
Askara menarik tangan Anin menuju mobil dengan amarah yang memuncak.
"Masuk" perintah Askara tegas pada Anin.
Namun, Anin masih berdiri.
"Mas...._" Anin hendak menjelaskan semuanya.
"Aku bilang masuk ke mobil". tekan Askara menatap tajam Anin.
Anin menundukkan kepalanya, takut melihat wajah Askara.
Setelah Anin masuk ke dalam mobil, Askara juga ikut masuk.
Suasana hening di dalam mobil justru sangat mencekam bagi Anin.
Askara yang hanya diam, membuat Anin bisa merasakan atmosfer yang berbeda.
Anin tidak berani buka suara, dari ekor matanya dapat Anin lihat rahang Askara yang menegang seperti akan meledakkan sesuatu.
Dito hanya diam dan fokus menyetir mobil, tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga Askara dan Anin.
Namun Dito dapat sadari, jika Askara sekarang sedang terbakar api cemburu.
Mobil memasuki mansion, Askara membuka pintu mobil tanpa menunggu Dito yang biasanya akan membukakan pintu untuknya.
"Keluar". Askara membuka pintu mobil untuk Anin.
Anin semakin tegang, karena tidak biasanya Askara membukakan pintu mobil untuknya, apalagi dengan wajah Askara yang menahan amarah sejak tadi.
"Saya permisi langsung pulang tuan". pamit Dito namun tidak di tanggapi oleh Askara.
Askara menyeret tangan Anin memasuki mansion. suasana mansion yang sepi membuat Askara semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan Anin.
"Mas, sakit.... tolong lepaskan tanganku" pinta Anin yang melihat tangannya sudah memerah.
Askara menulikan telinga, terus membawa Anin menaiki kamarnya.
Pintu kamar di buka kemudian di tutup kasar oleh Askara sehingga menimbulkan suara dentuman yang keras.
Anin mengelus dadanya karena terkejut.
"Siapa pria itu?". tanya Askara langsung dengan begitu dingin, sejak tadi dia sudah menahan emosi yang bersarang di dadanya.
Anin menunduk takut karena mata Askara sudah memerah.
"Jawab aku, siapa pria itu dan apa hubungan kalian" teriak Askara tepat di telinga Anin.
Anin memejamkan matanya, takut.
"Kau tidak punya mulut?" tanya Askara mencekram kuat kedua dagu Anin dan mendongakkan wajah gadis itu.
"Dia Ken, dan kami hanya berteman". jawab Anin lemah karena rasa sakit dari cengkraman Askara.
"Teman kau bilang? teman macam apa yang berdua-duaan di taman dan memberikan sebuket bunga mawar, itu yang namanya teman hah?". cengkraman di wajah Anin semakin keras terlihat dari kulit wajahnya yang memerah.
"Sakit Mas, tolong lepaskan aku". ujar Anin yang menahan sakit di pipinya.
"Jadi seperti ini perlakuanmu di belakangku?" tanya Askara sinis tidak mengindahkan permintaan Anin.
Anin menggeleng, air mata di pelupuk matanya mulai keluar.
"Aku juga tidak tau mas kalau Ken akan menyatakan perasaannya ". jujur Anin, matanya sudah memerah.
"Cih". Askara berdecih melepas kasar cengkraman di dagu Anin.
"Aku fikir kau memang wanita polos, nyatanya kau hanyalah wanita murahan yang dengan gampangnya mau di pegang oleh pria lain". ujar Askara membuat Anin menatapnya tajam.
"Jaga bicaramu, Mas". ujar Anin tidak terima, setetes air matanya sudah jatuh.
Perkataan Askara sukses menorehkan luka di hatinya.
"Kau jangan berani memerintahku, kata murahan memang pantas untukmu. seorang istri yang bahkan tengah hamil pergi dengan pria lain, apa itu tidak murahan namanya hah?". Kemarahan dan rasa cemburu Askara membuat dia tidak bisa mengontrol perkataannya.
Anin menatap nyalang pada Askara.
"Mas, wanita yang sedang kau sebut murahan ini sedang mengandung darah dagingmj, aku kehilangan masa depanku sebelum aku menikah, aku hamil di luar nikah yang orang-orang anggap itu adalah aib, tapi kamu selama ini tidak pernah sadar Mas, kalau kamu pelaku yang sudah menghancurkan masa depanku. Kamu nggak pernah tau sehancur apa aku selama ini". teriak Anin meluapkan kemarahannya.
