Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 50


__ADS_3

"Mas, ini sebenarnya ada apa sih? kita mau kemana?" tanya Anin yang matanya sudah di tutup kain oleh Askara.


Anin di bawa berjalan keluar resort.


"Nanti kau juga akan tau, ikuti saja apa kataku" balas Askara menuntun Anin berjalan agar tidak terjatuh.


"Jangan aneh-aneh yah" peringat Anin.


"Iyya, bawel banget"


Askara akhirnya berhenti setelah mereka sampai di bibir pantai.


Anin bisa mendengar suara deburan ombak, serta terpaan angin malam yang menyentuh kulit tubuhnya.


"Mas, kita lagi di pantai yah?" tanya Anin.


Askara tidak menjawab, dia kemudian membuka penutup mata Anin.


Anin mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


Sejenak Anin terpaku, menutup mulut tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Sebuah candle light diner tersaji indah di depan mata Anin.


Banyak lampu-lampu kecil menggantung mengelilingi tempat tersebut, semakin menambah indah dinner romantis Anin dan Askara malam ini.


"Mas... kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Anin masih dengan rasa terkejutnya.


"Hemm" balas Askara tersenyum.


"Jadi ini alasan kenapa Mas Askara tiba-tiba menghilang?" tanya Anin lagi.


Askara mengangguk.


"Karena aku harus mempersiapkan semua ini, tentunya di bantu oleh orang-orang kepercayaanku" balas Askara.


"Mas..." seru Anin tak percaya, dia merasa sangat bahagia sekaligus terharu mendapati perlakuan Askara yang sangat romantis.


Rasanya Anin ingin menangis saat ini, matanya bahkan sudah berkabut.


"Apa kau akan menangis setelah mendapat perlakuan romantis dariku?" tanya Askara melihat Anin akan meledakkan cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya.


Anin tertawa mendengar ucapan Askara "Mas, aku sedang terharu tau" ujar Anin.


"Nanti saja di lanjutkan, sekarang duduklah" titah Askara menarik kursi untuk Anin.


"Terimakasih, Mas" ujar Anin dengan senyum cerahnya.


Setelah Anin duduk di kursinya, Askara menuju tempat duduknya.


Askara menepuk kedua tangannya, dua orang pelayan dengan setelan rapi, berjalan ke arah meja Askara membawa hidangan makan malam untuk mereka.


Kedua pelayan tersebut menghidangkan menu yang sebelumnya sudah di request oleh Askara, ke atas meja.


"Silahkan menikmati makan malam romantisnya tuan dan nyonya" ujar pelayan tersebut, kemudian pamit dari sana.

__ADS_1


"Mas, kau benar-benar menyiapkan semua ini dengan sempurna" ujar Anin memuji Askara.


"Aku memang jago dalam segala hal" sombong Askara.


Anin mencebikkan bibirnya mendengar perkataan suaminya.


Keduanya memulai makan malam romantis mereka, Anin dengan perasaan bahagianya karena sikap Askara yang sedikit demi sedikit mulai menghangat.


Perasaan Askara sama bahagianya, entah mengapa dia tidak ingin Anin terlihat sedih lagi.


"Aku minta maaf" ujar Askara tiba-tiba.


Anin yang sedang memotong daging di piringnya mendadak terhenti mendengar ucapan Askara.


"Minta maaf untuk apa mas?" tanya Anin bingung.


"Atas perlakuanku di awal pernikahan kita" ujar Askara. dia merasa bersalah pada Anin jika mengingat hal itu.


Anin menatap lekat wajah Askara yang mengisyaratkan penyesalan.


"Kenapa mas Askara tiba-tiba mengatakan itu?" Anin merasa cukup kaget.


"Karena sekarang, aku merasa bersalah padamu. tidak seharusnya aku melakukan hal itu" sesal Askara.


"Mas, aku sudah memaafkan semuanya bahkan sebelum kau meminta maaf. aku juga bisa mengerti perasaanmu saat itu, kita yang awalnya adalah dua orang asing tiba-tiba di persatukan dalam ikatan pernikahan, itu pasti akan sulit untukmu" ungkap Anin.


Tubuh Askara menegang.


"Kenapa? kenapa dengan semudah itu kau memaafkan padahal aku sudah begitu kasar padamu" tanya Askara.


"Dulu kata ayah, kalau kita dengan ikhlas memaafkan seseorang, imbalan yang kita dapat akan jauh berkali-kali lipat bahagianya, memaafkan juga akan menghindari kita untuk memendam kebencian di hati, karena itu tidak akan baik". jelas Anin tersenyum.


