan yang pernah terjadi, aku benar-benar ingin dia pergi dari hidupku bahkan bayangannya sekalipun". tutur Anin dengan sorot mata kecewa.
Dokter Arga mengangguk paham, sepertinya Anin mengalami trauma yang begitu berat.
"Kondisi Anin baik-baik saja". ujar dokter Arga membuat Mami Sandra, Bu Risa, dan papi Argio bernafas lega.
"Tapi bagaimana dengan kepala Anin, apa ingatannya be___".
"Tante Sandra tidak perlu khawatir, Anin akan pulih secepatnya". potong dokter Arga cepat karena tidak ingin Mami Sandra mengungkit masalah Askara di depan Anin.
"Ah syukurlah". ujar Mami Sandra.
"Apa aku sudah bisa melihat anakku sekarang?". tanya Anin sudah tidak sabar ingin bertemu anaknya.
__ADS_1
"Boleh, tapi sebelum itu kau harus memulihkan tenagamu, kau harus makan dulu Anin".
"Baik, dok". jawab Anin menuruti semua anjuran dokter Arga.
"Kalau begitu saya permisi dulu". pamit dokter Arga meninggalkan ruangan Anin.
Askara yang masih berada di luar ruangan Anin langsung bergegas setelah melihat dokter Arga keluar dari ruangan Anin.
"Bagiamana hasil pemeriksaan Anin?". tanya Askara langsung.
"Lebih baik Lo ikut ke ruangan gue".
"Memangnya kenapa?, apa ada hal yang serius mengenai kondisi Anin?."
"Ngga nyaman kalau kita bicara di sini".
"Terserah Lo".
Askara pun menurut untuk ikut ke ruangan dokter Arga.
"Jadi...?". tanya Askara sesampainya di ruangan dokter Arga. dia tidak ingin basa-basi lagi.
"Setelah aku periksa aku bisa menyimpulkan bahwa Anin mengalami trauma dalam ingatannya terutama di moment-moment tertentu yang menurutnya menyakitkan dan dia ingin menghapus kenangan buruk tersebut". jelas dokter Arga tapi justru Askara tidak puas mendengar penjelasan tersebut.
"Ck.. Lo langsung aja sama intinya , jadi Anin benar-benar lupa sama gue atau ngga ?". itu yang ingin Askara tau.
Dokter Arga mendengus kesal, Askara memang tidak pernah sabaran dalam segala hal.
"Anin ngga lupa sama Lo_". ujar dokter Arga sengaja memotong perkataannya.
Askara terlihat menghembuskan nafas lega, dia sudah menduga bahwa Anin pasti hanya pura-pura lupa padanya untuk menghindari nya.
"Tapi dia mau melupakan Lo dari hidupnya karena Lo adalah kenangan buruk yang di maksud oleh Anin".
Wajah Askara berubah pias mendengar kelanjutan perkataan dokter Arga.
"Lo pasti bohong". cecar Askara tidak percaya.
"Terserah Lo kalau ngga percaya, tapi yang pasti Anin benar-benar ingin menghapus Lo dari ingatannya dan Anin sendiri yang minta gue buat menyampaikan semuanya sama Lo". dokter Arga menepuk pundak Askara yang terdiam mematung.
"Waktunya Lo kerja keras sekarang buat menebus kesalahan Lo sama Anin". tutur dokter Arga lalu meninggalkan Askara seorang diri di dalam ruangannya karena masih harus memeriksa pasiennya yang lain.
__ADS_1