
Di sebuah kantin rumah sakit, Ken terlihat sedang menunggu seseorang dengan mengetuk-ngetuk jarinya di meja tanda sudah bosan.
"Lama yah, nunggunya?". tanya dokter Ziva yang baru saja datang dan masih mengenakan jas dokternya, duduk di seberang Ken.
"ckk..udah tau pake nanya". kesal Ken yang hampir 1 jam menunggu kakaknya itu.
"Pasien Kakak lagi banyak soalnya". balas dokter Ziva.
"Kamu ke sini mau bicara apa sih, kan biasanya juga lewat chat atau telefon". heran dokter Ziva karena Ken sampai datang menemuinya langsung di rumah sakit tidak seperti biasanya.
"Ken mau nembak seseorang" jawab Ken langsung.
"Apa?, kamu mau nembak cewek yang kemarin kamu ceritain ke kakak?.
Ken mengangguk. "Iyya, Ken udah ngerasa yakin banget".
"Tapi katanya kalian baru kenal. nggak mau tau lebih jauh dulu? nanti kecewa loh". nasehat dokter Ziva karena Ken terlalu cepat mengambil keputusan.
"Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi kak, takutnya nanti keduluan sama orang, aku nggak rela". ujar Ken yang sudah jatuh cinta pada Anin sejak pandangan pertama.
"Ken, bukannya kakak nggak setuju. Tapi, ada baiknya kalian kenal lebih jauh dulu. Toh, kalau cewek itu juga suka sama kamu pasti nggak bakalan ke lain hati". ujar dokter Ziva.
"Aku ngerti kekhawatiran kak Ziva, tapi aku udah ngerasa yakin banget kali ini". putus Ken.
Dokter Ziva menghela nafas, pasrah.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu. kakak cuma bisa mendoakan semua yang terbaik. kalau sudah jadian jangan lupa kenalin sama kakak". dokter Ziva akhirnya mengalah dengan keputusan Ken.
"Asal kak Ziva janji, nggak kayak dulu lagi". peringat Ken.
"Iyya".
"Aku cabut dulu". pamit Ken yang sudah berdiri dari kursinya.
"Hemm... good luck".
Punggung Ken menjauh meninggalkan dokter Ziva yang terus memandangi Ken dengan harapan semoga saja Ken tidak kecewa nantinya.
Hari sudah sore, Ken semakin memacu kecepatan mobilnya menuju tempat kerja Anin. rencananya Ken akan menyatakan perasaannya setelah Anin selesai bekerja.
Anin baru saja keluar dari ruang kerja Ambar, dia baru saja selesai meminta izin tidak masuk bekerja selama tiga hari karena alasan ingin menjenguk ibunya di kampung dan Ambar pun mengiyakannya.
Ini adalah kali pertama Anin harus berbohong dengan menjadikan ibunya sebagai alasan.
"Kamu beneran mau pulang ke kampung?". tanya Doni saat Anin kembali bergabung bersama dirinya dan juga Fika.
Anin mengangguk lemah "Iyya kak, udah lama juga nggak nengokin ibu". jawab Anin, perasaannya tidak enak karena harus terus menerus berbicara hal yang tidak sesuai kebenaran.
"Hati-hati di sana yah, Nin". ujar Fika.
"Iyya Fik, makasih". balas Anin dengan seulas senyum.
Anin kembali diam, tidak banyak bicara karena fikirannya melayang memikirkan keberangkatannya besok bersama Askara.
Akhirnya, jam kerja Anin habis. dia sudah bersiap-siap untuk pulang.
Tadi Askara sempat mengiriminya pesan, bahwa mereka akan pulang bersama, tapi sampai sekarang Askara tidak mengabarinya lagi.
Saat Anin keluar dari toko kue, Mobil Ken juga berhenti tepat di depan toko kue.
"Hai, Anin. udah mau pulang?". tanya Ken setelah turun dari mobilnya.
Anin cukup kaget melihat kehadiran Ken.
"Iyya, ini baru mau pulang".
Ken yang memang sudah mempersiapkan diri sejak tadi tiba-tiba merasa grogi.
"Hemm.. Anin, aku mau ngomong sesuatu". ujar Ken memulai.
Alis Anin bertaut "Mau ngomong apa?, tegang banget mukanya". tanya Anin.
"Kita bisa ke tempat yang lebih tenang nggak?, soalnya di sini banyak orang". grogi Ken.
Anin semakin di buat bingung "Ken, kamu mau ngomong apa sih, kenapa mesti ke tempat yang sepi".
"Kamu nggak perlu takut, aku janji nggak akan ngapa-ngapain kamu, aku cuman mau ngomong hal yang penting". ujar Ken sebelum Anin berfikir macam-macam.
"Please yah, Nin". Ken memohon.
Anin nampak berfikir.
"Tapi jangan lama-lama yah". akhirnya Anin mengiyakan.
Senyum cerah terbit di wajah Ken.
Dengan sigap, Ken membuka pintu mobil untuk Anin.
