Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 146


__ADS_3

Setelah dua pekan lebih di rawat di rumah sakit, Anin akhirnya sudah di perbolehkan untuk pulang. tapi raut kebahagiaan sama sekali tidak nampak di wajah Anin, rasa sedih tiba-tiba menderanya karena itu artinya dia harus berpisah dari Jendra yang belum bisa ikut pulang bersamanya. berdasarkan penjelasan dokter Ziva, Jendra masih butuh perawatan beberapa hari lagi.


Mami Sandra, Vivi, beserta ibu Risa yang beberapa saat lalu baru tiba di Jakarta setelah kemarin sempat pulang ke Bandung karena ada hal mendesak, mereka semua tampak membantu Anin mengemasi barang-barangnya.


Rencananya Anin akan tinggal di rumah Vivi untuk sementara waktu. itu semua atas permintaan Vivi karena orang tuanya mempunyai rumah di kawasan Jakarta yang tidak berpenghuni. hanya saja selama ini, Vivi sudah terlanjur nyaman tinggal di apartement jadilah rumah orang tuanya di biarkan kosong begitu saja.


"Mi, apa Anin tinggal beberapa hari lagi aja di sini? Anin ngga tega ninggalin Jendra sendirian". raut wajah sendu terbit di wajah cantik Anin, memikirkan akan meninggalkan anaknya seorang diri di rumah sakit.


Mami Sandra menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan pakaian Anin ke dalam koper.


"Apa yang kau khawatirkan sayang?". tanyanya menghampiri sang menantu.


"Banyak Mi, tapi yang pasti Anin ngga akan ngerasa tenang ninggalin Jendra sendirian di sini. walaupun raga Anin ada di rumah tapi jiwa dan fikiran Anin akan selalu tertuju pada Jendra".

__ADS_1


Mami Sandra meraih kedua tangan Anin, "Kau tidak perlu mencemaskan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi. buang jauh-jauh fikiran burukmu, Jendra akan baik-baik saja. Mami sudah menyiapkan beberapa orang perawat serta pengawal pribadi yang nantinya akan bergantian menjaga Jendra. Mami juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Jendra, jadi tanpa kau minta Mami sudah menyiapkan penjagaan terbaik untuk cucu Mami".


"Tapi Mi, berada jauh dari Jendra tetap saja membuat aku khawatir. mau Jendra di jaga oleh puluhan orang pun jika tidak berada di dekat Anin, maka aku tidak akan tenang Mi". Anin tidak bermaksud untuk tidak menghargai apa yang sudah di lakukan oleh Mami Sandra, tapi Anin merasa bahwa penjagaan seorang ibu adalah yang terbaik.


"Nak, fikirkan juga keadaanmu. kau bangun dari koma adalah suatu kesyukuran besar buat kita semua, kau juga masih butuh banyak istirahat di rumah nantinya. tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Jendra, nak. kau dengar sendiri kan Bu Sandra sudah menyiapkan penjagaan yang ketat untuk Jendra". kali ini Bu Risa angkat suara agar Anin menyingkirkan fikiran buruk yang bersarang di kepalanya.


"Lagi pula kan kita masih bisa ke sini buat jenguk Jendra, Lo masih harus nganter ASI kan?, hanya beberapa hari kok, Nin dan setelah itu Jendra akan pulang ke rumah bareng Lo". tutur Vivi semakin menguatkan dua suara sebelumnya agar Anin tidak perlu khawatir.


Anin terdiam mendengar nama Askara di sebut, entah kenapa dadanya langsung berdenyut merasakan sakit jika mendengar nama sang suami di sebut.


"Anin mau ke ruangan Jendra dulu". Anin berdiri dari duduknya tanpa menanggapi ucapan Mami Sandra. dia tidak ingin terlibat obrolan yang membahas Askara karena hal itu tidak akan baik untuk hatinya.


Sorot mata Anin langsung berubah berbinar sesaat setelah sampai di ruangan bayi tempat Jendra berada. ternyata berada di dekat Jendra benar-benar mampu menyingkirkan kegundahan di hati Anin.

__ADS_1


"Bagaimana bisa bunda ninggalin kamu sayang, kalau berada di dekat kamu bisa bikin bunda jadi lebih tenang". Anin membuka obrolan sambil terus menatap wajah Jendra yang terlihat semakin berisi.


"Anak bunda lucu banget sih, gedenya juga cepat banget". Anin tersenyum simpul mendapati kondisi Jendra semakin memperlihatkan perkembangan yang baik setiap harinya.


"Jendra jangan nakal ya kalau di tinggal bunda, jangan rewel dan nyusahin suster supaya nanti Jendra bisa cepat pulang ke rumah, bunda ngga sabar mau gendong dan juga tidur bareng Jendra". lanjut Anin dengan senyum yang tidak pernah luntur.


"Bunda bakalan kangen banget sama Jendra". helaan nafas terdengar dari mulut Anin karena berat pulang ke rumah tanpa Jendra.


"Aku juga kangen banget sama kamu, Nin". terdengar suara yang begitu familiar di telinga Anin.


Anin terpaku dan berbalik menatap wajah yang terlihat semakin lesu dan kurus itu.


Askara berdiri tepat di belakang Anin, sejak tadi mendengarkan percakapan satu arah karena hanya suara Anin lah yang terdengar.

__ADS_1


__ADS_2