
Sepanjang perjalanan pulang, Dalila yang berada di kursi belakang terus meracau memanggil nama Askara bahkan banyak umpatan kata-kata kasar keluar dari mulut wanita yang sedang mabuk berat tersebut.
"Katanya kau mencintaiku tapi kenapa kau malah memilih wanita lain, Askara. ceraikan saja Anin, yang pantas untuk bersamamu hanya aku". ujar Dalila di sertai suara tangisnya.
Suasana hati wanita tersebut memang cepat berubah dalam sepersekian detik. entah menangis, tertawa, atau berteriak dalam waktu yang bersamaan sampai-sampai membuat kuping Askara pengang.
"Kau jahat, Askara. kau adalah pria paling jahat yang pernah aku temui". teriak Dalila memukuli dadanya sendiri.
Askara mengcekram stir mobil dengan kuat, menambah kecepatan laju mobilnya agar bisa sampai di apartemen Dalila segera. yang ada di fikirannya saat ini justru adalah Anin. sejak tadi kepalanya hanya isi oleh bayangan wajah kecewa Anin yang menunggunya di hotel.
Askara memapah tubuh Dalila memasuki lift menuju lantai kamar wanita tersebut. sesampainya di depan pintu apartemen, Askara membuka tas Dalila menggunakan satu tangan sedangkan tangan yang satunya tetap memegangi tubuh Dalila. dia cukup kesulitan karena Dalila terus bergerak dan ingin menjatuhkan tubuhnya, tapi akhirnya dia bisa mendapatkan kartu apartement Dalila.
Sambil menghembuskan nafas berat, Askara mendudukkan tubuhnya di sofa setelah membaringkan tubuh Dalila di atas tempat tidurnya.
Pria itu melonggarkan dasinya untuk bisa bernafas dengan bebas.
Mata Askara mengamati Dalila yang sudah terlelap di atas tempat tidur. perasaan bersalah kembali mencuat di hatinya, keadaan Dalila sekarang terjadi setelah wanita itu menemui dirinya di kantor tadi sore.
Askara beranjak dari tempat duduknya, mendekati Dalila yang sepertinya sudah benar-benar memasuki alam mimpi.
"Maafkan aku Dalila, tapi rasa cinta itu kini bukan lagi untukmu. aku harap kau bisa mengerti dan merelakan semuanya, kau berhak bahagia meskipun itu bukan aku. sepertinya ini adalah pertemuan terakhir kita, maaf karena aku hanya ingin menjaga perasaan Anin, aku sangat mencintai Anin. kau pun berhak di cintai seseorang yang punya perasaan yang sama denganmu". ujar Askara menarik selimut untuk menutupi tubuh Dalila.
Askara melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 10 malam. dia pun memutuskan untuk bergegas pergi dari apartemen Dalila, tapi baru hendak melangkah tangannya langsung di tahan oleh Dalila.
"Jangan tinggalkan aku, Askara". lirih Dalila dengan mata terpejam tapi sudut matanya mengeluarkan air mata.
"Tolong temani aku di sini, aku kesepian. aku merindukanmu ayah dan ibuku". Dalila perlahan membuka matanya, meskipun dalam keadaan setengah sadar karena mabuk tapi dia bisa melihat bahwa pria yang saat ini ada di depannya adalah benar-benar Askara.
__ADS_1
"Aku rindu ayah dan ibuku, Askara. kau tidak pernah tau rasanya jadi aku selama ini. hidup dalam kesendirian, tidak punya tempat untuk bersandar dan kini kau pun ingin pergi meninggalkan ku, kenapa semua orang begitu jahat". racau Dalila memukul selimut yang dia kenakan.
Hati Askara terenyuh mendengar tangis pilu Dalila. bagaimanapun Dalila adalah sosok yang begitu rapuh, di tinggal oleh kedua orang tuanya sejak kecil dalam keadaan yang tragis. bagaimana Dalila kecil yang dulunya begitu murung berubah menjadi wanita yang periang karena dirinya.
"Maafkan aku Dalila". Askara meraih Dalila ke dalam pelukannya.
Tangis Dalila semakin pecah, "Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri, temani aku di sini Askara". pinta Dalila.