__ADS_1
Tanpa Anin sadari, sebuah mobil hitam yang di tumpangi Askara memperhatikan interaksi Anin sejak tadi bersama Ken. Askara yang berniat menjemput Anin, di suguhi pemandangan yang membuat panas hatinya.
Askara yang duduk di jok belakang mobil, mengepalkan tangannya saat melihat Anin memasuki mobil Ken. di balik kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, Askara menatap tajam kepergian mobil yang membawa Anin.
"Ikuti mobil yang membawa Anin". perintah Askara dingin pada Dito.
"Baik, tuan". jawab Dito, yang sama penasarannya melihat Anin pergi dengan pria yang tempo hari Dito ketahui bernama Ken.
Mobil Askara melaju mengikuti mobil Ken yang kecepatannya sedang.
Mobil Ken berhenti di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari toko kue. Ken turun lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Anin.
Begitupun dengan mobil Askara, berhenti tidak jauh dari mereka.
"Silahkan turun, cantik" ujar Ken saat membukakan pintu mobil.
Anin tersenyum kikuk, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. terlebih sejak tadi dia memikirkan Askara. bagaimana jika pria itu datang ke toko kue dan dirinya tidak ada.
"Kita mau kemana Ken?". tanya Anin.
"Ikut aku". Ken tiba-tiba menggenggam tangan Anin membuat tatapan Anin jatuh ke bawah pada tangannya yang di genggam oleh Ken.
Anin ingin melepaskan karena merasa tidak nyaman. tapi Ken sudah lebih dulu menariknya.
Di balik perasaan Ken yang sedang berbunga-bunga, ada hati seseorang yang sedang memanas melihat tangan istrinya di genggam dengan lancang oleh pria lain.
"Brengsek". gumam Askara mengepalkan tangan.
Dito melirik dari kaca depan. "Apa kita turun saja tuan?" tanya Dito.
"Jangan, kita lihat apa yang akan di lakukan pria tengil itu pada Anin". jawab Askara dengan nada dinginnya.
Dito pun diam, dan menurut perintah Askara.
Tangan Ken membawa Anin ke sebuah kursi putih panjang yang terdapat di tengah-tengah taman.
"Kamu duduk dan tunggu di sini" ujar Ken pada Anin.
Meski dengan perasaan bingung, tapi Anin menuruti perintah Ken yang terlihat berjalan ke arah mobilnya lagi.
Sambil menunggu Ken, Anin mengecek ponselnya. Takut Askara menghubungi atau mengiriminya pesan. Tapi ternyata Askara tidak menghubunginya. Anin menarik nafas lega, mungkin Askara masih di kantor.
Tidak lama, Ken kembali dengan kedua tangan yang di sembunyikan di balik punggungnya.
Ken menyodorkan buket Bunga mawar merah segar, tepat di depan wajah Anin yang sedang menunduk memainkan ponselnya.
"Ken, ini maksudnya apa?" tanya Anin yang sudah berdiri dari duduknya.
"Ini yang mau aku omongin ke kamu". ujar Ken dengan seulas senyum.
"Aku nggak ngerti, Ken".
Ken menatap Anin dalam.
"Anin, sejak pertama aku ngeliat kamu waktu itu. perasaan aku jadi nggak menentu. berhari-hari aku selalu mikirin kamu dan selalu berharap untuk bisa ketemu sama kamu lagi. Akhirnya, Tuhan mengabulkan permintaan aku dan mempertemukan kita di lapangan waktu itu. dari situ akhirnya kita semakin sering ketemu. aku nggak mau nunggu lama lagi, Anin aku jatuh cinta sama kamu". ungkap Ken akhirnya.
Deg.
Jantung Anin berdetak kencang setelah mendengar semua penjelasan Ken. waktu terasa seperti berhenti berputar.
Anin butuh waktu untuk mencerna perkataan Ken.
"Ken..." ujar Anin pelan.
"Anin, aku mau kamu jadi pacar aku, kalau kamu terima bunga ini artinya kamu terima perasaan aku". lanjut Ken lagi, matanya menyiratkan harapan besar pada Anin.
Anin sadar ini sudah salah. Ken menyatakan perasaannya pada seorang perempuan yang sudah bersuami bahkan saat ini sedang mengandung.
"Ken.." Anin menatap mata Ken.
"Maaf, aku tidak bisa terima perasaan kamu". putus Anin, meskipun dia tau Ken akan kecewa dengan keputusannya, tapi ini lebih baik daripada Ken lebih kecewa nantinya.
Ken terdiam mendengar jawaban Anin.
"Kenapa Anin?, apa ada orang lain di hati kamu?". tanya Ken dengan raut wajah sedih.
Iyya, sudah ada yang menempati hatiku dan itu adalah suamiku sendiri. batin Anin, ingin sekali rasanya Anin menjawab seperti itu pada Ken, tapi itu tidak mungkin.
"Bukan begitu Ken, selama ini aku cuman menganggap hubungan kita ini adalah hubungan pertemanan, tidak lebih". jelas Anin yang memang tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Ken.
