
Anin baru saja membersihkan diri setelah pulang dari tempat kerja, kini dia sudah mengenakan setelan piyamanya.
Sewaktu tiba di mansion Anin belum melihat Askara maupun Mami Sandra.
Anin memutuskan untuk turun mengecek.
Di ruang tengah, ternyata sudah ada Mami Sandra yang terlihat sedang serius dengan majalah fashion di tangannya.
Anin menghampiri Mami Sandra.
"Mami kapan pulang?" tanya Anin.
Sandra menatap kehadiran Anin dengan tersenyum, baru saja ia akan menemui Anin tapi gadis itu sudah turun terlebih dahulu
"Mami baru saja sampai, tadinya Mami mau ke atas nyamperin kamu, keburu kamunya sudah turun. Sini duduk" Sandra menepuk sofa kosong di sampingnya.
Anin mengambil duduk di samping Sandra.
"Gimana hasil pemeriksaan kamu hari ini?, dokter Ziva bilang apa?" tanya sandra begitu antusias.
Anin terkekeh melihat sikap Sandra "Semuanya baik Mi, kata dokter Ziva perkembangannya juga sesuai dengan usia kandungan Anin. Yang terpenting Anin harus memperhatikan pola makan Anin, dan juga harus cukup istirahat" jelas Anin tanpa terlewatkan agar Sandra tidak mencemaskan nya.
Sandra menarik nafas lega "Syukurlah, Mami senang mendengarnya. Kau harus mendengarkan semua perkataan dokter Ziva, dia adalah dokter kandungan terbaik yang Mami pilih" ujar Sandra.
"Lalu bagaimana dengan Askara? apa ada perubahan dari sikapnya?" selidik Sandra.
Anin nampak berfikir, namun dia belum yakin dengan apa yang di lihatnya karena sikap Askara masih saja sering berubah-ubah menurutnya.
"Anin belum terlalu yakin Mi, tapi tadi pak Askara sempat memberikan perhatian kecil ke Anin. dia ajak Anin makan siang dan pak Askara sendiri yang memilih menunya untuk Anin bahkan memotong dagingnya untuk Anin". ungkap Anin mengingat moment makan berdua bersama Askara untuk yang pertama kalinya, meskipun pada akhirnya Anin harus menelan kecewa karena pertemuan Grace dan juga Askara yang berujung Askara harus mengakuinya sebagai sepupu pada Grace.
"Nggak sia-sia Mami merencanakan ini semua" ungkap Sandra, semua ini adalah rencananya.
Anin menatap tak percaya "Jadi Mami sengaja tidak ikut kami berdua?" tanya Anin terkejut.
Sandra mengangguk sumringah "Kalau tidak seperti ini, Askara mana mau menemanimu. Mami melakukan ini semua supaya kalian bisa lebih dekat. Jadi, Mami minta maaf kalo sudah berbohong padamu" ucap Sandra dengan wajah mengkerut.
Anin menggeleng cepat "Aku justru berterimakasih pada Mami sudah mau melakukan ini semua untuk hubunganku dan pak Askara".
"Mami akan lakukan apapun yang Mami bisa selagi itu bisa membuat hubungan kalian lebih dekat" uajr Sandra.
Anin merasa terharu, ia ingin menangis sekarang.
Di sela-sela obrolan mereka, terlihat Askara yang baru saja pulang.
"Kau sudah pulang?" tanya Sandra.
"Hemm" jawabnya singkat.
"Kau mau ke mana?" tanya Sandra lagi saat Askara tidak berjalan ke arah kamarnya.
"Aku mau ke ruang kerja sebentar, ada pekerjaan yang perlu Askara selesaikan" jawabnya kemudian berlalu bahkan dia hanya menoleh sekilas pada Anin.
__ADS_1
Sandra beralih pada Anin.
"Buatkan Askara minum, dia sepertinya lelah" titah Sandra menyadari pekerjaan Askara pasti sedang menumpuk karena sudah dua hari dia tidak ke kantor.
"Baik Mi" jawab Anin kemudian bergegas ke dapur.
Askara duduk di kursi kerjanya, dia memijit pelipisnya untuk menghilangkan rasa penat.
Dua hari tidak datang ke kantor, pekerjaannya sudah menumpuk seperti habis di tinggal berbulan-bulan.
Askara teringat sesuatu, dia mengeluarkan foto hasil USG Anin yang berada di saku celananya yang dia minta pada dokter Ziva.
Tangan Askara membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan album kecil berisi foto-foto masa kecilnya. Askara menyelipkan foto USG tersebut ke dalam album tersebut.
Askara memandangi janin yang masih berukuran begitu begitu kecil dan masih sangat rapuh. ada perasaan berbeda dalam diri Askara saat mengingat moment pemeriksaan Anin tadi.
Jantungnya berpacu lebih cepat saat pertama kalinya dia mendengar detak jantung calon anaknya. Yah, perasaan Askara menghangat jika menyebut janin yang di kandung Anin adalah calon anaknya.
Tok..tok .tok.
Pintu ruang kerjanya di ketuk.
Askara memasukkan kembali album tersebut ke dalam laci kerjanya seperti semula.