Entah karena merasa kasian atau memang Askara masih sangat peduli pada Dalila, dia langsung mengangguk mengiyakan permintaan Dalila.
*****
Raut wajah Anin tidak lagi menampakkan rasa tenang karena sampai larut malam Askara tak kunjung datang di tambah lagi panggilannya tidak ada yang di jawab oleh Askara.
Fikiran Anin mulai di penuhi dengan segala kemungkinan yang membuatnya ingin segera berlari turun dari hotel tersebut dan mencari keberadaan Askara.
"Maaf Nona, saya pun tidak tau kemana perginya tuan Askara. saya hanya menerima perintah untuk menjemput Nona Anin di mansion, bahkan tuan Askara mengirim pesan bahwa dia akan segera sampai tadi". Sekretaris Dito juga bingung dan ikut cemas, kemana sebenarnya perginya tuannya itu karena biasanya dia akan mendapat kabar jika ada hal yang mendadak yang terjadi.
"Antar aku mencari mas Askara". Anin meraih tas tangannya yang berada di atas meja.
"Tapi nona, ini sudah larut malam. lebih baik saya saja yang mencari tuan Askara".
"Tidak sekretaris Dito, aku harus tau dan memastikan sendiri kalau mas Askara baik-baik saja". kekeh Anin.
Mau tidak mau sekertaris Dito mengalah, dia tidak ingin membuat Anin semakin stress dan berdampak pada kandungannya jika dia melarang Anin untuk ikut mencari Askara.
Anin dan sekretaris Dito berjalan meninggalkan ruangan yang seharusnya menjadi tempat bersejarah untuk dinner romantis antara Askara dan Anin. tapi nyatanya hal itu tidak terwujud karena Askara yang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Entah sudah panggilan ke berapa kalinya, Anin kembali menghubungi nomor Askara sembari matanya menyusuri jalanan, berharap bisa menemukan mobil Askara di antara mobil lainnya yang sedang lalu lalang.
Tadinya nomor Askara yang masih bisa di hubungi berubah menjadi tidak aktif. Anin menggenggam erat ponsel di tangannya untuk menenangkan dirinya.
"Apa mungkin Mas Askara ingkar janji?". gumam Anin dengan setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Anin menggeleng dengan cepat, menepis fikiran negatif yang hinggap di kepalanya. Askara tidak mungkin mempermainkannya lagi. tapi entah kenapa hatinya merasakan bahwa Askara justru melakukan hal tersebut.
"Antar aku pulang ke mansion sekretaris Dito". ujar Anin lirih, dia akan menunggu Askara di mansion.
"Hah?, apa tuan Askara sudah mengabari Nona Anin?". tanya sekretaris Dito menatap wajah Anin dari kaca mobil.
"Mungkin Mas Askara baik-baik saja. tiba-tiba aku merasa tidak enak badan, aku ingin pulang dan istirahat". ujar Anin termenung menatap keluar jalanan malam kota Jakarta.
Seharusnya dia sadar bahwa Askara belum sepenuhnya bisa dia percaya. meskipun Anin tidak tau di mana Askara sekarang, dan apa yang sedang di lakukan oleh pria itu tapi entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa sesak seperti sedang di khianati.
Sesampainya di mansion, Anin langsung turun dari mobil tanpa menunggu sekretaris Dito membukakan pintu.
"Terimakasih sekretaris Dito. sekarang pulanglah dan istirahat, terimakasih untuk hari ini dan maaf sudah merepotkan mu".. Anin melangkah memasuki mansion tanpa menunggu balasan dari sekretaris Dito.
Hatinya merasa kecewa padahal dia tidak tau apa yang tengah di lakukan oleh Askara saat ini.
Karena sudah larut malam, keadaan mansion menjadi sepi. mungkin Mami Sandra dan Papi Argio sudah beristirahat. dengan langkah gontai, Anin berjalan menaiki satu per satu anak tangga.
Saat tiba di kamarnya, barulah tangis Anin pecah dengan tubuh yang merosot ke lantai. dia memukuli dadanya yang terasa sesak bagai di himpit oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Kenapa rasanya sesakit ini, Mas?". lirih Anin memeluk kedua lututnya sambil terus terisak.
__ADS_1