Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 40


__ADS_3

"Hoammm" Anin berjalan menuruni anak tangga dengan mulut menguap karena dirinya memang baru saja bangun tidur.


Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan dia ingin minum sekarang.


Anin melirik jam besar yang terdapat di ruang tengah, masih pukul setengah 6 pagi. Kaki Anin melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum.


Bau wangi masakan menyeruak masuk dalam Indra penciuman Anin, memenuhi lorong menuju dapur.


"Selamat pagi Bi" sapa Anin melihat bi Ratih sudah berkutat di dapur sepagi ini.


"Non Anin ." seru bi Ratih sedikit terkejut melihat kehadiran Anin. "Kenapa ke dapur, kan bibi sudah bilang kalau butuh sesuatu tinggal panggil bibi"


Anin tersenyum mendengar perkataan bi Ratih.


"Aku nggak biasa di layani seperti itu bi, sudah terbiasa apa-apa sendiri jadi kebawa sampai sekarang. lagian aku cuman mau ambil minum" ujar Anin berjalan ke arah dispenser.


"Bi Ratih masak apa?" tanya anin setelah menenggak habis segelas air putihnya.


"Masak sup iga non, kesukaan tuan Askara" jawab bi Ratih yang tengah memotong-motong wortel.


"Benarkah? boleh Anin bantu?" tanya Anin menawari bantuan. tangannya terasa gatal ingin ikut memasak karena sudah lama rasanya Anin tidak pernah memasak setelah tinggal di mansion.


"Tidak usah Non, biar bibi aja" tolak bi Ratih karena Anin adalah nyonya di mansion ini.


"Boleh yah bi, Anin ngidam loh ini pengen masak. yah..yah..yah.. udah lama rasanya nggak pernah masak langsung di dapur" mohon Anin dengan wajah memelas.


Bi Ratih tidak tega melihat wajah memohon Anin "Ya sudah, tapi non bantu yang ringan-ringan aja kayak motong sayur wortel ini" bi Ratih menyerahkan pisau pada Anin untuk mengambil alih tugasnya.


"Makasih bi" ujar Anin senang, dia sangat bersemangat.


Anin mulai memotong-motong wortel sedangkan bi Ratih mencuci iga sapi yang menjadi bahan utama sup.


"Anin boleh nanya nggak bi?" tanya Anin di sela-sela kegiatannya memotong wortel.


"Mau tanya apa non?"


"Selain sup iga, makanan kesukaan Mas Askara apa aja?. pokoknya semuanya deh, minuman kesukaan juga boleh" tanya Anin ingin tau lebih banyak tentang Askara.


Bi Ratih nampak berfikir " Mmm.. kalo tuan Askara selain suka sup iga, dia suka berbagai jenis seafood apapun olahannya, terus tuan Askara juga suka cheese cake, kalo yang itu dia suka banget pokoknya, trus kalo minuman, tuan Askara lebih suka kopi yang gulanya sedikit, dia nggak suka minuman yang manis-manis" terang bi Ratih menyebutkan semua kesukaan Askara.


Anin mengangguk paham, sekarang dia mulai tau sedikit demi sedikit makanan kesukaan Askara.


"Tapi non, kok tanya hal itu ke bibi, memangnya selama pacaran, tuan Askara nggak pernah cerita ke non Anin apa-apa saja yang di sukainya?" bi Ratih mengerutkan kening bingung, dia mengira Anin dan Askara adalah sepasang kekasih sebelum menikah.


Deg.


pacaran?


Tangan Anin seketika berhenti memotong-motong wortel. hubungannya dengan Askara tidak seperti yang di sangkakan bi Ratih.


Anin menunduk diam.


"Kenapa non, bibi salah bicara yah?" bi Ratih mulai panik dan mendekat saat Anik mendadak diam setelah mendengar pertanyaannya.


Anin mengangkat wajahnya berusahan menampilkan senyum terbaiknya "Bibi tidak salah kok" ujar Anin menarik nafas.


"Oh Iyya, bibi bisa menyimpan sebuah rahasia kan?" tanya Anin menatap bi Ratih yang mulai terlihat bingung.


