
Ken terus memandangi foto Anin yang di ambilnya sewaktu pemotretan di toko kue Ambar.
Rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa Anin sudah bersuami bahkan tengah mengandung.
Pertemuan singkat mereka berhasil menumbuhkan rasa yang seolah-olah telah lama mendiami hati Ken.
Dia tidak bisa terus menerus seperti ini, setidaknya dia harus mendengar penjelasan langsung dari Anin.
Ken menutup kemeranya kembali, menyambar jaket yang menggantung di belakang pintu kamarnya.
Dia akan menemui Anin di rumah sakit, tidak peduli jika harus bertemu dengan Askara nantinya.
*****
Anin merasa bosan terus menerus berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Vi.." panggil Anin pada Vivi yang tengah selonjoran di atas sofa memainkan ponselnya.
"Hemm" gumam Vivi tanpa menoleh, fokus menggulir layar ponselnya melihat oppa-oppa koreanya.
"Gue bosen di kamar terus" ucap Anin dengan wajah cemberut.
"Main handphone aja kalo bosen" saran Vivi.
"Tangan gue pegel, masih di infus juga" keluh Anin tidak bisa bermain ponsel terlalu lama karena tangannya masih di infus.
"Keluar yuk" ajak Anin menarik atensi Vivi.
"Ngaco' Lo" hardik Vivi
"Lo mau Askara menggal kepala gue?, kalo sampe terjadi sesuatu sama Lo bisa-bisa gue tinggal nama doang, mana gue belum nikah lagi" lanjut Vivi dengan segala fikiran tidak masuk akalnya.
Anin memutar bola mata jengah.
"Vi.. please deh. berfikir yang rasional aja. mana mungkin mas Askara marah kalo kita cuman keliling taman rumah sakit. Lo mau liat gue stress trus jadi banyak fikiran?"
Vivi mencebikkan bibirnya. semenjak hamil, Anin berubah semakin menyebalkan, tapi Vivi juga tidak bisa menolak setiap permintaan Anin.
"Ya udah..ya udah... tapi pake kursi roda yah"
"Siap boss" balas Anin terkekeh.
"Bass boss bass boss.. kalo ada maunya aja baiknya nggak ketulungan" gerutu Vivi mendorong kursi roda ke dekat ranjang Anin.
"Jadi nggak ikhlas nih?" telisik Anin.
"Ikhlas kok, ikhlas banget malah" tekan vivi dengan senyum di paksa.
Anin tersenyum melihat ekspresi wajah terpaksa Vivi.
"Sini gue bantu" Vivi memegang tangan Anin dan membantunya untuk turun dari ranjang.
"Pelan-pelan" peringat Vivi.
Anin sudah duduk di atas kursi roda.
Tak lupa Vivi menggantung botol infusan Anin pada tiang infus yang terdapat pada kursi roda yang di gunakan Anin.
"Tapi kita balik sebelum Askara pulang dari kantor yah, gue takut di amuk laki Lo"
"Makanya nggak usah lapor-lapor pake ngirim foto segala"
"Namanya juga di kasi amanat, harus di jalanin dong"
"Iyya...Iyya..gue ngerti . tapi kali ini nggak usah lapor ke mas Askara"
"Iyya..bawel"
Keduanya sampai di depan lift. Vivi menekan tombol lift, kemudian mendorong kursi roda Anin memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
Lantai dasar rumah sakit.
Vivi mendorong tubuh Anin menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju taman.
Namun hal yang tak di duga oleh Anin.Tak sengaja mereka bertemu dengan Ken yang terlihat sedang membawa parcel buah. berjalan ke arah mereka.
Ken memasang wajah datar, tidak menyangka akan bertemu Anin di lantai bawah.
Vivi refleks berhenti, sedang Anin perasaannya kini sudah bercampur aduk karena bertemu Ken di sini.
"Hai Nin" sapa Ken lebih dulu.
"H-haii" balas Anin gugup.
"Kalian berdua mau ke mana?" tanya Ken berusaha bersikap biasa saja.
"Kita mau ke taman rumah sakit" Vivi yang menjawab karena Anin mulai terlihat tidak nyaman.
"Oh.. Aku baru aja mau nengokin. tapi taunya kita ketemu di sini" ucap Ken.
__ADS_1
Vivi tampak tersenyum kaku, sedangkan Anin hanya terdiam.
Anin yakin Ken kecewa, tapi pria itu masih mau berniat untuk menjenguknya. membuat Anin semakin merasa tidak enak.
