Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 42


__ADS_3

Askara turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata dan memasuki mansion.


"Mas, tunggu dulu. aku minta maaf". Anin mengekori Askara sambil terus meminta maaf.


Sewaktu di taman tadi, Askara sangat kesal padanya karena sudah mengerjainya dengan menyuruh anak-anak tersebut mengejarnya.


"Mas...dengerin dulu, aku minta maaf". ujar Anin lagi. Kaki kecilnya terus mengikuti langkah lebar Askara menyusuri mansion.


Sandra dan bi Ratih yang sedang berada di ruang tengah mengerutkan kening melihat Askara memasuki mansion dengan wajah di tekuk, sedang Anin terus menerus mengejar langkah Askara sambil meminta maaf.


"Anin..., Askara kenapa?" tanya Sandra heran.


Langkah Anin terhenti. "Itu Mi, Mas Askara ngambek karena tadi Anin ngerjain dia waktu di taman". jawab Anin dengan wajah bersalah.


"Dasar, ngambekkan". cibir Sandra pada Askara yang sudah menaiki tangga.


"Oh Iyya Bi, di mobil ada beberapa belanjaan buat kebutuhan dapur, tolong di ambil yah bi". ujar Anin pada bi Ratih yang sedang membersihkan ruang tengah.


"Baik, non". jawab bi Ratih segera keluar.


"kalau gitu, Anin ke atas dulu Mi, mau susulin mas Askara". pamit Anin karena Askara sudah tidak terlihat.


Sandra menggelangkan kepala melihat sikap Askara yang kekanak-kanakan.


Pintu kamar di buka oleh Anin.


Askara sedang berbaring di sofa panjang dengan menutup matanya.


"Mas..Mas Askara". panggil Anin dengan suara pelan.


Askara tidak menyahut.


"Aku minta maaf kalau ternyata Mas Askara marah dan nggak suka di gituin". ujar Anin mengingat keusilannya di taman tadi.


Diam, tidak ada jawaban dari Askara.


"Mas tidur yah?, ayo dong bicara. Jangan diemin Anin kayak gini". cemas Anin semakin merasa bersalah.


"Ya udah deh, Anin mau ke kamar mandi bersih-bersih, nanti kalau Mas Askara sudah bangun, baru lanjut lagi minta maafnya". ucap Anin seperti berbicara dengan manekin.


Anin pun memutuskan untuk ke kamar mandi karena Askara tidak menggubrisnya.


Namun, Askara tiba-tiba menarik tangannya. membuat tubuh Anin yang tidak siap, jatuh terjerembab tepat di atas tubuh Askara. dan yang lebih mencengangkan lagi, bibir keduanya saling bertemu.


Waktu seperti berhenti dan berpusat pada Askara dan Anin dengan posisi keduanya yang begitu intim.


Mata Anin sukses membulat sempurna. Debaran jantungnya berdetak sampai rasanya benar-benar ingin copot. Ini adalah ciuman pertamanya terlepas dari kejadian di apartement waktu Askara merenggut kesuciannya.


Sedang Askara yang posisinya tertindih tubuh Anin, merasakan hawa panas dalam dirinya, apalagi saat bibir kenyal Anin sukses mendarat sempurna di bibirnya.


Anin buru-buru melepaskan diri setelah benar-benar sadar dengan apa yang sudah terjadi.


Tangan Anin refleks menutup mulutnya, menatap tak percaya pada Askara yang juga sama terkejutnya.


"Mas...apa yang sudah kau lakukan" Ujar Anin kesal.


Askara membenarkan posisi duduknya.


"Aaa....ku tidak sengaja". balas Askara gugup.


Anin menatap tajam Askara yang memasang wajah datar padahal sebenarnya Askara sedang mati-matian menahan hasrat dalam dirinya.


"Mas yang menarik tanganku sampai terjatuh" Anin masih kesal


"Kenapa kau marah begitu, seperti baru pertama kalinya saja". celetuk Askara membela diri.


"Iyya.. Semuanya pertama bagiku. karena Mas Askara adalah orang yang pertama kali mengambil hal yang paling berharga dalam hidupku". ujar Anin marah di sertai air mata yang jatuh.


Perasaan Anin sangat sensitif semenjak mengandung. apalagi jika mengungkit kejadian waktu itu.


Askara kaget melihat perubahan mood Anin.

__ADS_1


"Kenapa kau jadi menangis". Askara segera berdri, dan menangkup wajah Anin.


"Aku minta maaf, oke. Aku betul-betul tidak sengaja tadi. Aku hanya ingin mengerjaimu balik". ungkap Askara yang pura-pura marah karena ingin membalas Anin.


Anin berusaha mencari kebohongan di mata Askara, tapi tidak menemukannya.


"Iyya, aku maafin Mas Askara". jawab Anin di sisa tangisnya.


