Embun Anindira

Embun Anindira
Bagian 137


__ADS_3

Hal yang selalu di lakukan oleh Askara selama menemani Anin adalah dengan terus menggenggam tangan istrinya tersebut walau dalam posisi tertidur sekalipun seolah-olah takut Anin akan pergi meninggalkannya jika wanita itu sadar nanti.


Papi Argio yang baru datang bersama Mami Sandra dan juga Bu Risa saling adu tatap saat melihat Askara tertidur sambil terus menggenggam tangan Anin. mungkin rasa bersalah dan juga rasa khawatir Askara membuat pria itu enggan berpaling walau sebentar saja dari Anin.


"Askara". panggil papi Argio sambil mengguncang pelan tubuh Askara.


Askara menggeliat, "Papi?". seru Askara menegakkan tubuhnya.


"Apa sepanjang malam kau tidur dengan posisi seperti ini?". tanya Papi Argio.


Askara mengusap wajahnya, "Askara ngga mau jauh-jauh dari Anin, Pi".


"Lihat wajahmu, nak. kau terlihat kurang tidur". Papi Argio cemas, begitupun dengan Mami Sandra yang menyadari perubahan di wajah putranya.


"Askara baik-baik saja, Pi. tidak ada yang perlu di khawatirkan". bagi Askara kondisi nya tidaklah penting di bandingkan dengan apa yang sudah di alami oleh Anin.


"Lebih baik kau sarapan dulu, Mami mu sengaja memasak makanan kesukaanmu pagi ini".


Askara melirik Mami Sandra yang langsung membuang muka ke arah lain saat di tatap olehnya.


"Bukannya Mami masih marah sama Askara?".


"Mami memang masih marah, tapi kalau kau jatuh sakit itu akan lebih merepotkan lagi". jawab Mami Sandra ketus, namun jauh di dalam lubuk hatinya dia amat prihatin melihat Askara.


Askara tersenyum kecut, "Makasih, Mi karena masih masih mau peduli sama Askara".


"Sekarang lebih kau bersihkan diri terlebih dahulu lalu sarapan". titah Papi Argio.


"Baik, Pi". Askara berdiri dari kursi yang semalaman di tempatinya.


Selepas kepergian Askara ke kamar mandi, kini giliran Bu Risa dan Mami Sandra yang berada di sisi Anin.


Bu Risa menggenggam lembut tangan putrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Anin... ini ibu, nak. ibu datang jauh-jauh dari Bandung tapi kenapa sampai sekarang kamu belum juga bangun?, kamu ngga marah kan sama sikap ibu yang dulu?". tangis Bu Risa akhirnya pecah setelah dengan sekuat tenaga dia tahan.


"Kasian bayi kamu, nak. dia butuh kamu, sepertinya dia sudah sangat rindu pada ibunya".


"Kamu nggak akan ninggalin ibu sama seperti ayah kamu kan?".

__ADS_1


Bu Risa terus menyuarakan isi hatinya, mengajak Anin mengobrol seolah-olah putrinya itu dapat mendengar nya. Mami Sandra dan Papi Argio saling tatap dengan sorot mata sendu melihat seorang ibu yang sangat berharap anaknya segera bangun.


Tanpa di sadari oleh Bu Risa, tangan Anin yang terdapat selang infus tiba-tiba bergerak seolah merespon kata-kata Bu Risa.


"Tangan Anin gerak, Pi". Mami Sandra yang sadar lebih dulu begitu antusias hingga Askara yang baru keluar dari kamar mandi menjadi panik saat melihat Mami dan Papinya mendekati ranjang Anin.


"Ada apa ini?". Askara ikut mendekat, "Apa terjadi sesuatu dengan Anin?". paniknya.


"Diam Askara, lihat!. tangan Anin gerak". Mami Sandra tersenyum haru begitupun dengan Askara dan bu Risa.


"Anin.. apa kau mendengar ibu, nak?". Bu Risa mencoba mengajak Anin berkomunikasi lagi.


Perlahan namun pasti, kelopak mata Anin mulai bergerak dan itu membuat semua yang berada di ruangan Anin seperti menahan nafas beberapa saat menunggu Anin membuka mata setelah tertidur begitu nyaman selama seminggu.


