
Pagi telah tiba.
Askara baru saja selesai mandi dan kini sudah siap dengan pakaian santainya.
Dia melihat Anin yang terduduk di atas ranjangnya, tampak sedang kesusahan untuk mengikat rambutnya.
Askara berjalan mendekat "Biar aku bantu" ucap Askara membuat Anin menghentikan gerakannya.
"Memangnya Mas Askara bisa?" tanya Anin memastikan, bahkan kini ikat rambutnya sudah di ambil oleh Askara.
"Aku sudah pernah bilang, aku bisa dalam segala hal" Askara membanggakan diri.
Anin hanya bisa mengulum senyum mendengar penuturan Askara.
Dengan cekatan Askara menyisir rambut Anin menggunakan tangan besarnya, memastikan rambut istrinya itu tertata dengan rapi.
"Mas Askara tidak ke kantor?" tanya Anin di sela-sela aktifitas Askara yang sedang merapikan anak-anak rambutnya.
Matahari sudah meninggi tapi tidak ada tanda-tanda Askara akan berangkat ke kantor.
"Memangnya kau ingin aku berangkat ke kantor?" tanya Askara balik.
Anin terdiam sebentar.
"Aku sebenarnya tidak ingin mas Askara ke mana-mana, tapi mas Askara kan CEO. memangnya tidak apa-apa meninggalkan kantor?"
"Aku punya Dito, dia bisa mengurus semuanya" jawab Askara, dia sudah selesai mengikat rambut Anin.
Tangan Anin terangkat meraba hasil ikatan Askara. dia tersenyum karena Askara melakukannya dengan baik.
"Ternyata mas Askara memang jago, terimakasih" ucap Anin dengan senyum mengembang.
"Aku sudah bilang kan, jadi jangan pernah meragukan ku"
Anin mengangguk di sertai senyum sumringah.
"Sebentar lagi Vivi akan ke sini, jadi lebih baik mas Askara siap-siap ke kantor" ucap Anin kembali ke pembicaraan awal.
"Jangan merepotkan Vivi, bagaimana jika dia sedang ada kuliah?"
"Hari ini jadwal Vivi kosong, jadi dia akan menjagaku sampai mas Askara pulang dari kantor". terang Anin.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan orang lain, Anin". tolak Askara tidak ingin jauh dari Anin.
"Mas, Vivi itu sahabatku. dia bukan orang lain"
Askara menghembuskan nafas pelan. Dia mengalah saja agar Anin merasa tenang.
"Kau yakin tidak papa ku tinggal?"
Anin mengangguk sebagai jawaban "Lagi pula mas Askara akan kembali secepatnya kan?" tanya Anin yang sebenarnya tidak rela Askara pergi ke kantor.
"Tentu"
"Baiklah, aku ganti baju dulu. aku tinggal sebentar, tidak papa kan?" tanya Askara mengusap puncak kepala Anin.
"Hemm" balas Anin singkat.
Dengan berat hati Askara kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Tak lupa Askara menyambar paperbag yang berisi pakaiannya, yang terletak di meja sofa yang di bawa oleh sekretaris Dito semalam.
Tepat setelah Askara hilang di balik pintu kamar mandi, Vivi memasuki ruang rawat Anin dengan membawa kantongan di tangan kanannya.
"Selama pagi Anin sayang" sapa Vivi ceria menghambur memeluk tubuh Anin.
"Gue khawatir banget sama keadaan Lo kemarin" lanjut Vivi dengan wajah sedihnya.
Anin terkekeh mendengar penuturan Vivi.
"Thanks yah Vi, udah bawa gue ke rumah sakit tepat waktu. maaf banget udah ngerepotin Lo" ujar Anin dengan wajah tidak enak.
"Lo ngomong apaan sih, Lo itu bukan cuman sahabat tapi juga keluarga buat gue" ucap Vivi tulus.
"Btw, tebak gue bawa apa?" tanyanya mengangkat kantongan di tangannya.
Anin nampak berfikir "Pasti bubur ayam langganan kita kan"
"Ihh.. kok tau" ucap Vivi kesal.
"Dari tampilannya udah bisa ketebak sih" ujar Anin sudah sangat hafal.
"Gue taro sini yah" Vivi meletakkan bubur ayam yang di bawanya ke atas meja.
"Oh Iyya, keadaan calon ponakan gue gimana?" tanya Vivi mengelus perut Anin yang sudah menyembul di balik pakaian yang di kenakan Anin.
"Berkat Lo, semuanya jadi baik-baik saja" ucap Anin tersenyum.
