Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 139


__ADS_3

Vivi yang mendapat kabar bahwa Anin sudah siuman langsung menuju rumah sakit setelah perkuliahan nya selesai. Vivi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa kembali melihat sahabatnya itu.


"Gue khawatir banget sama keadaan Lo kemarin tau ngga". ujar Vivi melepas pelukannya dari tubuh Anin.


"Maaf ya gue udah banyak ngerepotin orang-orang, termasuk Lo". ujar Anin dengan wajah sedihnya.


"Lo sama sekali ngga pernah ngerepotin gue, Nin. yang terpenting sekarang Lo udah siuman dan itu artinya Lo ngga akan ninggalin gue".


"Ya ngga mungkin lah, kita kan udah janji bakalan hidup menua sama-sama. gue juga belum liat Lo nikah jadi hal itu ngga akan mungkin terjadi".


Vivi kembali memeluk tubuh Anin karena terlampau bahagia.


Mami Sandra dan Bu Risa tersenyum simpul melihat begitu eratnya hubungan persahabatan antara Vivi dan Anin.


"Pelukannya udahan dulu ya, kan katanya mau ketemu si dedek bayi". ujar Mami Sandra mengingatkan.


"Ah Iyya, Lo pasti belum ketemu bayi Lo kan?". tanya Vivi baru sadar karena terlalu larut dalam kebahagiaannya.


Anin tersenyum, "Tolong anter gue ya, Vi. gue udah ngga sabar mau ketemu anak gue".


"Dengan senang hati, Nin".


Vivi lalu membantu Anin untuk duduk di kursi roda.


"Lo udah siap?". tanya Vivi yang di balas anggukan antusias dari Anin.


Vivi pun mendorong kursi roda Anin menuju ruangan bayi di ikuti oleh Mami Sandra dan juga Bu Risa di belakangnya.


Sesampainya di ruangan bayi, air mata Anin tak henti-hentinya jatuh saat untuk pertama kalinya dia bisa melihat wajah bayinya yang tertidur lelap di dalam tabung inkubator.


Hari yang di tunggu-tunggu Anin selama ini akhirnya datang juga, dia sudah resmi menyandang status ibu meskipun proses kelahiran anaknya terbilang cukup tragis.

__ADS_1


"Hai jagoan Bunda". sapa Anin pada bayi mungilnya, dan untuk panggilannya sendiri, Anin memutuskan ingin di panggil Bunda oleh anaknya nanti.


"Bunda lama ya, nak?, maaf ya Bunda baru bisa jengukin kamu". Anin mengajak bayinya mengobrol meskipun dia sendiri tak bisa membendung air matanya.


Satu hal yang membuat Anin semakin sedih adalah karena wajah putranya yang begitu mirip dengan Askara. Anin jadi kembali teringat bagaimana awal pernikahan mereka yang bahkan kehamilan nya sendiri sempat tidak di akui oleh Askara.


"Bunda janji ngga akan ninggalin kamu sendiri lagi sayang, Bunda akan selalu ada di sisi kamu mulai sekarang". lanjut Anin memikirkan kemungkinan besar hidupnya tidak akan sama lagi setelah kejadian ini.


Mami Sandra buru-buru menghapus sudut matanya yang tiba-tiba berair melihat pertemuan antara Anin dan bayinya. perasaan bersalah kembali menyelimuti Mami Sandra, betapa brengseknya Askara selama ini karena sudah menyakiti perempuan sebaik dan selembut Anin.


"Sayang, sekarang kau beri nama bayimu, ya. katanya tadi kau ingin memberi dia nama. siapa nama bayimu, sayang?". tanya Mami Sandra memecah suasana sedih.


Anin menatap lekat-lekat wajah bayinya yang tertidur begitu nyenyak, "Namanya Zavier Rajendra ___". Anin menggantung perkataannya, karena nama yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari itu adalah nama pilihan dirinya bersama Askara. dan di ujung nama bayinya tersebut adalah nama Askara sendiri, yang entah kenapa tidak sanggup dia sebutkan.


Mami Sandra dan Bu Risa saling tatap, begitupun dengan Vivi yang menunggu kelanjutan dari nama anak Anin.


"Zavier Rajendra...?". ulang Mami Sandra menunggu kelanjutan nama lengkap anak Anin.


