
Pagi-pagi sekali Anin sudah berkutat di dapur, walaupun rasa sakit dan nyeri di kakinya makin menjadi tapi kewajibannya sebagai seorang istri tetap dia laksanakan.
Anin memasak nasi goreng yang prosesnya cepat dan mudah.
masakan Anin telah siap bersamaan dengan Askara yang keluar dari kamarnya dengan setelan jas yang rapi. masih pagi sekali tapi mata Anin sudah di suguhi dengan wajah tampan Askara.
"Bapak sarapan dulu, Aku memasak cukup banyak pagi ini" ucap Anin saat Askara sudah hendak pergi.
"Aku tidak punya banyak waktu"
"Tapi ini juga masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor" Anin menatap jam di dinding yang masih menunjukkan setengah 7.
"Aku bilang buru-buru yaa........." perkataan Askara terhenti saat bel apartemennya berbunyi.
"Biar aku yang buka, kau duduk saja dan sarapan" seru Anin tapi langkahnya di tahan oleh perkataan Askara.
"Waktuku akan terbuang 10 menit hanya untuk menunggumu berjalan menuju pintu"
bagaimana tidak, untuk berjalan saja susah karena Anin harus menyeret kakinya yang Askara liat semakin memerah.
Akhirnya Askara yang berjalan untuk membuka pintu.
pintu terbuka dan menampilkan Dito yang sudah bersiap menjemput Askara menuju kantornya.
"Sekretaris Dito?" ucap Anin yang ternyata mengikuti Askara menuju pintu meskipun dengan langkah tertatih.
"Selamat pagi nona" sapa Dito sedikit membungkukkan badannya tanda memberi hormat.
Anin yang sedikit kikuk mendapat perlakuan seperti itu tersenyum dan membalas sapaan Dito "Selamat pagi juga"
"Sekretaris Dito apa kau sudah sarapan?" tanya Anin.
"Untuk apa kau menanyakan itu?" kini Askara yang bertanya pada Anin dengan tatapan tajamnya.
"Aku hanya bertanya saja" jawab Anin
Dito yang sejak mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari Anin merasa tidak enak pada Askara.
"Maaf nona, saya biasanya akan sarapan di kantor"
"Apa kalian memang berangkat sepagi ini ke kantor?" tanya Anin lagi
"Tidak juga nona" jawab Dito polos yang sudah di hujani tatapan tajam dari Askara.
Dito yang menyadari dirinya melakukan kesalahan hanya menunduk
"Kebetulan kalau begitu, aku masak banyak pagi ini. masuklah dan ikut sarapan bersama kami" ajak Anin antusias.
"Tapi nona..." Dito merasa tidak enak dan hendak menolak tapi Anin kekeh, bahkan Anin sudah berjalan masuk menuju meja dapur.
"Cepatlah masuk, sarapan sudah siap" teriak Anin dari dalam karena Askara dan Dito tidak kunjung masuk.
"Masuklah" perintah Askara yang sudah kesal dengan tingkah Anin.
"Memangnya tidak papa tuan?" tanya Dito merasa tidak enak.
Askara menarik nafas "Jika Ingin cepat terlepas dari situasi ini maka cepatlah masuk dan turuti saja mau gadis itu"
Aksara kembali berjalan masuk menuju meja dekat dapur di ikuti Dito di belakangnya. tiga piring nasi goreng sudah tersaji di atas meja.
"Makanlah, mubazzir makanan sebanyak ini jika tidak di makan" seru Anin bersemangat karena sarapan pagi ini dia tidak sendiri.
Askara dan Dito menatap lama makanan di depan mereka, bau menggoda dari nasi goreng yang di buat Anin bahkan sudah menggugah selera mereka, tapi gengsi mengalahkan segalanya.
Askara menyenggol kaki Dito yang berada di bawah meja, memberi isyarat agar Dito memulai makannya lebih dulu.
Dito menatap bingung Askara dengan kening berkerut. Anin yang memperhatikan tingkah aneh keduanya membuka suara "Kalian kenapa?, kenapa makanannya tidak di makan?"
