Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 143


__ADS_3

Dengan hanya satu kali pukulan, cermin besar yang berada di dalam toilet kamar Askara langsung pecah tak terbentuk lagi.


Askara tidak memperdulikan darah segar yang mengalir dari tangannya, rasa perih dari serpihan kaca yang menancap di buku-buku tangannya tidak sebanding dengan hancurnya perasaan Askara saat Anin meminta cerai darinya.


Semua barang-barang yang berada di dalam kamar Askara sukses menjadi sasaran amukan dari pria itu. tidak peduli seberapa mahalnya benda-benda tersebut karena kini akhirnya semua berubah menjadi serpihan-serpihan tak berguna lagi setelah di hancurkan oleh Askara.


Mami Sandra yang bersiap berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Anin, mendengar suara barang-barang pecah yang berasal dari kamar Askara. dengan segera Mami Sandra menuju kamar Askara.


"Askara!". pekik Mami Sandra menutup mulut tak percaya melihat kekacauan yang sudah di buat oleh putranya itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?". suara Mami Sandra meninggi karena kamar Askara sudah seperti kapal pecah, benar-benar kacau.


Mami sandra belum melihat kondisi Askara sepenuhnya karena sibuk menyingkirkan barang-barang yang berserakan di lantai.


Sedangkan pria itu sedang di lantai sudut kamarnya dengan kedua kaki di tekuk sambil tertunduk. tangan Askara yang terluka karena terkena serpihan kaca masih terus mengeluarkan darah segar hingga menetes ke lantai.

__ADS_1


"Kau ini gila atau____ astaga ada apa dengan tanganmu?". Mami Sandra kembali terkejut hingga melempar asal tas nya dan buru-buru mendekati Askara saat melihat tangan putranya yang berlumuran darah.


"Kenapa kau jadi begini?." Mami Sandra mencari apapun itu yang bisa membalut luka Askara.


Tangis Askara langsung pecah, pria itu menjambak rambutnya lalu berteriak untuk meluapkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Apa yang terjadi?, cerita sama Mami". Mami Sandra menenangkan Askara yang terisak. wajah Askara terlihat menyedihkan, guratan kelelahan jelas terlihat dari wajah putra semata wayangnya.


Tapi Mami Sandra penasaran akan apa yang sudah membuat Askara menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya.


"Anin, Mi....Anin meminta cerai dari Askara". ungkap Askara membuat Mami Sandra terpaku.


"A-apa maksudmu Askara?".


"Anin mau pisah dari Askara, Mi. Anin mau mengakhiri rumah tangga ini. aku tidak bisa Mi, aku mau Anin tetap bersamaku, tolong jangan biarkan Anin dan Jendra pergi dari hidup Askara, Mi, tolong tahan Anin, Mi".

__ADS_1


Pilu, itulah yang dapat Mami Sandra dengar dari tangisan Askara. tanpa sadar air mata Mami Sandra juga ikut jatuh melihat betapa tidak beruntungnya Askara dalam menjalin hubungan.


Terakhir kali Mami Sandra melihat Askara sekacau ini pada saat di tinggal oleh Dalila. dan kini Mami Sandra seolah merasa Dejavu.


"Tolong jangan biarkan Anin pergi, Mi". mohon Askara terdengar menyedihkan.


Mami Sandra langsung menarik Askara dalam pelukannya, "Nanti kita bicarakan soal Anin, sekarang kita ke rumah sakit untuk mengobati lukamu".


"Aku tidak mau, Mi. jika Mami tidak bisa membantu, tolong tinggalkan aku sendiri di sini". ujar Askara dingin.


"Kau jangan bodoh Askara, tanganmu bisa infeksi jika tidak segera di obati".


"Hati aku lebih hancur sekarang, Mi. luka ini sama sekali ngga sebanding dengan luka di hati aku. sakitnya justru berkali-kali lipat, Mi". ujar Askara memukul pelan dadanya.


"Mami mengerti, nak. Mami juga paham dengan apa yang sedang kau rasakan. tapi tolong dengarkan Mami kali ini saja. obati lukamu dulu baru nanti Mami bicara dengan Anin".

__ADS_1


__ADS_2