Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 64


__ADS_3

Di dalam ruang rawatnya, Anin menunggu dengan gelisah saat Askara tak kunjung muncul.


Anin terus menatap pintu kamar rawatnya.


"Vi, mas Askara kok lama banget yah?" tanya Anin cemas.


Anin khawatir, takut Askara dan Ken tersulut emosi dan bertengkar. apalagi Askara yang sulit untuk mengendalikan emosinya.


"Gue juga nggak tau Nin, apa gue turun aja buat ngecek?" tanya Vivi yang sama cemasnya.


"Gue ikut"


"Nin, Lo nggak liat Askara tadi semarah apa waktu liat Lo di taman? udah biar gue aja yang turun. Lo tunggu di sini" belum sempat Vivi berdiri dari duduknya, pintu kamar rawat Anin terbuka.


Askara masuk dengan wajah yang sudah jelas menyiratkan kemarahan.


"Mas.." seru Anin dengan perasaan lega sekaligus takut saat melihat Askara masuk ke dalam ruangan.


Mata Askara tak sengaja menangkap parcel buah yang terletak di atas meja.


Sebelum dia berangkat kerja, parcel buah itu belum ada.


Askara bisa menyimpulkan, bahwa itu pasti dari Ken.


"Vivi" panggil Askara membuat tubuh Vivi menegang.


"I-iya.." gagap Vivi.


"Buang parcel buah itu" tunjuk Askara lewat mata tajamnya.


"Tapi mas, kenapa harus di buang?" tanya Anin bingung.


"Aku tidak mau menerima apapun dari pria itu" ucap Askara dingin.


"Ken memberikan itu untukku mas, setidaknya kita harus menghargai pemberian orang lain" ucap Anin.


"Termasuk menghargai perasaan dia padamu?" tanya Ken menatap tajam Anin.


"Mas, aku dan Ken memutuskan untuk berteman. tidak akan ada apa-apa lagi di antara kita. apalagi aku, sedari awal aku memang tidak punya perasaan apapun pada Ken" terang Anin berharap Askara mau mengerti.


"Tetap saja, aku tidak suka dia masih mendekatimu terlepas dari status kalian sebagai teman". Askara tetap pada pendiriannya.


"Vivi ..cepat buang parcel buah itu" titah Askara.


"Baik" singkat Vivi segera mengambil parcel buah yang di bawa oleh Ken keluar dari ruangan.


Vivi menutup ruangan Anin dengan pelan. dia mengelus dadanya saat berhasil keluar dari dalam ruangan yang auranya mencekam itu.


Tersisa Anin dan Askara di dalam.


"Mulai sekarang jangan pernah bertemu dengan pria itu lagi"


"Kenapa mas? aku kan sudah bilang kita hanya berteman." jelas Anin.


"Tetap saja Anin, aku ini suamimu. aku berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh dekat denganmu" bentak Askara dengan suara meninggi.


Hati Anin mencolos, matanya mendadak berembun saat Askara meninggikan suaranya.


"Mas...kenapa kau membentakku" ucap Anin yang sudah menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Perasaannya sangat sensitif.


Askara mengusap wajahnya kasar saat sadar apa yang telah dia lakukan.


Dia terlalu terbawa emosi hingga tanpa sadar membentak Anin.


Askara berjongkok mengsejajarkan tubuhnya dengan Anin yang masih duduk di atas kursi rodanya.


"Maafkan aku" ujar Askara dengan suara selembut mungkin.


Dia menangkup wajah Anin, menyingkirkan bulir air mata yang merembes keluar dari manik hitam Anin.


"Aku takut kalo mas Askara marah-marah". Anin terisak.


Askara menarik tubuh Anin ke dalam pelukannya.


"Aku sungguh minta maaf, aku terbawa emosi. itu karena aku tidak suka kau dekat dengan Ken. kau itu istriku" Askara mencium kepala Anin, memberi ketenangan pada istrinya.


"Kenapa mas Askara tidak suka pada Ken?" tanya Anin, dia ingin tau alasan pasti Askara.


Askara terdiam sebentar. "Karena kau istriku, Anin. aku tidak ingin ada pria lain yang mendekatimu"


Jawaban Askara tidak membuat Anin puas.


"Apa mas Askara mulai mencintaiku?" tanya Anin dengan suara kecilnya namun terdengar jelas di telinga Askara.


Askara terpaku mendengar pertanyaan Anin. posisi mereka yang masih berpelukan membuat Anin tidak bisa melihat langsung ekspresi wajah Askara.


Lama Askara diam hingga Anin kembali buka suara "Mas Askara belum cinta yah?" Anin tersenyum kecut di balik punggung Askara.


