
Flashback
Setelah memastikan Dalila benar-benar sudah terlelap, Askara kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu yang mengenakan pakaian cukup minim. selain untuk menghalau dari dinginnya AC kamar, Askara juga melindungi matanya yang merasa risih dengan pakaian yang di kenakan oleh Dalila.
Askara menatap lekat wajah Dalila sejenak sebelum pergi meninggalkannya. wanita itu tak lagi meracau dengan terus memanggil-manggil namanya dan yang membuat Askara cukup terenyuh adalah bagaimana Dalila menyampaikan kerinduannya pada kedua orang tuanya di sela-sela racauannya tadi. pasti wanita itu merasa begitu kesepian selama ini, hidup di dunia yang terasa asing tanpa kehadiran kedua orang tua di sisinya.
Teringat kembali akan Anin yang sudah menunggunya di hotel, Askara memutuskan untuk segera bergegas apalagi Dalila terlihat sudah terlelap karena pengaruh alkohol yang di tenggaknya.
"Jangan tinggalin aku, Askara". suara itu menahan langkah Askara bersamaan dengan pergelangan tangannya di cekal oleh Dalila.
"Dalila? aku kira kau...". Askara terdiam melihat Dalila kini menatapnya dengan tatapan sayu padahal dia kira Dalila sudah benar-benar tidur dan kemungkinan akan bangun besok pagi.
"Jangan tinggalin aku sendirian". Dalila menarik Askara ke dalam pelukannya. Askara bisa merasakan punggung wanita itu bergetar.
"Jangan pergi, aku takut". mohon Dalila kembali di sertai isakan.
Askara berusaha melepaskan pelukan Dalila dari tubuhnya, "Aku harus pergi Dalila, Anin sudah menungguku di hotel dan aku tidak ingin membuat Anin kecewa".
"Apa aku sudah tidak penting lagi di hidup kamu, Askara?. apa aku sudah benar-benar tidak berarti lagi untuk kamu?". racau Dalila menatap Askara lekat-lekat.
Askara mengusap wajahnya kasar, fikirannya semakin gusar saat melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan bahwa dia sudah sangat terlambat dari waktu perjanjiannya dengan Anin.
"Dalila, dengar aku baik-baik!. kau masih berarti di hidupku tapi bukan berarti aku masih menyimpan namamu di hatiku. maaf Dalila, tapi rasa yang dulu sudah kembali ke asalnya saat pertama kali aku mengenalmu yaitu sebagai seorang teman. aku harap kau bisa mengerti bahwa yang aku cintai sekarang adalah Anin, rasa yang aku simpan untukmu dulu sudah usai bahkan sudah tak tersisa. aku tau bahwa ini menyakitkan tapi kau memang harus tau kenyataan ini, Dalila. aku sadar bahwa aku sangat mencintai Anin dan tidak kehilangan dia, kau juga berhak bahagia dengan pria yang lebih baik dari aku". Askara menyampaikan semua isi hatinya yang selama ini mengganjal agar Dalila tidak lagi berharap lebih padanya.
Dalila menunduk sedih mendengar penuturan Askara, "Begitukah?, jadi aku sudah benar-benar sudah tidak ada lagi di hatimu".
"Kita masih berteman, Dalila, tapi tidak untuk menjalin hubungan. beda halnya jika aku tidak pernah bertemu dengan Anin mungkin sekarang perasaanku masih sama".
"Aku yang bodoh, aku sudah menyia-nyiakan perasaanmu dulu dan mungkin ini karma untukku". ujar Dalila terisak
__ADS_1
"Dalila, kita bicarakan hal ini nanti tapi sekarang aku harus pergi. Anin pasti sudah cemas menungguku". masa bodoh dengan tangisan Dalila, tapi Askara harus meninggalkan apartement wanita itu sekarang juga.
"Tunggu!". seru Dalila lagi-lagi menahan langkah Askara.
"Apa lagi, Dalila?". tanya Askara dengan kesal karena lagi-lagi Dalila menahannya untuk pergi.
"Aku ingin menagih janji yang dulu kau ucapkan". ujar Dalila menatap mata Askara.
"Janji?". kening Askara mengkerut, mengingat-ingat janji apa yang pernah dia katakan pada Dalila.
"Saat kau sering mengunjungi ku di panti dulu dan akhirnya kita memutuskan untuk berteman, waktu itu kau pernah bilang akan menjaga dan menuruti apapun permintaanku. tapi sejak saat itu bahkan sampai kita tumbuh besar bersama aku belum pernah meminta hal apapun darimu, Askara. tapi detik ini, aku meminta dan memohon padamu untuk jangan pergi dan tinggalkan aku di sini sendirian".
"Kau gila, ha? Anin sudah menungguku di sana dan aku tidak mungkin membuat Anin kecewa hanya dengan menuruti permintaan konyolmu itu. kau bisa meminta hal lain, tapi tidak dengan menahanku di sini". Askara merasa tidak habis fikir dengan jalan fikiran Dalila, dia pun memutuskan untuk meninggalkan wanita itu, namun saat mencapai ambang pintu, Dalila kembali mengucapkan kata-kata yang berhasil menahannya.
