
Setelah bersepakat dengan Askara untuk berdamai sejenak demi terlihat baik-baik saja di depan ibunya nanti, kini Anin sudah berada di dalam ruangan dan berdiri tidak jauh dari ranjang ibunya.
"Mau apa lagi kau ke sini?". tanya bu Risa ketus saat melihat putri tunggalnya itu datang lagi.
Meskipun Anin tidak di sambut ramah oleh ibunya, tapi wanita itu tetap memasang senyum manisnya.
"Aku masak makanan kesukaan ibu, nanti di makan yah? atau mau aku siapin sekarang, pasti ibu kangen sama ma_____".
"Buang makanan itu". potong Bu Risa cepat.
Anin tercengang, ternyata sikap ibunya masih begitu dingin padanya. tapi dengan memberanikan diri, Anin mendekat setelah meletakkan rantang yang dia bawa ke atas nakas tepat di samping ranjang.
Bu Risa hanya diam sambil memalingkan wajahnya seperti biasa, tidak ada tanda penolakan sampai pada saat Anin berhasil menggenggam tangannya, wanita paruh baya itu masih terdiam.
Ada perasaan senang di hati Anin saat ibunya tidak lagi menepis tangannya seperti kemarin. Anin menggenggam erat tangan ibunya dengan harapan bahwa ibunya sudah mau membuka hati untuk memaafkan kesalahannya.
"Bu". panggil Anin dengan suara lembutnya. "Aku tau ibu pasti sangat marah dan kecewa karena aku menikah secara diam-diam, aku juga nggak membela diri Bu karena tau aku salah. aku hanya mau, ibu dengerin semua penjelasan aku, setelah itu ibu mau maafin aku atau tidak, itu terserah ibu".
Bu Risa masih saja diam, tidak menanggapi ataupun mengusir Anin seperti kemarin.
Anin mengusap air matanya yang mulai jatuh, dengan bibir bergetar dia mulai menceritakan semuanya pada ibunya, tidak peduli ibunya mau mendengar atau tidak, Anin hanya ingin menjelaskan semuanya berharap pintu maaf terbuka untuknya.
"Aku merindukan ibu di saat-saat tersulitku, tapi aku bisa apa Bu, aku terlalu takut waktu itu jadi aku putuskan untuk menutupi semuanya. maaf Bu, seharusnya aku bicara sedari awal". Sesal Anin setelah mengurai semua cerita yang di alaminya selama ini.
Risa memalingkan wajahnya, tidak dapat di pungkiri bahwa mendengar cerita Anin hatinya merasakan sakit. dengan sekuat tenaga, Bu Risa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Anin menangis lirih saat ibunya sama sekali tidak menggubrisnya. kepalanya masih setia tertunduk, namun saat merasakan sebuah sentuhan lembut di kepalanya, membuat Anin perlahan mendongak.
Bu Risa menatap lekat wajah putrinya dengan penuh rasa penyesalan. "Maafkan ibu, nak". tiga kata yang keluar dari mulut bu Risa membuat Anin semakin menambah ritme tangisannya. dia tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut ibunya, apa itu artinya ibunya mulai membuka hati untuknya?.
"Maafkan ibu yang bersikap begitu egois selama ini, ibu terlalu larut dalam kesedihan sampai melupakanmu, Anin. ibu benar-benar egois, Anin, ibu tidak bisa seperti kamu yang begitu kuat dan tegar saat kehilangan ayahmu". Bu Risa menangis mengingat perlakuannya kepada Anin beberapa tahun terakhir ini.
Anin menggeleng dengan cepat sambil terus menggenggam tangan ibunya. "Aku yang minta maaf Bu, aku tidak bisa menjadi anak kebanggaan seperti yang ayah dan ibu harapkan. aku ceroboh hingga menghancurkan masa depanku sendiri".
__ADS_1
Bu Risa semakin terisak saat mendengar pengakuan putrinya, selama ini Anin pasti sangat terbebani dan kesulitan saat jalan hidupnya tak sesuai kenyataan yang ada, dan pada saat itu dirinya malah terus menerus menekan anaknya itu tanpa pernah tau apa yang sudah dia di alami .
"Tidak nak, kau sudah melakukan yang terbaik. selama ini ibu selalu menginginkan kamu untuk menjadi orang yang bisa kami banggakan, tapi akhirnya ibu sadar, bahwa ibu sudah terlalu jauh menekanmu. ibu sama sekali tidak pantas di sebut sebagai orang tua, maafkan ibu Anin". tidak ada lagi kata yang bisa Bu Risa ucapkan selain kata maaf pada Anin terkait semua kesulitan yang dia berikan pada anaknya itu.
"Jangan bicara seperti itu, bagaimanapun ibu akan tetap menjadi ibuku, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu".
Bu Risa menatap dalam mata putrinya, rasanya sudah lama dia tidak sedekat ini dengan Anin. "Boleh ibu memelukmu?". pinta Bu Risa.
Anin tentu mengangguk antusias, tanpa menjawab lagi, Anin segera menghambur memeluk tubuh ringkih ibunya.
"Aku merindukan ibu, sangat". ujar Anin memeluk erat tubuh Bu Risa.
"Ibu juga nak, sudah lama rasanya ibu tidak sedekat ini denganmu". ujar Bu Risa masih dengan air mata yang berjatuhan. membalas pelukan Anin sambil meluapkan kerinduan yang sudah lama bersarang di hatinya.
