
"Kak..". ujar Anin, membuat Doni menghentikan kursi roda Anin.
Posisi mereka sudah berada di depan ruangan Ambar dengan pintu ruangan yang masih tertutup rapat.
"Kenapa, Nin?". tanya Doni.
"Aku takut kak Ambar akan marah dan kecewa, selama ini aku sudah berbohong padanya". tersirat rasa bersalah di hati Anin.
"Kau tidak perlu takut Nin, apa yang kau fikirkan itu tidak akan pernah terjadi". ujar Doni menyingkirkan kegelisahan Anin.
"Sekarang kita masuk, Kak Ambar pasti senang melihatmu ada di sini".
Dengan penuh keyakinan, Anin akhirnya mengangguk.
"Iyya kak".
Tangan Doni segera terangkat untuk mengetuk pintu ruangan Ambar.
Tok..tok..tok.
"Iyya.. Masuk". seru Ambar dari balik ruangannya.
Anin semakin gugup saat mendengar sahutan Ambar dari dalam ruangannya.
Perlahan Doni memutar handle pintu. terlihat Ambar yang sedang fokus pada layar tab di depannya, entah sedang mengerjakan apa.
"Permisi kak". ujar Doni menarik perhatian Ambar dari layar tab nya.
Ambar tertegun sebentar saat melihat kehadiran Anin di sini. dia segera berdiri dari kursinya.
"Anin.. kau di sini? kapan kau datang?". tanya Ambar antusias.
"Ayo sini masuk". ajaknya lagi.
Anin meringis kecil melihat wajah senang Ambar yang menyambut kedatangannya.
Doni mendorong masuk kursi roda Anin. kemudian duduk di salah satu kursi yang terdapat di dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ambar.
"A-aku baik-baik saja Kak". jawab Anin terbata.
"Kau kenapa gugup begitu?". tanya Ambar.
Anik menarik nafas sejenak "Kak, kedatangan aku ke sini karena mau menemui kak Ambar dan juga kak Doni". ujar Anin menatap Ambar dan Doni secara bergantian.
"Aku mau minta maaf sama kalian, juga teman-teman yang ada di sini. selama ini aku sudah berbohong mengenai kehamilanku, aku menyembunyikan semuanya padahal kalian sudah sangat baik padaku". terang Anin dengan wajah sendunya.
Ambar meraih tangan Anin.
"Kau tidak perlu meminta maaf, kakak sama sekali tidak marah hanya saja cukup kaget. kenapa kau mau menanggung masalah ini sendiri dan tidak mau menceritakannya pada kami".
"Maaf kak, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian semua". ujar Anin.
"Ini semua salah kakak, Nin". ujar Doni yang sedari tadi menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa bersalah yang terus memenuhi fikirannya.
Anin menatap Doni yang tengah tertunduk menggenggam kedua tangannya.
"Kak, ini bukan salah kak Doni. ini udah takdir aku kak. semuanya sudah aku terima dengan ikhlas". ujar Anin
Doni mengangkat kepalanya dan menatap Anin.
"Tetap saja Anin, andai waktu itu kakak tidak mengalihkan tugas kakak padamu, pasti kau bisa berkuliah dengan baik sekarang bersama Vivi". sesal Doni.
Anin menggelengkan kepalanya. "Aku bisa melanjutkan semuanya setelah melahirkan nanti kok, kak Doni tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Tapi siap-siap saja aku repotkan nanti". ucap Anin sambil terkekeh di akhir kalimatnya.
"Kapanpun kau butuhkan bantuan kakak, jangan sungkan untuk bicara". Doni mengelus lembut puncak kepala Anin.
"Siap, kak". ujar Anin tersenyum.
"Udah acara melow-melownya?". tanya Ambar merasa seperti sedang menonton drama.
Anin dan Doni kompak terkekeh mendengar ucapan Ambar.
"Kak Ambar ganggu suasana sedih aja deh". gerutu Doni.
"Ohh.. udah berani kamu yah sama kakak". ujar Ambar yang tentunya hanya bercanda.
"Mana berani aku, nanti nggak dapat bonus lagi". ujar Doni.
Namun bukannya tegang, ketiganya justru tertawa membuat suasana yang tadinya sendu menjadi ceria karena senda gurau dari Doni dan juga Ambar.
Suasana seperti ini yang Anin rindukan karena dirinya yang sudah tidak di perbolehkan untuk bekerja lagi oleh Askara.