Sepertinya bi Ratih memang perlu tau seperti apa hubungannya dengan Askara yang sebenarnya. Anin juga percaya pada bi Ratih yang sudah puluhan tahun bekerja di mansion bahkan sebelum Askara lahir.


"Rahasia apa non?" tanya bi Ratih.


"Hubungan pacaran yang bibi maksudkan sebelum menikah dengan mas Askara itu sebenarnya tidak pernah ada, lebih tepatnya kita memang tidak pernah pacaran". lanjut Anin mulai menceritakan awal mula kisahnya dengan Askara.


"Maksudnya non?" tanya bi Ratih semakin tidak mengerti.


"Kami terpaksa menikah karena anak ini" Anin mengelus perutnya yang sedikit mulai membuncit di balik piyamanya.


"Awalnya kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal tapi karena suatu kejadian membuat aku mengandung anak ini". dengan menahan air matanya, Anin melanjutkan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Askara, hingga dia bisa berada di mansion ini.


Bi Ratih menutup mulut kaget mendengar semua cerita Anin, pantas saja firasatnya selama ini mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan hubungan keduanya.


"Non, yang sabar yah. tuan Askara pasti bisa menerima non dan juga anak yang sedang non kandung" bi Ratih mengelus lembut punggung Anin memberi kekuatan pada gadis muda ini.


Bi Ratih juga prihatin mendengar Anin yang harus cuti kuliah karena kehamilannya.


"Anin kuat kok Bi, tapi bibi janji yah jaga rahasia kita" ujar Anin tersenyum, perasaannya sedikit lega setelah bercerita.


bi Ratih mengangguk "Bibi janji non, tapi mengenai nyonya besar, apa dia juga tau hal ini?".


"Mami Sandra tau bi, dia juga yang memaksa Anin untuk pindah dari apartement ke sini. Mami Sandra orang yang sangat baik, bahkan dia tidak memandang status sosialku yang sangat jauh jika di bandingkan dengan keluarganya" ujar Anin merasa bersyukur memiliki mertua tulus seperti Sandra.


"Nyonya besar memang penyayang, apalagi sudah lama dia menginginkan anak perempuan dan sekarang ada kamu. dia itu tidak pernah membeda-bedakan orang, itu juga salah satu alasan kenapa bibi betah bekerja di sini hingga puluhan tahun" ungkap bi Ratih senang mempunyai majikan seperti Sandra.


"Iyya Bi" balas Anin tersenyum.


"Ya sudah, kita lanjut masak lagi" ujar Bi Ratih.


"Siap bi"


Anin dan juga bi Ratih segera menyelesaikan masakan mereka karena sebentar lagi pasti Askara dan Sandra bangun untuk sarapan.


****

__ADS_1


Askara meraba tempat tidur di sampingnya dan tidak mendapati Anin di sana.


"Kemana dia?" tanya Askara saat matanya menyusuri setiap penjuru kamar namun tidak juga melihat Anin.


Askara bangun dan memutuskan untuk turun.


"Anin...Anin...ckkk..mana sih tuh anak" Askara berteriak memanggil Anin tapi tidak ada jawaban dari gadis itu.


"Askara berisik, kenapa sih pagi-pagi sudah teriak cari Anin" ujar Sandra karena merasa terganggu dengan teriakan Askara.


"Ngapain cari-cari Anin, kamu kangen yah kalo nggak liat istri sebentar aja, iyya kan?" tebak Sandra menggoda.


"Mami liat Anin nggak?" Askara justru tidak menanggapi celetukan Maminya dan terus menanyakan keberadaan Anin.


Sandra mengangkat bahunya "Mana mami tau, mami kan baru bangun"


Askara berdecak kesal mendengar jawaban Sandra. dia sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya karena tidak melihat Anin sewaktu bangun tidur.


Anin yang baru selesai memasak sarapan pagi, terlihat berjalan dari arah dapur dengan membawa hasil masakannya ke meja bersama bi Ratih.


"Itu Anin" celetuk Sandra saat melihat Anin.


"Kau dari mana saja?, kenapa pagi-pagi sudah tidak ada di kamar" cerocos Askara pada Anin, tidurnya tidak nyaman karena tidak bisa memeluk Anin di pagi hari.