Bu Risa sadar, mau sampai kapan dia akan terus keluar dari jalur yang sesungguhnya. dia harus kembali menjadi ibu yang selalu Anin puji dulu, dia ingin kembali menjadi rumah saat putrinya mengalami kesulitan, belum terlambat untuk memperbaiki hubungannya kembali seperti semula dengan Anin.
Bu Risa mengelus lembut rambut Anin, sambil mengingat kembali masa-masa di mana keluarga mereka masih lengkap penuh dengan canda tawa. waktu itu, Anin kecil selalu berceloteh pada dirinya dan juga alm. suaminya bahwa kelak nanti saat besar, Anin ingin menjadi orang sukses dengan kuliah di perguruan tinggi dan mencari kerja untuk bisa membantu perekonomian mereka. tapi sekarang, Bu Risa justru sedih karena cita-cita anaknya harus terhalang oleh keadaannya saat ini.
Anin jelas tersenyum haru saat ibunya menanyakan kabar calon cucunya. "Dia sangat baik Bu, sekarang dia mulai aktif bergerak di dalam sana". terang Anin yang akhir-akhir ini mulai merasakan pergerakan aktif bayinya.
"Benarkah?, ibu ingin merasakannya". harap Bu Risa tersenyum membingkai wajahnya yang mulai menampakkan kerutan-kerutan halus seiring bertambahnya usia.
Anin menarik tangan ibunya dan meletakkannya di perutnya. "Tunggu sebentar Bu, biasanya dia akan sering menendang di bagian sini".
Saat itu juga Bu Risa bisa merasakan tendangan kecil di perut Anin, seolah bayi di dalam perut Anin tau bahwa ini adalah pertemuan pertama mereka secara tidak langsung.
"Wah... Dia aktif sekali, makanannya pasti yang bergizi semua kan, Nin?". tanya Bu Risa antusias.
"Jelas semuanya bergizi, aku tidak mungkin memberikan makanan sembarangan pada calon anakku". bukan Anin yang menjawab, melainkan Askara yang baru saja masuk. tadinya dia di suruh oleh Anin untuk menunggu di luar, tapi karena sudah tak sabaran, Askara akhirnya memutuskan untuk masuk.
Anin dan Bu Risa sama-sama kompak menatap ke arah Askara.
"Siapa kau?". tanya Bu Risa meneliti penampilan Askara dari atas sampai bawah. sungguh pria yang tampan, batin Bu Risa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu ibu mertua?". tanya Askara membuat Anin memasang wajah datarnya, sedangkan Bu Risa makin di buat kebingungan karena pria di depannya ini memanggilnya ibu mertua.
"I-ibu mertua?", apa itu artinya pria tampan ini adalah suamimu, Nin?." tanya Bu Risa masih tak percaya.
"Hemm". balas Anin singkat.
"Dia sungguh tampan, Anin". puji Bu Risa tanpa sadar, dia kira suami Anin tampannya biasa-biasa saja. tapi ini sungguh di luar ekspektasinya. penampilannya pun terlihat sangat mahal.
"Terima kasih bu, tapi ketampananku ini sebentar lagi akan di warisi oleh anakku. aku akan segera memiliki saingan". Askara menyombongkan diri membuat Anin mual bahkan ingin muntah pada saat itu juga. rasa percaya diri Askara terlalu tinggi.
Bu Risa terkekeh kecil, tenyata selain tampan, suami Anin juga begitu ramah.
"Bagaimana keadaan ibu?." ulang Askara lagi sebagai basa-basi di pertemuan pertamanya dengan sang ibu mertua.
"Keadaan ibu sudah mulai membaik, maaf sudah merepotkan kalian berdua". ujar Bu Risa.
"Ibu jangan bilang seperti itu, aku tidak repot sama sekali". sela Anin cepat.
"Oh Iyya, siapa namamu nak?". tanya Bu Risa.
"Aku akan memperkenalkan diri secara resmi, aku Askara Bu, suami dari Anin". ujar Askara memperkenalkan diri. "Dan maaf karena aku, keadaan Anin jadi seperti ini. aku sungguh menyesali perbuatanku saat itu, dan untuk menebus semua kesalahanku, izinkan aku meminta Anin secara langsung pada ibu untuk aku jaga, aku berjanji akan membuat Anin bahagia, Bu". ujar Askara tulus.
Anin menatap intens wajah Askara, kenapa pria itu berkata demikian seolah-olah bahwa hubungan mereka saat ini benar-benar baik-baik saja.
Bu Risa tersenyum hanga.
"Aku dengan senang hati menyerahkan Anin untuk kau bahagiakan, nak. selama ini Anin sudah cukup banyak menderita karena keegoisanku sebagai seorang ibu, dan untuk menebus semua kesalahan itu pada Anin, aku ingin kembali memulai menjadi ibu yang baik dan bijak dengan mementingkan kebahagian Anin di atas segala-galanya. ibu titip Anin pada kamu nak Askara, tolong jaga dan bahagiakan putriku". pinta bu Risa dengan kesungguhan hatinya.
"Aku janji padamu, Bu". Askara memenuhi permintaan Bu Risa.
Jika bu Risa tersenyum hangat mendengar jawaban Askara , Anin justru merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja suaminya itu katakan.
Tidak salah jika Anin meragukan perkataan Askara, karena pria itu sendiri masih labil jika di hadapkan dengan Dalila.
__ADS_1