Dito hanya tersenyum kaku, lagi-lagi Askara menyenggol kakinya yang berada di bawa meja dan kali ini cukup keras. Dito yang sudah mengerti dengan cepat menyambar sendok dan garpu kemudian menyedokkan nasi goreng tersebut ke mulutnya.
Enak.. satu kata yang menggambarkan masakan Anin saat sesendok nasi goreng memasuki indera perasa Dito. bahkan Dito sudah tidak ragu berkali-kali menyedonkkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.
Ekspresi Askara heran melihat Dito yang bahkan tanpa beban dan rasa malu menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Anin tersenyum melihat Dito bersemangat memakan masakannya "Apa masakanku enak?"
"Ini sangat enak nona, aku baru saja akan menyesal jika tadi tetap menolak ajakan nona" jawab Dito polos karena terlalu asik dengan sarapannya, baru kali ini Dito sarapan senikmat itu.
Askara melotot tidak percaya dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Dito. sedangkan Anin sudah tersenyum senang mendengar ucapan Dito.
"Terimakasih sekretaris Dito, aku juga tidak keberatan jika tiap hari kau sarapan di sini. lagi pula pak Askara pasti tidak akan keberatan kan?" tanya Anin pada Askara yang sudah sejak tadi menahan kesal.
"Aku keberatan, aku sengaja menggajinya dua kali lipat agar hidupnya tidak numpang makan di tempat orang" ucap Askara penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Uhuukk..uhuukk..uhhukk." Dito tersedak mendengar sindiran yang terang-terangan Askara yang di tujukan untuk dirinya.
Anin yang melihat sekretaris Dito tersedak membuat nalurinya refleks menyodorkan segelas air putih, semuanya tak lepas dari penglihatan Askara.
"Minum dulu sekretaris Dito" ucap Anin
Dito cukup kaget di sodorkan air oleh Anin, tapi juga bukan saat yang tepat menolak air yang di sodorkan Anin, bisa-bisa dia mati muda karena tersedak.
Askara menahan marah terlihat dari buku-buku tangannya yang memutih mencekram sendok dan garpu di kedua tangannya.
"Dito, kita berangkat sekarang juga" Askara sudah berdiri membuat bunyi decitan dari kursinya.
"Tapi bapak belum menyentuh sarapannya sama sekali" kaget Anin sekaligus bingung begitupun dengan Dito.
"Kau masih akan tetap tinggal di sini atau kau lebih memilih hari ini menjadi hari terakhir kau bekerja denganku?" tanya Askara dingin mengarah pada Dito yang masih duduk di meja makan.
tubuh Dito menegang mendengar ucapan Askara, tidak ingin kehilangan pekerjaannya Dito pun segera mengakhiri sarapannya.
"Maafkan saya tuan, kita bisa berangkat sekarang juga" putus Dito akhirnya kemudian membiarkan Askara berjalan lebih dulu.
"Terimakasih sarapannya nona Anin" tak lupa mengucapkan rasa terimakasihnya pada Anin sebelum menyusul Askara.
Anin mengerjap "Eh iya sama-sama sekretaris Dito, tapi tunggu dulu"
"Kenapa nona?"
"Pak Askara belum sarapan, bisakah kau membawa makanannya ke kantor?, tunggu sebentar yah aku ambil kotak bekal dulu".
Anin menyeret kakinya mengambil kotak bekal yang tidak jauh dari meja makan. dengan gerakan cepat Anin memasukkan sarapan Askara yang belum sempat di sentuh sedikitpun.
Dito tampak ragu menerima kotak bekal tersebut, pasalnya Askara adalah tipe pria yang dingin, apa jadinya jika orang lain tau atau karyawan di kantor melihat Askara membawa kotak bekal ke kantor. Askara adalah orang yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya.
"Kenapa? sekretaris Dito malu yah kalo harus bawa kotak bekal ini ke kantor?" tanya Anin yang dapat melihat raut wajah Dito berubah saat dirinya menyodorkan kotak bekal tersebut.
