
Pukul 5.30 Anin sudah bangun dengan badan yang terasa segar karena dirinya tidur cukup awal.
kakinya melangkah menuju westafel untuk mencuci muka.
Anin samar-samar mendengar suara seseorang tengah muntah-muntah. Anin semakin mengetatkan pendengarannya dan suara itu berasal dari kamar Askara.
dengan memberanikan diri, Anin mencoba mengetuk pintu kamar Askara.
"Pak Askara, apa kau baik-baik saja?" Anin berteriak kecil namun pintu tak kunjung di buka.
Anin yang mulai khawatir karena terus mendengar suara Askara muntah memutuskan untuk masuk walau belum di persilahkan oleh sang empunya kamar.
ceklek . pintu kamar Askara terbuka.
Anin sudah mendapati Askara keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, badannya seperti tidak bertenaga.
Buru-buru Anin melangkah ingin menghampiri Askara namun baru beberapa langkah Askara terlihat memberi kode dengan mengangkat tangannya memberi tanda pada Anin agar tidak mendekat.
"Jangan mendekat, apalagi menyentuhku" ujar Askara dengan suara lemah.
Askara berusaha berjalan menuju tempat tidurnya dengan sisa tenaga yang ada, sedangkan Anin hanya memandang Askara dari tempatnya berdiri.
"Saya akan buatkan teh hangat untuk bapak, siapa tau itu bisa mengurangi rasa mual bapak" ucap Anin
Askara hanya mengibaskan tangannya ke udara menyuruh Anin segera keluar dari kamarnya.
"Lain kali jangan masuk dalam kamarmu tanpa seizinku"
"Maafkan saya pak" Anin menunduk sedih mendapat perlakuan dingin dari Askara.
Anin segera menuju dapur selepas dari kamar Askara, karena bahan makanan yang tersisa hanya telur Anin memutuskan untuk membuat omlet saja. tapi sebelum itu Anin terlebih dulu memanaskan air untuk membuat teh hangat untuk Askara.
omlet dan juga teh hangat sudah siap, Anin meletakkannya di atas nampan kemudian mengantarkannya ke kamar Askara.
karena tak ingin di marahi lagi, Anin memutuskan untuk mengetuk pintu dan menunggu jawaban dari sang pemilik kamar.
Askara yang merasa badannya sangat lemas terpaksa menyuruh Anin masuk, kakinya serasa tidak bertenaga walau hanya sekedar berjalan untuk membuka pintu.
tampak Anin masuk dengan nampan di tangannya. dengan perlahan Anin meletakkan sarapan yang sudah di buatnya di atas nakas tepat di samping tempat tidur Askara.
"Maaf pak, saya cuman buat omlet sama teh hangat karena bahan makanan yang tersisa di dapur hanya itu" jelas Anin takut Askara tidak menyukai sarapan yang sudah dia buat.
"Hemmm" hanya itu yang keluar dari mulut Askara.
"Bapak bisa makan sendiri?" tanya Anin karena melihat Askara masih begitu lemas.
Askara menatap sekilas wajah Anin
"Keluarlah, aku bisa makan sendiri" usir Aksara dingin
"Kalau begitu sekalian saya mau pamit keluar sebentar, mau ke minimarket untuk belanja kebutuhan dapur"
__ADS_1
walaupun Askara bersikap dingin padanya, namun kewajibannya sebagai seorang istri tetap harus di laksanakan, salah satunya meminta izin jika akan keluar rumah.
"Pergilah, aku semakin pusing melihatmu lama-lama berdiri di situ" ketus Askara. Anin hanya menghembuskan nafas pelan mendengar ucapan Askara, sepertinya mulai sekarang dirinya harus punya stok sabar yang banyak untuk menghadapi sikap dingin Askara.
setelah membersihkan diri Anin keluar apartemen menggunakan baju santai, celana jeans dan baju kaos sudah cukup, tujuannya hanya ke minimarket.
motor Anin masih berada di kostnya, rencananya lusa Anin baru akan mengambil motornya karena lusa dirinya juga sudah harus masuk kerja.
setelah gojek pesanannya datang Anin segera berangkat menuju minimarket yang tidak jauh dari apartemen Askara.
Anin sudah sampai di minimarket, tapi sebelum masuk Anin memutuskan untuk ke ATM yang berada tepat di samping minimarket untuk mengambil uang cash. Anin harus menggunakan uang pribadinya sekarang karena dia pun masih bingung soal nafkah dari Askara karena sampai detik ini belum ada pembicaraan mereka mengenai hal itu. jangankan untuk membicarakan hal mengenai rumah tangga mereka, sekedar menyapa pun Anin harus mengumpulkan keberanian terlebih dahulu.
Suara ramah pegawai minimarket terdengar saat Anin memasuki pintu minimarket, tangannya segera menyambar keranjang belanjaan dan berkeliling mencari apa saja yang di butuhkan.
Anin memilih membeli sayur-sayuran segar, daging ayam, beberapa buah untuk cemilannya karena ibu hamil di haruskan banyak komsumsi buah-buahan. tak lupa pula Anin mengambil susu hamil, cukup lama Anin berdiri di depan rak susu ibu hamil karena jujur selama satu bulan ini Anin belum pernah membeli susu hamil.
pilihan Anin jatuh pada susu hamil rasa coklat, Anin pernah mendengar bahwa rasa susu ibu hamil sangat berbeda dengan susu pada umumnya jadi dirinya memutuskan untuk mengambil rasa coklat saja. fikir Anin dari pada nanti bolak balik belanja dia memutuskan mengambil 3 buah kotak susu hamil sekaligus. Langkah kaki Anin pun beralih pada bumbu-bumbu dapur.
setelah di rasa cukup, Anin berjalan menuju kasir dengan cukup kesusahan karena ternyata belanjaannya cukup banyak, seharusnya dia mengambil troli saja tadi.