"Masuk" sahut Askara dari dalam.
Pintu ruangan terbuka.
"Aku membuat kopi untuk pak Askara, tapi karena aku tidak tau selera pak Askara jadi aku hanya mengira-ngira saja" ujar Anin masih berdiri dengan secangkir kopi di tangannya.
"Letakkan saja" Perintah Askara.
Anin meletakkan secangkir kopi tersebut di atas meja kerja Askara.
"Ada lagi yang pak Askara butuhkan?" tanya Anin lagi melihat raut kelelahan di wajah Askara.
"Tidak ada, aku hanya ingin istirahat sejenak di sini" jawab Askara lesu.
Anin merasa kasihan melihat Askara yang sepertinya kelelahan, meski dua hari ini dia tidak masuk kantor namun tetap saja dia bekerja dari rumah dan sekarang dia baru pulang setelah menyelesaikan pekerjaan bersama sekretaris Dito.
Sebuah ide muncul di otak Anin, dia berjalan mengitari meja Askara dan berhenti tepat di belakang kursi kerja Askara.
"Kau mau apa?" tanya Askara bingung melihat Anin sudah berdiri di depannya.
"Pak Askara duduk dan diam saja, aku akan memijat pundak pak Askara agar rasa lelahnya berkurang" ujar Anin, inilah ide yang terbersit di kepalanya.
"Aku tidak mau, tubuhku tidak biasa di sentuh orang lain" ungkap Askara, dia memang selalu merasa risih, bahkan Mami nya saja tidak pernah di izinkan oleh Askara jika menawarinya pijatan.
"Aku yakin kali ini pak Askara pasti akan merasa rileks, percaya padaku" ucap Anin meyakinkan.
"Aku tidak mau, kembalilah ke kamarmu" usir Askara.
__ADS_1
Namun Anin tidak patah semangat "Aku bilang pak Askara hanya perlu diam dan jangan bergerak" tekan Anin dan mulai memijat pundak Askara.
Tangan Anin mulai bergerak, memijat pundak Askara dengan lembut.
Awalnya Askara yang ingin berdiri dari duduknya mendadak terdiam. dia merasakan otot-ototnya menjadi rileks seperti yang di katakan Anin tadi.
Tanpa sadar Askara memejamkan matanya menikmati setiap pijatan dari Anin.
Anin tersenyum menatap Askara yang menikmati pijatannya.
"Gimana? enak kan?" tanya Anin.
"Hemm" dehem Askara singkat. "Kau pijat lagi kepalaku setelah ini" lanjut Askara ketagihan hingga menyuruh Anin memijat kepalanya juga.
"Baiklah" jawab Anin dengan senyum mengembang.
Bagi Askara, tidak lengkap rasanya menikmati pijatan Anin tanpa sebuah rokok, ia pun mengambil sebatang rokok dan korek untuk memantik api, namun Askara teringat akan sesuatu.
"Kenapa tidak di lanjutkan?" tanya Anin melihat Askara tidak jadi membakar rokoknya.
"Asap rokok tidak baik bagi ibu hamil" jawab Askara membuat Anin tercengang, dari mana Askara tau hal semacam itu? apa Askara mulai mencari tau informasi tentang ibu hamil.
"Dari mana pak Askara tau?"
Askara terdiam sejenak "Aku sering mendengarnya dari orang-orang" alibinya padahal sepanjang membahas pekerjaan dengan Dito tadi, Askara menyempatkan browsing tentang apa-apa saja yang tidak baik bagi ibu hamil, salah satunya adalah asap rokok.
"Ohhhh" mulut Anin membulat, meski begitu dia sudah merasa senang karena Askara seharian ini menunjukkan perhatian-perhatian kecil padanya.
Tangan Ani kembali melanjutkan memijat kepala Askara.
Namun pintu ruangan Askara tiba-tiba terbuaka
"Aniiin kenapa kau lama se..._" Ucapan Sandra terhenti saat melihat Anin tengah memijat kepala Askara. pantas saja Sandra menunggu cukup lama Anin dan Askara keluar untuk makan malam tenyata mereka malah asyik berduaan.
Sandra terkikik geli melihat Anin yang gelalapan serta Askara yang salah tingkah.
"Kalian lanjutkan saja, Mami akan tunggu di luar" ujar Sandra menggoda anak dan menantunya.
Pintu ruangan tertutup "Ya ampun, anak-anak ini sangat menggemaskan" gumam Sandra tersenyum geli.
Anin dan Askara saling menatap setelah kepergian Sandra "Aaa...Aaa..ku akan menyusul Mami keluar" gugup Anin, ia kemudian pamit dari ruangan Askara. wajahnya sekarang sudah memerah akibat malu sudah di pergoki oleh Mami Sandra.
Sedangkan Askara, dia memasang wajah datar. padahal dalam hati dia sedang mendengus kesal karena ulah Maminya.
jgn lupa like komen dan sarannya 🙏🙏
Author mengucapkan Happy Eid Mubarak
Mohon maaf lahir dan batin semua.
Kita bertemu di part selanjutnya setelah lebaran.
__ADS_1