"Ahh.. bukan itu nona, hanya saja ini adalah kali pertama saya membawakan bekal untuk tuan Askara selama bekerja dengannya". buru-buru Dito menyanggah karena melihat raut sedih di wajah Anin.
Anin tersenyum senang mendengar ucapan Dito "Kalau begitu ambillah"
Dito mengambil alih bekal yang sudah di siapkan Anin kemudian berpamitan "Kalau begitu saya pamit nona, takutnya tuan Askara telah menunggu di basement"
"Baiklah, terimakasih sekretaris Dito sudah mau di repotkan, hati-hati membawa mobil"
Selepas kepergian Dito, Anin bingung akan melakukan apa lagi jadi dirinya memutuskan untuk membersihkan diri dan menemui Vivi.
Askara menunggu kedatangan Dito di basement dengan perasaan menahan kesal. bagaimana tidak Askara mengira Dito mengikutinya dari belakang namun sudah 10 menit dia menunggu di basement tapi Dito tak kunjung kelihatan.
"Maafkan saya tuan membuat anda menunggu" ujar Dito saat baru sampai di basement.
"Ckk..kau ini dari mana saja, apa kau tidak merasa bersalah membuat boss mu menunggu" tanya Askara kesal
"Saya menunggu sebentar karena nona Anin harus menyiapkan ini, saya di perintahkan untuk memberikannya pada tuan Askara" Dito menyerahkan kotak bekal dari Anin.
"Apa ini?" bingung Askara melihat kota bekal di tangan Dito.
"Karena tuan tidak sarapan jadi nona Anin membuat kotak bekal itu" jelas Dito
"Cih..memangnya aku anak kecil" Askara tidak habis fikir dengan jalan fikiran Anin.
"Simpan saja di dalam mobil, aku sudah terlalu lama membuang waktu pagi ini karena kau dan Anin"
"Baik tuan" Dito pun bergegas masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil menuju kantor.
waktu sudah menunjukkan siang hari, Anin sedang menunggu kedatangan Vivi di sebuah cafe yang tidak jauh dari kampus Anin dan juga Vivi, tempat biasa mereka nongkrong sebelum jika bosan menunggu kelas berikutnya.
__ADS_1
tadinya Anin ingin meminta izin pada Askara kalau dia ingin keluar sebentar menemui Vivi tapi dia tidak mempunyai nomor Askara maupun Dito. Anin akan meminta nomor Askara lain waktu nanti.
Jus jeruk di hadapan Anin sudah tersisa setengahnya tapi Vivi belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Kebiasaan deh nih anak pasti ngaret" gerutu Anin dengan sifat ngaret Vivi yang tidak pernah berubah.
"Anin.." teriak Vivi yang baru saja memasuki cafe.
"Akhirnya si tukang ngaret datang juga"
"hehe..sorry baby, dosennya baru keluar soalnya" ucap Vivi mendudukkan bokongnya.
"Ahhh gue jadi kangen kuliah Vi" ujar Anin dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar yah, kurang dari setahun lagi kok sampai anak Lo lahir" bisik Vivi di akhir kalimat takut teman sekampus mereka ada yang dengar karena cafe yang mereka tempati memang dominan pengunjungnya adalah mahasiswa satu kampusnya.
Anin tersenyum getir, tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya nasibnya akan seperti ini.
"Udah yah jangan sedih, gue mau ketemu bukan untuk nampung cerita sedih mbaknya yah" canda Vivi membuat Anin menatapnya kesal.
"teman luknut emang Lo" balas Anin kesal.
"Oh ya Nin, gimana kabar pernikahan Lo dengan pria dingin itu?"
"Yahh gitulah Vi, gue masih berusaha menyesuaikan diri dengan hidup baru gue. mulai mengenal sifat pak Askara yang dinginnya ngalahin kulkas tapi juga bisa manis sih" Anin tersenyum saat membayangkan Askara mengobati kakinya yang terkena air tumpahan sup panas.
"Manis gimana orang kaku kek kanebo kering gitu, gue yakin nih yah kalo si Askara itu senyum dikit aja kulit mukanya pasti bakalan retak saking kakunya"
Vivi tidak percaya mendengar ucapan Anin.