"Mmm.. gimana kalo kita ngobrolnya di taman aja, soalnya Anin lagi bosen di kamar jadi kita nggak mungkin balik ke atas lagi" terang Vivi mencoba mencairkan suasana akward antara Anin dan juga Ken.
"Boleh, itupun kalo Anin nggak keberatan" ucap Ken beralih menatap Anin.
"Aku tidak keberatan" balas Anin, mungkin ini waktu yang tepat untuk bicara dengan Ken.
"Ya udah.. kita ke taman" ujar Vivi mendorong kursi roda Anin ke taman.
Ken mengekori di belakangnya dengan membawa parcel yang sengaja di belinya untuk Anin.
Ketiganya sampai di taman yang tidak terlalu ramai itu. mungkin karena ini rumah sakit jadi hanya segelintir orang yang datang kesana.
Ken duduk di kursi yang terdapat di taman tersebut.
Vivi masih berdiri di belakang kursi roda Anin.
"Ken, itu buah buat Anin kan?" tanya Vivi.
"Oh Iyya sampe lupa, aku bawa ini buat Anin"
"Sini, biar aku bawa ke atas" Vivi buru-buru mengambil parcel buah yang di bawa oleh Ken saat pria itu menyodorkannya pada Anin.
"Kalian berdua aku tinggal sebentar, ngga papa kan?" tanya Vivi.
Dia sebenarnya sengaja melakukan ini agar Anin dan Ken punya waktu berdua untuk menyelesaikan permasalahan mereka.
"Nggak papa, Anin biar aku yang jagain" jawab Ken karena Anin hanya diam sedari tadi.
"Ya udah aku ke atas dulu yah, Nin aku tinggal sebentar yah"
"Iyya" balas Anin.
Anin tau, Vivi sengaja memberinya ruang untuk bicara berdua dengan Ken.
Selepas kepergian Vivi, suasana mendadak canggung.
"Gimana keadaannya?" Ken lebih dulu membuka topik pembicaraan.
"Seperti yang kau lihat, sudah lebih baik" balas Anin dengan senyum kakunya.
"Selamat yah, sudah mau jadi seorang ibu"
"Ken ..." seru Anin memberanikan diri menatap wajah Ken.
Ken diam, menunggu Anin melanjutkan perkataannya.
"Aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk berbohong ataupun menutupinya selama ini. aku sudah berencana untuk mencari waktu yang tepat untuk membicarakan yang sebenarnya, tapi akhirnya kau malah harus tau dengan sendirinya" ucap Anin setenang mungkin.
"Alasan kenapa aku menolakmu, sekarang sudah jelas. karena aku sudah menikah dan sedang mengandung. Memang tidak banyak yang tau bahkan hanya Vivi yang tau keadaanku. aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci karena ini cukup menjadi urusanku". terang Anin.
"Aku berharap kau bisa mengerti, semoga kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku dalam segala hal di luaran sana" lanjut Anin.
"Bagaimana jika tidak ada yang jauh lebih baik dari kau Anin?"
"Ken, jangan bicara seperti itu. di luar sana ada yang lebih cantik dariku, lebih baik dariku, dan tentunya lebih pantas untukmu"
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Ken tiba-tiba, membuat Anin terpaku.
"Kenapa kau bertanya seperti itu"
"Aku hanya bertanya, jika satu saat suamimu menyakiti atau bahkan kau tidak bahagia, aku akan ada untukmu Nin" terang Ken.
"Aku bahagia Ken, aku bahagia bersama mas Askara. lagi pula bahagia atau tidaknya pernikahanku itu hanya akan menjadi urusanku"
"Baiklah, aku turut bahagia mendengarnya"
"Tapi kita masih bisa jadi teman kan?" tanya Ken berusaha berbesar hati menerima kenyataan yang ada.
Anin tersenyum mendengar pertanyaan Ken.
"Dengan senang hati, Ken" balas Anin.
Keduanya lanjut mengobrol, termasuk tentang fakta bahwa Ken adalah adik dari dokter Ziva.
Mobil Askara memasuki parkiran rumah sakit.
Melepas seatbelt yang dia gunakan saat mobil berhenti.
Askara menatap buket bunga yang di letakkan di kursi sampingnya dengan senyum sumringah.
Saat di jalan pulang tadi, Askara sengaja membeli bunga untuk Anin.
Askara tidak sabar melihat ekspresi senang Anin saat melihat bunga yang di bawanya.
Dengan senyum yang terus terbit di wajahnya, Askara berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah lebarnya.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti, saat mata elangnya tak sengaja menangkap sosok yang sangat di kenalnya tengah berduaan di taman rumah sakit.
Anin tengah mengobrol dengan pria yang sangat di bencinya, Ken.
