Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 149


__ADS_3

Sudah menjadi rutinitas Anin setiap pagi memompa ASI nya untuk stok Jendra. pagi ini Anin berencana untuk mengunjungi sekaligus mengantar ASI untuk putranya yang masih berada rumah sakit.


Anin tersenyum senang saat melihat persediaan stok ASI nya untuk Jendra begitu melimpah, kadang ia harus memompa dua jam sekali lalu ia simpan dalam lemari pendingin khusus yang sengaja dia siapkan untuk menampung stok ASI untuk Jendra.


"Bu, Anin pamit ke rumah sakit dulu ya". ujar Anin kepada Bu Risa yang sedang berkutat di dapur. meskipun semalam keduanya sempat beradu argumen, tapi hal itu tidak lantas membuat Anin marah pada ibunya.


"Perginya sendirian?". tanya Bu Risa.


"Iyya bu, Anin juga udah pesan taksi online, udah ada di depan kok".


"Ya sudah hati-hati ya nak, maaf ibu ngga bisa nemenin".


"Iyya bu gapapa, Anin pergi ya".


Anin pun meninggalkan Bu Risa seorang diri di rumah, langkah Anin sedikit terburu-buru karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jendra.


Menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Anin akhirnya sampai di rumah sakit. wanita itu langsung menunju ruangan Jendra. Anin tak sengaja berpapasan dengan Ken yang baru saja keluar dari ruangan dokter Ziva karena ada urusan dengan sang kakak.


Anin langsung menghentikan langkahnya, "Ken?, sedang apa di sini?". tanya Anin meskipun tau bahwa dokter Ziva bekerja di rumah sakit ini tapi tidak mungkin juga Ken selalu berkunjung setiap hari hanya untuk menemui kakaknya.


"Ada sedikit urusan tadi sama kak Ziva, kau sendiri kenapa bisa di sini?, bukannya kemarin kau sudah keluar dari rumah sakit?".


"Iyya aku sudah bisa pulang tapi Jendra masih harus tinggal di sini. aku mau bau stok ASI". Anin mengangkat kotak ASI yang ia bawa dari rumah.


"Aku boleh ikut?, saolnya aku juga mau lihat Jendra".


"Boleh aja sih, memangnya kau tidak sibuk?".


"Hari ini aku luang kok, lagi ngga ada jadwal pemotretan". tutur Ken tersenyum.


"Ayo kalau gitu".

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari Anin untuk ikut melihat Jendra, keduanya pun berjalan beriringan menuju ruangan bayi.


Kedatangan Anin di sambut ramah oleh suster yang di tugaskan untuk menjaga Anin. beberapa pengawal pribadi pun dengan setia berdiri di luar ruangan Jendra, seperti yang sudah di siapkan oleh Mami Sandra.


"Itu di luar seriusan pengawal yang jagain Jendra 24 jam?". Ken sampai terheran-heran melihat dua pria berseragam hitam-hitam berjaga di luar ruangan.


Anin tersenyum geli melihat wajah cengo' Ken, "Itu pengawal utusan mami Sandra, kalau aku sendiri mana mungkin sanggup nyiapin pengawal buat Jendra". balasnya.


"The real bayi sultan ini sih, Nin". canda Ken tapi kenyataannya memang begitu.


Anin hanya tertawa kecil menanggapi celetukan Ken, dia lalu menghampiri Jendra yang kebetulan sedang bangun.


"Hallo anak bunda, hei.. Jendra baru bangun ya?, udah mau minum susu ya nak?". seperti biasa Anin akan rutin mengajak Jendra mengobrol saat menemuinya.


"Sabar ya nak, susu Jendra lagi di siapin sama suster".


Ken terus memperhatikan wajah ceria Anin yang mengajak Jendra mengobrol. dia tiba-tiba membayangkan andai saja posisi sekarang Anin adalah istirnya dan Jendra adalah anaknya, mungkin dia akan menjadi pria paling bahagia di dunia.


"Ken, liat deh Jendra langsung senyum liat kamu". ujar Anin membuat Ken terkesiap dari lamunannya.


"Jendra tadi senyum pas aku bilang kalau hari ini dia di jenguk sama om ganteng". tutur Anin sedikit heran melihat sikap Ken yang sepertinya sedang memikirkan hal lain.


"Oh, sorry-sorry tadi aku kurang fokus soalnya. maaf banget ya Nin". sesal Ken


"Iyya gapapa kok". Anin sebenarnya penasaran dengan apa yang tengah di fikirkan oleh Ken, tapi dia tidak ingin di anggap tidak sopan dan kepo dengan lancang menanyakan nya langsung pada Ken.


Anin lalu kembali mengajak Jendra bercanda atau sekedar mengobrol ringan, sedangkan Ken yang tadinya hanyut dalam pesona Anin memastikan dirinya untuk fokus agar tidak melamun seperti tadi lagi.


Bahagia, itulah yang di rasakan Anin setelah memastikan keadaan Jendra baik-baik saja. hatinya lega setelah semalam di rundung rasa cemas karena berada terpisah jauh dari sang putra.


"Kau akan langsung pulang?". tanya Ken yang berjalan beriringan dengan Anin di lorong rumah sakit.

__ADS_1


Anin mengangguk karena memang dia sudah tidak punya urusan lain lagi, "Iyya, lagian ibu juga sendirian di rumah".


"Mau makan siang dulu ngga?, sekalian biar nanti aku yang antar pulang".


"Eh ngga perlu Ken, aku bisa pesan taksi online".


"Please Nin, kali ini aja ya, ini juga sudah jam makan siang jangan sampai kau telat makan. busui harus menjaga asupannya kan?".


"Cih, tau dari mana?". tanya Anin terkekeh.


"Lupa ya kalau kakak aku dokter kandungan?, dia sering sharing masalah ibu hamil dan ibu pasca lahiran. itung-itung nambah pengetahuan aku sebelum nanti punya istri". sorot mata Ken langsung tertuju pada Anin yang sedang tersenyum memalingkan wajahnya.


"Memangnya kau sudah punya calon istri?, kenalin dong". tanya Anin bersemangat.


"Ada, tapi ngga tau deh orangnya mau apa ngga". ujar Ken mengedikkan bahunya.


"Usaha dong Ken, nanti kalau di ambil yang lain gimana?".


"Sayangnya dia emang udah di milikin sama orang lain". gumam Ken begitu pelan sehingga Anin tidak dapat mendengar nya dengan jelas.


"Hah?, kau bilang apa?".


"Ngga, aku ngga bilang apa-apa kok". sanggah Ken dengan cepat, "Kita jadi kan makan siang?". Ken mengalihkan pembicaraan dengan membuka pertanyaan lain.


"jadi kok, tapi di traktir ngga nih?". ujar Anin bercanda, entah kenapa hari ini Anin begitu terbuka untuk bercanda dengan pria itu.


"Asal kau sanggup habisin semua makanannya, dengan senang hati aku traktir". balas Ken terkekeh.


"Oke, kita lihat nanti ya". Anin menerima tantangan Ken.


Tanpa Anin dan Ken sadari, seseorang mengambil gambar keduanya yang tengah tersenyum karena candaan yang tak hentinya keluar dari mulut Ken.

__ADS_1


Send


Foto keduanya pun langsung di kirim pada seseorang.


__ADS_2