"Butuh bantuan?" Anin menoleh ke sumber suara. pria dengan tubuh atletis, dan paras yang tampan tengah tersenyum menatapnya.
"Ehh.. nggak usah, kasirnya udah deket kok" tolak Anin karena merasa tidak enak.
beberapa barang belanjaan Anin tiba-tiba jatuh dari keranjang karena terlalu penuh.
pria tadi pun bergegas membungkukkan badannya untuk mengambil barang belanjaan Anin.
"Nih.."
"Makanya terima tawaran saya, badan kamu terlalu kecil membawa barang belanjaan sebanyak ini" ejek pria tadi terkekeh membuat Anin spontan mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih" ucap Anin tidak terima.
tidak menunggu jawaban dari Anin, pria tadi segera mengambil alih barang belanjaan Anin dan membawanya ke kasir.
setelah membayar total belanjaannya Anin pun keluar dengan meneteng 3 kantong plastik. satu plastik di tangan Anin dan dua kantong plastik lainnya di bawa pria tadi. Anin bahkan sudah menolak tapi pria itu masih kekeh membantunya.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya pria tersebut saat merek sudah keluar dari minimarket.
"gojek, tapi kayanya harus mesen taxi onlinedeh, nggak mungkin naik ojek dengan barang belanjaan sebanyak ini"
Anin pun membuka ponselnya hendak memesan grab dari aplikasi.
"Aku antar aja gimana?" pria tadi menawari Anin untuk di antar
wajah Anin terangkat dari ponselnya "Ngga usah, nggak mau ngerepotin" tolak Anin
dia takut Askara akan marah jika tau, walaupun Anin bisa memastikan Askara bahkan tidak akan peduli, tapi tetap saja sekarang dia sudah menjadi seorang istri.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku udah mesen taxi online soalnya, kasian abangnya kalo cansel" tolak Anin karena memang dia sudah memesan tadi.
pria tersebut mengangguk "Ya udah kalo gitu gue duluan yah" ucapnya tersenyum.
"Terimakasih yah udah bantuin"
"Sama-sama"
pria itu berlalu memasuki mobilnya dengan berlari kecil. tak berselang lama taxi online pesanan Anin pun tiba, dirinya memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen, takut jika Aksara tiba-tiba membutuhkan sesuatu.
Anin tiba di apartemen, dengan segera membuka pintu menggunakan kartu yang telah di berikan oleh Dito kemarin.
hal pertama yang di dapati Anin adalah suasana apartemen yang sepi karena memang hanya di huni oleh dirinya dan Askara, bahkan jika ada Askara pun suasana akan tetap sama.
Anin kemudian berjalan menuju dapur untuk menata barang belanjaannya, tak sengaja Anin melihat piring kotor dan juga gelas bekas minum. itu adalah bekas sarapan Askara yang di buat Anin pagi tadi.
seulas senyum terbit di bibir Anin, walau Askara menolak bantuannya setidaknya dia mau memakan masakan Anin.
seketika Anin tersadar apa Askara masih ada di dalam kamarnya atau tidak. Anin mendapati pintu kamar Askara sedikit terbuka, tapi dia teringat akan Askara yang tidak suka jika orang lain masuk dalam kamar tanpa seizinnya.
lama Anin larut dalam fikirannya dia memberanikan diri membuka pintu, fikirannya hanya takut jika terjadi sesuatu pada Askara. persetan dengan kemarahan Askara nantinya.
kosong, itulah yang di dapati Anin saat pintu kamar Askara terbuka. bahkan kamarnya pun sudah rapi.
"Apa dia pergi ke kantor yah?" gumam Anin bertanya entah pada siapa.
Anin pun memutuskan untuk keluar, dirinya berinisiatif untuk bersih-bersih apartemen saja dari pada dia bosan.
sedangkan di kantor, Askara baru saja selesai meeting dan berjalan menuju ruangannya bersama Dito di belakangnya.
setelah merasa badannya lebih baik, Askara memutuskan untuk ke kantor.
perasaan aneh muncul dalam diri Askara, setelah dengan terpaksa memakan sarapan yang di buatkan Anin bahkan dirinya tidak memuntahkannya setibanya di kantor, padahal sebelumnya hampir setiap hari setelah sarapan Askara akan kembali memuntahkan makanannya setibanya di kantor.
Askara memasuki ruangannya di susul Dito
"Tuan, nyonya besar sedari tadi menelfon saya. katanya anda tidak pernah menjawab telfonnya"
ucap Dito menginformasikan bahwa mami Askara mencarinya.
"Kau katakan saja aku sibuk, mami pasti akan terus mendesakku untuk menikah Dit" jawab Askara tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
"Kenapa tidak katakan saja bahwa tuan sudah menikah"
Askara menutup berkas di tangannya beralih menatap Dito.
"Kau tau Dito, pernikahanku ini hanya sampai anak itu lahir. aku tidak ingin mengecewakan mami ku"
"Tidak akan ada yang tau ke depannya tuan, perasaan orang sulit untuk di tebak" ucap Dito penuh arti
"Apa yang kau maksud Dito, tidak akan pernah ada cinta di antara kami" ujar Askara tidak suka mendengar ucapan Dito.
__ADS_1
Askara hanya menyimpan satu nama di hatinya, dan sampai sekarang masih setia menunggu orang tersebut kembali.
Dito tau betul hati Askara masih untuk Dalila, sahabat Askara sewaktu di bangku SMA. namun sayang Dalila hanya menganggap Askara seorang teman. itulah alasan Askara kemarin mabuk karena kepergian Dalila ke luar negeri.