
Senyum mengembang tak henti-hentinya terbit di bibir Ken yang tengah memandangi foto-foto Anin saat pemotretan di toko kue Ambar kemarin.
"Liatin foto siapa sih sampe segitunya?" ujar Ziva tiba-tiba datang dan mengintip sekilas kamera di tangan Ken.
Ken refleks menjauhkan kamera di tangannya "Kak Ziva apaan sih ngagetin orang aja" gerutu Ken.
Ziva tersenyum kemudian duduk di samping Ken.
"Siapa?" tanyanya dengan tatapan jahil.
"Kepo banget sih jadi orang" Ken kemudian mematikan kameranya.
"Biarin, emang salah kalo seorang kakak mau tau adiknya lagi deket sama siapa?"
"Deket apaan sih, orang baru kenal juga" seloroh Ken, hubungannya dan Anin belum sedekat yang di bayangkan oleh Ziva. bahkan Ken belum sempat bertukar nomor dengan Anin.
"Emang orangnya kayak gimana sih?" Ziva semakin kepo, karena setaunya selama Ken kuliah bahkan saat dia sudah lulus pun, Ken tidak pernah terdengar dekat dengan lawan jenisnya.
Ken menerawang mengingat pertemuannya dengan Anin.
"Dia tuh punya senyum yang mirip banget sama almarhumah Mamah, orangnya juga baik, cantik, lembut tapi sayang ingatannya payah" ujar Ken tertawa kecil jika mengingat Anin yang begitu cepat melupakan sesuatu.
Hal pertama yang membuat Ken mulai tertarik pada Anin karena senyum Anin sangat mirip dengan mendiang Mamahnya.
Ziva menyadari, sepertinya Ken memang jatuh cinta.
"Kapan-kapan bawa ke sini buat kenalan sama kakak"
Ken melirik malas Ziva yang duduk di sampingnya "Nggak mau, nanti kak Ziva banyak nanya lagi kayak orang lagi sidang" ujar Ken kesal.
Ken teringat waktu umurnya masih 17 tahun, dia sempat membawa seorang perempuan yang tengah dekat dengannya yang tidak lain adalah teman sekolahnya sendiri, namun karena Ziva yang terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan seperti tersangka kejahatan, membuat wanita tersebut mundur dan menjauhi Ken. itulah sebabnya kenapa Ken malas untuk membawa perempuan lagi kerumahnya.
Ziva tertawa keras, dia tau maksud kekesalan Ken padanya "Hahahaha...itu kan dulu, sekarang kakak udah berubah" air mata Ziva sampai keluar karena kembali mengingat kisah percintaan Ken yang kandas karena dirinya.
Ken semakin merengut kesal "Berubah apanya? kalo berubah tambah parah, Ken baru percaya"
Ziva menyeka air matanya yang keluar karena tertawa begitu keras "Duh..duh..perut kakak sakit tau nggak kalo ingat jaman itu"
Tidak bisa di bayangkan, betapa kesalnya Ken waktu itu pada Ziva, bahkan Almarhumah Mamahnya sampai harus turun tangan untuk mendamaikan Ken yang mogok bicara selama seminggu pada Ziva.
"Udah ah, Ken mau ke kamar. ngantuk" ujar Ken berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ziva yang masih tertawa cekikikan.
****
Malam telah berganti pagi, dua insan manusia masih terlelap begitu nyenyaknya di atas ranjang besar.
Anin perlahan membuka matanya saat pinggangnya terasa berat. bahkan untuk bergerak saja rasanya sulit.
"Astaga" pekik Anin tertahan, dia kaget saat kesadarannya terkumpul sempurna.
Hal pertama yang Anin dapati saat membuka mata adalah wajah Askara yang masih tertidur lelap. dari jarak sedekat ini, Anin benar-benar terpesona dengan ketampanan suaminya ini.
__ADS_1
Detak jantungnya pun kembali berdetak kencang.
Anin menyadari, lagi-lagi dia berada di atas ranjang Askara dan sekarang dia tidur di atas ranjang sama dengan Askara.
Anin menatap tangan Askara yang melingkar di pinggangnya.
Perlahan Anin memindahkan tangan Askara karena ia ingin bangun.
Namun pelukan Askara di pinggangnya justru semakin erat.
"Kau mau kemana?" tanya Askara dengan suara serak khas bangun tidur, bahkan matanya saja belum terbuka.
"Aku mau bangun" jawab Anin gugup.
"Tidurlah lagi" titah Askara tidak rela Anin melepaskan tangannya yang berada di pinggangnya.
"Memangnya pak Askara tidak kerja?" tanya Anin.
Askara membuka matanya dan menatap tajam Anin.
"Berhenti memanggilku Pak, kau tau setiap kali kau memanggilku dengan sebutan itu, rasanya aku ini seperti bapak-bapak tua" ketus Askara, kini dia sudah menegakkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang.
