
Anin menatap layar tv berukuran besar di depannya tanpa minat.
Hari sudah siang namun tidak ada yang bisa di kerjakannya untuk mengusir rasa bosan.
"Mia.. ayo kita jalan keluar" ucap Anin tiba-tiba.
Mia yang sedang membereskan piring bekas makan siang Anin, menjadi terhenti menatap Nona mudanya tersebut.
"Keluar?, keluar kemana Nona?" tanya Mia bingung.
Terlintas di fikiran Anin untuk pergi ke toko kue, selepas peristiwa yang di alaminya, Anin belum bertemu langsung dengan Doni dan juga Ambar.
"Kau mau temani aku ke suatu tempat?" tanya Anin.
"Ke manapun akan saya temani Nona, tapi masalahnya apa tuan Askara memperbolehkan kita untuk pergi?".
Anin terdiam, yang di katakan oleh Mia ada benarnya.
"Kita hanya akan pergi sebentar, jadi tidak perlu memberitahu Mas Askara".
"Tapi Nona_".
"Mia, kita akan kembali sebelum Mas Askara pulang dari kantor, jadi kau tidak perlu khawatir".
Mia nampak ragu, tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Anin.
"Baiklah Nona, saya bereskan semuanya dulu". ucap Mia melanjutkan membersihkan meja makan dan membawa piring kotor tersebut ke dapur.
Setelah menunggu beberapa saat sampai pekerjaan Mia selesai. Kini keduanya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke toko kue.
Tadi saat Anin selesai mengganti bajunya, dia melihat Mia masih mengenakan baju khusus maidnya.
Alhasil, dengan paksaan Anin. kini Mia sudah berganti pakaian biasa. Anin tidak ingin terjadi kesenjangan apalagi dari segi penampilan dengan Mia.
"Nona, sebaiknya saya ganti pakaian saja. rasanya tidak pantas saya berpakaian seperti ini saat masih dalam jam kerja". Mia bergerak gelisah saat Anin meneliti penampilannya dengan senyum yang terus terbit di wajah cantik majikannya itu.
"Kenapa harus di ganti?, ternyata kau manis juga jika berpakaian biasa seperti ini. selama ini aku hanya melihatmu selalu dengan pakaian maid itu". ucap Anin dengan wajah senang.
"Tapi Nona, bagaimana kalau tuan Askara tau dan marah".
"Mas Askara tidak akan marah, kau tenang saja. dia tidak berani membantah jika itu adalah keinginanku". Anin meyakinkan Mia.
"Baiklah, saya ikuti saja perintah Nona Anin". Mia memilih pasrah.
"Bagus, ayo kita berangkat". ujar Anin antusias.
Mia membantu mendorong kursi roda Anin keluar mansion, tak lupa sebelumnya mereka pamit pada bi Ratih.
"Pak, anterin ke toko kue yah" . ujar Anin pada pak Hilman.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu, pak Hilman memang sudah kembali setelah mengantar Sandra ke bandara.
"Baik, Non".
Pak Hilman membukakan pintu mobil, Mia hendak membantu Anin untuk masuk ke mobil namun di tahan oleh wanita itu.
"Aku bisa sendiri, Mia. aku bukan orang yang sedang mengalami patah tulang, okey".
"Baik, nona".
Anin kemudian masuk ke dalam mobil tanpa bantuan dari Mia.
Pak Hilman kemudian melipat dan memasukkan kursi roda Anin ke dalam bagasi mobil.
Sedang Mia sudah ikut masuk dalam mobil.
Setelah siap, Pak Hilman pun melajukan mobil menuju toko kue .
Sepanjang perjalanan menuju toko, Anin menceritakan ke mana tujuannya pada Mia.
Anin juga menceritakan bahwa dia pernah bekerja di toko kue tersebut sebelum mengalami pendarahan dan mengharuskan dia untuk beristirahat.
Awalnya Mia cukup kaget, dia kira hidup Anin yang berlimpah harta serta mempunyai suami tajir mustahil untuk bekerja di tempat seperti itu.
Tapi dari penjelasan Anin, Mia dapat menyimpulkan bahwa Anin memang orang yang sederhana dan tidak mudah terlena dengan yang namanya harta.
