Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 147


__ADS_3

"Sedang apa mas Askara di sini?". tanya Anin dengan wajah datarnya, raut kebahagiaan yang tadinya terpatri di wajahnya seketika berubah muram saat melihat kehadiran Askara.


"Jendra juga anakku, Anin. aku punya hak untuk datang kemari kapanpun aku mau". terang Askara karena sorot mata Anin menggambarkan ketidaksukaan melihat keberadaannya.


Askara mendekati tabung inkubator yang di mana di dalamnya tengah tertidur pulas bayi nya yang mungil dan menggemaskan. Anin lantas membentang jarak dengan Askara karena posisinya juga sama-sama berada di dekat tabung inkubator Jendra.


Askara melirik lewat ekor matanya saat menyadari Anin yang menjaga jarak darinya, tapi dia tidak mempermasalahkan itu yang terpenting dia masih bisa dekat dengan Anin.


Tatapan mata Askara fokus pada Jendra, meneliti setiap bagian wajah anaknya yang persis seperti dirinya.


Senyum di bibir Askara langsung muncul, bukan senyuman kebahagiaan melainkan senyum kecut membayangkan semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada Anin dan pada Jendra secara tidak langsung saat anaknya itu masih berada di dalam kandungan.


"Wajah Jendra benar-benar tampan ya, bibirnya persis sepertimu sedangkan hidung, mata, dan wajahnya persis seperti diriku. bukankah ini perpaduan yang sempurna Anin?". tanyanya mencoba membuka obrolan dengan Anin.


Anin diam tak menjawab, wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain sama sekali tidak berniat untuk menanggapi Askara.

__ADS_1


"Walaupun nantinya wajah Jendra persis sepertiku, tapi aku sungguh berharap agar dia tidak mewarisi sifat brengsekku. semoga dia bisa menjadi pria yang bertanggungjawab dan melindungimu nantinya". tutur Askara menyiratkan penyesalan yang mendalam.


Anin diam-diam melirik Askara yang tengah fokus menatap wajah Jendra. Anin baru teringat akan satu hal, bukankah kata Mami Sandra jika Askara sempat di rawat di rumah sakit ini kemarin.


Mata Anin menyusuri setiap inci wajah Askara, jelas terlihat perbedaan yang sangat mencolok sewaktu dirinya masih bersama Askara di mana penampilan pria itu sangat terawat dan segar. tapi yang di lihatnya sekarang adalah wajah kurus, pucat, dan juga lesu. lingkaran hitam di sekitar mata Askara kian melengkapi betapa memprihatinkannya penampilan Askara saat ini.


"Kau benar-benar tidak ingin pulang ke mansion?". tanya Askara menatap wajah Anin yang membuat wanita itu kembali memalingkan wajahnya.


"Keputusan ku sudah bulat, aku tidak akan kembali lagi ke mansion karena hubungan kita sebentar lagi juga akan berakhir". ujar Anin sekuat tenaga menguatkan dirinya saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan terakhir?".


"Apa pantas membicarakan perpisahan di depan anak kita, Nin?. Jendra masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpisah tidak lama setelah dia lahir. setidaknya kita bisa kembali memulai lembaran baru, demi Jendra".


"Lalu yang kau lakukan padaku dan Jendra itu apa, Mas?. apa pantas seorang suami dan ayah menyakiti istri dan anaknya secara bersamaan?. kau jelas-jelas menginap di apartemen Dalila di saat aku sedang mengandung Jendra dan karena perbuatanmu nyawaku dan juga Jendra menjadi taruhannya. kau seharusnya merenungkan semua perbuatanmu itu, mas". Anin meluapkan kemarahannya yang selalu saja mencuak setiap kali melihat Askara, apalagi jika sudah mengungkit pengkhiatan yang di lakukan suaminya.

__ADS_1


"Itu tidak seperti yang kau fikirkan Anin, aku bisa menjelaskan semuanya tapi tolong beri aku kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi".


"Stop Mas!". Anin mengangkat tangannya mengisyaratkan Askara untuk berhenti bicara, "Aku tidak butuh penjelasan apapun, bagiku apa yang aku lihat itu sudah cukup menggambarkan apa yang terjadi. penjelasanmu hanya akan berisi pembelaan dari kesalahan yang sudah kau perbuat".


"Tapi ini benar-benar tidak seperti yang kau duga Anin, tidak bisakah kau diam dan mendengarkan aku bicara?". suara Askara mulai meninggi


"Cukup mas". sanggah Anin dengan suara yang ikut meninggi, "Kalaupun nantinya kau menjelaskan panjang kali lebar, aku tetap pada keputusanku ingin berpisah denganmu. karena tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang pria yang sudah beristri untuk bermalam di dalam kamar apartemen seorang wanita, dengan atau tidak melakukan apapun". putus Anin dengan nafas memburu.


"Maaf tuan dan nyonya, jika ingin berdebat tolong jangan di sini. suara tuan dan juga nyonya menggangu ketenangan bayi-bayi di sini". seorang perawat datang dan menghentikan perdebatan Askara dan Anin.


Askara mengusap wajahnya kasar, sedangkan Anin menetralkan deru nafasnya yang memburu. karena di kuasai oleh emosi, dia sampai lupa bahwa sedang berada di dalam ruangan bayi.


"Maafkan kami sus". sesal Askara.


"Tuan dan nyonya silahkan keluar". ujar perawat tersebut.

__ADS_1


"Baik, sus". Anin dengan lebih dulu melangkah keluar kemudian di susul oleh Askara.


Askara ingin mengejar langkah Anin tapi kemudian urung dia lakukan karena tidak ingin kembali terjadi keributan antara dirinya dan Anin.


__ADS_2