Askara terdiam mendengar penjelasan Anin. ternyata walaupun terlahir dari keluarga sederhana. didikan Anin sangatlah baik.


"Mas" seru Anin "Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Anin hati-hati.


"Katakan saja" ujar Askara.


Anin menarik nafas sejenak


"Aku ingin kita menjalani pernikahan ini dengan layak seperti suami istri lainnya. terlepas dari akhir pernikahan kita nanti, aku hanya ingin kita sama-sama merasa bahagia selama menjalani pernikahan ini sebelum akhirnya kita berpisah, mari kita sama-sama membahagiakan satu sama lain" ungkap Anin walau dengan berat hati.


Jauh di lubuk hatinya, Anin ingin pernikahannya bertahan. perasaannya pada Askara makin hari semakin dalam. akankah di akhir cerita nanti, Anin bisa merelakan Askara.


Askara bungkam, apa mungkin ini adalah isi hati Anin selama ini. ada perasaan tidak rela di hati Askara mendengar perkataan Anin tadi mengenai akhir pernikahan mereka.


"Aku setuju, mari kita sama-sama mencoba" ujar Askara akhirnya.


Anin yang deg-degan menunggu jawaban Askara, kini menjadi lega.


"Terima kasih mas" ujar Anin tulus.


"Lanjutkan makan malammu, angin malam semakin dingin. tidak baik untuk ibu hamil berlama-lama di luar" bahkan sekarang Askara sudah tidak sungkan memberikan perhatian pada kehamilan Anin.


"Iyya, mas"

__ADS_1


Keduanya kembali melanjutkan makan malam yang penuh dengan rasa bahagia itu, khususnya bagi Anin.


Askara dan Anin sudah kembali ke resort setelah makan malam romantis tadi.


"Mas, aku mau ganti baju dulu" ujar Anin hendak memasuki ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.


"Anin" seru Askara menahan tangan Anin.


"Kenapa, mas?" tanya Anin.


Sorot mata Askara terlihat berbeda, seolah menuntut sesuatu.


"Ganti bajunya di sini saja" ujar Askara dengan suara berat, tangannya perlahan bergerak melepas kancing dress yang di gunakan oleh Anin.


"Mas..." ujar Anin menahan tangan Askara.


"Kenapa?, aku sangat menginginkanmu sekarang" kini Askara sudah menciumi leher Anin membuat tubuh Anin memanas.


Tanpa meminta persetujuan Anin, Askara mengangkat tubuh mungil istrinya, membawanya ke atas tempat tidur.


Askara melanjutkan membuka kancing baju Anin yang sempat terhenti.


"Mas, tolong hentikan...aku merasa geli" ujar Anin dengan suara seperti menahan sesuatu, saat Askara mulai menjelajah ke bagian sensitif tubuhnya.


Askara tidak mengindahkan permintaan Anin, dia semakin liar bermain dengan kedua buah dada Anin yang semakin berisi.


Askara beralih turun ke perut Anin yang sudah mulai membesar.


Tangan Askara mengelus pelan perut Anin, dia tersenyum hangat mengingat ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam sana.


"Boleh aku menciumnya?" tanya Askara meminta persetujuan Anin.


Anin hanya mengangguk, mulutnya terasa kelu karena perasaannya sudah tak karuan.


Untuk pertama kalinya, Askara mencium lembut perut Anin.


"Tumbulah dengan baik di dalam sana, my son"


gumam Askara, yang berharap anaknya adalah seorang laki-laki agar menjadi penerusnya nanti.


Tidak menunggu lama, Askara segera melakukan penyatuan saat melihat wajah memelas Anin untuk segera di tuntaskan.


Tubuh Anin adalah candu bagi Askara sekarang.


Anin di buat kewalahan untuk mengimbangi permainan suaminya itu yang seperti tidak ada lelahnya.


Seperti sekarang, setelah menuntaskan hasratnya, Askara kembali meminta hak nya pada Anin yang sudah merasa lelah. namun mau tidak mau Anin melayani keinginan suaminya itu, karena Askara juga melakukannya dengan selembut mungkin.


Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Anin dan juga Askara dengan kegiatan panas mereka.



**Dinner romantis ala Askara.


Abis dinner, langsung unboxing yah readers.. hihihi.

__ADS_1


Like, koment, dan vote**.


__ADS_2