Semua yang berada di sana pun akhirnya mengerti kondisi Anin yang tidak ingin mengingat Askara karena sama saja mengingatkan Anin kembali dengan kecelakaan tersebut.


"Nama yang bagus sekali, nak. semoga Jendra bisa tumbuh menjadi anak yang kuat seperti kamu dan bisa melindungi kamu nantinya". ujar Bu Risa.


"Iyya, bu". balas Anin, "dan juga aku masih mau di sini, kalau Mami dan ibu mau istirahat silahkan kembali ke kamar Anin. aku masih kangen sama Jendra". tutur Anin masih ingin berada di sisi anaknya.


Mami Sandra dan Bu Risa mengerti dengan keinginan Anin. mereka juga tidak bisa memaksa Anin untuk segera kembali ke kamarnya.


"Baiklah, nak. kalau begitu ibu dan Bu Sandra menunggu di ruangan mu ya. dan jangan terlalu lama karena kau juga masih butuh banyak istirahat". pesan Bu Risa.


"Iyya bu".


****

__ADS_1


Selepas mengantar Anin menemui bayinya, kini Mami Sandra kelimpungan mencari keberadaan Askara yang tidak lagi terlihat semenjak di usir oleh Anin dari kamar rawatnya.


Mami Sandra bahkan sudah berkali-kali menghubungi nomor Askara tapi tidak aktif. lelah mencari di seluruh penjuru rumah sakit, Mami Sandra akhirnya menemukan Askara yang duduk seorang diri taman rumah sakit.


Mami Sandra sangat amat mengenali Askara meskipun posisi putranya itu sedang duduk membelakangi nya.


"Ternyata kau di sini". ujar Mami Sandra duduk di samping Askara, "Mami cari kamu ke mana-mana dan kenapa nomor kamu tidak aktif?". cecar Mami Sandra.


"Aku fikir aku sudah tidak penting lagi di hidup Mami". ujar Askara dengan kepala yang terus menunduk.


Mendengar perkataan Askara refleks membuat Mami Sandra memukul pundak putranya itu.


"Kau ini benar-benar bodoh atau apa, hah?. kau itu anak Mami satu-satunya tapi karena kau sudah melakukan kesalahan fatal makanya Mami mau kau menyadari kesalahanmu itu".


"Aku sudah menyadarinya, Mi. tapi mau aku menyesal bagaimanapun keadaan tidak akan kembali seperti semula".


"Anin sudah bertemu dengan anak kalian". tutur Mami Sandra membuat Askara mengangkat wajahnya.


"Kenapa Mami baru datang dan bilang sekarang, sih?". kesal Askara karena dia juga ingin melihat anaknya bersama dengan Anin.


"Lalu kau mau apa?, kau ingin ikut ke sana dan merusak kebahagiaan Anin, begitu?. bahkan untuk menyebut nama mu saja Anin sudah tidak sudi lagi".


Askara tersenyum kecut, "Apa Anin sudah memberi nama untuk anakku, Mi?".


"Hemm, tapi Anin enggan untuk menyebutkan nama lengkapnya".


"Zavier Rajendra Askara Wira, itu nama lengkap anakku, Mi". ungkap Askara membuat Mami Sandra terdiam dan menatap putranya yang terlihat memprihatinkan, "Itu adalah nama pemberianku bersama dengan Anin".


Punggung Askara mulai bergetar, padahal sudah sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menangis tapi tetap tidak bisa dia lakukan.


"Anin pasti benci banget sama aku, Mi". Askara terisak membuat Mami sandra segera menarik puteranya itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Mami memang marah dan sangat kecewa atas perbuatanmu, tapi anggaplah semua ini adalah konsekuensi nya dan jika kau ingin kembali hidup bersama Anin maka mungkin kau harus bekerja lebih keras lagi sekarang untuk kembali menaklukkan hati Anin". semarah apapun Mami Sandra pada Askara, tapi di dalam tubuh Askara mengalir darahnya dan tidak di pungkiri bahwa dia juga kasihan pada anaknya itu. tapi untuk setiap keputusan yang akan di ambil oleh Anin, Mami Sandra hanya bisa mendoakan semoga hubungan keduanya baik-baik saja.


__ADS_2