Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 18


__ADS_3

Askara hanya bisa menundukkan kepala saat Mami nya baru saja menceramahi nya habis-habisan.


Yah, Askara sudah menceritakan semuanya, tentang bagaimana pertemuannya dengan Anin hingga berakhir menghamili wanita itu.


Sikap dingin dan arrogantnya tidak berlaku jika sudah berhadapan dengan Sandra.


Suara pintu apartemen terbuka mengalihkan perhatian Sandra.


Anin berjalan masuk dengan perasaan sedikit ragu, dapat dia lihat Askara hanya menundukkan kepa di samping wanita paruh baya yang di yakini adalah Mami Askara.


Askara mengangkat kepala saat menyadari kehadiran Anin.


Tatapannya datar.


Sandra memperhatikan Anin dari atas sampai bawah.


Membuat Anin berdiri dengan tidak nyaman.


Ternyata gadis ini masih sangat muda, cara berpakaiannya pun terbilang sangat sederhana.


"Duduklah" perintah Sandra dingin pada Anin.


Untuk pertama kalinya Anin mendengar suara Mertuanya.


Anin duduk di sofa yang berseberangan dengan Mami Sandra dan Askara.


"Siapa namamu?" tanya Sandra masih dengan ekspresi datar.


Anin meremas celana kainnya, gugup.


"Embun Anindira Tante, panggilannya Anin"


Sebisa mungkin Anin bersikap tenang.


"Usiamu?"


"20 tahun Tante"


Seperti dugaannya, Anin memang masih sangat muda.


"Di mana orang tuamu?"


"Ibuku di Bandung, sedangkan ayahku sudah meninggal satu tahun yang lalu" jawab Anin.


Sandra terdiam sebentar saat mengetahui jika ayah Anin sudah meninggal.


"Kau kuliah atau bekerja?.


Terdiam sebentar.


"Tadinya saya kuliah, tapi sudah tidak lagi"


"Kenapa?" tanya Sandra.


Anin sempat melirik Askara yang sedari tadi hanya diam.


"Itu karena_


"Karena kau hamil?" Sandra sudah lebih dulu memotong ucapannya.


Membuat Anin tercekat.


Sandra mengeluarkan box susu ibu hamil yang di sembunyikan di belakangnya.


"Ini punyamu kan?"


Tanyanya meletakkan box susu di atas meja.


Anin menatap Sandra dan Askara secara bergantian.


sedari tadi Askara tidak membuka suara sama sekali.


Anin mengangguk pelan "Maafkan aku" sesalnya.


Mengambil box susu ibu hamil di depannya.


"Apa orang tuamu tau kau hamil dan sudah menikah?".


Pertanyaan Sandra kali ini membuat Anin menunduk diam.


Sandra menghela nafas, mengalihkan wajahnya.

__ADS_1


Detik berikutnya..


Bukk..bukk..buk..buk.. Sandra tiba-tiba memukul lengan Askara menggunakan box susu tersebut.


"Jadi ini alasan kamu menghindar dari Mami hah?, kau menghamili anak orang, membawanya tinggal di apartement bahkan kau menikah secara diam-diam tanpa memberitahu Mami, kau memang anak durhaka Askara"


Habis sudah kesabaran Sandra pada anak semata wayangnya itu.


Ini juga dia jadikan ajang balas dendam karena Askara yang selalu mengabaikan telfonnya selama dia di Inggris.


"Aww.. Mami..sakit.. aww..stop Mami, kenapa Mami memukul ku?" Teriak Askara kesakitan, berusaha menghindari pukulan brutal maminya yang tiba-tiba.


Anin menutup mulutnya kaget melihat aksi dari mami Askara.


Anin ingin berdiri menolong Askara tapi di tahan oleh Sandra.


"Jangan berani-berani membantunya, anak ini memang harus di beri pelajaran" ucap Sandra menggebu-gebu.


Kekesalannya selama ini benar-benar dia lampiaskan.


"Maaamiiii stop... aww..stop Mi. iyya..iyya..Askara ngaku salah" ucapnya frustasi, badannya sudah terasa remuk.


Anin menatap ngilu, ternyata Mami Askara bisa bersikap brutal juga.


"Tante, sudah yah. kasihan pak Askara" ucap Anin melihat Askara meringkuk di sofa menutupi wajahnya dengan kedua tangan agar tidak terkena pukulan Sandra.


Sandra menghentikan aksinya, nafasnya terengah-engah.


"Kenapa kau membelanya, dia pantas mendapatkan ini, lelaki tua ini sudah menghancurkan masa depanmu" sinis Sandra menatap Askara.


Aksara merengut tidak terima dengan ucapan Mami nya " Siapa yang Mami sebut lelaki tua?"


"Kau lah" balas Sandra nyelekit.


"Mi, aku ini pria matang. bukan pria tua" protes Askara.


"Diamlah, tidak usah banyak bicara" bantah Sandra.


Askara mengelus lengannya.


"Kenapa, sakit?" tanya Sandra masih dengan perasaan dongkol.


"Ya sakitlah Mi" gerutu Askara.


"Mi, berhenti memanggilku lelaki tua" kesal Askara menatap tajam Mami nya.


"Berhenti merengek, rival bisnis mu pasti akan tertawa melihat CEO Wira's Grup yang terkenal dingin, arrogant, kejam tapi lembek jika melawan Mami nya" ejek Sandra.


"Mi..." peringat Askara, dia beralih menatap Anin yang sedari tadi hanya diam.


Askara yakin Anin pasti diam-diam sedang menertawakan dirinya di dalam hati.


Kesal, Askara mencebikkan bibir seperti anak kecil yang kehilangan permennya.