"Ya udah, kalo gitu aku mau mandi dulu". ujar Anin salah tingkah mengingat kejadian tadi.


"Iyya". balas Askara singkat.


Askara merasa takjub, melihat perubahan sikap Anin yang mudah marah, menangis, dan juga mudah baik kembali, semenjak usia kehamilannya bertambah.


Anin berlari kecil menuju kamar mandi, wajahnya sudah memerah sekarang.


"Arrghhh... sial". umpat Askara selepas kepergian Anin ke kamar mandi, dia menahan hasratnya sedari tadi.


****


Keesokan harinya.


"Mas, hari ini aku nggak berangkat bareng kamu, soalnya aku kerjanya siang". ujar Anin yang tengah sibuk memasang dasi di leher Askara.


"Tapi kamu tetap harus di antar pak Hilman". balas Askara.


"Iyya Mas, tapi aku boleh minta izin nggak?". tanya Anin membuat Askara menatapnya.


"Izin kemana?".


"Mau ketemu Vivi di cafe, tapi tetap di antar pak Hilman kok tapi cuman sampe cafe, nanti biar Vivi yang nganterin aku ke toko kue". jelas Anin.


"Pak Hilman bisa menunggumu". balas Askara.


"Aku tidak enak, Mas. lagi pula aku biasanya kalau udah ketemu Vivi ngobrolnya jadi lama. Kasian pak Hilman menunggu lama".


Askara menghela nafas "baik, tapi kabari aku jika sudah sampai di toko kue".


"Aku pamit". ujar Askara.


Anin meraih tangan Askara dan mencium punggung tangannya seperti biasanya.


Setelah kepergian Askara, Anin juga bersiap-siap untuk bertemu Vivi.


"Dito, bagaimana dengan orang suruhan yang ku minta untuk mengawasi Anin?". tanya Askara pada sekretaris Dito yang sedang menyetir.


"Sudah saya siapkan tuan, dan rencananya hari ini dia sudah mulai memantau nona Anin".


"Bagus, beritahu dia kalau hari ini Anin akan keluar untuk bertemu temannya. kemudian lanjut untuk mengawasi Anin sampai ke toko kue". jelas Askara.


"Baik, tuan".


****


Anin akhirnya sampai di cafe tempat ia janjian dengan Vivi. Anin sengaja memilih cafe yang tidak terlalu jauh dari toko kue agar tidak memakan banyak waktu jika berangkat kerja nantinya.


"Lo mau ngomongin apa sih, sampe janjian di cafe segala. kan bisa biasanya juga ngobrolny di toko kue kak Ambar". ujar Vivi mengaduk-aduk es tehnya.


"Itu beda cerita kalo topik pembicaraannya bukan tentang Askara". jawab Anin yang tidak mungkin membahas soal Askara di sana.


"Suami Lo kenapa lagi sih?, berulah?". tanya Vivi.


Anin terdiam sebentar, menyiapkan diri sebelum menceritakan semuanya pada Vivi.


"Askara punya wanita idaman lain". ujar Anin membuat Vivi tersedak es teh.


"Uhukk .uhukk...Apa Lo bilang?, maksud Lo Askara selingkuh ?". tanya Vivi dengan wajah terkejut.


"Nggak, Askara nggak selingkuh. tapi jauh sebelum ketemu sama gue Askara udah punya cinta pertama dan sepertinya rasa itu masih ada sampai sekarang". ungkap Anin.


"Lo tau dari mana?".

__ADS_1


"Mami Sandra yang cerita semuanya ke gue kemarin".


"Tunggu..tunggu...Gue masih belum paham". ujar Vivi


"Cewek itu sahabat Askara dari kecil. Mereka tumbuh besar sama-sama sampai akhirnya di usia remaja Askara menyadari perasaannya kalo dia suka sama cewek itu, beberapa kali Askara menyatakan perasaannya tapi selalu ditolak dan sekarang cewek itu sedang berada di Jerman ngelanjutin studinya. Dari cerita yang gue dapet dari Mami Sandra, Askara sempat frustasi selama 1 tahun karena di tinggal sama cewek ini dan kemungkinan besar, waktu Askara ngelakuin itu sama gue, itu karena dia lagi frustasi di tinggal cewek itu". ungkap Anin menjelaskan inti dari cerita hidup Askara bersama Dalila.


Vivi paham sekarang. "Terus yang Lo takutin apa?, kan ceweknya jauh".


"Beberapa waktu yang lalu saat gue lagi makan siang sama Askara, kita nggak sengaja ketemu sama temen kuliahnya Askara waktu di Inggris, dan dia bilang kalo sebentar lagi cewek itu akan pulang dan terlihat jelas dari raut wajah Askara yang tadinya kesal karena ketemu sama temennya, tiba-tiba berubah jadi seneng waktu dengar kalau cewek itu bakalan pulang". ujar Anin dengan raut wajah sedih.