__ADS_1
Sekitar dua jam Anin berada di toko kue untuk melepas rasa rindu sekaligus berpamitan pada Ambar dan yang lainnya karena dirinya harus berhenti bekerja.
"Anin, jangan lupa selalu main ke sini yah". ujar Ambar sebelum Anin keluar dari toko kuenya.
"Iyya kak, asal kalian jangan bosan di kunjungi sama aku". balas Anin.
"Hati-hati yah, Nin". ujar Fika
"Jaga kesehatan, hubungi kakak jika kau butuh bantuan". kini giliran Doni berpesan.
"Terimakasih semuanya. kalau begitu aku pamit". ujar Anin.
Ketiganya mengangguk tersenyum.
"Ayo Mia".
"Iyya Nona".
Anin akhirnya meninggalkan toko kue Ambar.
"Mia, aku belum mau pulang ke mansion". ujar Anin yang sudah berada di dalam mobil.
"Tapi Nona, anda tidak boleh terlalu lama beraktifitas di luar".
"Aku tiba-tiba kangen Mas Askara". ujar Anin dengan bibir bergetar, dia ingin menangis karena tiba-tiba merindukan Askara.
Persis seperti anak kecil yang tengah kehilangan mainan.
"Aduh Nona, saya minta maaf". Mia panik karena air mata Anin sudah mengambang di pelupuk matanya.
Ibu hamil memang sangatlah sensitif.
"Kita ke kantor Mas Askara yah?" tanya Anin dengan suara tertahan.
"Memangnya tidak papa Nona?, tuan Askara kan menyuruh nona istirahat di rumah".
"Aku ingin memberi suprise untuk Mas Askara".
Mia tampak berfikir, permintaan Anin selalu saja bertentangan dengan perintah Askara.
"Kau khawatir Mas Askara akan marah padamu?" tanya Anin.
Mia mengangguk, dia takut kehilangan pekerjaannya apalagi gaji yang di tawarkan Askara padanya jumlahnya cukup besar.
"Kau tidak perlu khawatir, percaya padaku. Mas Askara tidak akan marah atau memecatmu". terang Anin menenangkan Mia. dia mengerti kegelisahan Mia.
"Baiklah Nona". pasrah Mia.
"Pak, kita ke kantor mas Askara yah" seru Anin pada Hilman yang sedang menyetir mobil.
"Baik, Non".
Pak Hilman melajukan mobil menuju kantor Wira's Grup sesuai permintaan Anin.
Hati Anin rasanya begitu senang, dia betul-betul merindukan Askara, entah kenapa. mungkin ini bawaan bayinya.
Tak berselang lama, mobil akhirnya sampai di depan gedung dengan bangunan megah dan menjulang tinggi.
Anin menatap lekat bangunan tersebut, terhitung ini baru kali kedua Anin mengunjungi kantor Askara, selepas waktu dia menuntut pertanggungjawaban Askara pada saat itu.
Mia lagi-lagi membantu Anin turun.
"Nona yakin akan masuk?" tanya Mia ragu saat Anin sudah duduk di atas kursi rodanya.
Anin yang tiba-tiba merasa gugup mau tidak mau mengangguk mantap.
"Aku yakin Mia, kita sudah di sini. tidak mungkin kan kita pulang lagi? lagi pula aku ingin sekali bertemu Mas Askara". ujar Anin.
"Baiklah Nona". Mia mendorong masuk kursi roda Anin memasuki gedung berlantai puluhan tersebut.
Hal pertama yang Anin dapati saat memasuki kantor Askara adalah tatapan dari beberapa pegawai yang berada di sana.
Mereka menatap intens Anin, terlebih keadaannya yang sedang duduk di atas kursi roda.
Jantung Anin menjadi berdetak lebih kencang saat tiba-tiba menjadi pusat perhatian orang-orang yang bekerja di perusahaan Askara.
Tapi Anin berusaha untuk tidak peduli, dia mengarahkan Mia untuk mendekat ke arah meja resepsionis.
"Permisi kak". ujar Anin pada Tari.
Anin masih ingat betul karena beberapa bulan lalu mereka pernah berdebat di sini, lebih tepatnya Vivi.
"Iyya.. maaf ada yang bisa saya bantu?". tanya Tari ramah namun menatap lekat wajah Anin.
__ADS_1
Tari mengerutkan kening "Tunggu dulu, wajahmu seperti familiar". lanjut Tari mencoba mengingat-ingat wajah Anin.
Anin menggigit bibir bawahnya saat melihat raut wajah Tari yang mencoba mengingatnya.