__ADS_1
Askara menatap sinis Anin " Kau jangan berani-berani melimpahkan kesalahan padaku, seharusnya sebagai seorang istri kau bisa menjaga martabat dan harga dirimu di depan pria lain". ujar Askara semakin menambah sakit hati Anin.
"Asal kau tau, bahkan jika boleh memilih dan memutar waktu. aku tidak ingin anakku lahir dari rahim wanita sepertimu" lanjut Askara sama sekali tidak memikirkan perasaan Anin.
Air mata Anin jatuh, dia tidak pernah menyangka Askara akan berkata seperti itu.
"Kau tenang saja Mas, setelah anak ini lahir dan kita bercerai nanti, aku akan pergi jauh dari kehidupan kamu tapi satu hal yang perlu kamu ingat Mas, selalu ada penyesalan nantinya". jelas Anin menghapus air matanya.
"Aku pastikan tidak akan menyesal". seru Askara yakin
"Semoga saja, Mas. karena jika hal itu terjadi mungkin kamu sudah kehilangan semuanya". ujar Anin meninggalkan Askara.
"Anin, kau mau kemana?, aku belum selesai bicara". teriak Askara saat Anin memasuki kamar mandi.
Anin menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
"Hiks...hiks.. kenapa Mas Askara tega berkata seperti itu? kenapa dia juga selalu kasar padaku?". racau Anin yang mendudukkan tubuhnya di atas closed kamar mandi.
Anin fikir, Askara sudah berubah tapi nyatanya pria itu tetap kasar jika sedang marah.
*******
Ken membanting pintu kamarnya keras, setelah penolakan Anin tadi, dia membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumahnya.
"Argghhh... siallll....brengsekk". Ken berteriak marah memenuhi ruangan kamarnya.
Ken melempar asal seluruh barang yang berada di dalam kamarnya.
"Siapa pria brengsek itu". ujar Ken yang sudah duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada tepi ranjang.
Kondisi kamarnya sudah seperti kapal pecah.
Ken mengingat kembali pertemuannya dengan pria yang menyeret Anin pulang, dari penampilannya Ken dapat melihat jika dia bukan seorang pria sembarangan.
"Apa sebenarnya hubungannya dengan Anin?". gumam Ken mencoba mencari kesimpulan.
Mengingat Anin hanyalah seorang gadis desa biasa yang merantau ke Jakarta, mana mungkin punya hubungan dengan orang seperti pria tadi.
Kepala Ken sakit memikirkan semua ini, dia meraih asal handuk yang sudah berserakan di lantai. dia ingin mendinginkan kepalanya di bawah aliran shower.
*****
Hal pertama yang Anin dapati adalah, kamar yang kosong.
kemana Askara? batin Anin.
Tok..tok..tok.. suara pintu kamar di ketuk.
"Anin, boleh Mami masuk?". tanya Sandra dari luar pintu.
"Iyya, Mi" seru Anin dari dalam kamar dengan suara agak di besarkan.
Pintu kamar terbuka, Sandra masuk menghampiri Anin.
"Kamu lagi sibuk?". tanya Sandra takut mengganggu.
"Enggak kok, Anin baru aja selesai mandi". ujar Anin.
"Oh Iyya, Askara mana?" tanya Sandra yang tidak melihat kehadiran Askara di kamarnya.
"Tadi sih ada, tapi mungkin lagi di lantai bawah, di ruang kerjanya". jawab Anin yang hanya mengira saja, karena dia sendiri tidak tau pasti kemana Askara.
"Mami tumben ke kamar, ada apa?". tanya Anin
"Mami cuman mau memastikan, kalian besok pagi jadi pergi kan? ke Bali". tanya Sandra.
Anin terdiam, setelah pertengkarannya dengan Askara tadi, dia tidak yakin Askara ikut. Anin takut pria itu akan berubah fikiran.
"Semua Anin serahkan ke mas Askara, Anin akan ikut keputusan mas Askara aja, Mi". jawaban ini yang paling aman buat Anin, lagi pula semuanya memang tergantung keputusan Askara.
Sandra tersenyum "Kalau begitu, Mami akan menemui Askara. Mami turun dulu". pamit Sandra dengan wajah senangnya.
"Iyya, Mi".
Selepas kepergian Sandra dari kamarnya, Anin membuka pintu balkon kamar. ternyata hari sudah berganti malam.
Anin duduk di kursi balkon, ingatannya kembali pada kejadian sore tadi, di mana Ken menyatakan perasaannya padanya.