Dengan menahan emosi di dadanya, Askara berjalan menghampiri keduanya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Anin?" tanya Askara dengan suara bass nya.
Anin terkesiap, Askara pulang lebih cepat dari perkiraannya.
Ken berdiri dari duduknya, mensejajarkan tinggi badannya dengan Askara.
"Aku yang mengajak Anin untuk mengobrol sebentar" ujar Ken santai.
Anin menatap Ken dan Askara secara bergantian.
Suasana mendadak terasa panas.
Emosi Askara yang memang mudah tersulut, kini melempar asal buket bunga yang di bawanya.
Tangannya menarik kerah baju Ken. "Berani-beraninya kau masih menemui, Anin". tajam Askara
"Aku sudah mengatakan dengan jelas, jangan pernah dekati istriku lagi" ujar Askara menatap tajam penuh amarah pada Ken.
"Aku hanya datang menjenguk dan melihat keadaaan Anin, apa itu salah?" Ken berusaha menjawab setenang mungkin.
"Aku tidak sudi Anin di jenguk oleh pria sepertimu" hardik Askara.
"Mas, lepaskan tanganmu dari Ken. tidak enak di lihat orang-orang" Anin mencoba menghentikan Askara.
Jika kondisinya tidak seperti sekarang, dia sudah melerai dan melepaskan tangan Askara dari Ken.
Anin bergerak gelisah, menunggu kedatangan Vivi yang tak kunjung turun.
Kemana Vivi, kenapa lama sekali? batin Anin gusar.
"Kenapa? kau membelanya sekarang?" tanya Askara dengan senyum sinisnya.
"Bukan seperti itu mas, tapi tidak enak jika harus membuat keributan di sini". jelas Anin.
Vivi yang baru saja turun setelah membawa parcel buah yang di bawa oleh Ken, terkejut melihat Askara dan Ken yang tengah bersitegang di taman.
"Ada apa ini?" tanya Vivi setelah mendekat.
"Vi, bawa Anin ke kamarnya " perintah Askara dengan aura mencekam.
"I-iya" ujar Vivi takut melihat ekspresi wajah Askara yang menyeramkan.
"Nin, kita kembali ke kamar Lo yah" ujar Vivi pelan.
"Enggak, aku tidak mau kembali kalau kalian berdua masih seperti ini" Anin tidak bisa meninggalkan Askara yang sedang di kuasai emosi.
Askara menatap tajam Anin "Kau jangan menguji kesabaranku Anin. cepat ke kamarmu sekarang" bentak Askara.
"Kenapa kau kasar sekali pada Anin, tidak bisakah kau berkata lebih lembut? ini bukan salah Anin. aku yang memintanya untuk mengobrol sebentar" Ken tidak terima Anin di bentak oleh Askara.
"Ini bukan urusanmu"
"Vivi.. cepat bawa Anin ke kamarnya, sekarang" kali ini Vivi yang di bentak oleh Askara.
Vivi semakin takut.
"I-iyya" Vivi segera mendorong kursi Anin meninggalkan taman, meskipun Anin terus menolak tapi Vivi tidak mendengarkan permintaan Anin.
Sekarang hanya tersisa Askara dan Ken.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu khawatir, kau takut aku akan merebut Anin darimu?" tanya Ken sarkas.
Cengkraman Askara di lehernya sudah terlepas.
"Jangan pernah mencoba untuk bermimpi" balas Askara dengan senyum miringnya.
"Mimpi itu bisa saja jadi nyata, saat kau menyia-nyiakan Anin, aku adalah orang pertama yang akan merebutnya dari tanganmu " balas Ken sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Askara.
Askara tersenyum miring.
"Mimpi hanyalah tetap mimpi, karena hal itu tidak akan terjadi. Anin adalah milikku sampai kapanpun".
"Sepertinya kau masih belum bisa menerima kenyataan" ejek Askara.
"Justru dengan kau yang bersikap seperti ini, aku merasa kasihan sekaligus heran, kenapa kau begitu terobsesi untuk memiliki Anin yang notabene adalah istri orang" ujar Askara dengan smirknya.
Ken mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.
Perkataan Askara sukses memicu emosi dalam dirinya.
"Sebelum hal itu benar-benar terjadi, pastikan kau bisa menjaga dan memperlakukan Anin dengan baik. jika tidak, kau harus bersiap kehilangan Anin saat itu juga" ucap Ken serius penuh dengan penekanan kemudian meninggalkan Askara di taman itu.
Askara mengepalkan kedua tangannya kuat hingga kulitnya memutih.
__ADS_1