Anin mengerjapkan matanya melihat Askara yang tiba-tiba marah "Aku di dapur mas, bantuin bi Ratih masak, Iyya kan bi?" tanya Anin pada bi Ratih yang meletakkan nasi putih di atas meja


"Betul tuan" jawab bi Ratih.


"Askara mencarimu seperti anak ayam yang kehilangan induknya sedari tadi" celetuk Mami Sandra menarik kursi kemudian duduk.


Anin beralih menatap Askara "Ada apa mencariku, Mas?" tanya Anin.


"Aaa..aku mencarimu karena kamar berantakan dan perlu untuk di bereskan" Askara menjawab dengan gelalapan.


"Yakin karena itu?" tanya Anin memastikan.


"Yakin" jawab Askara cepat membuat Anin mengatupkan kedua bibirnya menahan senyum.


Askara si gengsi.


"Makanannya sudah lengkap kan non, kalau begitu bibi permisi ke belakang dulu" ujar Bi Ratih.


"Makasih bi, karena pagi ini sudah mau Anin recokin di dapur"


"Sama-sama non, bibi juga senang di temani masak sama non Anin".


"Anin kau yang memasak sarapan ini?" tanya Sandra selepas kepergian bi Ratih.


"Cuman bantuin dikit-dikit kok Mi. Mami cobain yah masakan Anin".


Anin beralih mengambil piring Askara "Sup iga kesukaan Mas Askara" ujar Anin mengisi piring Askara.


"Thanks". jawab Askara datar tiba-tiba teringat seseorang.


Askara menyantap sarapan yang di buat Anin. rasanya ternyata enak.


"Gimana, enak?" tanya Anin meminta pendapat.


"Hemm, enak" jawab Askara terdengar biasa saja.


Anin merasa Askara tidak sungguh-sungguh memuji masakannya.


"Semalam, Mami udah final milihin kalian tempat buat babymoon". Sandra buka suara di sela-sela makan pagi mereka.


Anin dan Askara kompak terdiam, hanya mata mereka yang saling beradu.


"Secepat itu yah, Mi?" tanya Anin berharap Mami Sandra berubah fikrian.


Sandra mengangguk "kalian kan akan berangkat lusa jadi mulai dari sekarang semunya sudah harus siap. dan untuk Anin, kau tidak perlu repot-repot mengemasi barang-barang yang akan kau bawa nanti. Biar Mami yang siapkan semua pakaianmu, kau tinggal mengemasi keperluan pribadimu saja" jelas Sandra sangat bersemangat.


"Iyya, Mi" balas Anin dengan senyum kakunya.


Askara hanya diam mendengarkan, dia malas jika harus menginterupsi perkataan Maminya.


"Jadi, nanti kalian berdua babymoonnya di Bali aja, kan kita punya resort pribadi di sana yang viewnya langsung menghadap ke pantai. kalian bisa babymoon sekalian honeymoon dengan nyaman deh nantinya". jelas Sandra


"Kau sudah setuju kan, Askara?"


"Terserah Mami" jawab Askara, dia sudah selesai dengan sarapannya.


"Bagus kalau begitu, jadi nanti kalian berdua tinggal berangkat saja". putus Sandra final.


****


Tenyata beberapa skincare Anin serta sabun mandi cairnya di kamar mandi sudah pada habis.


Anin meraih tas selempangnya yang menggantung, dia ingin ke supermarket untuk belanja, kebetulan tadi dia juga melihat beberapa bumbu dapur yang mulai habis.


Askara yang baru keluar dari ruang kerjanya melihat Anin berjalan keluar dengan sedikit terburu-buru.


"Pak, anterin saya ke supermarket yah" ujar Anin pada pak Hilman yang kebetulan sedang mengelap mobil.


"Boleh non, tunggu sebentar bapak panasin mobilnya dulu" ujar pak Hilman.

__ADS_1


"Iyya pak".


"Mau kemana kau?" tanya Askara tiba-tiba sudah berdiri di belakang Anin.


"Mas Askara" ujar Anin "Aku mau ke supermarket sebentar, kebetulan bahan makanan di dapur juga sudah mulai habis" jawab Anin.


"Biar aku yang antar" ujar Askara.


"Tapi Mas, aku sudah minta pak Hilman untuk mengantar"


"Batalkan"


Mau tidak mau Anin menurut.


