Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 93


__ADS_3

Anin bangun lebih dulu karena sengaja menghindari Askara, dia tidak ingin bertatap muka secara langsung dengan pria itu saat bangun tidur. jadilah sekarang dirinya berkutat di dapur bersama Mia dan Bi Ratih. lebih tepatnya Anin hanya duduk karena Bi Ratih melarangnya untuk mengerjakan pekerjaan dapur.


"Biar Anin bantu, Bi". ujar Anin seraya berdiri saat Bi Ratih mencuci sayuran. dia tidak nyaman jika hanya duduk dan melihat-lihat saja.


"Tidak usah Non, kan Bibi sudah bilang non Anin tinggal duduk saja. tidak perlu ikut membantu apalagi memasak". larang bi Ratih.


"Duduk juga rasanya bosan, Bi". keluh Anin.


"Non sebenarnya kenapa sih, pagi-pagi buta begini sudah ada di dapur?". tanya Bi Ratih, sebelumnya , Bi Ratih yang baru saja selesai melaksanakan sholat subuh di buat terkejut saat melihat Anin sudah berada di dapur.


Bi Ratih langsung menyuruh Anin untuk duduk dan langsung membangunkan Mia untuk membantunya di dapur.


"Anin semalam tidurnya nggak nyenyak, Bi. jadi sekalian tadi bangunnya cepat terus turun ke dapur". Alasan Anin padahal dirinya menghindari Askara saat pria itu bangun tidur nanti.


"Non Anin lagi ada masalah?". tebak Bi Ratih menatap mata Nyonya mudanya itu. terlihat sedang banyak fikiran.


Anin menggigit bibir bawahnya, apa dia harus cerita pada Bi Ratih?.


"Non Anin lagi ada masalah sama tuan Askara?". tanyanya lagi.


Anin mengangguk lemah sebagai jawaban.


Bi Ratih tersenyum mengelus lembut lengan Anin. "Non, meskipun Bibi tidak tau masalah apa yang sedang Non Anin dan tuan Askara alami. tapi yang namanya berumah tangga itu ada pasang surutnya, ada aja cobaannya, tidak ada rumah tangga yang mulus terus jalannya. tapi, itu semua adalah ujian yang harus di lewati untuk naik satu tingkat ke level kehidupan rumahtangga Non Anin. jadi, Bibi harap Non Anin dan tuan Askara bisa bersama-sama melewatinya". nasehat bi Ratih yang sudah menganggap Anin sebagai anaknya sendiri.


Perkataan bi Ratih membuat hati Anin tergugah. tapi jika permasalahan ada di hati Askara, apa dia bisa melewatinya bersama-sama?.


"Terimakasih, Bi. Anin merasa beruntung di kelilingi orang-orang baik dan peduli sama Anin di rumah ini". ujar Anin tulus.


Askara meraba tempat tidur di sampingnya dengan mata masih tertutup rapat. karena merasakan tidak ada orang, Askara membuka mata secara perlahan.


"Anin". panggil Askara dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Askara menegakkan tubuhnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar tapi tidak melihat keberadaan Anin.


Askara menyibak selimut lalu bangkit dari tempat tidurnya. masih mengenakan celana kain dan kemeja putih pakaian sisa pesta semalam, Askara berjalan menuruni anak tangga mencari keberadaan Anin.


"Anin". panggilnya lagi tapi tidak ada jawaban.


Perasaan Askara mulai panik, apa Anin kabur darinya karena sikapnya semalam?. tidak, itu tidak mungkin.


Dengan langkah lebarnya, Askara langsung menuju dapur. tempat yang biasa Anin kunjungi saat baru bangun tidur.

__ADS_1


Suara tawa terdengar dari arah dapur, membuat Askara semakin mempercepat langkahnya.


"Anin". panggil Askara membuat Anin langsung menghentikan tawanya. begitupun dengan Mia dan Bi Ratih.


"Selamat pagi tuan". sapa Mia dan Bi Ratih bersamaan.


"Mas Askara sudah bangun?". sambut Anin dengan senyum mengembang membuat satu alis Askara terangkat. kenapa wajah Anin terlihat biasa saja? apa wanita itu tidak marah padanya karena sudah meninggalkannya di pesta semalam?. padahal biasanya Anin akan mendiamkannya apalagi jika itu menyangkut Dalila.


Askara mendekat dan langsung memeluk tubuh Anin.


"Aku mencarimu ke mana-mana. jangan buat aku khawatir".


Anin mematung sejenak saat Askara memeluknya. "Aku hanya di dapur, Mas. tidak ke mana-mana".


Justru aku yang takut kau pergi, mas. semalam saja kau meninggalkanku begitu saja. Batin Anin.


Anin memutuskan untuk mengikuti saran Bi Ratih, bertekad untuk melewati permasalahan yang menerpa rumah tangganya dengan Askara. dia tidak tau ke depannya akan seperti apa, jadi Anin akan menyiapkan hati yang lebih kuat mulai dari sekarang.


"Sekarang ikut aku ke kamar. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan". Askara mengurai pelukan mereka.


Anin pamit pada Mia dan Bi Ratih yang menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.


"Aku minta maaf, Anin. semalam aku meninggalkanmu begitu saja di pesta. aku tau aku salah, mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahanku semalam, aku mohon jangan berfikir yang tidak-tidak. itu semata-mata aku lakukan karena aku terlalu emosi melihat Ken berada di pesta yang ku adakan, kau sendiri tau kan aku sangat tidak menyukai lelaki itu". ungkap Askara saat mereka sudah berada di kamar.


