
Sekretaris Dito, Doni, serta Vivi masih setia menunggu di depan ruang tindakan. Ketiganya juga menunggu Askara keluar dari ruangan dokter Ziva.
Sedangkan Ken, pria itu sudah tidak terlihat, pergi entah kemana.
"Apa kata dokter mengenai kondisi Anin?" tanya Vivi saat melihat Askara sudah kembali dari ruangan dokter Ziva.
"Anin sisa di pindahkan ke ruang rawat inap" ujar Askara.
"Terus bagaimana dengan kandungan Anin?baik-baik saja kan?, janinnya bisa di selamatkan kan?" cerocos Vivi ingin segera tau kondisi kandungan Anin.
Askara mengangguk "Semuanya baik-baik saja, itu karena Anin di bawa ke rumah sakit tepat waktu. jika terlambat sedikit, akibatnya bisa fatal" jelas Askara.
"Ahh..syukurlah" ujar Vivi menarik nafas lega, dia bisa tersenyun sekarang mendengar kondisi Anin yang baik-baik saja.
Doni dan juga sekretaris Dito sama leganya mendengar perkataan Askara.
Hanya itu yang bisa di sampaikan oleh Askara untuk sekarang mengenai kondisi Anin.
"Dito, kemari" panggil Askara pada sekretaris Dito.
"Iyya tuan, ada yang bisa saya bantu" tanya sekretaris Dito.
"Urus kepindahan Anin ke ruang rawat inap, pastikan Anin di tempatkan di kamar VVIP" perintah Askara tak terbantahkan.
"Baik tuan" ujar sekretaris Dito, kemudian segera meninggalkan ketiganya menuju ruang administrasi.
Vivi yang mendengar Anin akan di tempatkan di ruang VVIP merasa tercengang, seorang sultan mah bebas.
Sedangkan Doni, dalam hatinya dia terus bertanya. siapa kiranya pria yang menjadi suami Anin.
Doni meneliti wajah Askara yang spek nya hampir sempurna. tampan, tinggi, berkarisma, dan pembawaannya pun berwibawa, mungkin ini yang di maksud dengan defenisi good looking oleh anak jaman now.
Barang-barang yang melekat di tubuh Askara pun Doni yakini harganya sangat mahal, di tambah dia datang bersama dengan seorang ajudan, pasti dia bukan orang sembarangan.
"Oh Iyya, karena kondisi Anin sudah baik-baik saja, aku pamit mau kembali ke toko, lain waktu aku akan ke sini untuk menjenguk Anin lagi". ucap Doni buka suara.
"Kak Doni pake mobil aku aja" ujar Vivi
"Nggak usah, kakak biar naik ojek online saja"
"Kakak yakin?"
"Iyya, takutnya juga kalau pake mobil terus macet jadinya nggak bisa nyelap-nyelip, kalau naik ojek kan bisa sat set sat set" ujar Doni bergurau, mencoba mencairkan suasana.
"Kak Doni bisa aja, ya udah hati-hati yah"
"Iyya"
"Pak, saya pamit yah. sampaikan salam saya kalau Anin sudah siuman" ujar Doni beralih pada Askara.
Askara menatap Doni, ini pertama kalinya Askara bertemu dengan Doni.
"Terimakasih sudah membawa Anin ke rumah sakit" ujar Askara tulus.
"Sama-sama, Anin sudah seperti adik kandung saya sendiri" ungkap Doni.
"Hemm.. kalau begitu hati-hati" balas Askara.
"Vi, kakak duluan yah" pamitnya pada Vivi.
"Kak Doni hati-hati" ujar Vivi yang hanya di angguki oleh Doni.
Doni kemudian meninggalkan rumah sakit karena dia juga tidak bisa berlama-lama. toko sedang ramai dengan pesanan kue.
Sekretaris Dito yang baru saja kembali mengurus kepindahan kamar Anin sempat berpapasan dengan Doni.
