
Anin meletakkan Jendra dengan pelan ke atas box bayi setelah di rasa bahwa putranya itu sudah terlelap dengan tenang.
"Tidur yang nyenyak ya, sayang". Anin tersenyum bahagia karena kini Jendra benar-benar sudah berada di sampingnya.
Namun senyum Anin tiba-tiba luntur saat sekelabat ingatan tentang Askara tiba-tiba muncul di kepalanya saat melihat wajah Jendra yang begitu mirip dengan pria yang masih berstatus suaminya itu.
Semenjak Anin mengusir Askara dari rumah sakit waktu itu, dia tidak lagi mendengar kabar tentang suaminya itu, bahkan saat di perjalanan pulang tadi mami Sandra sama sekali tidak membahas atau menyinggung hal mengenai Askara dan itu membuat Anin cukup gelisah, apakah pria itu baik-baik saja atau malah sebaliknya.
Cukup lama termenung, Anin buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menghapus jejak Askara dalam ingatannya.
"Ingat Anin, jangan pernah memikirkan Askara lagi". Anin mewanti-wanti dirinya agar tidak lagi mengingat Askara yang sudah menyakitinya.
"Anin!". panggil Vivi muncul dari balik pintu, Vivi memutuskan untuk bermalam menemani Anin malam ini.
"Ya, kenapa Vi?".
"Dito ada di luar, katanya dia mau ketemu sama Lo". ujar Vivi mengabarkan kedatangan sekretaris Dito.
"Sekretaris Dito ada di sini?".
"Hemm, dia nunggu di ruang tamu. sana gih samperin".
"Tapi Jendra____".
"Udah sana temuin Dito di luar, Jendra biar gue yang jagain. kayaknya Dito mau bicara hal penting".
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu gue titip Jendra, ya". Anin lalu bergegas menuju ruang tamu untuk menemui sekretaris Dito.
Melihat kedatangan Anin, sekretaris Dito menghentikan gerakan matanya yang sejak tadi mengamati isi rumah yang Anin tempati, lalu dia pusatkan pada Anin yang berjalan menghampirinya. buru-buru sekretaris Dito berdiri dan memberi hormat pada Anin.
"Selamat malam nona Anin, maaf jika kedatangan saya begitu tiba-tiba". ujar sekretaris Dito membuat Anin berdiri canggung.
"Kau tidak perlu seperti ini sekretaris Dito, silahkan duduk kembali". Anin mempersilahkan sekretaris Dito agar duduk kembali di ikuti dirinya yang ikut duduk di sofa yang berseberangan dengan sekretaris Dito.
"Bagaimana kabar nona Anin?". tanya sekretaris Dito basa-basi.
"Jauh lebih baik, seperti kau yang lihat saat ini". balas Anin tersenyum.
Sekretaris Dito mengangguk pelan, Anin memang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. entah karena wanita itu sudah benar-benar melupakan Askara atau karena hal lain yang tidak sekretaris Dito ketahui.
"Oh ya Nona, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk memberikan ini". sekretaris Dito mendorong pelan paperbag berukuran cukup besar yang sejak tadi berada di atas meja untuk lebih dekat ke hadapan Anin.
"Apa ini, sekretaris Dito?".
"Itu hadiah kecil dari saya atas kepulangan tuan muda Jendra dari rumah sakit, harganya mungkin tidak seberapa tapi saya akan sangat senang jika nona Anin mau menerimanya".
Anin terdiam cukup lama menatap paperbag berwarna putih dominan yang berada di depannya.
"Nona Anin tidak perlu khawatir, hadiah ini benar-benar dari saya. bukan dari orang lain yang ada di fikiran nona Anin saat ini". ujar sekretaris Dito menganggap Anin enggan menerima hadiah pemberiannya karena berfikir itu dari Askara.
Anin lantas menggeleng dengan cepat, bermaksud menyangkal ucapan sekretaris Dito agar pria itu tidak terseinggung dengan sikapnya barusan.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku sekretaris Dito, baiklah hadiah ini aku terima dan terima kasih banyak karena sudah begitu perhatian pada Jendra".
"Tuan muda Jendra adalah bagian dari tanggungjawab saya juga, nona. saya juga ke sini untuk meminta maaf karena baru bisa menjenguk tuan muda Jendra dan juga nona Anin. akhir-akhir ini saya dan tuan Askara begitu sibuk, bahkan seminggu ini kami sampai harus tiga kali bolak-balik___".
"Sekretaris Dito!". panggilan Anin memotong pembicaraan sekretaris Dito.
"Ya, nona".
"Katakan apa yang ingin Askara ketahui tentangku?, bukankah kedatanganmu kemari adalah atas dasar perintahnya?". tanya Anin dengan sorot mata tidak bersahabat.
"Maaf, tapi saya tidak mengerti maksud perkataan nona Anin".
"Kau amat sangat mengerti maksudku sekretaris Dito, kau jelas datang kemari atas perintah Askara. aku bahkan tau walaupun Askara tidak lagi menunjukkan wajahnya di depanku tapi dia selalu mengawasi ku dari jauh, aku tau semuanya sekretaris Dito". pungkas Anin dengan nafas memburu.
Sekretaris Dito langsung tertunduk, "Maafkan saya Nona, tapi kedatangan saya tidak sepenuhnya karena atas perintah tuan Askara".
"Itu sama saja, sekretaris Dito. tapi karena kau sudah berada di sini, tolong sampaikan pertanyaan ku pada Askara, kapan dia akan menceraikanku?".
Wajah sekretaris Dito yang tadinya tertunduk refleks terangkat kembali dan langsung bersitatap dengan Anin.
"Nona Anin!, apa yang anda katakan? tuan Askara tidak akan pernah menceraikan nona Anin sampai kapanpun itu. dan ini adalah pesan tuan Askara agar di sampaikan pada nona Anin".
"Lalu aku harus apa sekretaris Dito? apa aku harus bertahan dalam pernikahan yang sudah tidak sehat ini?, bukankah sekretaris Dito dan Vivi lihat sendiri bagaimana aku dan Jendra hampir meregang nyawa karena perbuatan Askara?". Anin menggeleng bersamaan dengan jatuhnya air mata ke pipinya.
"Maaf sekretaris Dito, tapi kemampuanku bertahan di samping Askara hanya cukup sampai di sini. silahkan sekretaris Dito pulang dan sampaikan pada Askara, jika dia tidak melayangkan gugatan secepatnya maka biar aku yang melakukannya". putus Anin tak terbantahkan lagi.
__ADS_1
"Maafkan saya nona, saya sama sekali tidak bermaksud lancang". sesal sekretaris Dito, tapi bagaimanapun dia harus menjalankan perintah Askara untuk memastikan kondisi Anin dan Jendra dan juga untuk mengetahui keputusan Anin yang nyatanya tidak akan pernah berubah.
"Aku mengerti posisimu, tapi jika kau datang hanya untuk membujukku, sepertinya akan sia-sia saja karena aku tetap pada keputusanku". ujar Anin beranjak dari duduknya lalu menuju kamarnya dan meminta Vivi agar keluar menemui sekretaris Dito. Anin menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.