"Pak, Anin nggak jadi di antar sama bapak. nanti di antar mas Askara ajah". ujar Anin pada pak Hilman.


"Oh, ya sudah non. tidak papa". balas pak Hilman.


"Kau tunggu di sini, aku ganti baju dulu" ucap Askara pada Anin.


"Iyya Mas"


Askara balik memasuki mansion untuk mengganti bajunya.


Tidak menunggu lama, Askara keluar dengan menggunakan setelan santai. celana pendek selutut serta baju kaos hitam.


Anin terpana melihat ketampanan Askara yang bertambah dua kali lipat yang hanya menggunakan pakaian santai.


Oh, Tuhan. Debaran jantung Anin tidak bisa di kontrol.


"Kenapa berdiri di situ, ayo masuk" ujar Askara saat Anin hanya berdiri mematung.


Anin terkesiap "Eh, Iyya Mas"


Mobil pun melaju menuju supermarket.


30 menit berkendara, akhirnya mobil Askara sampai di salah satu supermarket terbesar di Jakarta.


"Mas Askara tidak ikut masuk?" tanya Anin saat Askara hanya duduk diam di mobil dan tidak berniat untuk turun.


"Kau saja, aku akan menunggu di mobil". jawab Askara yang memang malas jika harus di ajak berbelanja bahkan oleh Maminya sendiri.


"Tapi aku tidak janji selesainya cepat, karena belanjaanku cukup banyak" ujar Anin tidak enak jika Askara harus menunggu lama.


"Masuklah, aku bisa menunggu di cafe sebelah" jawab Askara.


"Baik, aku tinggal dulu" pamit Anin memasuki supermarket.


Tangan Anin mendorong troli belanjaan kosong untuk di isi barang-barang yang akan dia beli nantinya.


Langkah kaki Anin membawanya ke arah rak bagian skincare dan kebutuhan wanita lainnya. ini adalah tujuan utamanya ke sini.


Setelah mendapatkan semua keperluan pribadinya, Anin beralih pada rak bagian susu ibu hamil. Anin sekalian stok banyak agar tidak bolak-balik membeli nantinya.


Saat Anin sedang serius memilih beberapa snack, seseorang tak sengaja menabrak bahunya.


"Sorry..sorry..gue nggak sengaja" ujar seorang pria yang sudah menabrak bahu Anin.


"Nggak papa Mas" balas Anin, kembali melanjutkan belanjanya.


"Tunggu dulu" tahan pria tersebut yang ternyata adalah dokter Arga.


"Kenapa?"


"Wajahmu seperti familiar, kita sepertinya pernah bertemu"


"Mungkin anda salah orang, saya merasa tidak pernah bertemu dengan anda" ujar Anin sopan, dia kembali mendorong troli nya.


"Tunggu" Arga lagi-lagi menahan Anin, kali ini dengan berani memegang pergelangan tangan Anin yang sedang mendorong troli.


"Lepaskan tanganmu brengsek". Askara tiba-tiba datang dan berdiri tidak jauh dari keduanya.


Matanya menatap tajam Arga di depannya.


"Mas Askara " ujar Anin lega melihat kehadiran Askara.


"Lepaskan tanganmu, atau ku patahkan lehermu" ujar Askara dingin.


Anin merengut takut dan mendekat ke arah Askara meninggalkan troli belanjanya "Mas, aku takut" adu Anin bersembunyi di balik tubuh Askara.


Arga malah terkekeh, sekarang dia ingat siapa wanita yang bersembunyi di balik tubuh Askara setelah melihat kehadiran pria di depannya yang sedang memasang ekspresi marah.


"Cih, suami yang posesif" celetuk Arga menyindir Askara.


"Tutup mulutmu, seharusnya kau berada di rumah sakit menangani pasienmu, bukan malah menggoda istri orang" hardik Askara.


Anin yang sudah takut akan terjadi pertengkaran, mengerutkan kening " Kalian berdua saling kenal?" tanyanya kaget.


**Maaf updatenya lambat.


author lagi sibuk, tapi sesibuk apapun itu author tetap akan update untuk para readers tersayang.


jgn lupa

__ADS_1


like, komen, dan vote yah**.


__ADS_2