__ADS_1
Dia merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf pada Ken. mungkin di waktu yang tepat Anin akan menjelaskan mengenai kondisinya pada Ken.
Di ruangan kerjanya, Askara hanya duduk diam dan menatap lurus ke depan.
Satu batang rokok sudah hampir habis di hisapnya.
Bayangan pertengkarannya dengan Anin tadi, berputar-putar memenuhi fikirannya. Askara memikirkan perkataannya tadi pada Anin yang sekarang di anggapnya terlalu kasar.
Askara tidak bisa menahan emosinya, sehingga kata-kata menyakitkan itu keluarga begitu saja dari mulutnya.
Di hisapnya kembali sisa rokok yang hampir habis itu, Askara memikirkan apa dia harus meminta maaf pada Anin?.
Gengsinya selama ini kadang membuatnya enggan untuk mengungkapkan kata-kata tersebut.
Askara bingung harus berbuat apa, karena di satu sisi dia marah pada Anin.
Namun yang tidak di sadari oleh Askara bahwa kemarahannya itu adalah sebuah bentuk kecemburuan yang artinya Anin sudah mulai punya tempat istimewa di hati Askara.
Tok..tok .tok ..
"Askara, kau di dalam?" seru Sandra mengetuk pintu ruangan kerja Askara.
Askara yang mendengar suara Maminya, buru-buru mematikan puntung rokoknya.
ceklek
Sandra sudah lebih dulu membuka pintu sebelum Askara menjawab.
"Kau di sini rupanya". ujar Sandra
"Mami kenapa, ada apa mencariku?" tanya Askara dengan alis terangkat.
"Jangan bilang kalau kau lupa"
"Lupa apa?" bingung Askara.
"Besok, kau dan Anin jadi berangkat kan?".
Glek. Askara baru ingat.
Bagaimana dia bisa pergi bersama Anin, jika keadaan di antara mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa kau diam, Askara". sentak Sandra "Kau berubah fikiran sekarang?" Sandra menatap tajam Askara.
"Mi, apa tidak bisa di tunda saja". nego Askara.
"Apa kau bilang?, Mami tidak mau menunda-nunda lagi. semuanya sudah Mami siapkan, lagi pula kemarin kau sudah setuju kenapa sekarang jadi berubah fikiran, kau sedang ada masalah dengan Anin?". tanya Sandra memicingkan matanya.
"Mami kenapa bilang seperti itu, aku dan Anin baik-baik saja" jawab Askara.
"Bohong, Mami tadi bisa liat muka sembab Anin. kau apakan Anin, cepat bilang sama Mami". desak Sandra, tadi dia memperhatikan wajah Anin, namun dia tidak ingin bertanya langsung padanya karena dia yakin pasti Askara pelakunya.
"Mi, berhenti ikut campur urusan rumah tangga Askara, tidak semuanya Mami harus tau. Biarkan Askara dan Anin yang menyelesaikannya sendiri. kita berdua sudah dewasa". ujar Askara tidak suka Maminya terus- menerus mencapuri urusan rumah tangganya.
Sandra terdiam, yang di katakan Askara ada benarnya.
"Mami tidak bermaksud begitu, tapi kalau kalian ada masalah cepat di selesaikan, Mami tidak mau Anin merasa tidak nyaman tinggal di sini". ungkap Sandra yang sudah menyayangi Anin seperti anaknya sendiri.
"Aku tau yang terbaik untuk kita berdua". ujar Askara.
"Dan untuk besok, Mami urus saja. Askara mau ke kamar, istirahat". ujar Askara berdiri dari duduknya meninggalkan Sandra.
Askara berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. di dalam kamar terlihat Anin sudah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring membelakanginya.
Aksara menyibak selimut, ikut bergabung dengan Anin. Askara menghadap ke atas langit-langit kamar kemudian beralih menatap Anin sekejap. sepertinya gadis itu sudah tertidur.
Anin yang sebenarnya belum tidur dapat merasakan kehadiran Askara. namun dia berpura-pura tidur agar tidak terjadi percakapan antara keduanya.
Perkataan Askara masih sangat membekas di hatinya, air mata Anin bahkan kembali lolos. dengan sekuat tenaga Anin menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak terdengar.
Anin berusaha memejamkan matanya, dalam hati dia berdo'a semoga besok dia akan menemui hari-hari yang indah.
like
komen yang kenceng
dan juga vote
__ADS_1