
Askara dan Anin baru saja keluar dari ruangan dokter Ziva setelah memeriksakan kandungannya. dengan senyum mengembang, Askara merangkul Anin, karena istrinya itu sudah mulai kesusahan berjalan dengan perut yang semakin membesar dan terasa makin berat setiap harinya.
"Aku sangat senang Anin mendengar penjelasan dokter Ziva mengenai perkembangan calon anak kita". Askara tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati mendengar calon anaknya dalam keadaan baik, sangat baik malah.
"Iyya, Mas. aku juga sama bahagianya, aku jadi tidak sabar menunggu dia lahir". balas Anin mengusap pelan perut buncitnya.
"Sebentar lagi, sayang. kita pasti akan bertemu dengannya". ujar Askara yang sudah tidak sabar sama hal nya dengan Anin.
"Setelah ini kau mau kemana lagi, sayang?, hari ini aku akan menuruti semua kemauanmu".
Mendengar pertanyaan Askara, Anin sontak menatap suaminya dengan wajah berbinar.
Anin nampak berfikir sejenak, kemudian dia tau habis ini akan kemana.
"Aku ingin melihat-lihat perlengkapan bayi, juga pakaian bayi. kita belum membeli satupun barang untuk calon anak kita, Mas". rengek Anin padahal usia kandungannya akan memasuki bulan ke delapan.
Askara mengangguk setuju. "Baiklah, beli semua apapun yang kau mau, yang penting kau senang".
"Kau serius, Mas?". tanya Anin memastikan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?, apapun akan aku berikan untuk istri dan juga untuk calon anakku, perkara uang dan barang hanyalah hal kecil jika di bandingkan dengan kebahagian kalian berdua". ucapan Askara begitu manis terdengar di telinga Anin.
__ADS_1
"Gombal". celetuk Anin namun tetap menyukai sikap manis Askara.
Keduanya sudah sampai di parkiran rumah sakit. Askara membuka pintu mobil untuk Anin, namun belum sempat Anin masuk, seseorang memanggil nama istrinya itu.
"Anin". panggil Ken tak sengaja melihat kehadiran Anin di rumah sakit.
"Ken!". seru Anin saat melihat kedatangan Ken, dia jadi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk!". titah Askara karena Anin urung masuk ke dalam mobil. suasana hati pria tersebut mendadak berubah setelah melihat kedatangan Ken.
"Sedang apa kau di sini, Ken?". tanya Anin mengabaikan perintah Askara.
"Ah Iyya, aku hampir lupa". balas Anin tersenyum yang membuat hati Askara terbakar api cemburu.
"Aku bilang masuk ke mobil, Anin". titah Askara kembali, kali ini penuh penekanan.
"Tapi, Mas_".
"Tunggu". tahan Ken, "Aku hanya ingin menanyakan kabarmu, apa kau baik-baik saja? kemarin kau pulang dalam keadaan basah kuyup".
Anin terdiam cukup lama karena pertanyaan Ken, yang secara tidak langsung akan memicu rasa penasaran di benak Askara.
__ADS_1
"Apa maksud pertanyaanmu?". tanya Askara kini maju lebih dekat dengan Ken. "Jangan bilang kau yang membawa Anin pergi kemarin?". tuduh Askara mulai naik pitam.
"Mas, tahan dulu emosimu. ini tidak seperti yang kau fikirkan. aku dan Ken tidak sengaja bertemu kemarin, kami hanya mengobrol sebentar setelah itu Ken pulang duluan". jelas Anin agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman antara Askara dan Ken.
"Kenapa kau baru cerita sekarang, Anin?". tanya Askara dengan tatapan kecewa.
"Karena itu tidak penting, Mas". balas Anin membuat hati Ken seperti tercubit, saat Anin mengatakan bahwa pertemuan mereka bukanlah hal yang penting untuk di bahas.
"Benar yang di katakan Anin, kami tidak sengaja bertemu dan itupun tidak berlangsung lama". Ken ikut menimpali, semua ini semata dia lakukan karena tidak ingin membuat Anin kembali bertengkar dengan Askara dan membuat wanita itu kembali sedih, meskipun dia sendiri cukup kecewa mendengar jawaban wanita yang sudah berhasil merebut hatinya itu.
"Aku ingatkan kau sekali lagi, jauhi Anin karena sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa memilikinya". Askara tidak main-main dengan ucapannya.
"Aku dengan senang hati akan merelakan Anin selama kau memperlakukannya dengan baik. tapi jika sekali lagi kau menyakiti Anin, maka dengan terang-terangan aku akan merebut Anin dari tanganmu". Ken juga tak kalah seriusnya dengan ucapannya.
Anin menatap wajah Ken dengan penuh rasa bersalah. dia ingin meminta maaf pada Ken namun hanya mampu dia sampaikan lewat tatapan mata.
"Ayo, Anin. masuk ke dalam mobil". perintah Askara yang mau tidak mau di turuti oleh Anin.
Ken menatap kepergian Anin dengan perasaan kecewa.
Author udah double up yah
__ADS_1