Paginya sudah di buat kesal oleh Anin.
"Lalu aku harus memanggil pak Askara apa?" bingung Anin.
"Terserah, asal jangan panggil aku Pak lagi" jawab Askara memalingkan wajahnya.
"Gimana kalo Mas?" tanya Anin. "Mas Askara" lanjutnya mencontohkan.
"Hemm, itu saja" jawab Askara tanpa menatap Anin, jantungnya berdetak kencang hanya karena Anin memanggilnya Mas.
"Aku mau mandi, siapkan pakaianku" Askara bangun dari tempat tidurnya, segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Askara memasuki kamar mandi, Anin menyiapkan pakaian kantor Askara. setelah itu dia merapikan tempat tidur.
Sebenarnya Anin ingin bertanya, kenapa dia bisa berada di tempat tidur yang sama dengan Askara, tapi niatnya ia urungkan karena pasti Askara akan. menjawab bahwa dia ngigo, seperti waktu itu.
****
Anin sudah selesai dengan pakaiannya, dia menatap pantulan dirinya di balik cermin besar yang tingginya bahkan melebihi tinggi badannya.
"Udah nggak kentara kan?" tanya Anin pada dirinya sendiri, dia menatap perutnya yang tampak rata karena mulai hari ini Anin memakai korset untuk menyembunyikan kehamilannya.
Benda tersebut dia beli saat menemani Vivi ke mall kemarin. semua ini Anin lakukan agar orang-orang, terutama teman-teman kerjanya tidak curiga dengan ukuran perutnya yang mulai membuncit.
Apalagi kemarin Ambar sempat curiga melihat perubahan tubuhnya.
"Maafkan Mamah yah nak, kamu harus Mamah sembunyikan pada orang-orang, mungkin juga pada dunia" ujar Anin sedih mengingat pernikahannya dengan Askara tinggal menghitung bulan.
Tidak ingin sedih berlarut-larut, Anin segera menyambar tas nya dan turun untuk sarapan.
__ADS_1
Ternyata Askara sudah berada di meja makan, tapi kursi Mami Sandra kosong.
"Mami mana?" tanya Anin duduk di tempat biasanya.
"Arisan" singkat Askara.
"Sepagi ini?"
"Mungkin shopping dulu"
"Ohh" ujar Anin tidak bertanya lagi.
"Pak Askara mau sarapan apa?, roti atau omlet?" tanya Anin mengambil alih piring Askara.
Tidak menjawab, Askara justru menatapnya tajam.
"Maksudku Mas" ujar Anin menyadari kesalahannya, dia belum terbiasa.
"Aku mau omlet" jawab Askara
"Baik Mas"
Keduanya sarapan dalam diam, karena biasanya Mami Sandra lah yang banyak bicara namun karena pagi ini mertuanya itu tidak ada, menjadikan suasana sarapan Anin dan Askara canggung.
"Ambil ini" Askara mengeluarkan kartu berwarna hitam pada Anin.
"Apa ini?" tanya Anin menatap bingung black card yang di sodorkan Askara.
"Pegang itu untuk keperluanmu, terserah kau mau belanjakan apapun itu tidak akan habis" ujar Askara yang memberikan black card tanpa batas limit yang memang khusus di miliki oleh orang-orang yang kekayaannya terjamin seperti Askara.
"Tapi..." Anin ingin menolak.
"Anggap ini nafkah yang ku berikan, mulai sekarang aku ingin menjadi suami yang layak untukmu. terlepas dari kita akan berpisah nantinya tapi kau adalah tanggungjawabku selama aku masih menjadi suamimu". jelas Askara, dia ingin menebus kesalahannya pada Anin, meskipun apa yang terjadi dalam hidup Anin tidak bisa di bayar oleh kartu tersebut.
"Baiklah" Anin mengambil kartu tersebut dari tangan Askara.
"Dan kirimkan uang yang di minta ibumu, bahkan kau bisa melebihkan dari jumlah yang dia minta"
Anin terdiam, sekarang Askara pun sudah tau betapa menyedihkannya hidupnya.
"Tidak perlu Mas, aku masih punya sisa tabungan" Bagaimanapun Anin merasa tidak enak jika harus melibatkan Askara dalam permasalahannya dengan ibunya.
"Terserah kau saja" jawab Askara. "Bersiaplah, Dito sudah menunggu di luar" Askara kemudian berdiri dari duduknya di susul oleh Anin.
Keduanya pun berangkat seperti biasanya, Askara akan mengantar Anin terlebih dahulu kemudian menuju kantornya.
"Ingat! pulang bersama pak Hilman" tekan Askara saat Anin sudah keluar dari mobil.
"Iyya Mas" jawab Anin.
Jangan Lupa like, komen, dan share.
__ADS_1
Karena like dan komen kalian bikin author makin semangat up nya.