"Aku akan merelakan kau untuk Anin dan aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian berdua". ujar Dalila dengan lantangnya, padahal wanita itu tadinya sedang mabuk berat tapi hal itu entah menguap kemana.
"Temani aku sampai besok pagi, aku hanya minta kau di sisiku untuk yang terakhir kalinya, seperti kau dulu yang selalu ada menenangkan aku di setiap mimpi burukku". pinta Dalila berjalan mendekati Askara.
"Aku mohon untuk yang terakhir kalinya, mungkin permintaanku sangat lancang tapi aku ingin kau menepati janji yang pernah kau buat dulu dan setelah ini aku akan berbesar hati merelakan kau untuk Anin. aku sudah berfikir untuk kembali ke Jerman dan menetap di sana. aku baru saja sadar bahwa tidak ada alasan lagi untuk aku tetap tinggal di sini lebih lama". setelah mendengar jawaban Askara tadi, kini Dalila sadar dan menjadi lebih yakin untuk kembali ke negara asal orang tuanya. karena sejujurnya Dalila kembali dengan harapan Askara masih menyimpan rasa yang sama untuknya tapi nyatanya dia harus menelan kekecewaan mengetahui bahwa Askara sudah menikah karena insiden yang secara tidak langsung dirinya juga adalah penyebab dari semua yang terjadi.
"Minta hal lain, Dalila. aku sudah berjanji pada Anin dan dia pasti sudah menungguku dengan cemas". Askara menolak permintaan Dalila karena dia tentu tidak ingin mengecewakan Anin untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi ini permintaan terakhirku, Askara. kau cinta pada Anin bukan?, maka lakukan ini untuk Anin. aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian atau hadir sebagai orang ketiga jika kau menuruti permintaanku kali ini".
"Kau yakin? apa kata-katamu bisa aku percaya?".
Dalila mengangguk dengan cepat, "Aku tidak pernah mengingkari janjiku".
Ya, Askara sangat amat betul mengenal Dalila. wanita itu tidak akan pernah ingkar janji atau lalai dengan perkataannya.
__ADS_1
Askara tidak lagi membalas perkataan Dalila tapi dengan kembalinya pria itu duduk di sofa yang di tempatnya tadi, sudah cukup menjelaskan bahwa dia setuju untuk menemani Dalila sampai besok pagi. hanya menemani tapi tidak dengan melakukan hal yang di luar batas karena Askara terlihat menjaga jarak dengan hanya tetap duduk di sofa.
"Maafkan aku, Anin". batin Askara
Dalam hati Askara mengucap maaf beribu kali pada Anin. untuk kesekian kalinya dia harus mengecewakan istrinya lagi. tapi keputusan ini dia ambil demi Anin juga dan Askara berharap semoga Anin masih mau memaafkannya untuk kali terakhir ini.
Flashback off
Sampai akhir cerita, Anin mendengarkan dengan seksama tanpa menyela pembicaraan Dalila. mengetahui yang sebenarnya terjadi tapi di saat hubungannya dengan Askara sudah merenggang hingga menyisakan lubang besar yang menganga. apa mungkin bisa utuh kembali?
"Percaya sama aku, Nin. Askara itu benar-benar cinta sama kamu dan malam itu dia ngga ada niatan sama sekali buat ngga datang. itu semua salah aku karena ngasih Askara pilihan yang sulit dengan mengatasnamakan kamu. dia ngelakuin itu semua karena aku udah janji ngga bakalan ganggu hidup kalian berdua asal dia mau nemenin aku untuk yang terakhir kalinya. dan sumpah, di antara kita berdua tidak pernah terjadi hal-hal seperti yang kamu pikirkan". jelas Dalila akan yang sebenarnya terjadi setelah menceritakan fakta yang ada.
Anin tersenyum kecut, sekalipun dia tau fakta yang sebenarnya terjadi itu tidak akan merubah keputusannya.
"Tapi semuanya sudah terlambat" ujar Anin membaut Dalila menatapnya bingung.
"Apa maksud kamu, Nin?".
"Kau sudah selesai kan? silahkan pergi dari sini". Anin enggan menanggapi pertanyaan Dalila.
"Anin, tunggu dulu. apa maksud perkataanmu itu".
"Tolong pergi dari sini, pintu terbuka lebar". usir Anin terang-terangan.
"Aku akan pergi, tapi tolong kasi Askara kesempatan terakhir". pinta Dalila terakhir kalinya sebelum pergi dari rumah Anin.
Anin diam tak menjawab, memilih melangkahkan kakinya meninggalkan Dalila di ruang tamu seorang diri.
Dalila menghela nafas panjang, lega karena sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Anin tapi juga merasa bersalah akan nasib rumahtangga Anin dan Askara. apalagi raut wajah Anin yang begitu tenang dan dingin hingga dia sendiri tidak bisa menafsirkan apa yang di rasakan oleh Anin saat ini setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
__ADS_1