Anin menatap interaksi antara ibu dan anak di depannya.


Ini adalah pemandangan yang sangat langka baginya. selama menikah dengan Askara dia tidak pernah melihat Askara ciut dan sangat menurut pada Maminya.


Berbeda 180 derajat dengan Askara yang dia kenal dingin dan arrogant.


Sandra beralih menatap Anin.


"Mendekatkah" pinta Sandra menepuk ruang kosong di sampingnya.


Anin menatap Sandra sejenak, terbersit rasa takut dalam dirinya.


"Kau tidak perlu takut, sini. mendekatkah" pinta Sandra kembali.


Anin berdiri dari duduknya, mendekat dan duduk di samping Sandra.


"Kau pindah sana" usir Sandra pada Askara ke tempat yang duduki Anin tadi.


Tidak berniat protes, Askara pun pindah.


Tatapan Sandra yang tadinya dingin kini berubah menjadi tatapan hangat.


Sandra meraih kedua tangan Anin, menggenggamnya lembut.


Anin menatap tangannya yang di genggam Sandra.


"Atas nama Askara, Mami minta maaf padamu. karena Askara kau harus kehilangan masa depanmu, di usiamu yang masih sangat muda kau juga sudah harus mengandung, sekali lagi Mami minta maaf" ucap Sandra tulus , tersirat rasa bersalah di matanya.

__ADS_1


Hati Anin mencolos "Tante tidak perlu minta maaf. semua juga sudah terjadi, insyaAllah Anin berbesar hati menerima semuanya".


Sandra mengelus lembut lengan Anin.


"Jangan panggil tante yah, panggil aku Mami Sandra, seperti Askara memanggilku. mulai sekarang Mami akan berusaha menerimamu sebagai menantu, bagaimanapun kau sedang mengandung cucuku. Mari kita saling mengenal lebih dekat" ucap Sandra tersenyum lembut.


Askara membulatkan mata mendengar perkataan Maminya, semua perkiraannya ternyata salah.


Ah sial, Askara akan semakin susah untuk berpisah dengan Anin nantinya.


"Terimakasih banyak Mi" Anin segera memeluk Sandra dan menangis terharu, ternyata benar kata sekretaris Dito, Mami Sandra adalah orang yang sangat baik.


Sandra membalas hangat pelukan Anin, ternyata begini rasanya mempunyai anak perempuan.


Pertama kali melihat Anin, hati Sandra langsung merasa tertarik pada gadis itu.


Hatinya yakin Anin adalah wanita yang baik dan juga lembut terlihat dari wajahnya.


Dia pasti bisa merubah Askara dan membuatnya melupakan orang yang sudah meninggalkannya.


Itulah misi Sandra.


Askara yang tadinya ingin protes pada mami nya urung melakukannya.


Hatinya merasa tercubit melihat interaksi Anin dan mami nya.


Apakah perlakuannya pada Anin selama ini sudah keterlaluan?


Keduanya mengurai pelukan mereka.


"Sudah yah, jangan menangis. ibu hamil tidak boleh sedih dan stress" Sandra menghapus air mata Anin.


Anin tersenyum hangat, perasaan sedihnya karena perlakuan Askara terbayar dengan kehadiran Mami Sandra.


"Ngomong-ngomong, berapa usia kandunganmu?" tanya Sandra menatap perut Anin yang masih rata.


"Aku belum tau pasti Mi, aku belum pernah memeriksakan kandunganku" jawab Anin jujur, melirik takut Askara sekilas lewat ekor matanya.


Sandra kaget mendengar pernyataan Anin.


"Askara tidak pernah membawamu ke dokter?" tanya Sandra


Anin menggeleng lemah


Sandra menatap tajam Askara yang asik dengan ponselnya.


Askara mengangkat wajahnya karena merasa di tatap.


"Ada apa lagi Mi?" tanya Askara jengah.


"Kau ini suami macam apa hah, kenapa tidak pernah membawa istrimu memeriksakan kandungannya" kesal Sandra.


"Aku sibuk" singkat Askara.


Sandra mendengus, kembali menatap Anin.


"Besok kau ikut mami ke rumah sakit, kita periksa kandunganmu bersama-sama. dan kau Askara, harus ikut bersama kami" ucap Sandra tidak ada bantahan.


"Tapi Mi, aku ada meeting penting besok" alasan Askara.


"Batalkan semuanya, tidak ada yang lebih penting dari pada istri dan calon anakmu"


"Tapi Mi_ "Askara hendak protes


"Tidak ada tapi-tapian Askara, dan mulai malam ini kalian berdua harus ikut tinggal bersama mami di mansion. Mami akan tinggal di sini sampai Anin melahirkan, dan kali ini Mami tidak menerima penolakan" tegas Sandra.


Askara kaget dengan keputusan Mami nya, sudah sekitar satu tahun dia tidak pernah menginjakkan kakinya di sana.


"Aku tidak mau" tolak Askara


Sandra menatap tajam Askara " Kau tidak dengar hah, mami tidak menerima penolakan"


"Kau mau kan tinggal bersama mami di mansion?" tanya Sandra pada Anin.


Anin di lema, tapi di satu sisi mungkin ini adalah kesempatannya untuk bisa lebih dekat dengan Askara.


Anin mengangguk lemah mengiyakan permintaan Mami Sandra.


Askara kesal mendapati jawaban Anin, dia berdiri dari duduknya dan berjalan memasuki kamarnya.


Anin menatap kepergian Askara dengan raut sedih. Sandra menyadari itu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu khawatir, Askara biar Mami yang urus" Sandra menenangkan Anin .


"Terimakasih banyak Mi" ucap Anin tulus.


__ADS_2