Ken meraih tangan Anin. meletakkan bunga yang di bawanya di kursi yang di duduki Anin tadi.
"Lihat aku, kita jalani semuanya dulu. aku yakin perasaan itu akan tumbuh seiring dengan seringnya kita bersama". Ken masih belum patah semangat untuk meyakinkan Anin.
Anin menatap iba pada Ken, andai Ken tau kenyataan yang sebenarnya bahwa dia sudah bersuami.
"Maaf, aku tetap tidak bisa Ken, kita cukup berteman saja". ujar Anin.
__ADS_1
Wajah Ken tampak sedih, Anin benar-benar menolaknya.
Di tempat lain, Askara sudah tidak bisa menahan diri melihat Ken menggenggam erat kedua tangan Anin.
Askara turun dari mobilnya, dengan lengkah lebar dia menghampiri Anin dan juga Ken.
"Tuan, tuan mau kemana?". teriak Dito namun tidak di hiraukan oleh Askara.
Dito ikut turun, mengikuti Askara yang sedang terbakar api cemburu.
"Lepaskan tanganmu brengsek". satu bogeman mentah mendarat di wajah Ken secara tiba-tiba.
Ken yang tidak siap, akhirnya jatuh tersungkur.
"Mas Askara" ujar Anin, menutup mulut karena kaget melihat kehadiran Askara yang tiba-tiba.
Bagaimana bisa Askara ada di sini? kaget Anin.
Ken menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya.
Ken bangun, Dia menatap marah pria jangkung dengan setelan jas yang tengah berdiri dengan tatapan sama marahnya.
"Lo siapa hah?, gue nggak ada urusan sama Lo" teriak Ken marah karena merasa tidak kenal dengan Askara yang tiba-tiba menghajarnya.
Ken menarik kerah jas Askara.
"Lo siapa brengsek" Teriak Ken marah tepat di depan wajah Askara.
Anin tampak ketakutan melihat ketegangan antara Askara dan juga Ken.
"Ken, sudah.. lepaskan". Anin berusaha melepaskan tangan Ken dari kerah baju Askara agar tidak terjadi keributan.
Ken beralih menatap Anin "Apa dia pria yang membuat kamu menolak aku?" tanya Ken dengan tatapan kecewa pada Anin.
Askara terkekeh kecil, tenyata Ken habis di tolak oleh Anin.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Ken sinis.
"Aku..? tertawa..? karena kau lucu. katamu kau habis ditolak kan?. kau mau tau alasannya?" tanya Askara dengan senyum sinisnya.
Di tempatnya berdiri, Anin sudah harap-harap cemas. apa Askara akan mengatakan yang sebenarnya?.
"Itu karena dia, is....." ucapan Askara terhenti.
"Brengsek, tidak usah banyak bicara kamu" marah Ken
Bugh
Ken kehilangan kesabarannya, mimik wajah Askara dengan terang-terangan sudah mengejeknya . tanpa menunggu Askara menyelesaikan perkataannya, Ken membalas mendaratkan satu pukulan tepat di wajah tampan Askara.
"Mas Askaraaaaaa". teriak Anin kaget saat melihat Ken memukul wajah Askara.
Dito yang sedari tadi memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, akhirnya mendekat setelah melihat Askara tersungkur.
"Mas, Mas Askara tidak papa?". tanya Anin yang kini sudah berjongkok, wajahnya terlihat khawatir.
"Tuan, tuan baik-baik saja?" tanya Dito yang juga sudah berjongkok mengecek keadaan Askara.
Anin berdiri menatap marah pada Ken.
"Kamu ini apa-apaan sih Ken?, kenapa kalian selalu menyelesaikan masalah dengan main kasar". marah Anin yang tidak suka melihat orang bertengkar apalagi di depan matanya.
Perasaan marah yang bersarang di hati Ken kini bertambah dengan perasaan kecewa setelah melihat Anin begitu marah padanya.
Ken juga dapat melihat, Anin terlihat sangat khawatir saat dia memukul pria tersebut.
"Kamu kenapa lebih membela dia Anin?, apa tebakanku benar? dia orang yang sudah menempati hati kamu?" tanya Ken dengan raut kecewa.
Diam, Anin tidak bisa menjawab pertanyaan Ken.
"Maaf Ken". hanya itu yang dapat Anin katakan.
Askara yang sudah bangun setelah di bantu oleh Dito, kini menggenggam tangan Anin tepat di depan mata Ken dengan memasang senyum sinis.
"Jauji Anin". ujar Askara kemudian menarik tangan Anin, meninggalkan Ken yang perasaannya sedang hancur.
Askara membawa Anin menjauh dari Ken. Di ikuti oleh Dito di belakangnya tanpa mengatakan sepatah katapun pada Ken.
"Arrrrghh... brenggsekk". teriak Ken marah, menendang angin.
Hai..hai.. Maaaf yah author baru update
akhir-akhir ini sibuk.
jgn lupa
like, komen yang kenceng, dan vote juga yah.
__ADS_1