Nyatanya perasaan Anin belum berbalas, terbukti dari diamnya Askara dan tidak menjawab pertanyaannya.


Tubuh Askara menegang mendengar pengakuan Anin.


Dia tidak pernah menyangka, Anin akan jatuh secepat ini padanya.


"Aku hanya ingin mas Askara tau perasaanku yang sebenarnya. aku sendiri tidak tau, apa mas Askara bisa membalas perasaanku atau memang rasa itu belum tumbuh. tapi setidaknya sekarang aku merasa lega bisa mengatakan semua ini". terang Anin.


Askara masih berusaha mencerna semuanya. rahangnya terasa kaku hingga membuka mulut saja rasanya susah.


Askara memang merasa nyaman dan tidak ingin Anin dekat dengan pria lain, tapi dia sendiri masih bingung apakah ini adalah bentuk rasa cinta pada Anin atau dia hanya melindungi harga dirinya sebagai seorang suami.


Dia tidak ingin keliru menjawab, Askara memutuskan untuk melerai pelukannya dengan Anin.


"Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu" balas Askara jujur.


Anin tampak kecewa mendengar jawaban Askara, tapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya.


Dia akan terus mencoba untuk membuat Askara membalas perasaannya.


Apalagi hubungan mereka semakin membaik, jadi Anin akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat Askara jatuh cinta hingga tidak akan ada perpisahan di antara mereka nantinya.


"Aku tidak memaksa mas Askara, yang terpenting sekarang mas Askara sudah tau perasaanku yang sebenarnya".


Anin tau betul, Askara masih bimbang karena masih ada nama Dalila di hatinya.


"Maaf" ucap Askara dengan wajah bersalahnya.


"Aku akan menunggu waktu itu mas" balas Anin berusaha tegar.

__ADS_1


Askara kembali memeluk tubuh Anin. jujur Askara tidak ingin kehilangan Anin. tapi untuk menyimpulkan, Askara masih begitu buta untuk menentukan perasaannya.


Vivi masuk ke dalam ruang rawat Anin membuat keduanya melepas pelukan mereka.


"Sorry ganggu, tapi dokter Ziva sedang menuju kemari" ujar Vivi tidak enak mengganggu moment Anin dan Askara.


"Tidak papa Vi" balas Anin.


"Sekarang kau kembali ke tempat tidurmu" Askara membantu mengangkat tubuh Anin ke atas ranjang rumah sakit.


Tak lama dokter Ziva datang.


"Selamat sore pak Askara, Anin dan juga Vivi" sapa dokter Ziva ramah seperti biasanya.


"Sore dok" jawab mereka.


"Hari ini saya akan kembali melakukan pemeriksaan pada Anin untuk memastikan perkembangan kondisinya" terang dokter Ziva.


"Silahkan dok" Askara mempersilahkan dokter Ziva.


Dokter Ziva mulai melakukan serangkaian pemeriksaan pada Anin.


"Kondisi Anin semakin menunjukkan progres yang baik, ini di luar dugaan saya" dokter Ziva tersenyum setelah menyampaikan perkembangan kondisi Anin.


"Syukurlah, apa secepatnya Anin bisa keluar dari rumah sakit dok?" tanya Askara.


"Setelah melakukan observasi pasien, kita baru bisa menentukan apakah Anin sudah boleh pulang atau masih harus di rawat" jelas dokter Ziva.


"Tapi saya sudah bosan di sini dok" ujar Anin.


"Kamu yang sabar yah, secepatnya saya akan mengabari hasilnya pada pak Askara"


"Baik Dok, terimakasih"


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit karena masih ada beberapa pasien yang harus saya kunjungi"


"Iyya dok"


Dokter Ziva meninggalkan ruang rawat Anin.


"Emm.. Nin, gue juga mau pamit pulang yah. kan udah ada Askara sekarang" ujar Vivi


"Iyya, maaf yah udah ngerepotin seharian"


"Sama-sama.. gue cabut yah.. Askara aku pamit yah, jagain Anin" pesan Vivi.


"Hemm..hati-hati"


Vivi pun ikut meninggalkan ruangan Anin.


"Mas Askara mandi gih, udah sore" titah Anin pada Askara.


"Hemm.. kau jangan ke mana-mana selama aku mandi, awas!"


"Iyya mas, memangnya aku bisa kemana dalam keadaan seperti ini"


"Ya sudah, aku mandi dulu" Askara mengusap lembut puncak kepala Anin.


"Hemm".

__ADS_1


Askara kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Anin memilih untuk menyalakan tv yang ada di dalam kamar rawatnya.


__ADS_2