Mata yang sudah sangat Askara rindukan tatapannya itu akhirnya perlahan terbuka. bulu mata lentik itu perlahan mengerjap untuk menetralkan cahaya yang masuk.


Hal pertama yang netra Anin tangkap adalah langit-langit kamar rumah sakit.


"Anin!". seru semuanya kompak melihat Anin akhirnya sadar.


"Anin, ini ibu nak". ujar Bu Risa mendekati putrinya.


"I-ibu?". seru Anin dengan suara tercekat.


"Iyya nak, ini ibu".


"A-aa..ku...ha...us, bu". ujar Anin putus-putus dengan suara lemahnya, tenggorokannya benar-benar terasa kering.


Askara dengan sigap mengambil air yang berada di atas nakas dan membantu Anin untuk minum. Anin menenggak air tersebut hingga habis.


"Aku di mana?". suara Anin sudah lebih jelas sekarang.


"Kamu di rumah sakit sayang, kamu kecelakaan dan koma selama seminggu dan itu benar-benar membuat kita semua khawatir". ujar Mami Sandra sambil menangis haru.


Anin lalu mencoba mengingat kembali kejadian tersebut. bayangan dirinya memergoki Askara di apartemen Dalila hingga dirinya yang di tabrak oleh sebuah mobil hingga terlempar beberapa meter dan saat itu dia melihat Vivi dan sekretaris Dito yang berlari ke arahnya.


Tangan Anin perlahan meraba perutnya, "Bayiku...bayiku di mana?, di mana bayiku, Bu?". racau Anin merasakan perut nya yang sudah kembali rata, bayi nya tidak mungkin meninggal. itulah yang Anin fikirkan saat ini.


"Tenang, nak. bayimu selamat". ujar Bu Risa berhasil membuat Anin tenang.

__ADS_1


"Lalu di mana bayiku?". tanya Anin lagi.


"Dia sedang berada di ruang bayi, sayang. dia terpaksa harus di inkubator karena lahir prematur. tapi kamu tidak perlu khawatir dia baik-baik saja, dia anak yang kuat seperti ibunya". ujar Mami Sandra menenangkan menantunya.


Anin menggeleng, "Aku ingin melihat bayiku". anin belum percaya sebelum melihat kondisi anaknya dengan mata kepalanya sendiri.


"Anin!". panggil Askara menyiratkan kerinduan mendalam pada istirnya.


Mendengar namanya di panggil Anin terdiam, dia baru menyadari kehadiran Askara.


Mata Anin dan Askara sempat beradu tatap hingga akhirnya.


"Kau...? kau siapa?". tanya Anin dengan wajah datarnya.


Deg, jantung Askara berdetak tak karuan saat Anin tidak mengenalinya.


"Ini aku Askara, Nin. suami mu, kau tidak mungkin lupa denganku kan, Nin?". Askara bisa benar-benar gila jika sampai Anin melupakannya.


"Bu, tolong usir orang ini keluar dari kamar Anin". pinta Anin menatap wajah ibunya.


Bu Risa tampak bingung, begitupun dengan Mami Sandra dan Papi Argio. apa Anin benar-benar lupa dengan Askara?.


"Tapi, nak____".


"Bu, Anin mohon suruh orang itu keluar". sorot mata Anin menyiratkan kemarahan yang begitu besar pada Askara.


Ya, Anin tidak benar-benar lupa pada Askara tapi sepertinya mulai sekarang dia harus melupakan pria itu.


"Askara lebih baik kau keluar dulu". pinta Mami Sandra melihat Anin tidak nyaman dengan kehadiran Askara.


"Tapi Anin nggak benar-benar lupa sama aku kan, Mi?". Askara terlihat putus asa.


"Nak, ini demi kebaikan istrimu. dia baru sadar dan mentalnya pasti belum stabil, jadi lebih baik kau keluar". papi Argio mencoba memberikan pengertian.


Askara memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya. rasa sakit karena tidak di kenali bahkan di usir oleh Anin membuat dadanya bergemuruh.


"Baiklah, aku akan keluar". demi kebaikan Anin Askara harus mengalah dengan egonya, meskipun saat ini dia tidak bisa menahan diri untuk memeluk anin.


Sebelum benar-benar keluar, Askara menatap tepat di manik mata Anin namun istirnya itu justru mengalihkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


__ADS_2