"Lo yang tenang, jangan banyak fikiran kayak gini". Vivi berusaha menenangkan Anin.


"Gue takut Vi, takut misi gue buat pertahankan pernikahan gue bakalan nemuin jalan buntu dan akhirnya kita benar-benar harus cerai setelah anak ini lahir. gimana nasib anak gue nanti, terlebih lagi gue udah mulai ngerasa nyaman sama Askara". Anin mengungkapkan perasaannya pada Vivi bahwa dia sudah jatuh cinta pada Askara.


"Gue yakin kok, semuanya nggak seperti yang Lo bayangin. ingat yang gue bilang, Lo cuman harus berusaha lebih keras lagi kalau mau Askara tetap berada di sisi Lo". ujar Vivi agar Anin tidak cemas berlebih.


Anin mengangguk cepat "Makasih yah Vi, tapi tugas Lo masih ada lagi, bantuin gue nyari alasan cuti please". ujar Anin beralih topik pembicaraan.


"Cuti?, emang Lo mau kemana?, mau pulang ke kampung?". tanya Vivi dengan kening berkerut.


"Bukan, Gue sama Askara di suruh Mami Sandra buat Babymoon ke bali". ujar Anin tidak bersemangat.


"Lo serius?, kapan?".


"Besok gue berangkat". ujar Anin cemberut.


"Ya terus?, kenapa muka Lo kayak nggak seneng gitu. Babymoon tinggal babymoon aja. kalo perlu kali ini unboxingnya secara resmi". ujar Vivi di selingi tawa.


Anin mendelik "Fikiran Lo tuh yah. bukannya buat gue tenang malah makin bikin fikiran gue makin ruwet". Anin menyesal cerita pada Vivi.


"Terus gue harus bilang apa coba?. Gini yah, kalian berdua itu suami istri, mau cuman jangka setahun, dua tahun, atau apapun itu, status kalian tetap suami dan istri yang sah saat ini". tekan Vivi.


"Lagian gue heran sama Lo, bukannya bagus yah kalo Maminya Askara nyuruh kalian babymoon, siapa tau aja hubungan kalian bisa makin bagus ke depannya setelah pulang dari sana".


Anin nampak berfikir mendengar ucapan Vivi.


"Tapi, Vi. Gue masih canggung untuk pergi berdua dengan Askara dalam jangka waktu lebih dari sehari, gue juga belum siap kalau tiba-,tiba Askara minta hak nya". Ungkap Anin, itu juga salah satu ketakutan terbesarnya.


"Lo sadar nggak sih Nin, mertua Lo ngelakuin ini semua buat hubungan kalian. ibaratnya Mami Askara udah buka jalan, selebihnya tugas Lo, bagaimana cara Lo ngejalanin semuanya buat bisa dapetin hati Askara, ini kesempatan bagus Anin". Ujar Vivi supaya fikiran Anin terbuka.


"Jadi, besok gue harus tetap berangkat?" tanya Anin dengan wajah polosnya.


"Iyyalah.. Lagian kalo Askara minta haknya yaaa tinggal kasi aja. kan hasilnya udah ada di perut Lo, sisanya cuman buat nengokin baby doang, Askara juga cowok normal kali". ujar Vivi menggoda Anin.


Pipi Anin bersemu merah, kesal sekaligus malu dengan ucapan Vivi.


"Nikah sana, fikiran Lo isinya hal mesum semua". ujar Anin melempar kentang goreng ke wajah Vivi.


"Gue mah udah dewasa, jadi wajar kali banyak tau tentang hal begituan". balas Vivi membela diri.


"Nah itu, makanya nikah".


"Sorry, gue masih menunggu sang pengeran pujaan hati gue". ujar Vivi menghayal.


"Udah..udah.. jangan ngayal di siang bolong. cepetan berdiri dan anter gue ke toko, bentar lagi shift gue masuk kerja". ujar Anin menyadarkan Vivi agar kembali pada dunia nyata.


Anin membereskan barang-barangnya ke dalam tas kemudian meninggalkan cafe.


Seseorang berpakaian serba hitam yang berada di dalam sebuah mobil tengah mengintai Anin, dia tampak menelfon seseorang tepat saat Anin keluar dari cafe bersama Vivi.


"Nona Anin baru saja keluar bersama bersama temannya tuan". lapor orang tersebut pada seseorang di seberang telefon.


"Terus ikuti dia, dan laporkan jika ada hal yang mencurigakan".


"Baik tuan". sambungan telefon terutup, pria tersebut melajukan mobilnya mengikuti mobil Vivi yang berada di depan.


Like


komen


vote

__ADS_1


supaya author semangat up nya.


__ADS_2