"Gitu-gitu juga dia suami gue Vi, yaa walaupun cuman jangka setahun" ucap Anin menghela nafas lemah mengingat pernikahannya yang sesingkat itu.
"Jadi janda muda dong Lo, hahahaha" Vivi lagi-lagi tertawa mengejek Anin, tujuannya agar Anin tidak terlalu sedih atas apa yang terjadi dengan hidupnya.
"Sialon Lo emang" hanya bersama Vivi, Anin bisa menjadi orang yang tidak mempunyai beban karena setiap Anin menceritakan masalah hidupnya Vivi tidak akan pernah membalasnya dengan meratap tapi berusaha menghadirkan kelucuan.
"Lo jangan terlalu mikirin itu Nin, saran gue sih Lo harus gunain waktu setahun ini untuk bisa dekat dengan Askara, bagaimanapun dia ayah dari anak Lo. mumpung ini masih awal pernikahan jadi Lo bisa merubah semuanya"
Anin terdiam sejenak mendengar perkataan Vivi. apa mungkin dirinya bisa membuat Askara sepenuhnya menjadi miliknya.
"Apa gue bisa Vi?, karena yang gue rasa setelah pernikahan pak Askara seolah sudah membangun jarak antara kita berdua, dan mungkin itu akan sulit"
"Sulit belum tentu tidak bisa Nin, gue sih memang bukan orang yang berpengalaman soal cinta tapi gue sedikit ngerti, ibaratnya batu yang keras terkena air tiap harinya juga bisa terkikis apalagi ini soal hati. Lo cuman perlu berusaha lebih keras lagi"
"Gue cuman takut saat gue bener-benar udah cinta tapi kenyataan berkata lain"
"Lo belum mencoba Nin, rasa sakit memang satu kesatuan dari jatuh cinta tapi yang terpenting gimana Lo harus bisa bertahan nantinya".
Anin terharu sekaligus takjub mendengar ucapan Vivi. bahkan mata Anin sudah berkaca-kaca
"Lo nggak usah sedih gitu deh, gue tau Lo pasti bangga kan punya teman kayak gue"
"Gue terharu karena sahabat gue akhirnya bisa ngomong bener-bener kayak manusia pada umumnya" ucap Anin tanpa berdosa. mengingat Vivi punya pribadi yang barbar, bicara pun asal jeplak bahkan kadang tidak segan mengumpat pada lawan bicara jika merasa sedang kesal.
Vivi tergelak mendengar ucapan polos Anin "Lo tuh yah polos-polos tapi sekalinya ngomong Mak jleb di hati gue" Vivi mendramatisir memegang dadanya.
"Lebay Lo"
keduanya pun berbincang mengenai topik lain, saling melepaskan rasa rindu karena beberapa hari tidak bertemu.
Di dalam ruangan Presdir, Askara tengah serius memindai satu per satu berkas dengan mata tajamnya mengabaikan jam makan siang yang akan segera berakhir.
Askara tidak bisa berkonsentrasi saat cacing-cacing di perutnya sudah berdemo meminta untuk di isi, tapi pekerjaannya masih menumpuk.
Mata Askara tiba-tiba tertuju pada kotak bekal berwana biru yang di letakkan Dito di meja sofa yang letaknya tidak jauh dari meja kerjanya.
Rasa ego dan gengsi Askara di kalahkan oleh rasa lapar di perutnya.
mau tidak mau Askara berjalan ke sofa, membuka kotak bekal yang di siapkan Anin pagi tadi. rasa laparnya kali ini sudah tidak bisa di tahan apalagi pekerjaannya masih menumpuk.
bau wangi tercium menelisik masuk ke indra penciuman Askara saat pertama kali membuka kotak bekal tersebut.
Askara menyendokkan sesuap nasi goreng yang telah dingin namun rasanya tetap enak. Askara tanpa sadar tersenyum kecil.
__ADS_1
benar kata Dito, masakan Anin memang enak. Askara pun menghabiskan makanannya tanpa sisa.