"Sekarang gue bangga banget sama diri gue sendiri, udah jadi pahlawan buat dua orang sekaligus" Vivi membusungkan dada tersenyum.
Keduanya tertawa bersama.
"Gue kira laki Lo udah berangkat kerja" bisik Vivi pada Anin, mengira Askara sudah pergi.
Vivi menjadi tegang melihat Askara berjalan mendekat. dia memilih duduk di sofa yang terdapat di dalam ruang rawat Anin.
Anin tersenyum mendapati Askara sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Suamiku ganteng sekali" puji Anin namun Askara masih tetap dengan wajah datarnya.
"Sudah mau berangkat?" tanya Anin.
"Hemm" balas Askara singkat.
"Tunggu dulu" Tangan Anin terangkat merapikan dasi Askara dengan tangan yang masih terdapat jarung infus.
"Sudah lebih rapi" ujar Anin puas.
Vivi yang melihat interaksi Anin dan Askara mengembangkan senyum. dia bersyukur mengetahui hubungan Anin dan Askara sudah lebih dekat.
"Hemm" Vivi sengaja berdehem karena tidak kuat melihat pemandangan pagi yang membuat iri hatinya itu.
"Liat-liat dong, ada makhluk jomblo di sini nih" seloroh Vivi membuat Anin terkekeh.
Sedang Askara tidak terganggu sama sekali, dia masih setia dengan wajah datarnya.
"Kau jangan lupa sarapan, maaf tidak bisa menemanimu" ujar Askara buka suara.
"Tidak papa Mas, Vivi membawakanku bubur ayam"
__ADS_1
"No.. kau jangan makan sembarangan dari luar" larang Askara membuat Anin mengerucutkan bibirnya.
"Mas, makanan rumah sakit rasanya tidak enak" protes Anin.
"Kemarin kau bilang rasanya lumayan bahkan menghabiskannya tanpa sisa"
"Itu karena aku merasa sangat lapar" elak Anin.
"Tolong patuh kali ini Anin, lain kali aku janji akan menuruti apapun permintaanmu tapi tidak untuk hari ini" pupus sudah harapan Anin menikmati bubur ayam favoritnya setelah Askara masih bersikukuh melarangnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, aku harus segera berangkat ke kantor. kau baik-baiklah selama aku tinggal ke kantor" ujar Askara mewanti-wanti.
Anin hanya menganggukkan kepalanya lemah. dia masih kesal pada Askara.
"Vi, tolong jaga Anin dengan baik" ujar Askara pada Vivi yang duduk di sofa.
"Eh i-iya" gagap Vivi karena Askara tiba-tiba berbicara padanya.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu pada Anin, kau juga punya nomor sekretaris Dito kan?"
"Iyya" jawab Vivi seraya menganggukan kepalanya .
"Aku berangkat" pamit Askara mencium kening Anin cukup lama.
"Hanya kening?" tanya Anin dengan tatapan menuntut.
Askara tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Anin.
"Seperti ini?" tanya Askara, ******* bibir Anin yang sudah tidak terlalu pucat.
Pagutan bibir keduanya berlangsung cukup lama.
Mengabaikan wajah cengo' Vivi yang menatap adegan panas di depannya dengan perasaan entahlah, Jiwa jomblonya seketika meronta-ronta.
"Oh my eyes" seru Vivi dengan suara kerasnya membuat dua insan yang sedang di mabuk asmara itu melepaskan pagutan mereka.
Wajah Anin memerah menahan malu, dia sampai tidak menyadari jika ada Vivi di dalam ruangan ini.
Dan Askara masih setia dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Ingat!.. sarapanmu adalah makanan dari rumah sakit" Askara kembali menekankan perkataannya.
"Iyya mas"
"Aku berangkat" pamit Askara sekali lagi.
"Hati-hati"
Tubuh Askara kemudian menghilang setelah pintu ruang rawat Anin tertutup.
Anin beralih menatap Vivi yang sudah melayangkan tatapan tajam untuknya.
"Ngapain natap gue kayak gitu?" tanya Anin santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Menurut Lo?" ketus Vivi.
Anin hanya terkekeh mendengar jawaban kesal Vivi.
"Sorry, gue terlalu terbawa perasaan tadi. maklum bumil" ujar Anin.
__ADS_1
Vivi mendengus kesal,membuang wajahnya kasar, jika saja Anin bukan sahabatnya sudah sejak tadi dia meninggalkan ruangan yang penuh dengan hawa panas ini.