__ADS_1
Doni tersenyum ramah pada sekretaris Dito sebelum akhirnya benar-benar keluar dari rumah sakit.
"Tuan, semuanya sudah siap. perawat sebentar lagi akan memindahkan nona Anin". lapor sekretaris Dito.
"Terimakasih Dito"
"Iyya tuan"
Ketiganya sisa menunggu perawat untuk memindahkan Anin.
****
Ken menatap lurus ke depan jendela ruangan dokter Ziva.
Dia memutuskan untuk pergi dari ruang IGD tempat di mana Anin berada. dia butuh waktu untuk menenangkan diri setelah mengetahui fakta tentang Anin.
Pintu ruangan terbuka, dokter Ziva datang dengan dua botol minuman dingin di tangannya.
"Lagi mikiran apa?" tanya dokter Ziva meletakkan minuman tersebut ke atas meja.
"Bukan apa-apa" balas Ken yang matanya masih tertuju pada pemandangan di luar jendela.
"Sejak kapan kenal Anin?" tanya dokter Ziva.
"Belum lama ini" ujar Askara tak bersemangat.
Dokter Ziva menatap punggung Ken, adik bungsunya itu masih terus menatap keluar jendela, entah apa yang sedang di fikirkan oleh Ken.
"Kak Ziva sendiri?" tanya Ken ingin tau sejak kapan kakaknya itu kenal dengan Anin.
"Ini baru pertemuan kedua kami, sebelumnya Anin pernah datang ke sini bersama suaminya untuk memeriksakan kandungan" jelas dokter Ziva.
Dada Ken Kembali sesak setiap membahas kehamilan Anin. dia jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami.
"Tidak papa, aku hanya ingin tau" balas Ken.
"Kakak ingin bertanya sesuatu" ujar dokter Ziva.
"Tanyakan saja" balas Ken tanpa menoleh sedikitpun.
"Wanita yang kau maksud itu bukan Anin kan?" tanya dokter Ziva berhasil membuat Ken berbalik menatapnya.
"Maksud kak Ziva?" tanya Ken tidak mengerti.
"Tadi, kau sangat mengkhawatirkan Anin, dan itu terlihat jelas di mata kakak. jangan bilang, bahwa wanita itu adalah Anin, wanita yang kau maksud sudah berhasil membuatmu jatuh cinta" ujar dokter Ziva menebak.
Askara terdiam, kakaknya ternyata begitu cepat menyimpulkan.
"Kenapa diam?, apa tebakanku benar?"
"Itu bukan urusan kak Ziva" ujar Ken datar.
"Jelas ini juga menjadi urusan kakak, Ken. kau jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami bahkan sedang mengandung. ini bukanlah hal yang bisa di benarkan" ucap dokter Ziva menasehati Ken.
"Tapi aku cinta sama Anin, Kak. bisa saja Anin tidak bahagia dengan pernikahannya nanti" ujar Ken masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Ken.." tekan dokter Ziva marah.
"Kau jangan mementingkan dirimu sendiri, jangan bebani Anin dengan perasaanmu itu. asal kau tau, salah satu penyebab Anin mengalami pendarahan karena dia sedang banyak fikiran" jelas dokter Ziva.
"Kau jangan egois, Ken. kubur perasaanmu itu dalam-dalam sebelum kau bertindak semakin jauh. Mumpung ini masih awal, kakak yakin kau bisa menemukan wanita lain di luaran sana yang jauh lebih baik dari Anin". dokter Ziva mencoba untuk memberi pengertian pada Ken.
"Tidak ada yang lebih baik dari Anin, kak" ujar Ken kemudian meninggalkan ruangan dokter Ziva.
"Ken...Ken.. kau mau kemana?, Kakak belum selesai bicara...Ken." dokter Ziva terus memanggil Ken berharap pria itu mau mendengarkannya.
__ADS_1
Namun bukannya berhenti, Ken semakin mempercepat langkahnya meninggalkan rumah sakit.
Dokter Ziva terduduk lemas di kursinya, dia tidak habis fikir adiknya akan jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah bersuami.