"Ahhh .. kau yang pernah datang beberapa bulan yang lalu bersama temanmu kan?". tebak Tari beralih menatap Mia yang setia berdiri di belakang Anin.
Kali ini Anin datang dengan orang yang berbeda, bukan dengan orang yang pernah adu mulut dengannya.
"I-iyya kak". balas Anin gugup.
"Ada perlu apa lagi kau ke sini?" tanya Tari dengan wajah yang sudah berubah tidak ramah lagi.
"Bisakah anda bicara lebih sopan pada Nona Anin, dia ini istri tuan As_..."
"Saya ingin bertemu dengan tuan Askara". ujar Anin cepat.
Mia yang hendak memberitahu Tari bahwa Anin adalah istri dari CEO Wira's grup menjadi terhenti karena ucapannya di potong oleh Anin.
"Nona, kenapa tidak beritahu saja resepsionisnya. Nona kan istri tuan Askara". ucap Mia berbisik pada Anin.
"Tidak perlu Mia". balas Anin.
Tari memperhatikan Anin dan Mia yang tengah berbisik.
"Hemm.. jika kalian berdua tidak ada urusan penting, silahkan pergi dari sini". usir Tari pada Anin dan Mia.
"Maaf kak, tapi saya betul-betul ingin bertemu dengan tuan Askara". kekeh Anin.
"Tuan Askara sedang sibuk, dia sedang ada rapat penting. jadi lebih baik kau pergi dari sini". ucap Tari dengan tatapan mencemooh kondisi Anin yang sedang duduk di atas kursi roda.
Mia semakin emosi melihat tingkah resepsionis di depannya ini.
Tapi lagi-lagi Anin menahannya untuk tidak membuka suara.
"Kalau begitu panggilkan saja sekretaris Dito". ujar Anin.
Tari menghembuskan nafas kasar, Anin sangat keras kepala. fikir Tari.
"Baik tuan Askara maupun sekretaris Dito semuanya sedang sibuk. jika telingamu masih berfungsi dengan baik silahkan pergi dari sini".
"Jaga ucapan anda Nona jika masih ingin bekerja di perusahaan ini". ujar Mia sinis.
Mia tidak bisa menahan gejolak amarah melihat tingkah angkuh resepsionis di depannya ini yang merendahkan Anin.
Tari tertawa sumbang mendengar ancaman Mia.
"Memangnya kau siapa mengancam ku seperti itu. aku yakin kalian ke sini pasti ingin meminta sumbangan kan?. orang-orang seperti kalian sudah banyak yang pernah mendatangi kantor ini dengan kedok yang sama". Tari terus mencemooh Anin dan juga Mia.
"Aku ke sini tidak untuk meminta sumbangan kak, aku hanya ingin bertemu dengan tuan Askara".
Tari terus tersenyum mengejek.
"Lebih kalian berdua pergi dari sini".
"Pak satpam..tolong bawa mereka berdua keluar". teriak Tari menarik kembali perhatian orang-orang yang berada di sana.
Seorang satpam datang mendekat saat mendengar teriakan tari.
"Ada pa Bu Tari?" tanya satpam tersebut.
"Bawa mereka berdua keluar". perintah Tari.
"Baik Bu".
Anin menggeleng "Pak, tolong jangan bawa saya keluar saya ingin bertemu dengan mas Askara". ujar Anin menahan satpam tersebut.
"Pak, jaga sikap anda pada Nona muda saya". peringat Mia.
Satpam tersebut tidak menghiraukan perkataan Mia dan Anin.
"Maaf, tapi jika kalian tidak punya kepentingan di sini silahkan keluar". usir satpam tersebut.
"Pak.. saya tidak mau keluar dari sini". kekeh Anin.
Akhirnya terjadi kekacauan di lantai satu, Anin dan Mia menjadi pusat perhatian orang-orang.
Hingga pada akhirnya Askara dan juga sekretaris Dito keluar dari lift khusus CEO dan melihat kekacauan yang terjadi di lobi.
Askara membulatkan mata terkejut melihat Anin dan Mia yang di paksa keluar oleh salah seorang satpam.
Begitupun dengan sekretaris Dito, dia tak kalah terkejut saat melihat Anin dan Mia berada di lobi perusahaan tengah di seret paksa keluar.
Askara mengepalkan tangannya menahan emosi melihat Anin di perlakukan seperti itu di depan matanya.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu dari istriku". teriak Askara menggelegar mengisi seluruh penjuru ruangan lobi yang mendadak hening karena mendengar teriakan Askara.