Padahal bisa saja, dia belanja barang-barang mewah dari merek-merek ternama. tapi justru Anin enggan untuk melakukan itu semua.
Asyik mengobrol, hingga akhirnya mobil yang membawa Anin dan Mia sampai di depan toko kue yang sangat Anin rindukan sejak insiden kemarin.
Mia turun lebih dulu untuk mengambil kursi roda Anin.
Anin yang sudah duduk di atas kursi rodanya menarik nafas dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Ayo Mia" ucapnya pada Mia.
"Baik Non". Mia mendorong kursi roda Anin memasuki toko kue.
Ting...
Bunyi lonceng kecil yang berada di bagian atas pintu berbunyi saat pintu toko kue terbuka, menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam sana.
Termasuk Doni dan Fika yang tengah sibuk menyusun potongan kue ke dalam etalase.
"Anin..." seru Doni dan Fika bersamaan.
Doni dan Fika saling menatap, sebelum akhirnya buru-buru meletakkan pekerjaan mereka dan menghampiri Anin yang masih berada di ambang pintu masuk.
"Kak Doni...Fika..." ujar Anin tersenyum saat melihat keduanya menghampirinya.
__ADS_1
Fika langsung menghambur memeluk tubuh Anin, sedangkan Doni tersenyum mengelus puncak kepala Anin.
"Kita kangen banget sama kamu, Nin". ujar Fika setelah melepas pelukannya.
Wajah Fika terlihat sedih tapi juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Anin.
"Aku juga kangen banget sama kalian, kangen sama toko kue, kangen nyicipin kue juga". ujar Anin di iringi tawa kecil.
"Kau apa kabar, Nin?" tanya Doni menatap intens wajah Anin.
"Seperti yang kak Doni lihat, aku baik-baik saja. hanya saja memang belum bisa beraktifitas terlalu banyak". jelas Anin.
"Syukurlah, setidaknya kakak senang bisa lihat langsung keadaanmu. dan maaf, kita belum sempat ke rumah sakit jenguk karena memang pesanan kue lagi banyak-banyaknya. Aku dan Fika bahkan sampai kewalahan". terang Doni.
"Iyya Nin, aku juga minta maaf". sambung Fika.
Anin tersenyum "Nggak papa Kak, Fik. sekarang kan aku udah ada di sini". lanjut Anin dengan senyum lebarnya.
"Oh Iyya, ini siapa Nin?" tanya Fika baru menyadari Anin datang tidak sendiri.
"Aku sampai lupa. kenalin, ini Mia. dia yang bekerja membantu semua keperluanku, termasuk menemaniku ke mana-mana". Anin memperkenalkan Mia pada Fika dan juga Doni.
"Hai semuanya.. salam kenal, saya Mia. pelayan pribadi Nona Anin". ujar Mia memperkenalkan diri secara langsung.
"Hai.. aku Fika dan ini kak Doni. kita berdua teman kerja selama Anin kerja di sini". ujar Fika masih sedikit terkejut.
Kira-kira sekaya apa suami Anin hingga di sediakan pelayan pribadi untuk mengurus semua kebutuhan Anin.
"Oh ya kak, aku tidak melihat kak Ambar. dia nggak masuk kerja yah?". tanya Anin tidak mendapati keberadaan Ambar.
"Ada kok, lagi di ruangannya" balas Doni. "Mau ketemu?" tanyanya lagi.
"Boleh kak" ujar Anin, dia ingin meminta maaf secara langsung karena sudah berbohong selama ini tentang kondisinya.
"Biar kakak antar"
"Memangnya kakak nggak sibuk?"
"Nanti biar Fika yang urus"
"Ya udah kak". ujar Anin "Fika ..aku titip Mia di sini yah, aku mau ke ruangan kak Ambar dulu".
"Iyya Nin". balas Fika.
"Biar saya saja yang antar Nona" ujar Mia cepat.
"Tidak perlu Mia, ada kak Doni yang membantuku. kau tunggu di sini saja". ucap Anin.
"Baik Nona". ucap Mia.
__ADS_1
Dengan di bantu Doni, Anin menuju ke ruangan Ambar.