Saat dokter Ziva tau bahwa Ken mulai jatuh cinta kembali. dia berharap adiknya akan bahagia nantinya, tapi kenapa? kenapa wanita itu harus Anin?.
Di lain waktu, dokter Ziva akan mencoba kembali berbicara dengan Ken. dia tidak ingin adiknya itu menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain.
****
Anin sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP, sesuai dengan permintaan Askara.
Di sana sudah ada Vivi, sekretaris Dito, dan juga salah satu perawat yang sedang memperbaiki selang infus Anin.
"Kalau begitu saya permisi pak, jika butuh sesuatu silahkan tekan tombol yang berada di samping ranjang pasien" ujar perawat perempuan tersebut pada Askara.
"Baik, terimakasih" balas Askara.
Perawat tersebut meninggalkan ruang rawat Anin.
Askara menarik kursi untuk lebih dekat dengan ranjang tempat Anin terbaring.
"Kau ikut aku" sekretaris Dito menarik tangan Vivi membuat gadis itu menatapnya heran.
"Lepas, kita mau kemana?" tanya Vivi mencoba melapaskan tangannya dari genggaman sekretaris Dito.
Sekretaris Dito tidak menjawab, dia terus menarik Vivi keluar dari ruang rawat Anin meskipun gadis itu terus meminta untuk di lepaskan.
"Lepas" sentak Vivi berhasil melepaskan tangannya saat mereka sudah berada di luar ruang rawat Anin.
"Kau ini tidak peka sekali jadi perempuan" ujar sekretaris Dito.
"Memangnya kenapa aku harus peka?"
Sekretaris Dito merasa gemas mendengar jawaban Vivi.
"Aku membawamu keluar karena ingin memberi tuan Askara waktu untuk berdua dengan nona Anin di dalam, memangnya kau tidak lihat? sejak tadi tuan Askara merasa cemas dengan kondisi Anin " ujar sekretaris Dito panjang lebar.
Vivi menatap kesal sekretaris Dito.
"Memangnya sejak tadi kau melihatku sedang tertawa haha hihi melihat kondisi Anin? kau fikir aku juga tidak merasa cemas melihat Anin terbaring lemah di dalam sana?" ujar Vivi geregetan ingin mencungkil bola mata sekretaris Dito.
"Bukan itu maksudku, tapi tuan Askara itu adalah suami nona Anin"
"Aku sahabat Anin, bahkan lebih dulu dan lebih lama kenal dengan Anin di bandingkan boss mu itu" ujar Vivi melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi tuan Askara ayah dari anak yang di kandung nona Anin" ujar sekretaris Dito tidak kehabisan kata.
"Tapi aku calon aunty dari anak yang di kandung oleh Anin" balas Vivi tidak mau kalah, dia memasang senyum mengejek saat berhasil membuat sekretaris Dito terdiam.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan seorang mahasiswi, yang bahkan untuk membuat satu proposal saja, dia tidak bisa" cemooh sekretaris Dito dengan smirknya.
Vivi membulatkan matanya mendengar perkataan sekretaris Dito. Vivi mengepalkan kedua tangannya.
"Kauu..menyebalkan" geram Vivi, ingin rasanya dia melayangkan tinju ke wajah tampan sekretaris Dito.
Vivi meninggalkan sekretaris Dito di depan ruangan Anin. gadis itu berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal, sehingga menimbulkan suara berisik di lantai lorong rumah sakit.
"Mbak, tolong jalannya jangan berisik. ini rumah sakit" tegur salah satu perawat pada Vivi.
Sekretaris Dito yang melihat Vivi di tegur oleh perawat, mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat menahan senyum.
Vivi berbalik menatap sekretaris Dito dengan tatapan nyalang dan juga kesal.
Lewat gerakan, Vivi menaikkan satu tangannya yang terkepal seolah memperingatkan sekretaris dito bahwa akan menghabisi pria itu di lain kesempatan.
__ADS_1