Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 145


__ADS_3

Setelah memastikan Askara benar-benar beristirahat, Mami Sandra langsung menuju ke kamar rawat menantunya.


Mami Sandra langsung tersenyum saat melihat Anin sedang melatih kakinya dengan berjalan mengelilingi kamar.


"Anin, jangan di paksakan sayang". tegur Mami Sandra mendekati menantunya.


"Mami", seru Anin terdengar senang melihat kehadiran mertuanya, "Anin sama sekali udah ngga ngerasa sakit kok, Mi. lagi pula terus-menerus duduk di kursi roda bikin gerak Anin jadi terbatas, kaki Anin juga baik-baik aja". tutur Anin yang tidak ingin menggunakan kursi roda lagi. hanya saja karena kondisinya yang pernah koma dan pernah menjalani operasi hingga dokter menyarankan Anin untuk menggunakan kursi roda jika ingin menjenguk Jendra atau jika ingin melakukan aktifitas lainnya.


"Bagaimana kabarmu, sayang. maaf kemarin Mami tidak datang berkunjung, pekerjaan Papimu sedang banyak dan Mami harus menyiapkan semua kebutuhannya". tutur Mami Sandra.


"Ngga papa, Mi. Anin juga udah ngerasa baikan, baik banget malah. kata dokter Ziva dan dokter Arga, Anin sudah bisa pulang besok". ungkap Anin membuat Mami Sandra tersenyum senang.


"Baguslah, sayang. Mami sudah tidak sabar kamu pulang ke mansion bersama Jendra". perkataan Mami Sandra sukses membuat Anin terdiam.


"Mi..". panggil Anin ingin menyampaikan sesuatu yang sudah dia pertimbangkan sejak berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa sayang?, apa kau butuh sesuatu?". tanya Mami Sandra melihat ekspresi Anin yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


Anin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, "Aku tidak bisa lagi pulang ke mansion". tutur Anin membuat Mami Sandra terpaku.


"Maafkan aku, Mi. tapi hubunganku dengan Askara sepertinya sudah tidak bisa di lanjutkan. dan jika Anin masih berada dalam satu atap yang sama dengan Askara, maka Anin akan terus ingat dengan apa yang sudah Askara lakukan".


"Tapi sayang, ini bukan keputusan yang mudah. apa kau sudah memikirkan nya dengan baik?".


Anin lalu mengangguk, "Berhari-hari Anin mikirin hal ini sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan. Anin capek, Mi. Anin cuman mau hidup tenang bersama Jendra, kabahagiaan Askara bukan pada Anin melainkan Dalila".


"Tidak, nak. siapa bilang kalau kebahagiaan Askara ada pada Dalila. justru Askara sudah menyesali semuanya, bahkan Askara sampai melukai dirinya sendiri saat kau meminta cerai darinya, Askara sedang ada di rumah sakit ini juga, Nin". ungkap Mami Sandra.


"Aku sudah tidak peduli, Mi. mau Askara melukai dirinya sekalipun aku benar-benar sudah tidak peduli. rasa sakit yang Askara berikan padaku hingga harus membuat Jendra lahir prematur tidak akan pernah sebanding dengan apapun. jika Mami Sandra datang ke sini atas perintah Askara, maka itu hanya akan sia-sia, Mi. keputusanku sudah bulat untuk berpisah dari Askara".


"Mami ke sini bukan karena perintah Askara, tapi karena memang ingin melihat keadaanmu, nak. dan jika itu sudah menjadi keputusan mu maka Mami akan hargai tapi Mami minta satu hal, tolong jangan larang Mami ataupun Papi untuk bertemu Jendra kapanpun itu".

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan hal itu, Mi. bagaimanapun Jendra adalah cucu kalian, Mami dan papi bisa kapan saja menemui Jendra".


Mami Sandra memeluk tubuh Anin, wanita paruhbaya itu tidak rela, sungguh tidak rela kehilangan menantu sebaik Anin. ini semua karena perbuatan bodoh Askara, anaknya itu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dan sesabar Anin.


"Anin sayang sama Mami, terimakasih sudah menerima Anin sepenuh hati selama ini, Mami tidak pernah menuntut banyak hal dari Anin, Mami tidak pernah melihat darimana Anin berasal, terimakasih, Mi. Mami akan selalu menjadi ibu kedua terbaik untuk Anin, maaf jika selama ini Anin belum bisa menjadi menantu yang baik". ujar Anin begitu tulus.


Mami Sandra tak kuat menahan tangisnya, perkataan Anin seolah adalah kata perpisahan untuknya. padahal Mami Sandra merasa sangat bahagia karena semenjak kehadiran Anin, dia akhirnya bisa merasakan memiliki seorang anak perempuan.


"Mami yang seharusnya minta maaf, nak. Seharusnya kau hidup bahagia bersama Jendra, seharusnya mansion akan ramai di isi oleh tangis dan juga gelak tawa Jendra, tapi karena kebodohan Askara, kau malah banyak menderita. maafkan Mami nak, maafkan Mami karena gagal mendidik Askara".


Anin menggeleng dengan cepat, menepis semua perkataan Mami Sandra. "Tidak, Mi. Mami adalah seorang ibu yang terbaik. semua ini bukan salah Mami, ini karena Askara yang tidak pernah bersyukur memiliki seseorang dalam hidupnya".


Mami Sandra terus terisak, melepaskan Anin adalah hal terberat yang harus dia lakukan. dia tidak bisa memaksa Anin untuk terus bertahan karena bagaimanapun menantu nya itu berhak bahagia dengan pilihannya sendiri.


Hai para readers, maaf yah author baru muncul lagi. berhubung karena cerita Embun Anindira udah mau masuk ke akhir cerita. makanya author mulai nyiapin cerita baru lagi.

__ADS_1



Untuk cerita 'Havana wedding story' terpaksa author stop dulu karena mau bikin cerita yang alurnya ringan-ringan dulu😁😁 semoga kalian suka yah sama cerita kedua author ini, makasih 🙏🙏


__ADS_2