"Aku minta maaf Anin, aku akan terus mencoba menjadi suami yang baik untukmu".


"Iyya mas. sekarang kau mandi. biar aku siapkan pakaian kantormu".


Askara mencium pipi Anin sebelum bergegas menuju kamar mandi. "Terimakasih, aku mencintaimu". ujar Askara tersenyum nakal lalu melangkah menuju kamar mandi.


Jantung Anin berdetak tak karuan, masih pagi-pagi tapi Askara sudah membuatnya olahraga jantung. ini pertama kalinya Askara mengatakan bahwa dia mencintainya. pipinya terasa panas, dia yakin pasti sekarang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


Askara sendiri tersenyum penuh arti saat berada di dalam kamar mandi. wajah Anin sekarang pasti terlihat begitu lucu menahan malu karena ucapannya.


****


Dalila baru saja memasuki studio foto tempatnya akan melakukan pemotretan kali ini. matanya tak sengaja melihat punggung Ken yang hendak memasuki ruang editing.


"Ken". panggil Dalila di iringi langkah lebarnya.


Tangan Ken berhenti tepat di handel pintu, menatap Dalila yang sedang berlari kecil ke arahnya.

__ADS_1


"Dalila". gumam Ken.


"Aku butuh bicara, biasa kita ke ruang meeting?". pinta Dalila.


"Hemm, kau duluan". Ken mempersilahkan Dalila berjalan lebih dulu, dan mengikutinya dari belakang.


Dalila dan Ken memasuki ruang meeting yang kebetulan sedang kosong dan tidak di pakai. dia butuh tempat yang private untuk bicara dengan Ken soal perkataan Askara semalam.


"Sebelumnya aku minta maaf soal kejadian semalam, wewakili nama Askara. aku harap kau bisa memaafkannya". ujar Dalila menatap lamat-lamat wajah Ken yang duduk di seberangnya.


"It's oke. ini bukan pertama kalinya kita bersitegang. kau tidak perlu merasa bersalah". balas Ken.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?".Tanya Dalila hati-hati.


"Tentu".


"Mmm.. beberapa hari yang lalu kau sempat cerita bahwa tanpa sengaja kau pernah jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah bersuami, apa wanita yang kau maksud itu adalah Anin?".


Ken terdiam sejenak, dia tidak kaget sama sekali atas pertanyaan Dalila, karena justru dia yang sangat penasaran, apa hubungan Dalila dengan Askara sebenarnya.


"Iyya benar, wanita itu adalah Anin". jawab Ken setenang mungkin.


"Kalian masih berhubungan?". tanya Dalila dengan berani.


"Jika hubungan yang kau maksud adalah hubungan antara seorang lelaki dan wanita, aku masih cukup waras, Dalila. kita memutuskan untuk berteman, meskipun pertemuan kita sudah sangat jarang terjadi, tapi Anin masih selalu menjadi wanita yang baik dan ramah, dia tidak pernah berubah". terang Ken dengan wajah tenangnya.


Meskipun tidak ada emosi di perkataan Ken, tapi Dalila dapat melihat bahwa masih ada rasa yang tertinggal di hati Ken untuk Anin.


"Lalu kau sendiri, apa hubunganmu dengan Askara?". tanya Ken, wajah Dalila tampak terkejut mendengar pertanyaan Ken.


"K-kita berdua bersahabat, sejak kecil lebih tepatnya". gugup Dalila karena Ken terus menatapnya.


Namun yang Ken lihat, sikap Askara semalam justru terlalu berlebihan untuk di sebut sebagai seorang sahabat. apalagi Dalila saat ini merasa gugup saat menjawab pertanyaannya tadi.


"Saat aku menceritakan bahwa aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita yang sudah bersuami, saat itu juga kau bertanya padaku bagaimana caraku bisa merelakan perasaanku sendiri. apa pertanyaanmu saat itu justru mewakili perasaanmu sendiri, Dalila?". tanya Ken dengan nada dinginnya.


"M-maksud kau apa, Ken?". tanya Dalila tidak mengerti.


"Aku tidak tau tepatnya siapa laki-laki yang membuatmu bimbang saat ini. tapi yang aku lihat pada waktu itu, kau justru bertanya karena ingin menemukan jawaban untuk dirimu sendiri. karena saat ini, kau juga sedang terjebak di dalam rasa yang salah bukan?, tegur aku jika perkataanku salah, Dalila". Terang Ken merasa Dalila juga sedang berada di posisi yang dia rasakan dulu, terjebak di dalam rasa yang salah.


Dalila diam merasakan jantungnya berdetak kencang. kenapa Ken bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di hatinya. apa pria itu tau bahwa dia mencintai Askara?. Dalila menggeleng dengan cepat, Ken tidak mungkin tau perasaanya pada Askara. pria itu terlalu dini untuk menilai hubungannya dengan Askara.

__ADS_1


"Maaf, aku baru ingat jika harus segera ke ruang make up. sampai bertemu di pemotretan nanti". Dalila tidak menjawab pertanyaan Ken, lantas memilih buru-buru meninggalkan ruangan. dia takut Ken semakin curiga terhadapnya.


Ken menatap kepergian Dalila tanpa sempat wanita itu menjawab pertanyaannya. Ken sendiri masih menebak, apa hubungan Askara dan Dalila murni karena bersahabat atau justru satu di antara mereka ada yang memendam rasa? mengingat bagaimana sikap Askara yang begitu posesif pada Dalila sampai-sampai membawa Dalila pergi dan meninggalkan Anin tanpa sepatah kata di pesta semalam.


__ADS_2